Author POV
Setelah mengatakan hal itu, Tommy melepas jas dan sepatu kerja nya lalu duduk di sofa apartemen Friska dengan nyaman.
Lelaki itu seolah lupa dengan apa yang sudah ia perbuat kepada pemilik apartemen yang saat ini lelaki itu masuki.
Friska berusaha tak mengeluarkan emosi nya melihat perilaku semena-mena Tommy, atasan nya itu melakukan hal seenak nya saja di apartemen Friska.
"Maaf, Pak. Saya tak menerima lelaki disini, yang ingin menginap hanya Bu Kemala, anda bisa cari tempat lain." Setelah sekian lama terdiam akhirnya Friska membuka mulut.
"Bu Kemala adalah Ibu saya, saya harus memastikan Ibu saya aman apalagi dengan orang yang hanya beberapa kali ia temui." Jawab Tommy dengan datar.
"Kalau bapak khawatir saya adalah orang jahat, maka dari itu bapak bisa mengajak Bu Kemala untuk pergi dari sini." Ucap Freya dengan berani.
Meskipun Ibu lelaki itu sedang berada di kamar mandi, Friska yakin jika Bu Kemala mendengar apa yang ia ucapkan tadi.
"Kamu ngusir saya?" Tanya Tommy marah.
"Ya."
"Udahlah, Tommy. Kamu pulang aja, sini baju Ibu, gak baik anak cowok nginep di tempat cewek yang bukan suami istri."
Tommy akhirnya berdiri dari duduknya, setelah itu ia berkata tajam kearah Friska.
"Awas saja kamu kalau macam-macam dengan Ibu saya." Ancam Tommy.
Friska hanya memalingkan wajah nya dengan tatapan sedih, sebegituh bencinya kah lelaki itu terhadap dirinya?
Apakah perasaan yang perempuan itu miliki begitu membuat Tommy bersikap kejam seperti itu.
Setelah itu Tommy pergi dari apartemen Friska beserta asisten pribadi Bu Kemala.
******
Setelah satu minggu kejadian Bu Kemala menginap di apartemen Friska, hari ini Friska berniat mengunjungi Ayah nya.
Friska sudah siap dengan membawa makanan kesukaan lelaki itu.
Friska mengetuk pintu ruangan Ayah nya dengan pelan, cukup lama tak ada jawaban, akhirnya Friska pun membuka sendiri pintu ruangan itu.
Pandangan di depan nya membuat Friska terpaku sejenak karna terhantam bayang-bayang masa lalu kehidupan nya yang Indah.
Ayah nya sedang melukis foto keluarga mereka dengan tangan nya yang bergetar, Friska tak akan mengira bahwa keluarga yang dulu begitu harmonis bisa menjadi seperti sekarang.
Orang tua Friska memutuskan berpisah disaat Friska masih berumur 15 tahun, perempuan itu tak mengerti mengapa tiba-tiba mereka berpisah padahal selama ini mereka selalu bersikap romantis.
Mungkin mereka menyembunyikan sesuatu selama ini.
Sampai saat ini pun Friska belum tahu pasti penyebab orang tua nya bercerai.
Friska yang pada saat itu masih tak tahu harus bagaimana menyikapi orang tua nya yang tiba-tiba berpisah, ia hanya bisa menangis dan tak tahu harus memilih hidup bersama Ayah nya atau Ibu nya.
Sedangkan Ayah nya sama sekali tak menoleh nya, lelaki itu seolah lupa bahwa ia memiliki anak, Friska sampai harus bersujud demi bisa hidup bersama Ayah nya, namun hati lelaki itu tetap keras.
Ibu nya sudah pergi terlebih dahulu dengan alasan pekerjaan, hingga dua minggu berlalu tak ada kabar dari Ibu nya.
Sampai pada akhirnya Friska di urus oleh Tante nya dari pihak Ayah, tentu saja perlakuan diskriminatif yang ia terima selama tinggal dengan Tante nya membuat Friska anti sosial seperti sekarang.
Ia merasa bahwa kehadiran nya sebuah beban bagi seseorang, maka dari itu Friska lebih nyaman tinggal sendiri.
"Yah." Sapa Friska lirih.
