Urusan Takeshi di Okinawa hampir selesai. Di minggu pertama sebelum musim panas berakhir, ia datang menjemputku dengan penampilan yang nyaris tidak kukenali. "Apa ini suamiku?" Aku berseloroh, menarik kaos dan celana jeans khas anak Otaku yang sering terlihat di festival Akihabara. Bayangan cosplayer yang pernah kutemui di sepanjang musim semi dengan kereta api Shinkasen, membayang jelas pada penampilannya. "Hentikan. Wanita biasanya akan senang jika prianya berpakaian modis, kenapa kau meledekku untuk hal-hal yang tidak perlu?" Ia meraih daguku, mengintip keinginannya lewat mata,"Kau belum mandi sesiang ini?" "Kenapa? Apa masalahmu?" seruku menepuk pipinya. "Tentu saja, bukankah kita sudah lama tidak bercinta? Aku merindukanmu,"kata Takeshi menyeringai kecil. Giginya menyatu dan waj

