Mencari Alasan Tepat

1290 Words
Hanya saja waktu yang telah berputar dan dilalui masih menyisakan banyak tanda tanya. Yuni tertegun merasakan perasaannya yang campur aduk dan tak ada yang tahu apa alasannya. Mengapa bisa merasakan hal semacam ini, saat berada di dalam perpustakaan tadi. Ia hampir sulit untuk percaya lagi pada diri sendiri. Dalam setiap langkah yang diambil dalam perjalanan pulang ini. Yuni belum yakin kalau dia bisa bercerita. Meski pada Riyan, pria yang sudah berjanji akan selalu mau membantunya. Karena bagi dirinya saja, semua ini masih sulit dimengerti. Apalagi kalau harus diberitahu pada orang lain. Rasanya Yuni ingin sekali berteriak/ Riyan yang berjalan dengan sabar menunggu. Akan tetapi, jalan yang saat ini mereka berdua lalui. Tentu memiliki ujung yang akan membuat mereka berdua pada akhirnya harus berpisah. Menatap Yuni sekilas, Aldi tahu perempuan itu menyimpan sesuatu. Padahal sudah menunggu, tapi belum juga ada kata yang terucap dari bibirnya. “Yun! Katanya kamu mau cerita!” ucap Riyan. Ia benci kesunyian yang sejak tadi dilewati berdua. Hanya angin dan keramaian dari lalu lalang pengguna jalan lain yang terdengar dan berisik. Yuni masih diam, ia hanya melihat kakinya yang melangkah terus menerus. Hingga langkah kaki itu berhenti. “Sebenarnya aku buat salah apa sih. Kenapa aku akhir-akhir ini malah ngerasa kayak diganggu terus tiap kerja. Padahal kan aku aja nggak pernah melakukan apapun. Tapi …!” ucap Yuni saat itu. Ia mulai meneteskan air mata dalam keadaan yang masih menundukkan wajah. Disembunyikan ketakutannya pada Riyan. tentu saja ini kondisi yang sulit. Riyan menatap Yuni. Ia bingung juga mau jawab apa. Sedangkan ia sendiri belum tahu apa yang membuat semua itu menimpa Yuni. Alasan apa yang mendasari hal aneh yang memang ia yakin sekali dan tahu Yuni tidak berbohong. Andai semua ini bisa dijelaskan dengan nalar dan tidak membingungkan. “Yun! Kamu tau aku selalu mau menemani kamu. Aku akan bantu apapun itu. Tapi, untuk saat ini, aku sendiri nggak tahu alasan mengapa kamu mengalami hal-hal aneh, termasuk waktu kamu bicara ngelantur waktu itu.” Seolah alam mengerti bagaimana kondisi hati Yuni. Seketika suasana yang ada di sekeliling yang tadinya ramai. Kini perlahan semakin sepi dan seperti tidak ada orang yang berkegiatan di jalanan tersebut. Riyan malah larut, dan menarik tubuh Yuni untuk masuk ke pelukannya. Ia hanya coba menenangkan. Tidak tahu mengapa rasanya semua angin yang berhembus mendorongnya untuk melakukan itu. Yuni pun pasrah. Baginya tak ada tempat curhat yang tepat untuk masalah ini. Akhirnya mereka berdua berpisah. Yuni nyatanya masih belum bercerita soal perasaannya yang seperti pernah mendatangi perpustakaan itu. Ia ragu mau cerita hal tersebut, meski Riyan mendesak untuk mengatakannya. Senja sore mendatangi langit dengan begitu cepat. Riyan sedang berdiam diri di kamarnya. Ia sebenarnya adalah anak orang mampu. Kebetulan keluarganya adalah pemilik klinik kecantikan. Sedangkan dirinya sendiri hanya seorang wirausaha online. Ia tidak meneruskan sekolah seperti kedua orang tuanya di bidang kesehatan. Alasannya karena ia tak suka bidang itu. Terlalu rumit untuk dipahami. Sama seperti masalah Yuni yang sedang mengganggu pikirannya saat ini. “Kalau aku mau cari tau, apa yang sebenarnya terjadi sama Yuni. Aku harus cari tau sama siapa. Memangnya mereka itu paranormal. Tapi aku yakin pasti ada satu atau dia orang yang bisa aku mintai pendapat. Apa yang harus aku lakukan untuk menyelesaikan masalah Yuni saat ini. Tapi, siapa?” Riyan bicara sendiri. Ia pun berjalan masuk ke dalam kamarnya. menjatuhkan tubuh dengan kasar di atas kasur. memejamkan matanya untuk sesaat. Barangkali ada jalan keluar yang muncul. “Bima!” ucap Riyan sambil membuka matanya. Entah mengapa tiba-tiba a malah ingat anak itu. Ia pun bangun, segera mengambil jaket yang menggantung di belakang daun pintu. menyambarnya dengan begitu cepat dan mengambil kunci motor. Ia berencana menemui Yuni saat ini. .. Dengan cepat motor milik Riyan