Until I Die (1)

1532 Words
Author POV Wanita berprinsip, itulah kalimat yang bisa mendeskripsikan Fiona. Perempuan sederhana namun memiliki prinsip yang kuat dalam hal apapun, baik dalam hal cita-cita maupun soal cinta. Hal itu yang menjadi daya tarik seorang Fiona di mata Dion, mereka adalah teman semasa duduk di bangku kuliah dengan jurusan berbeda, Fiona mengambil jurusan sastra inggris sedangkan Dion mengambil jurusan arsitektur. Hubungan mereka dimulai saat mereka bertemu di satu organisasi yang sama semasa kuliah, Fiona menganut prinsip no s*x before merried kerap dijuluki si kuno oleh beberapa teman nya. Namun, bukan Fiona jika ia tak bebal akan komentar orang lain, ia akan menjalankan segala sesuatu sesuai dengan kata hatinya bukan kata orang lain. Dion tak keberatan dengan prinsip itu, ia mencintai Fiona karna kepribadian perempuan itu, Fiona mempunyai pembawaan diri yang tenang dan cenderung berhati-hati dalam hal apapun, hingga hal itu membuat Dion memutuskan untuk menikahi Fiona setelah satu tahun mereka lulus kuliah dan sudah mendapatkan pekerjaan masing-masing. Pernikahan mereka berjalan dengan lancar dan bahagia, meskipun ada sedikit pertengkaran kecil, namun itu adalah hal yang wajar, karna pernikahan menyatukan dua pemikiran yang berbeda. Tak terasa pernikahan mereka sudah memasuki tahun ke-3, Fiona masih belum di karuniai seorang anak, suaminya berkata untuk tidak terlalu memusingkan soal anak, namun sebenarnya Fiona sedikit gelisah akan permasalahan anak, karna dirinya juga menginginkan seorang anak sebagai pelengkap kebahagiaan pernikahan mereka. Ia takut jika Dion berkata seperti itu namun sebenarnya lelaki itu menginginkan sebaliknya. Ditambah akhir-akhir ini ekonomi mereka sedikit menurun karna usaha bahan bangunan Dion mulai sepi pembeli dan beberapa kali mengalami kejadian penggelapan dana oleh karyawan lelaki itu sendiri. "Mas, kopi nya ditaruh mana?" Fiona membuka pintu ruang kerja sang suami. "Sini." Jawab Dion. Setelah meletakkan kopi, Fiona berjalan kebelakang kursi Dion, suaminya itu terlihat letih karna terus bekerja dan mengurusi permasalahan usaha nya, ia memijat pundak Dion yang terasa kaku. "Istirahat dulu, Mas. Masih ada hari esok." Ucap Fiona pelan. "Ck, klien pada minta aneh-aneh, usaha aku juga mau ancur! Bisa gila lama-lama aku." Keluh Dion. Suaminya itu akhir-akhir ini lebih sering marah-marah, hal itu sedikit membuat Fiona takut berada di dekat lelaki itu. Namun, Fiona tak mungkin membiarkan suaminya menghadapi semua masalah ini sendiri. "Kita hadapi semua masalah ini pelan-pelan, ya, Mas. Pasti ada jalan kok, kamu jangan kebawa emosi." "Ck, andai aja aku punya saudara ipar kaya." Kalimat itu membuat pijatan tangan Fiona di bahu Dion terhenti, selain sering marah-marah, lelaki itu juga melampiaskan amarah nya dengan mengeluarkan kata-kata yang menyinggung Fiona. Hal itu dikarenakan teman dekat suaminya, yaitu Bayu. Bayu adalah teman seangkatan mereka, ia juga sempat mengalami kebangkrutan usaha seperti yang mereka alami sekarang, namun usaha Bayu kembali bangkit setelah suntikan dana yang diberikan oleh saudara ipar nya, mungkin hal itu juga yang membuat Dion iri dengan nasib baik Bayu yang bertemu dengan ipar yang kaya. Tak seperti Fiona, ia hanya anak kedua dari dua bersaudara, kakak nya hanya seorang buruh di tempat usaha orang, Fiona memang dari kalangan bawah, ia bisa berkuliah itupun