"Papa kenapa bersikap seperti itu?" Jaka menghentikan langkah nya mendengar kalimat yang Farhan keluarkan.
Mengerutkan kening nya, Jaka bertanya apa maksud dari pertanyaan anak lelaki nya itu.
"Maksud kamu?"
"Papa mengusir perempuan itu."
Jaka menghela napas. "Papa tidak mengusir dia, hanya saja papa terganggu melihat dia yang hanya diam melamun tanpa melakukan apapun, datang terlambat pula."
"Memang papa tahu alasan sebenarnya dia terlambat? Bisa saja dia ada kendala di tengah perjalanan, lagi pula dia sudah meminta maaf." Jelas Farhan panjang.
Jaka memandang terkejut kearah Farhan, anak lelaki nya ini jarang sekali berbicara panjang seperti ini apalagi untuk seorang perempuan yang baru ia temui.
"Kamu kenal dia?" Tanya Jaka pelan.
"Aku beberapa kali bertemu dengan dia saat tugas, dia sering menjadi relawan bencana."
"Bersama dengan Rara?" Tebak Jaka.
Farhan menganggukkan kepala nya, ia kesal dengan sikap ayah nya ini, pasti Gea sakit hati mendengar ucapan ayah nya.
"Kamu tertarik dengan perempuan itu?" Tebak Jaka tepat sasaran. Namun, Farhan hanya melengos berjalan mendahului Jaka menuju parkiran mobil.
Jaka hanya memandang punggung Farhan dengan tatapan dalam, lelaki paruh baya itu menelpon seseorang yang merupakan orang kepercayaan nya.
*****
Kring....
Dering handphone membuat perempuan yang sedang menutupi seluruh tubuh nya dengan selimut itu menggeram kesal.
Ia sedang tak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. Namun, seseorang malah menghubunginya berkali-kali.
Akhirnya Gea bangun dari tempat tidur nya dan melihat kearah jam kecil di sebelah tempat tidur.
Pukul 9 pagi, hari ini Gea memutuskan untuk meliburkan dirinya dari kesibukan bekerja. Lagi pula semua tugas nya sudah ia kerjakan kemarin hingga ia terlambat datang ke tempat rapat.
Gea mendecakkan lidah nya ketika ingatan malam kemarin melintas di kepala nya, ia malas bertemu dengan siapapun saat ini, ia juga menyesali sikap kekanak-kanakkan nya kemarin dengan langsung meninggalkan tempat rapat.
Seharusnya ia bisa mengendalikan emosi nya sendiri, entah mengapa ia langsung tersinggung mendengar ucapan pria paruh baya itu.
"Akh... Sudahlah, aku tak mau memikirkan itu lagi." Gea mengacak rambut nya kesal.
Gea melihat siapa yang berkali-kali menghubungi nya pagi ini, ternyata Rara sudah menelpon dirinya sebanyak 4 kali dan ia biarkan saja panggilan itu tak terjawab.
Lalu mata Gea memincing melihat nomor asing yang sudah dua kali menelpon nya pagi ini. Perempuan itu hanya mengendikkan bahunya, tak ingin memusingkan hal itu, Gea berjalan menuju dapur untuk membuat sarapan pagi.
Kring....
"Huh.... Siapa lagi." Gea berjalan malas menuju meja depan televisi, lalu mata Gea berbinar senang ketika melihat sang ibu yang menghubungi nya.
"Mama...." Suara manja Gea menyapa sang ibu.
"Anak mama.... Sehat, nak?" Ranti tersenyum mendengar sapaan manja Gea yang terlihat sangat bersemangat.
"Sehat, Ma. Mama sama papa sehat?"
"Kita semua disini sehat, sayang." Lembut suara Ranti membuat Gea ingin menangis karna rindu suasana rumah.
"Ma, Gea kangen."
"Ambil cuti dong, mama juga kangen banget."
"Mungkin 2 minggu lagi Gea bakal ambil cuti."
"Lama amat, yaudah tapi harus tetap semangat, ya." Ranti menyemangati Gea yang harus menunggu 2 minggu lagi untuk kepulangan nya.
"Eh, kamu masih di apartemen? Nggak kerja?" Tanya Ranti.
"Hehe, hari ini Gea ambil libur satu hari, Ma."
"Tumben? Kan kamu biasa nya rajin banget."
"Gea lagi pingin istirahat soal nya kemarin-kemarin Gea udah ambil lembur." Gea memang tak berbohong tentang alasan nya ini. Namun, malas bertemu dengan orang-orang kantor juga salah satu alasan nya.