Galih-Ayah Friska hanya menoleh sebentar lalu kembali melanjutkan aktivitas nya.
"Aku bawaain sop daging."
Masih tak ada balasan dari Ayah Friska.
"Ayah kangen Ibu?" Entah mengapa pertanyaan itu tiba-tiba keluar dari mulut Friska, ia tahu betul bahwa hal itu merupakan hal yang sensitif bagi Ayah nya, namun ia sudah tidak bisa menahan rasa penasaran nya lagi.
Galih berhenti menyapukan kuas nya di kanvas yang lukisan nya sudah hampir selesai.
Galih berdiri lalu melangkah pelan ke arah Friska.
Friska memundurkan langkah nya, ia takut jika kejadian dulu terulang lagi, sikap tempramen Ayah nya itu tak pernah berubah.
"Kamu takut, nak?"
Suasana yang hening turut menambah ketakutan Friska akan situasi ini.
"Ayah adalah orang tua yang gagal." Lidah Friska terasa tercekat mendengar kalimat itu keluar dari mulut sang Ayah.
"Ayah orang yang tak pantas hidup."
"Ayah menelantarkan kamu."
Friska hanya bisa menangis dengan tak mengeluarkan suara apapun, hatinya tersayat ketika kilas balik kehidupan nya yang terasa sulit ia lalui, sedangkan sang Ayah hidup bahagia dengan keluarga baru nya.
"Maafkan Ayah, nak." Galih meneteskan air mata nya, setelah beberapa tahun di rumah sakit jiwa ini, Galih sama sekali tak pernah menunjukkan bentuk emosi apapun.
"Ayah orang yang tak berguna, Ayah orang yang bodoh, Ayah pantas mati."
Friska semakin terisak mendengar ungkapan rendah diri sang Ayah.
Dulu ia sangat membenci Ayah nya, sangat berharap bahwa lelaki itu akan menderita suatu saat nanti ketika ia dengan mudah nya menelantarkan Friska.
Friska juga berharap sang Ibu akan mendapatkan hal yang sama dengan Ayah nya, Friska memang pendendam.
Kedua orang tua nya seolah tak mempunyai rasa tanggung jawab, dengan egois nya mereka memilih menjalani kehidupan masing-masing dan melupakan Friska.
"Ayah harus menjalani ini semua, ini adalah bentuk hukuman dari Tuhan atas perbuatan Ayah selama ini. Ayah harus tetap hidup agar bisa menebus seluruh dosa itu." Kalimat panjang itu dikatakan Friska dengan tatapan datar dan tangan terkepal, setelah itu Friska keluar dari ruangan sang Ayah dengan tangisan Galih yang semakin keras.
******
"Friska." Panggilan itu membuat langkah Friska terhenti lalu membalikkan badan.
"Ibu saya ingin melihat kamu." Kata Tommy.
"Baik, besok saya akan kesana." Friska sudah membalikkan badan nya, namun lagi-lagi Tommy menahan Friska.
"Sore ini jam 3 saya jemput."
"Tidak usah, saya bisa kesana sendiri."
"Saya jemput nanti." Kalimat perintah itu di ucapkan Tommy dengan nada tegas, lalu lelaki itu pergi dari hadapan Friska seolah tak ingin mendengar kalimat penolakan lagi dari perempuan itu.
Friska menatap tajam punggung lebar Tommy, lelaki itu mampu membuat perasaan nya campur aduk untuk yang pertama kali nya, karna memang Tommy adalah cinta pertama nya.
******
Friska duduk di kursi penumpang mobil yang tengah di kendarai oleh Tommy, suasana di dalam mobil sangat hening, karna baik Friska maupun Tommy sepertinya sedang sibuk dengan pikiran masing-masing.
Tommy sesekali melirik Friska yang tampak lebih kurus dari biasa nya, entah sejak kapan lelaki itu sekarang lebih memperhatikan Friska, padahal dulu jelas sekali bahwa dirinya malas membahas segala sesuatu yang berkaitan dengan gadis di samping nya ini.
Apa perasaan Tommy sudah mulai tergoyah melihat kebaikan Friska yang tak pernah nampak namun diam-diam kebaikan gadis itu membuat dirinya tersentuh.
