** Selepas kejadian waktu itu, Dito kembali susah menghubungi Rea. Bahkan, nomor gadis itu tak dapat dia hubungi. Dito cemas, kesibukannya di kantor, membuatnya belum sempat ke rumah Rea. Pemuda rupawan ini memutuskan ke rumah Rea malam ini juga. Dia khawatir karena sudah membuat gadisnya menangis. Bila boleh memilih, dia tak ingin kemarin terjadi. Bila tahu Rea akan sedih, dia akan membiarkan mantan kekasihnya itu tetap berkhayal. Harrier pekat yang ditumpangi Dito berhenti di depan rumah berpagar menjulang. Pemuda itu turun dengan segera, lalu melenggang tanpa ragu. Disentuhnya bel rumah, sampai dua kali. Tak berselang lama, Satya muncul dari balik pintu. "Bang Dito?" sapanya setengah kaget, karena malam-malam seperti ini ada tamu. Ini sudah pukul sepuluh malam. Tadinya Dito ingi