Namun, ia tak mungkin memberitahu sang ibu tentang alasan nya yang itu, akan repot nanti urusan nya.
"Oh, gitu. Kerja jangan terlalu dipaksa, kalau emang capek ya ambil cuti aja, kesehatan nomor satu."
"Iya, Ma. Mama sama papa juga jaga kesehatan, ya."
"Iya, sayang. Mama tutup ya telepon nya."
Tutt....
Setelah panggilan berakhir, Gea menghela napas. Ibu nya benar, ia harus mementingkan kesehatan fisik maupun mental nya sendiri agar bisa tetap menjalani hari-hari dengan normal, jika terlalu dipaksakan pasti akhir nya tak akan baik.
Suasana hati nya kini sudah membaik setelah berbicara dengan sang Ibu, memang keluarga benar-benar support system yang paling ampuh bagi Gea.
Dan Gea bersyukur akan hal itu, diberikan keluarga yang selalu mendukung setiap langkah nya.
******
"Gea lagi nggak masuk." Rara berkata datar ketika melihat junior nya di kantor sedang mencari keberadaan Gea.
"Oh, lagi nggak masuk, ya, Kak. Boleh minta tolong-" Belum sempat Cika menyelesaikan ucapan nya, Rara sudah memotong kalimat perempuan itu dengan nada dingin nya.
"Gue sibuk." Setelah mengatakan itu Rara berlalu meninggalkan Cika sendirian sambil mendengus sebal.
"Coba aja kalau yang minta tolong laki-laki, pasti tuh cewek mau. Dasar cewek gatel." Gerutu Cika kesal.
"Udah?" Tanya Farah, teman dekat Cika.
"Belum, Kak Gea nggak masuk hari ini, ada nya cuma Rara si cewek gatel."
"Yah, Kak Gea nggak ada. Yaudah nanti kita minta tolong nya nunggu Kak Gea aja, nggak usah sama tuh cewek." Farah pun tampak ikut kesal hanya dengan Cika yang menyebut nama Rara. Mereka berjalan meninggalkan ruangan itu dengan saling berbincang mengenai kelakuan senior nya itu.
******
"Halo." Gea menjawab panggilan yang lagi-lagi masuk di smartphone nya, kali ini nomor tidak dikenal yang menghubungi nya.
"Ekhem. Halo, saya Farhan." Deheman berat itu mengawali jawaban Farhan yang terkesan gugup.
"Farhan siapa, ya?" Gea mencoba mengingat-ingat nama yang seseorang disebrang sana sebutkan. Namun, ia tetap saja tak tahu.
"Saya anggota TNI yang bertugas di bencana kemarin." Jelas Farhan.
"Oh, Mas Farhan. Ada apa, ya?"
"Saya-ekhem, ingin minta maaf atas sikap ayah saya kemarin."
"Pak Jaka adalah ayah saya." Lanjut Farhan.
Gea kembali teringat kejadian malam rapat itu, ia cukup sakit hati mendengar kalimat usiran halus itu. Namun, ia juga tak menyangkal bahwa dirinya sudah bersikap kekanak-kanakan.
"Oh, iya. Saya juga minta maaf karna sudah bersikap tidak dewasa dengan langsung pegi begitu saja." Balas Gea.
"Iya." Setelah Farhan mengiyakan kalimat Gea, percakapan mereka terhenti sebentar, dan Farhan bingung mau membuka topik obrolan apa lagi.
"Emm, ada lagi yang ingin disampaikan?" Gea bersuara setelah beberapa menit Farhan hanya diam.
"Besok kita bisa bertemu?"
"Saya ingin tahu tentang penelitian kamu terhadap kasus itu." Farhan menjelaskan ajakan nya untuk keluar dengan Gea, ia tak punya alasan lain untuk bertemu dengan perempuan itu jika bukan karna pekerjaan.
"Bisa, jam berapa?" Gea menerima ajakan Farhan untuk bertemu, karna menurutnya ini adalah kesempatan untuk memperbaiki kesalahan yang ia buat kemarin dengan mengeluarkan pendapat yang sudah ia susun.
Farhan tengah tersenyum di seberang sana mendengar kalimat itu dengan menggenggam erat smartphone nya dengan gemas.
"Jam 4 sore, saya jemput di depan taman bunga."
"Eh, tidak usah dijemput, kita langsung bertemu di tempat janjian." Gea tidak ingin merepotkan lelaki itu, dan terkesan mengambil kesempatan.
"Tidak apa-apa, besok saya tunggu. Selamat malam."
Setelah mengatakan itu, Farhan langsung menutup panggilan nya karna ia tahu bahwa Gea kemungkinan akan membuat alasan lagi untuk menolak dijemput.