Tommy merasakan perasaan nyaman ketika berada di dekat Friska seperti ia berada di pelukan Ibu nya, hal itu sudah beberapa kali ia tepis, namun tampaknya pesona Friska sungguh sulit untuk diabaikan.
"Kamu bawa apa?" Tommy akhirnya membuka suara, lelaki itu tak tahan dengan suasana hening yang mencekam ini.
"Roti keju dan buah mangga."
Tommy tersenyum mendengar kalimat singkat Friska, rupanya perempuan itu sudah hafal dengan makanan kesukaan Ibu nya.
Setelah itu tak ada percakapan lagi yang terjadi di dalam mobil sampai mereka sampai di rumah sakit jiwa.
******
"Friska, kamu datang, nak." Pelukan hangat langsung datang dari Bu Kemala yang bahagia karna melihat kedatangan Friska.
Friska hanya tersenyum sambil mendekap Bu Kemala.
"Kamu kok makin kurus?" Tanya Bu Kemala setelah ia merasakan tubuh perempuan itu terasa semakin kecil di pelukan nya.
"Akhir-akhir ini Friska kurang nafsu makan." Jelas Friska.
"Gak boleh, nanti sakit kalau kamu gitu terus, sekarang makan bareng Ibu, ya." Bu Kemala menarik tangan Friska lalu mereka pun makan bersama dengan sesekali tertawa.
Tommy yang bahagia melihat pemandangan itu, ia ingin Ibu nya terus bahagia, sudah terlalu lama Ibu nya itu menderita, sudah saat nya meninggalkan semua masa kelam itu.
Mungkin setelah ini Tommy akan mengatakan sesuatu kepada yang menjanggal di hatinya kepada Friska.
******
"Kamu nggak jenguk Ayah mu?" Mereka berjalan bersisian di lorong rumah sakit yang sepi itu.
Tommy melirik ke arah Friska yang hanya menggelengkan kepala atas jawaban pertanyaan nya tadi.
Lelaki itu tak menanyakan tentang Ayah Frisk lebih lanjut, topik tentang orang tua mereka memang sensitif, awalnya pun Tommy juga malu mengakui bahwa Ibu nya kini berada di rumah sakit jiwa, sampai saat ini tidak ada satu pun teman Tommy yang mengetahui bahwa ia memiliki seorang Ibu yang sedang sakit.
"Sebelum pulang, saya ingin bicara sama kamu."
Tommy mengentikan langkah nya di area taman rumah sakit itu, ia menarik napas panjang untuk menghilangkan kegugupan nya, agar momen yang ia tunggu-tunggu bisa berjalan dengan lancar.
"Saya suka sama kamu." Tommy mengungkapkan perasaan nya dengan nada suara berat dan tatapan mata yang intens kepada Friska.
Sedangkan Friska, perempuan itu menahan napas nya sejenak mendengar kalimat indah itu, mungkin dahulu itu adalah kalimat yang Friska impikan, yang bisa membuat Friska terjaga semalaman. Tapi sekarang mengapa Friska tak merasakan getaran itu lagi, apa secepat inikah cinta pertama nya hilang, yang dulu ia yakini bahwa ini adalah perasaan yang nyata.
"Saya rasa kamu harus memikirkan kembali perasaan seperti apa yang kamu miliki terhadap saya." Balas Friska.
"Saya sudah memikirkan tentang apa yang menjanggal di hati saya selama ini, saya merasa bersalah atas sikap saya menolak kamu dahulu, lalu sikap baik kamu yang membuat saya kagum, dan juga kepribadian kamu membuat saya nyaman, meskipun kamu akhir-akhir ini berubah menjadi tak banyak bicara." Kalimat panjang itu pertama kali diucapkan Tommy selama mereka beberapa kali bertemu.
"Saya bukan sebaik apa yang kamu ucapkan, dan juga saya tak butuh rasa suka kamu jika itu muncul dari rasa kasihan kamu kepada saya."
"Tapi-" Tommy menahan tangan Friska ketika perempuan itu membalikkan badan menuju pintu keluar rumah sakit.
"Tolong, biarkan saya pulang sendiri. Terima kasih atas tumpangan nya."
