Kedekatan Gea dengan Farhan semakin intens, mereka sering bertemu setelah pulang dari kesibukan mereka masing-masing, tak terasa mereka sudah menjalani hubungan dekat selama 5 bulan.
Gea sepertinya sudah mulai membuka hati dengan lelaki gagah itu, bagaimana tidak jika sifat Farhan yang dewasa sekaligus tegas itu tak membuat Gea jatuh hati, sifat seperti itulah yang akhirnya meluluhkan hati Gea untuk menerima keseriusan laki-laki itu.
Farhan juga nampak nya sudah tak ingin membuang waktu lebih lama lagi dalam hal pendekatan, Farhan berniat melamar Gea dalam waktu dekat ini.
"Sudah siap?" Farhan tersenyum ketika Gea sudah keluar dari apartemen nya dengan baju kerja nya.
Hari ini Farhan berniat mengantar Gea untuk pergi bekerja, sebenarnya hari sabtu ini Gea libur, namun perempuan itu ada acara seminar sekaligus menemui beberapa investor di luar kota.
Ternyata perkataan Farhan waktu itu mampu mendorong rasa percaya diri Gea menjadi seperti seperti sekarang, Gea sudah mulai aktif dan percaya diri mengikuti kegiatan yang makin membuat dia produktif dan belajar banyak hal.
"Kamu beneran libur hari ini? Bukan karna mau nganterin aku ke luar kota kan, makanya kamu ambil libur?" Gea takut jika keberangkatan nya kali ini membuat Farhan harus mengambil libur, Gea paham jika Farhan memiliki pekerjaan yang tidak bisa di nomor dua kan. Jadi, sebisa mungkin Gea tak ingin merepotkan lelaki itu.
"Aku beneran libur, sayang." Ucap Farhan lembut.
Gea tersipu mendengar kalimat itu, jangan salahkan Gea jika ia tak bisa mengontrol sikap salah tingkah nya, karna Farhan adalah pacar pertama nya.
"Yaudah, yuk." Gea berjalan mendahului Farhan sambil tersenyum tertahan, perempuan itu tak berani menatap mata Farhan setelah kalimat sayang itu keluar, ia takut menjadi semakin salah tingkah.
Farhan juga sebenarnya malu setelah mengucapkan kalimat itu, namun ia juga merasa senang melihat respon Gea yang menggemaskan.
Wajah perempuan itu memerah dan berjalan seperti anak kecil membuat Farhan merasa candu dengan perasaan menggelitik ini.
Ah, seperti nya Gea sudah membuat Farhan tergila-gila.
******
Ekspresi Gea berubah-ubah ketika mendengar cerita yang dilalui oleh lelaki itu ketika masih menempuh pendidikan di akademi militer.
Mulai dari ekspresi terkejut, sampai tertawa terbahak-bahak mendengar kejadian lucu yang lelaki itu alami membuat suasana perjalanan di dalam mobil itu tak membosankan.
"Masa sih kamu nggak pernah suka sama perempuan di sana?"
"Aku nggak ada waktu untuk itu, dulu aku sangat berambisi buat berprestasi karna aku juga membawa nama Ayahku." Jawab Farhan.
Gea memandang kagum kearah Farhan yang sedang menyetir mobil, ia merupakan perempuan yang beruntung bisa bertemu dengan lelaki bijaksana sekaligus pintar seperti Farhan.
"Kenapa?" Farhan menoleh kearah Gea yang tampak memandanginya lama.
"Aku beruntung bertemu sama kamu, kamu begitu sempurna, sifat lembut sekaligus tegas kamu itu membuatku terkesan. Terkadang aku merasa kamu terlalu sempurna untuk aku."
'Apakah tidak apa-apa jika perempuan biasa sepertiku ini memiliki lelaki hebat seperti dia?' Batin Gea.
Kalimat itu terkadang terus berputar di otak Gea saat malam hari, disaat hanya kesepian yang menemani Gea, saat-saat seperti itulah yang terkadang menggoyahkan rasa percaya diri Gea.
Namun, Gea tak menyangkal bahwa di saat-saat seperti itu adalah momen yang dibutuhkan untuk mengingat lagi apa yang ia lakukan seharian ini, dan apa yang perlu ia pikirkan namun tak bisa ia lakukan di siang hari.
"Kamu terlalu sering memperhatikan kehebatan orang lain sampai lupa bahwa kamu sendiri hebat."