Sedangkan Gea entah mengapa perempuan itu merasa berdebar mendengar suara berat Farhan. Namun, ia menggelengkan kepala nya, ia tak boleh sembarangan jatuh cinta dengan lelaki apalagi seperti Farhan yang merupakan perwira muda di TNI dan anak dari keluarga terpandang.
Terlalu jauh bagi Gea.
******
Farhan POV
Perempuan di depan ku ini sungguh membuat ku semakin salah tingkah, aku mencoba mencairkan suasana setelah ia menjelaskan pertanyaan ku tentang masalah yang terjadi kemarin.
Namun, ternyata tak ku sadari bahwa tawa nya yang merdu serta lesung yang terlihat jelas di pipi nya itu malah membuat ku semakin berdebar.
Sungguh manis sekali, berbeda dengan beberapa perempuan yang ku temui. Mereka cenderung menonjolkan kelebihan dirinya sendiri hingga aku risih mendengarnya.
Tetapi Gea, perempuan ini sungguh sederhana dan mempunyai aura yang membuat orang lain merasa nyaman dengan nya.
"Mas?" Suara Gea menyentakkan lamunan ku karna terpaku akan suara merdu tawa perempuan itu.
"Eh, maaf."
"Kita jalan kesana lagi, ya." Lanjut ku mengalihkan suasana canggung yang terjadi setelah aku terpergok memandangi nya lama.
"Rapat selanjutnya kamu nggak ikut?" Tanya ku sambil berjalan beriringan.
"Em, aku udah terlanjur berbuat ceroboh kemarin, wajar jika mereka mungkin merasa kesal sama aku. Jadi, aku serahkan saja ke Rara."
Aku hanya diam mendengar kalimat itu, aku sesungguhnya kurang suka dengan perempuan bernama Rara itu, jelas sekali jika perempuan itu tengah mencari perhatian dengan sikap lembut nya yang tampak seperti di buat-buat.
"Saya tahu kok kalau yang dia jelaskan di rapat kemarin bukan hasil penelitian dia."
Gea menghentikan langkah nya dan memandang kearah ku dengan tatapan terkejut.
"Saya tahu, karna posisi saya duduk di dekat rekan kerja kamu, dan pada saat itu ia sedang membuka dokumen yang dibawah nya ada nama dan tanda tangan kamu." Jelas ku semakin membuat Gea diam.
"Tapi-"
"Jangan terus menerus mengalah, coba kamu ambil langkah tegas, karna hal itu semakin lama akan semakin merugikan kamu." Aku memotong ucapan nya, aku hanya kasihan melihat dia selalu mengalah dengan rekan kerja nya yang tak tahu diri itu.
Gea hanya menunduk mendengar kalimat ku, aku tahu dia pasti juga tersiksa di posisi sekarang.
"Tapi aku merasa bahwa memang Rara yang pantas menjelaskan materi itu." Ucap Gea pelan.
"Apa yang membuat kamu menjadi tidak pantas dalam hal itu?" Aku sedikit emosi ketika mendengar kalimat rendah diri Gea itu, perempuan itu terlalu memandang diri nya rendah.
"Banyak yang bilang jika visual Rara memang pantas untuk di tampilkan di depan umum baik investor atau seperti kasus Mas Farhan ini, karna hal itu bisa menjadi perwakilan wajah perusahaan." Jelas Gea panjang.
Aku kurang setuju dengan perkataan Gea, hal itu merupakan sikap diskriminatif yang paling klasik, yaitu lebih memandang fisik dari pada potensi yang dimiliki tiap individu.
"Kalau saya kurang setuju dengan hal itu sebenarnya, karna bisa menghambat seseorang untuk menyampaikan aspirasi nya jika mereka membuat batasan tak masuk akal seperti itu."
"Mungkin kamu harus mencoba tantangan sekali-kali, seperti membuktikan bahwa kamu bisa dan mampu untuk menunjukkan kemampuan kamu."
"Jangan terlalu cepat menyerah sama diri sendiri, dan juga jangan terlalu merendah, karna kamu itu cantik." Kalimat itu keluar begitu saja membuat diriku malu, namun aku juga senang ketika melihat Gea tersenyum dengan pipi memerah.
"Maaf, kalau saya lancang-"
"Terima kasih kata-kata manis nya." Ucap Gea malu-malu membuatku semakin terhipnotis dengan kecantikan dan kesederhanaan perempuan itu.
Seperti nya aku memang sudah tergila-gila dengan perempuan di hadapan ku ini.
Bersambung.....