Aku benci mengatakannya, tapi menunggu Takeshi hampir setengah jam untuk urusan lain, sudah cukup membuat moodku pagi ini hancur. Bagaimana tidak? Setelah pertengkaran kecil di antara kami semalam, ia sama sekali belum mengajakku bicara. Belum pernah, Takeshi mengabaikanku di atas tempat tidur. "Sudah, cukup,"ucapku memberi isyarat pada pelayan resort agar berhenti menyeduh daun teh ke tempat penguapan khusus. Selain rasanya terlalu pekat, ada jejak pahit yang tertinggal di ujung lidah. Sekali cecap, aku ingat, ini adalah jenis teh kesukaan Akechi, ia selalu betah berlama-lama duduk di tengah rapat klan jika disediakan teh herbal khas Hokaido. Aku tidak pernah menyangka, teh ini malah mengingatkanku padanya, pada permasalahan membingungkan yang membuat hubungan kami seperti jur