"Justru aku yang bersyukur bertemu dengan kamu. Perempuan mandiri dan berhati baik, sulit mencari perempuan seperti kamu di zaman serba manipulatif seperti ini."
Perkataan panjang Farhan membuat Gea tertegun sejenak, ia merasa begitu tersentuh dengan kalimat yang lelaki itu ucapkan, selama ini Gea hanya mendengar kalimat pujian dari kedua orang tua nya saja.
Gea menoleh kearah Farhan dengan mata berkaca-kaca, ia memeluk lelaki itu dengan erat dengan posisi Farhan yang sedang menyetir mobil.
"Terima kasih." Gea hanya bisa mengucapkan kalimat itu dengan nada tersendat karna tangisan pelan nya.
Cup...
Farhan mengecup kening Gea sebagai bentuk balasan, tentu saja hal itu membuat Gea semakin menyembunyikan wajah nya di leher Farhan karna sekarang hati nya tengah berdebar kencang dengan kecupan hangat itu.
******
"Udah bisa?" Rara menghampiri Gea yang tengah berkutat serius di meja meeting milik perusahaan yang akan bekerja sama dengan perusahaan dimana ia bekerja.
"Bisa, kamu kurang teliti input kode nya, jadi banyak yang nggak sinkron." Balas Gea.
"Oh, gitu." Rara mengambil laptop yang berada di hadapan Gea itu, lalu mengecek nya sendiri.
"Ekhem, kamu jadian sama Pak Farhan?" Rara menanyakan sesuatu yang beberapa minggu ini mengganjal di hati nya, ia masih belum percaya dengan gosip yang tersebar di rekan kerja nya, maka dari itu Rara menanyakan sendiri kepada Gea.
"Iya." Gea menjawab pertanyaan Rara dengan senyum lebar.
"Udah berapa lama?" Nada bicara yang dikeluarkan Rara begitu dingin setelah mendengar kalimat itu.
"Udah 5 bulan."
"Eh, kamu sabtu depan ikut, ya." Lanjut Gea sekaligus mengajak Rara datang di acara yang akan diadakan di rumah nya sabtu depan.
"Ada apa?" Rara mengerutkan keningnya melihat ekspresi Gea begitu bahagia ketika berbicara.
"Sabtu depan acara lamaran aku sama Mas Farhan."
Lamaran?
Mas Farhan?
Entah mengapa dua kalimat itu sangat menganggu Rara, apalagi ekspresi bahagia Gea seolah mengejek kekalahan nya dalam menaklukkan seorang lelaki.
Apalagi seseorang seperti Farhan, wibawa sekaligus daya pikat lelaki itu begitu kuat, selama ini Rara hanya bertemu dengan lelaki playboy yang gemar mengumbar kata-kata mesra dan menurut Rara mereka sama sekali tak mempunyai aura atau daya pikat seperti Farhan.
Rara tentu berniat mendekati lelaki itu, namun Gea malah yang mendapatkan nya. Harga dirinya terluka, selama ini lelaki selalu mendekatinya dan mengabaikan Gea, namun mengapa sekarang pada saat Rara sudah terpikat dengan Farhan, malah Gea yang mendapatkan lelaki itu.
"Aku nggak bisa janji." Jawab Rara.
"Kenapa? Acara nya cuma sebentar kok." Tanya Gea, ia memang tak ingin memaksa perempuan itu hadir, tapi Gea sudah menganggap Rara sebagai teman dekat nya.
"Lihat nanti aja." Setelah mengatakan itu, Rara bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju pintu keluar ruangan.
Gea hanya mengerutkan keningnya melihat respon Rara yang sepertinya tidak bahagia dengan kabar yang ia sampaikan.
******
Gea berjalan di depan jendela apartemen yang ia buka lebar, ia sedang gelisah sekaligus merasa panas, sudah 3 hari Farhan tidak bisa di hubungi, pesan yang Gea kirimkan hanya mengambang tanpa balasan.
Gea tidak bisa tenang kali ini, karna lusa adalah acara tunangan mereka, memang Farhan tidak pernah mengenalkan dirinya secara langsung kepada orang tua lelaki itu, jika Gea meminta pun, Farhan akan berkata 'nanti aku akan bawa orang tua ku pada saat acara pertunangan kita.'
Awalnya Gea mengiyakan saja alasan yang diungkapkan oleh lelaki itu. Namun, sekarang Gea merasa sanksi akan alasan Farhan, apakah lelaki itu selama ini berpura-pura dengan nya? Banyak pikiran negatif yang terus bermunculan membuat Gea tidak bisa tenang.
kring...