dari beasiswa dan disela kesibukan kuliah ia juga mengambil kerja paruh waktu. Tapi ia tak pernah merasa malu dengan keadaan kakak nya itu, karna kakak nya lah ia bisa berkuliah, dan kakak nya itu rela menyisihkan gajinya untuk membantu kuliah nya yang terkadang membutuhkan dana dadakan. Tentu Dion tahu bahwa hal itu tak bisa diubah, takdir kita ingin dilahirkan di keluarga yang bagaimana dan seperti apa adalah takdir yang mutlak. Mungkin karna masalah yang datang bertubi-tubi membuat akal sehat lelaki itu sedikit tertutup. Dion membalikkan tubuhnya dan menatap mata Fiona yang telah basah dengan tatapan bersalah, ia mengambil tangan istrinya yang langsung ditarik kasar oleh sang pemilik, membuat lelaki itu semakin dilanda rasa bersalah yang semakin besar. "Sayang.. " "Aku tahu, Mas. Aku sadar betul kalau kehadiran ku ini tak berguna di mata kamu, kamu tak beruntung karna menikahi perempuan dari keluarga miskin seperti aku." Kalimat itu diakhiri dengan isakan Fiona yang semakin keras. Ia sudah beberapa kali memaklumi sifat suaminya itu yang akhir-akhir ini sering marah-marah, dan Fiona terima semua kalimat yang menyinggung harga diri nya. Namun, kali ini Fiona tak bisa membendung perasaan itu semua, perasaan merasa tak berguna dan direndahkan. "Maaf, aku lagi banyak pikiran." Balas Dion. "Aku tahu kamu banyak pikiran, Mas. Tapi aku juga punya perasaan." "Maaf." Fiona melangkahkan kaki nya keluar dari ruang kerja suaminya dengan isakan, ia tak menyangka bahwa suaminya itu akan terus mencari kambing hitam dari segala permasalahan yang terjadi sekarang. Padahal, jika Dion bisa lebih dewasa sedikit dalam menghadapi masalah, mungkin lelaki itu tak akan membuat istrinya merasakan sakit hati seperti sekarang. ****** "Kamu masih belum mau ngomong sama aku?" Dion mulai kembali menunjukkan emosi nya karna sudah 2 hari ia merasa diabaikan oleh istrinya sendiri. Fiona sebenarnya tidak bermaksud mengabaikan lelaki itu, ia hanya sedikit lebih pendiam akhir-akhir ini, ia tak ingin orang lain merasakan sakit hati akan kata-kata yang akan ia keluarkan nanti pada saat perasaan di penuhi amarah, hal itu pasti akan membuat Fiona menyesal nantinya. "Kamu udah pulang, Mas?" Fiona mengabaikan pertanyaan Dion dengan mengalihkan perhatian lelaki itu, karna hari ini masih siang dan lelaki itu berkata jika ada janji meeting sampai sore. "Aku udah pusing masalah kerjaan sama usaha aku yang mau bangkrut itu, kamu jangan ikut-ikutan nambah pikiran, gausah kekanakkan." Lagi-lagi kalimat pedas Dion keluarkan, pasti lelaki itu mengalami masalah saat meeting tadi sehingga lelaki itu melampiaskan amarah nya. Fiona menarik napas nya dalam dan berjalan menuju tempat Dion berdiri, ia mengelus lembut lengan kekar Dion sambil tersenyum tipis. "Ada masalah pas meeting tadi?" Tanya Fiona pelan. "Ada masalah, nggak ada masalah juga nggak akan ada yang bantu aku! Jadi, percuma kalau kamu tanya-tanya." "Selama ini aku nggak bantu kamu, Mas? Kalaupun kamu jatuh miskin nantinya aku bakal tetap ada di sisi kamu, jika nantinya kamu nggak bisa kasih aku uang belanja juga aku bakal tetap ada disisi kamu, karna pernikahan itu kerja sama, Mas. Aku masih bisa pakai uang aku buat beli makanan dan buat kebutuhan kita lainya." "Kamu doain aku jatuh miskin, hah? Nggak mungkin aku jatuh miskin kalau saat ini ada yang bantu aku buat stabil-in lagi usaha aku." "Untuk uang sebesar itu aku nggak