Takeshi masih menggerutu, menatap bingung padaku yang bersandar kesal di dinding putih rumah sakit. "Apa yang terjadi? Kau bertengkar atau sedang kesal sendiri?" tanyanya menarikku untuk duduk di salah satu bangku panjang yang terletak di pinggiran koridor. "Tidak,"gumamku menggeleng kikuk, menghindari tatapan tajamnya yang berdecih tak percaya. "Kau tidak bisa berbohong padaku. Sepertinya Doktermu membuat kesalahan kali ini. Aisshhhhh.. Kenapa aku senang sekali?" Takeshi tersenyum kecil, mengejek raut wajahku yang katanya selembek natto yang terlalu lama difermentasi. Cih. Cara merayunya sama sekali tidak manis. Aku tahu, dia suka natto yang lama diendap. Jadi? Dia menyukaiku kan? "Kirika! Dengar, wajahmu merah, kau tahu? Apa artinya itu? Selama ini hanya kau si wanita bodoh ya