Gea mengambil ponsel nya cepat ketika merasakan handphone yang setia ia genggam sejak tadi itu bergetar.
Ternyata itu adalah ibu nya.
Ia berkaca-kaca ketika melihat ibu serta ayah nya begitu bahagia menyiapkan acara lamaran itu dengan wajah yang bersemangat, ia tak mungkin berkata sejujurnya sekarang jika lelaki yang berkata akan meminangnya itu tidak diketahui kabarnya hingga saat ini.
Panggilan pun berakhir hingga sekarang yang Gea lakukan lagi-lagi hanyalah menunggu, menunggu sesuatu yang tidak pasti memang tak pernah gagal membuat siapapun pergi.
******
"Gea, udah jam 10 malam, nak." Sang ibu terus membujuk Gea untuk masuk kedalam rumah karna malam sudah semakin larut.
Firasat buruk Gea ternyata benar-benar terjadi, lelaki itu tak datang untuk menepati janji yang sudah ia ucapkan sendiri, tak pernah sekalipun Gea mengira bahwa selama ini yang lelaki itu lakukan hanyalah pura-pura.
Sambil menahan malu, Gea meminta maaf kepada para keluarga besarnya siang tadi, karna acara lamaran yang tidak terlaksana.
Gea pun bangkit dari duduk nya dan berjalan masuk ke dalam rumah, tak lupa menutup pintu dengan rapat seolah-olah melindungi dirinya sendiri dari segala sesuatu diluar sana yang berhasil menyakiti perasaan nya.
******
"Sabar, ya. Aku nggak tahu kalau Pak Farhan bisa se-pengecut itu."
"Iya, kamu istirahat dulu aja, tenangin diri."
Banyak kata penenang yang dilontarkan oleh para sepupu nya itu kepada Gea, ia hanya mengangguk sambil tersenyum tipis sebagai jawaban.
Ia sebenarnya masih belum percaya bahwa Farhan berubah menjadi lelaki b******k seperti ini, ia masih berharap bahwa Farhan tak benar-benar berniat melakukan ini semua.
Namun, kenyataan sampai sekarang pun masih tak memihak Gea, sudah 3 hari semenjak acara lamaran yang tidak terlaksana itu, Farhan masih belum menunjukkan dirinya.
Ia hanya berharap bisa bertemu dengan lelaki itu secepatnya meskipun ia harus menanggung rasa sakit serta malu ini sendirian.
"Mending sekarang kita beli es krim langganan kita aja, yuk." Ajak salah satu sepupu Gea.
Semua mengiyakan ajakan itu tak terkecuali Gea, mungkin dengan memakan es krim bisa membuat perasaan Gea membaik, setidaknya untuk sementara.
Setelah 10 menit perjalanan menuju tempat kedai es krim, mereka masuk ke dalam kedai es krim itu dan mulai memakan pesanan mereka masing-masing. Namun, Gea merasa mengenali wanita yang tengah mengantri di kasir untuk membeli es krim yang tengah Gea makan sekarang, ia bangkit lalu berjalan menuju wanita itu.
"Rara?" Tegur Gea.
Perempuan itu pun menoleh karna mendengar suara yang memanggil namanya.
Rara hanya memberikan ekspresi kaget tanpa mengeluarkan satu kata pun, ia terlihat gelisah dan merasa ingin cepat pergi dari pandangan Gea, hal itu pun disadari oleh Gea, ia mengerutkan keningnya karna Rara terlihat tidak tenang.
"Kamu kena-" Belum sempat Gea menyelesaikan kalimat nya, Rara berjalan menuju pintu keluar kedai dengan terburu-buru, Gea pun ikut menyusul Rara dari belakang bermaksud untuk menanyakan keadaan Rara.
Namun, yang terjadi malah membuatnya tercengang, di depan kedai, Farhan tengah memegang lengan Rara dan mereka mengobrol dengan jarak yang begitu dekat, membuat Gea semakin mempercepat langkah nya.
"Mas?"
Rara menarik lengan Farhan menjauh dari Gea menuju tempat parkir kedai itu lalu masuk ke dalam mobil dan meninggalkan Gea sendiri kebingungan menerka-nerka apa yang mereka lakukan selama ini di sehingga Gea merasa begitu terkhianati hanya dengan melihat kejadian singkat itu.
END.