punya, Mas. Saudara ku pun juga tidak ada yang punya." Kata Fiona dengan tertunduk. "Yaudah, maka dari itu nggak usah nambah-nambah masalah pakek ngambek segala!" Semprot Dion. "Maaf, Mas. Aku emang nggak berguna, selalu ngerepotin kamu." Fiona semakin takut akan perubahan sang suami, ia mengenal lelaki itu selama 6 tahun, namun hanya karna masalah ekonomi ini membuat Fiona tak lagi mengenal suami nya itu. Dion meninggalkan Fiona sambil berdecak melihat sikap istrinya itu yang tak tahu kondisi jika ingin mengedepankan sikap kekanak-kanakkan nya, sungguh membuat Dion muak menghadapi sikap itu. ****** "Gimana, yon? Usaha lo udah membaik?" Bayu dan Dion bertemu di kafe karna Dion yang membuat janji dengan teman nya itu. "Masih nggak ada jalan keluar." Jawab Dion lemas. "Gue ada solusi sih sebenernya, tapi gue ragu." Dion menegakkan duduk nya dan memusatkan perhatian nya kepada Bayu. "Solusi apa?" "Istri gue punya saudara, dia cewek mandiri, punya usaha, kaya juga. Barangkali dia bisa bantu lo, atau lo ajak dia kerja sama aja." "Kerja sama gimana? Orang usaha gue udah mau ancur gitu, mana ada yang mau diajak kerja sama." "Kalau itu gampang lah, biar gue minta tolong sama istri gue biar ngomong sama dia." "Beneran lo?" Dion sumringah mendengar solusi yang diberikan oleh Bayu, ia merasa mendapatkan lagi harapan untuk sukses seperti sedia kala. Bayu menganggukkan kepala nya meyakinkan Dion bahwa ia akan membantu lelaki itu. ****** "Mas, aku besok izin mau pergi ke tempat teman aku." "Tumben?" Dion menatap heran kearah istrinya, Fiona bukan perempuan yang suka keluar ke rumah teman nya atau sekedar ikut reuni, istrinya itu tipe introvert sekali. "Iya, dia ngajak ketemuan soalnya dia udah pulang dari luar negeri." "Siapa? Kok kamu nggak pernah cerita?" "Dia teman SMA ku, dia ngelanjutin kuliah di luar negeri setelah lulus SMA." "Oh, yaudah. Jangan pulang terlalu sore." "Iya, Mas." Fiona melanjutkan makan nya setelah obrolan mereka selesai, semenjak mereka sering bertengkar, komunikasi antara mereka sedikit memburuk dan Fiona pun tampak nya sudah tak seceria dahulu, ia lebih cenderung pendiam karna takut akan salah berucap dan menimbulkan pertengkaran lagi ditengah kondisi perasaan suaminya yang sensitif. "Aku tadi ketemuan sama Bayu, dia bilang mau bantu usaha aku buat bangkit lagi." "Oh ya?" "Iya, makanya aku besok mau ke rumah dia." "Aku boleh ikut nggak, Mas?" Dion mengerutkan keningnya mendengar kalimat yang dikeluarkan Fiona. "Kalau nggak boleh juga nggak papa kok." Fiona sudah menebak dari ekspresi wajah sang suami yang terlihat keberatan mendengar permintaan nya. Fiona hanya ingin memastikan dengan lebih dekat bagaiman karakter teman suaminya itu yang bisa mempengaruhi Dion sampai sejauh ini. Tentu Fiona berhak untuk mengambil tindakan jika Bayu mempunyai niat buruk dengan pernikahan mereka, karna tampak nya Dion sudah masuk terlalu jauh ke dalam standart hidup yang Bayu tetapkan. Sampai-sampai membuat Dion lupa cara mensyukuri segala sesuatu yang ia dapatkan selama ini. "Sementara aku urus sendiri aja sama Bayu, karna ini bukan cuma sekedar ketemu biasa, ada hal mendesak yang mau dibahas." "Iya, Mas." Lagi-lagi Fiona hanya bisa menurut dan mengangguk patuh akan ucapan suaminya, ia akan mencari tahu tentang Bayu itu sendiri jika memang sang suami tak berniat memberitahu nya. Bersambung...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD