"Ma."
Farhan mencium tangan ibu nya ketika lelaki itu sudah pulang dari tugas, sang ibu memeluk tubuh liat Farhan dengan usapan lembut di punggung.
"Kamu sehat, nak?" Tanya Santi-Ibu Farhan.
"Sehat, Ma. Mama habis liburan sama Papa?"
"Hehehe, iya. Mama bosen di rumah terus, apalagi kamu tinggal tugas 2 minggu." Ucap Santi dengan cekikikan.
Farhan hanya menggelengkan kepala nya mendengar ucapan sang ibu, orang tua nya memang selalu romantis meskipun mereka sudah cukup tua, hal itu terkadang membuat Farhan iri, ingin cepat bertemu jodoh.
Bicara tentang jodoh, Farhan mulai memikirkan tentang Gea, lelaki itu berhasil mendapatkan nomor telepon Gea dari buku laporan yang ada di tenda pengobatan saat dirinya menemui Tio.
Pengecut memang, dirinya terlalu malu untuk meminta nomor pribadi perempuan itu secara langsung. Tapi, yang jelas sekarang Farhan tengah bahagia, mungkin nanti malam lelaki itu akan mencoba menelpon Gea.
"Mama masakin kamu sop daging, yuk." Santi mengajak Farhan untuk duduk di meja makan yang sudah tersaji banyak makanan.
"Ma, gak perlu masak segini banyak nya, kan Farhan cuma tugas 2 minggu." Ibu nya itu suka sekali memanjakan dirinya dengan makanan kesukaan nya, Farhan tentu saja sangat senang. Namun, ia khawatir jika ibu nya itu merasa terbebani dengan masak sebanyak ini setiap kali ia pulang bertugas.
"Nggak papa, mama suka masakin kamu. Nanti kalau kamu udah nikah kan udah istri kamu yang masak." Ucap Santi dengan lembut.
"Kamu udah punya pacar?" Tanya Santi penasaran.
"Belum."
"Tapi pasti ada yang kamu suka, kan?" Goda sang ibu.
Farhan hanya tersenyum dengan wajah memerah, namun lelaki itu tak berniat memberitahukan siapa perempuan yang ia sukai.
"Kenalin dong sama mama." Santi menggoyang-goyangkan lengan Farhan semakin membuat Farhan salah tingkah.
"Nanti, Ma. Farhan lapar sekarang." Farhan mengalihkan obrolan mereka.
"Kamu nggak asik, ah." Ibu nya memang masih sering bertingkah seperti remaja, hal itu yang membuat Santi terlihat awet muda.
"Ekhem." Deheman berat itu membuat Farhan bangun dari duduk nya, ia berjalan mendekat sang ayah lalu mencium tangan nya.
"Lancar tugas nya?" Tanya Jaka-Ayah Farhan.
"Lancar, Pa. Ada sedikit masalah disana tapi masih bisa diatasi."
"Bagus." Jaka punya kepribadian yang sama seperti Farhan, mereka sama-sama mempunyai sifat yang kaku jika berhadapan dengan perempuan dan cenderung serius dalam hal apapun. Jaka juga tak suka banyak bicara, wibawa pria itu begitu nampak karna sifat nya yang tegas.
Selain itu, Jaka menempati posisi yang cukup tinggi di TNI, Farhan begitu menghormati ayah nya, Jaka merupakan inspirasi terbesar nya untuk masuk ke dunia tentara.
"Pa, Farhan katanya lagi suka sama cewek, lho." Santi mulai lagi menggoda Farhan yang nampak canggung memandang ayahnya.
"Ma." Peringat Farhan dengan pelan.
"Siapa?" Tanya Jaka langsung.
"Ehm, nanti Farhan kenalin kalau dia udah suka balik sama Farhan."
"Eh, rupanya anak mama lagi digantung." Santi semakin menjadi-jadi menggoda Farhan yang gugup dan beberapa kali mengalihkan pandangan nya kearah lain.
"Udah, makan dulu." Akhirnya Jaka pun menengahi aksi sang istri yang terus menerus menggoda anak lelaki nya.
******
Farhan berjalan kesana kemari di depan lemari baju sambil memegang smartphone. Ia bingung, jika ia menelpon Gea sekarang, apa perempuan itu akan mengangkatnya, mengingat sekarang jarum jam sudah menunjuk ke angka 9 malam.
Tapi, Farhan sungguh penasaran dengan respon perempuan itu ketika lelaki itu menelpon nya.
