Suara peluru yang luar biasa keras, menghancurkan kaca mobil di bangku bagian belakang. Timah panas itu, bukan dari senapan Takeshi. Suamiku itu malah membungkuk jatuh, melindungi seluruh tubuhku dari pecahan kaca yang berjatuhan menutupi seluruh mobil bagian dalam. Aku terisak takut saat melihat tetesan darah tiba-tiba keluar dari pundak Takeshi. Hantaman timah panas yang begitu kuat, membuat kaca seperti meledak dan dalam sekejap berubah menjadi senjata pembunuh. Ini bukanlah peluru dari senapan kecil. Paling tidak, seseorang dari luar menggunakan senjata api berkaliber sedang untuk membidik kami. Tut. Tut. Tut. Bunyi peringatan bom, memaksa instingku bergerak lebih cepat. Ini adalah kesempatan terakhir untuk melompat keluar. Namun, Takeshi mencegahku di detik terakhir. Tatap