Setelah itu Tommy melepaskan cekalan nya, ia merasa sesak akan kalimat penolakan yang secara tidak langsung Friska ucapkan, apakah ini adalah rasa yang perempuan itu rasakan dulu saat ia menolak nya?
******
3 tahun kemudian....
Waktu berjalan begitu cepat, kehidupan Friska berjalan lebih membosankan dari sebelumnya, hidup nya terkadang terasa begitu kosong dan hampa, tapi ia tak pernah berniat mengubah jalan hidup nya.
Friska membiarkan semua kekosongan ini berjalan di hidup nya, ia tak ingin bertemu dengan orang baru diluar sana, dan tak berniat menjalin hubungan apapun.
Hari sabtu adalah jadwal rutin ia berkunjung ke Ayah nya, kondisi Galih sempat turun setelah percakapan mereka, Friska absen beberapa minggu setelah itu, namun sekarang ia ingin mengunjungi Ayah nya lagi.
Setidaknya hanya Galih lah satu-satu nya orang yang Friska punya meskipun ia masih belajar memaafkan kesalahan Ayah nya itu di masa lalu.
Friska duduk di kursi bus yang terlihat sepi sabtu ini, ia melihat orang lalu lalang dengan sibuk nya, mereka begitu sibuk akan urusan dunia yang tak pernah selesai, sungguh melelahkan sebenarnya.
Tak lama bus pun berhasil membawa Friska sampai di tempat tujuan nya, yaitu rumah sakit jiwa.
"Kamu datang, nak." Galih menyambut hangat Friska yang hanya tersenyum singkat.
"Duduk sini." Galih menepuk sisi kasur nya.
Friska berjalan ke arah Ayah nya, lalu mengambil buah apel dan mengupasnya.
"Ayah baik-baik aja?" Tanya Friska.
Galih hanya menjawab pertanyaan Friska dengan anggukan.
"Nak, maafkan Ayah sudah menyebabkan kamu seperti ini, membuat trauma kamu akan sebuah kepercayaan. Tapi jangan siksa diri kamu sendiri dengan terus menerus menyendiri, nak. cinta sejati itu sebenarnya ada, jangan jadikan kisah cinta Ayah dan Ibu mu menjadi sebuah hal yang membuat kamu merasa bahwa tidak ada cinta sejati di dunia ini."
Friska menghentikan aktivitas dari mengupas buah apel itu, ia menatap sang Ayah sambil berkata,
"Cinta itu hanya perasaan sementara, yah. Semua di dunia ini tidak ada yang abadi, aku tak ingin cinta mengubah diriku menjadi orang yang lebih lemah nanti nya."
Galih hanya menghela napas lelah mendengar kalimat Friska, perempuan itu bercerita jika ia tak akan menikah dan menolak lelaki yang sudah menyatakan cinta padanya.
Galih awalnya senang jika Friska sudah menemukan tambatan hati nya, namun sepertinya perempuan itu sama sekali tak mau membuka hati pada siapapun lagi.
"Ayah makan ini, aku cuci tangan dulu." Friska berjalan keluar ruangan menuju wastafel yang terletak di luar.
Ketika Friska berbalik badan ingin kembali masuk ke ruangan sang Ayah, perempuan itu terpaku sejenak melihat pemandangan di depan nya.
Tommy menggendong anak kecil di lengan kiri nya dan menggandeng tangan perempuan cantik yang Friska tahu betul siapa dia.
Bella. Tentu saja perempuan itu adalah kandidat yang paling cocok menjadi pasangan hidup lelaki sempurna seperti Tommy.
Mereka berjalan bersama dengan sesekali bersenda gurau di lorong rumah sakit, tampak begitu bahagia.
Ia memang sudah tak bekerja di tempat perusahaan nya yang dulu, ia memilih menjalani kehidupan sebagai seorang Freelancer dan sambil sesekali mengisi kebosanan dengan menulis.
Ternyata memang benar apa yang dikatakan Friska, bahwa cinta hanyalah perasaan sementara, dan mudah hilang hanya dalam kurun waktu yang tak begitu lama.
Kini Friska harus terus menjalani kehidupan nya yang sepi ini.
End.