Ghinza, sehari kemudian. Itu adalah langit-langit kamarku. Puluhan jimat yang menggantung di sisi pintu menuju taman, terlihat usang karena aku telah membiarkannya lebih dari setahun lalu. Aku masih mencoba menajamkan penglihatan ketika sebuah jemari mendarat lembut di atas dahiku. "Mu-chan, apa kau sudah baikan?"Akechi berbisik, menarik ujung selimut hingga sebatas bahuku. Tak menyahut, aku menatap kosong pada matanya, mencari sesuatu yang mungkin terbaca meski ia tidak bicara. Sayangnya, kakakku itu tidak menampakkan sikap bersalah sedikitpun. Hanya ada rasa cemas setiap ia mengelus lembut ujung rambutku. "Kau tidak perlu menatapku seperti itu. Mu-chan, hari ini kau akan menemukan jawabannya." Omong kosong! Ia telah membunuh suamiku! "Aku tidak peduli hal lain, Akechi. Kataka