Lama Farhan memikirkan keputusan nya menelpon Gea atau tidak sampai-sampai jam sudah menunjuk ke arah 10 malam.
Sudah satu jam lama nya Farhan hanya berjalan kesana kemari tanpa menghasilkan keputusan yang jelas, akhirnya lelaki itu pun mengurungkan niat nya untuk menelpon Gea.
Farhan memiliki rencana lain yang akan ia jalankan besok.
******
"Gea, nanti kita ada pertemuan penting, ya?" Rara menegur Gea yang akan memasuki lift.
"Iya, sama bapak anggota TNI yang kemarin kan?" Gea memundurkan langkah nya tidak jadi masuk kedalam lift, perempuan itu memusatkan perhatian nya kepada Rara yang terlihat gelisah.
"Ehm, aku lupa bikin laporan, kemarin aku pulang dugem kemaleman."
Gea hanya tersenyum maklum mendengar kalimat itu, selama ini hanya Gea lah yang betah berteman dengan Rara.
Rara sudah banyak dijauhi oleh rekan kerja nya karna sifat nya yang kurang bisa menghargai orang lain dan cenderung sombong. Namun, ada satu sisi yang membuat Gea mengurungkan niat nya untuk menjauhi Rara.
Rara merupakan perempuan yang kuat, perempuan itu masih bisa berdiri tegak seperti sekarang setelah banyak badai yang telah ia lalui. Ia memiliki keluarga yang hancur berantakan, sudah beberapa kali Gea memergoki aksi Rara yang ingin bunuh diri.
Lingkungan keluarga yang tak sehat dan juga Rara berkali-kali hampir dilecehkan oleh orang-orang terdekat nya termasuk ayah kandung nya sendiri.
Hal itu membuat Gea merasa iba sekaligus miris melihat kondisi keluarga Rara, perempuan itu seolah-olah tak punya tempat berlindung dari dunia kejam seperti ini. Maka, yang bisa Gea lakukan hanya akan datang ketika perempuan itu membutuhkan dirinya.
Karna Rara mempunyai tingkat kepercayaan yang rendah terhadap orang lain, hal itu dikarenakan peristiwa pelecehan yang dilakukan oleh ayah nya sendiri.
"Aku boleh lihat laporan kamu nggak buat referensi?" Lanjut Rara.
"Boleh." Gea memberikan map yang ia genggam kepada Rara.
"Makasih, ya. Nanti pakai mobil aku aja buat ke tempat rapat nya." Rara menerima map itu dengan senyuman sambil berterima kasih dengan Gea.
Gea hanya memberikan jempol nya kepada Rara, lalu perempuan itu melanjutkan langkah nya masuk kedalam lift yang kebetulan sudah terbuka.
******
Gea berjalan tergesa-gesa mencari taksi yang sedang kosong di depan kantor nya.
Gea ceroboh kali ini, ia lupa waktu karna terlalu asik mengerjakan pekerjaan nya yang menumpuk itu sampai lupa dengan janji rapat nya.
Gea berkali-kali menelpon Rara yang tampak nya sudah meninggalkan dirinya terlebih dahulu menuju tempat rapat.
Memang salahnya. Namun, Rara sama sekali tak menghampiri meja kerja nya yang terletak di lantai 17 untuk mengingatkan waktu rapat, sedangkan perempuan itu berada di lantai 16.
Seperti nya Rara mengingkari janji nya lagi untuk yang kesekian kali.
Sudah biasa bagi Gea. Sakit sebenarnya berkali-kali dikhianati oleh teman sendiri, tapi ia tak sampai hati untuk menjauhi Rara sedangkan perempuan itu tidak cukup beruntung dalam beberapa hal meskipun wajah cantik nya adalah sebuah keistimewaan yang bisa membuat perempuan itu mudah dalam mencapai sesuatu.
Sedangkan dirinya harus bekerja dan belajar mati-matian agar bisa dianggap oleh orang-orang, karna fisik nya yang tak begitu menonjol membuat Gea harus melatih kemampuan yang ia miliki.
Gea berjalan cepat kearah taksi yang sedang berhenti di depan nya, perempuan itu bertanya pada sang supir taksi.
"Pak, taksi nya kosong, kan?"
"Kosong, neng." Gea bernapas lega mendengar jawaban sang supir. Akhirnya Gea pun masuk kedalam taksi dan menyebutkan tujuan nya kepada sang supir taksi.
Menit-menit yang berlalu terasa begitu lama bagi Gea, karna perempuan itu sangat merasa bersalah akan kecerobohan nya kali ini, beberapa waktu berlalu akhirnya taksi pun sudah membawa Gea di restoran Jepang tempat janji rapat.
Setelah memberikan uang kepada supir taksi, Gea berjalan cepat dan menuju ruangan VIP yang berada di restoran itu.
Gea menghembuskan napas nya pelan menenangkan kegugupan nya ketika akan membuka pintu ruangan.
"Selamat malam, maaf saya terlambat." Gea menundukkan kepala nya ke beberapa lelaki berpakaian rapi itu.
"Hm." Deheman itu hanya membalas ucapan maaf Gea. Setelah itu mereka kembali fokus akan Rara yang tengah menjelaskan materi rapat.
Gea mengambil tempat duduk paling pojok yang ada di ruangan itu, ia mengeluarkan iPad nya dan mulai memusatkan perhatian kepada Rara.
Tapi, tunggu.
Setelah beberapa menit memperhatikan penjelasan Rara, semua yang wanita itu jelaskan merupakan materi yang ia buat.
Jelas jika Rara bilang kepada nya jika perempuan itu akan menjadikan materi rapat nya tadi sebagai sebuah referensi bukan sebagai karya yang menjadi hak milik perempuan itu.
Gea mencengkram iPad nya erat. Ia kecewa, namun kini perasaan itu sudah tercampur amarah yang membuat Gea memerah.
"Setelah melihat gambaran akan grafik yang saya tampilkan tadi, silakan jika ada yang ingin mengusulkan pendapat nya." Suara lembut itu Rara ucapkan dengan senyum manis sebagai penutup.
"Kamu udah punya pacar?" Pertanyaan spontan itu dilontarkan oleh salah satu rekan anggota TNI yang tampak secara terang-terangan tertarik kepada Rara.
Semua orang tertawa mendengar pertanyaan itu, mereka kemudian saling melakukan tanya jawab dengan Rara dan Gea benar-benar terabaikan.
Rara tampak tak tahu malu menjelaskan materi yang Gea susun dengan susah payah. Memang ia datang terlambat, namun bukan hak perempuan itu untuk langsung mengambil alih karya Gea tanpa meminta ijin.
"Saya puas mendengar penjelasan dari Ibu Rara, sudah cukup menenangkan kita dalam menangani kasus ini. Sekarang, silakan kita menikmati hidangan terlebih dahulu." Ucap Jaka, lelaki itu memang memimpin kasus ini, ia bersama sang anak-Farhan ikut dalam rapat malam ini.
Makanan yang disajikan sangat banyak, mereka bersemangat menyantap makanan sambil bercanda satu sama lain. Namun, lain dengan Gea yang hanya diam menatap makanan di depan nya dengan pandangan tak tertarik.
Nafsu makan nya sudah hilang menghadapi segala peristiwa malam ini, padahal malam ini adalah kesempatan nya untuk memperluas relasi dengan tampil sebagai pembawa materi yang sudah ia persiapkan dengan matang. Namun, ternyata semua itu gagal.
******
Jaka melihat kearah Gea yang hanya melamun menatap makanan yang tersaji di depan nya tanpa menyentuh makanan itu.
"Ibu Gea, jika anda sedang banyak pikiran, sebaiknya tidak usah menghadiri rapat, lagi pula penjelasan semua sudah dijelaskan oleh Ibu Rara." Jaka menyentak lamunan Gea dengan perkataan nya yang tegas sekaligus menyakiti perasaan Gea.
Sontak Gea berdiri lalu berkata,
"Baik, kalau begitu saya permisi." Setelah mengatakan itu Gea benar-benar pergi dari ruangan sesak itu dan melangkah keluar restoran dengan pasti.
Setetes air mata jatuh tak terelakkan saat Gea berjalan menyusuri trotoar, ia lelah hari ini, ia lelah terus berkorban, ia lelah terus mengalah, dan ia lelah terus terabaikan.
Kebodohan pada diri Gea memang menyulitkan diri nya sendiri, perempuan itu terlalu menjaga perasaan orang lain sampai lupa menjaga perasaan nya sendiri.
Farhan keluar dari restoran sambil mencari keberadaan Gea. Namun sayang, perempuan itu rupanya sudah jauh dan tak terlihat dari sekitar restoran.
Farhan tak mungkin meninggalkan rapat begitu saja tanpa alasan yang jelas, padahal ia sudah mempersiapkan diri nya untuk memulai obrolan dengan Gea. Namun, ia malah mendapat kejadian yang tak terduga dari ayah nya yang secara halus mengusir Gea.
Bersambung...