meluncur di jalanan dan sudah sampai di depan pintu agar besi berwarna hijau, tempat kos Yuni. Ia mulai membunyikan bel yang ada di belakang pagar tersebut. “Siapa ya, abis magrib gini udah datang aja ke rumah orang.” Bu Slamet, si pemilik kos, mengoceh sendiri. Berjalan menuju pintu yang bersatu dengan pagar besi untuk melihat siapa tamunya. Saat suda ada di luar, ia mlihta da Riyan. Rasanya agk gusar juga, karena Ruyan beberapa hari ini intens sekali mendatangi kos ini. Tidak lain adalah pasti untuk bertemu dengan Yuni. “Assalamualaikum Bu!” sapa Riyan. Ia berbasa-basi menunjukkan rasa sopannya saat bertamu di rumah orang. Terlebih lagi yang ia temui saat ini adalah wanita ynag sudah sangat berumur. Tentu sebagai anak muda, ia wajib berkata sopan dan penuh dengan hormat. “Waalaikumsalam!’ jawab Bu Slamet dengan ketus. Lirikannya jelas seakan kesal pada Riyan. Tapi, sepertinya Riyan tidak peduli. Yang penting, ia tidak melakukan kesalahan. Lagipula ini juga masih belum terlalu malam. Tentu jam kunjung ke kos masih ada untuknya. Hingga mau tidak mau, Bu Slamet harus berkenan untuk menerima dirinya sebagai tamu. “Kamu kesini pasti mau cari Yuni,” ucap bu Slamet coba menebak dan memang tebakannya itu sangat benar. “Iya Bu!” jawab Riyan sambil tersenyum. “Ya udah kamu masuk aja dulu. Tunggu id sofa teras itu!” pinta Bu Slamet sambil mengarahkan pandangannya ke arah sofa yang ada. Masih saja tersenyum Riyan saat itu. “Iya Bu! Terima kasih!” Bu Slamet terpaksa memanggil anak kos yang tinggal di lantai bawah. Kebetulan mereka sedang duduk santai di ruang tamu. “Hey, kamu panggilin Yuni. Ada teman cowoknya datang lagi.” “Iya Bu Kos!” Anak itu berjalan menaiki anak tangga dna langsung menuju ke pintu kamar Yuni. Ada tiga kamar sebenarnya disitu, dan kamar Yuni ada di paling ujung lorong. “Ada apa?” tanya Yuni usai membuka pintunya karena terdengar ada yang mengetuk. “Ada teman cowok kamu yang ganteng itu, siapa namanya, yang kemarin datang kesini itu lho!” terangnya. Yuni terlihat berpikir sejenak. “Siapa sih? Masak iya si Riyan. Kenapa dia datang lagi kesini. Kok ya nggak bilang-bilang dulu!” Yuni jadi bicara sendiri. Ia kemudian mengambil jaket hitamnya cepat dan menguncir rambutnya dengan buru-buru. Segera turun menuruni anak tangga dan memang saat sampai di teras. Sudah ada Riyan sedang duduk di sofa. “Riyan!” sapa Yuni. “Hay!” “Ehm … kamu tadi nggak bilang kan kalau mau datang kesini? Kita nggak janjian ‘kan!” bingung Yuni melihat Riyan lagi-lagi mendatangi kosnya tanpa memberitahu. Ia hanya merasa ini agak mendadak. Riyan tersenyum, lucu melihat Yuni yang agak kebingungan. “Nggak! Kita emang nggak janjian. Tapi, aku pengen ngajak kamu keluar.” Yuni masih menatap bingung. Ia berpikir mungkin Riyan akan mengajak keluar untuk makan. Rasanya sungkan juga kalau harus ditraktir terus-terusan oleh teman kerjanya. Ia saja tidak pernah membelikan sesuatu apapun untuk Riyan. Maklum, dia juga tidak punya uang yang cukup. “Tapi Riyan, aku udah makan.” Yuni memegang tengkuk lehernya untuk menahan sungkan agar tak diajak keluar untuk hal tersebut. “Lah, memangnya kenapa kalau kamu udah makan!’ “Kamu nggak ngajak aku keluar buat makan kan!” “Nggak! Aku mau ajak kamu keluar buat ke suatu tempat.” Yuni memicingkan mata. Menatap heran pada Riyan. “Tempat apa? Jangan bilang kamu mau ajak aku ke kampus buat uji nyali.” Riyan tersenyum manis. “Ya enggaklah! Mana aku berani. Aku mau ajak kamu ke rumahnya Bima. Aku rasa kita bisa cerita masalah yang sedang kita alami ini sama dia. Mungkin dia bisa aja membantu. Aku lihat kamu tadi pagi juga sempet ngobrol sama dia kan di pos satpam.” Yuni memutar bola mata, coba mengingat yang terjadi tadi pagi. Iya, dirinya memang sempat ngobrol dengan Bima. Tapi, sama sekali ia tidak kepikiran untuk mencari tahu tentang hal aneh yang terjadi pada Bima. “Emang Bima bantu? Kamu yakin?” tanya Yuni. “Ya, kalau nggak dicoba mana aku ngerti.” Riyan pun hanya bisa mengangkat kedua bahunya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD