Arumi yang merasa kesepian di rumahnya, setelah suaminya berangkat, ia juga memilih pergi mengunjungi butik miliknya. Biasanya disaat libur seperti ini, ia akan pergi jalan-jalan dengan suaminya. Arumi memilih menaiki mobilnya sendiri dan melaju dengan santai menuju butik miliknya. Terkadang, saat ia sendirian ia sering memikirkan hubungan rumah tangganya. Beberapa minggu terakhir, suaminya mulai berubah dengan sikapnya yang tidak peduli dengan dirinya, bahkan nafkah batinpun ia sudah jarang dapatkan. 'aku rasa kamu berbeda, mas' Batin Arumi. Ia sedikit melamun saat mengendari mobilnya dan berhenti lebih lama saat rambu lalu lintas sudah berubah hijau. Bunyi klekson kendaraan lain yang berada di belakang mobilnya, membuat ia terperanjat kaget dan langsung menarik gas mobilnya, lalu menuju butiknya yang tak jauh lagi.
Arumi memarkirkan mobilnya di saat telah sampai area butiknya, terlihat mulai ramai pengunjung. Ia turun dari mobil miliknya dan memasuki butiknya. Tak banyak orang yang mengenal dirinya. Butik yang sudah lama ia dirikan itu sudah memiliki satu cabang. Selama ini, ia percayakan pada sahabatnya yang sudah kenal lama sejak ia di bangku sekolah dulu. Arumi seorang gadis desa yang sukses di perantauan bersama sahabatnya yang sudah ia anggap sebagai keluarganya.
"Selamat pagi, bu!" Sapa pegawai yang berjaga di pintu utama. Arumi tersenyum ramah dan memilih memasuki ruangannya. "Sibuk banget ya?" Sapa Arumi pada sahabatnya Laura yang sedang fokus di depan layar.
"Ada angin apa nih, ibu owner datang tanpa memberi kabar di hari libur seperti ini?" Tanya Laura terkejut saat melihat sahabatnya datang di hari minggu.
"Lagi suntuk aja di rumah, Mas Cakra juga sedang bekerja." Jawab Arumi langsung menduduki kursinya dan bersandar.
"Hari minggu seperti ini, dia bekerja? apa tidak salah, Rum?" tanya Laura meletakkan pulpennya dan melihat ke arah Arumi yang terlihat wajahnya banyak beban.
"Entahla, Ra. Semenjak jabatan Mas Cakra naik, dia sekarang tidak punya banyak waktu untukku. Alasannya ada proyek baru mereka yang harus di kerjakan di luar hari kerja."
"Apa kamu tidak curiga?"
Arumi hanya menggeleng dan tetap menyandarkan kepalanya di kursinya dan menatap langit ruangan kerjanya.
Bunyi ponsel di tasnya membuat ia bangkit dan melihat siapa yang menelfonnya.
"Iya, saya sedang di butik." Jawab Arumi saat menerima panggilan."
"Jadi benar dia tidak bekerja saat ini?"
"Baiklah pak, terimakasih untuk informasinya." Tutup Arumi dan menarik nafasnya dalam.
"Kenapa, Rum?" Tanya Laura dan mendekatkan kursinya pada Arumi.
Arumi memejamkan matanya. Matanya mulai memerah dan menitikkan air mata. Laura yang menyadari langsung memeluk sahabatnya itu.
"Cerita padaku, jangan di pendam sendiri..." Ujar Laura pelan sambil mengelus punggung Arumi.
"Barusan pak Bagas telfon aku, katanya, hari ini semua staff kantor libur." ujar Arumi sambil mengusap air matanya yang membasahi pipinya.
"Jadi?" tanya Laura
"Tadi setelah mas Cakra pergi, aku telfon pak Bagas untuk cek ke kantor, dan ternyata apa yang aku curiga benar. Mas Cakra sudah berbohong padaku."
"Kamu sudah coba telfon dia?"
"Biarlah, Ra. Aku diamkan saja dulu. Mungkin dia lagi butuh waktu untuk sendiri."
"Tapi, Rum..." Laura sedikit kesal, karena sahabatnya ini terlalu mencintai suaminya itu. "Sudah cukup kamu baik sama dia, Rum."
"Aku gak siap untuk bertengkar dengan mas Cakra, Ra. Kami menikah sudah hampir delapan tahun dan semua baik-baik saja. Aku takut kalau percerian itu terjadi lagi samaku, Ra."
"Rum... Kamu harus buka pikiranmu, jangan jadikan masa lalu kedua orang tuamu menjadi ketakutanmu untuk meraih masa depanmu. Apa lagi soal rahasia besar yang selama ini kamu simpan."
Arumi menarik nafasnya dalam dan membuangnya.
"Kamu masih cantik, kamu pantas bahagia dan mendapatkan keturunan."
"Soal anak, Mas Cakra selama ini tidak pernah menunut, Ra. Makanya aku masih simpan hasil itu dan tidak jujur pada dia."
"Mertuamu bagaimana? Apa mereka juga tetap diam? Aku rasa itu mustahil, Rum."
"Ibu tidak pernah membahas anak pada kami, Ra. Setiap kali kami berkunjung ke rumah ibu, ibu masih tetap baik padaku."
"Cobalah kamu pikirkan kembali, Rum. Apa yang kamu harapkan dari lelaki seperti dia. Soal ekonomi, kamu lebih mapan di banding dia. Bahkan rumah yang kalian tempati saat ini, itu rumah mu sebelum menikahkan?"
Arumi mengangguk. Benar. Soal harta jelas Arumi lebih berada. karena ia memiliki usaha yang cukup berkembang, namun ia tidak pernah menyombongkannya.
"Aku memang belum pernah menikah, dan belum tahu seperti apa rumah tangga itu. Tapi kalau kamu diperlakukan seperti ini, jelas aku sebagai sahabatmu tidak terima, Rum."
"Sudahlah, Ra. Biarkan saja." Arumi bangkit dan pergi ke toilet yang berada di ruangan kerjanya. ia memilih membersihkan wajahnya. dan memberikan sedikit riasan di wajahnya, agar terlihat lebih segar.
Arumi kembali kemeja kerjanya dan mencoba untuk mendesin baju gaun untuk permintaan konsumennya. "Keluarga Pak Rendra sudah ada menanyakan hasil desain baju seragam keluarga mereka?" Tanya Arumi pada Laura.
"Ohh iya..., aku lupa mengatakannya padamu, Besok mereka akan datang untuk melihat desainnya. dan sekalian feeting.
"Untung saja aku masuk hari ini. Dasar kamu, masih muda sudah pelupa." Ledek Arumi.
"iyalah yang sudah tua itu." Jawab Laura kesal melihat sahabatnya.
Mereka fokus di layar pipih dihadapan mereka, sesekali Arumi mencoretkan pensilnya di sebuah kertas putih dan menjadi sebuah desain baju yang terkesan mewah.
Setelah kejadian siang itu, Cakra merasa bersalah pada Arumi. Ia mencoba menjaga jarak pada Stela yang terus saja mencari perhatiannya. Kedekatannya hanya karena nafsu semata. Setelah kepulangan mereka, Cakra selalu memikirkan nama Arumi, ia terbayang akan wajah manis Arumi. Dari postur tubuh, jelas lebih tinggi dan cantik Arumi.
"Kenapa harus buru-buru sih, Mas?" Tanya Stela yang di ajak pulang oleh Cakra saat Cakra terbangun dan menyadari dirinya tidur tanpa busana dengan wanita yang bukan pasangannya.
"Aku segera pulang, hari juga sudah cukup sore, Stel," Cakra membersihkan dirinya dan memakai pakaiannya kembali.
"Kita bisa mencobanya sekali lagi, Mas. Ayolah, apa kamu tidak ingin melakukannya lagi sebelum kita pulang?" bujuk Stela dengan gerakan tubuh yang manja di d**a Cakra.
"Cukup, Stel. Apa yang kita lakukan ini salah, Aku tidak berniat untuk melakukannya sejauh ini."
"Ayolah, Mas, tidak perlu malu."
"Kalau kamu masih mau di sini, aku tinggal saja kamu. Aku segera pulang dari sini." Cakra hampir saja membuka pintu kamar hotel itu, namun di cegah oleh Stela dengan wajah cemberutnya.
"Baiklah, tapi lain kali kita akan ulang seperti ini."
"Terserah kamu. Ayo cepat, pakai pakaian mu!" Titah Cakra.
Arumi yang telah selesai melakukan tugas di butiknya, memilih membersihkan berkas dan peralatan kerjanya. "Kamu pulang di jemput, Haris?" Tanya Arumi pada sahabatnya itu.
"Pastinya dong, tuh... Dia sudah on time menunggu." Tunjuk Laura melalui kaca ruangan mereka yang tembus pandang jika di lihat dari dalam ruangan mereka, namun dari luar tak terlihat aktifitas yang mereka lakukan di dalam ruangan tersebut.
"Segerakan dong, sudah lama pacaran, masa masih di gantung juga.."
"Idih.... bukan di gantung ya, kalau Haris pengennya segera, akunya yang belum siap, masih enak seperti ini." Kekeh Laura. "Takut jdi tua kalau nikahnya cepet." Ledek Laura, ia sedang menyindir Arumi yang melihat perubahan tubuhnya berbeda saat sudah menikah dan semasa gadisnya.
"Dasar kawan gak ada akhlak..." Arumi memukul pundak Laura dengan buku dan Laura mengelak dengan lari terlebih dahulu meninggalkan Arumi. "Aku tinggal duluan ya, owner cantik."
Arumi tersenyum dan dapat melihat tawa keceriaan sahabatnya itu saat bertemu dengan kekasihnya.
Arumi teringat akan pertemuannya dulu dengan Cakra. Kedekatan mereka yang berawal dari saat Arumi menawarkan barang butiknya di sebuah kantor konveksi dan Cakra juga di kantor tersebut. Pertemuan singkat mereka, Hanya berteman beberapa bulan saja. Cakra melamarnya dan hingga saat ini rumah tangga mereka masih terlihat harmonis, walau nyatanya ada duri yang menusuk hatinya.