Tante muda

986 Words
Arumi tak langsung pulang kerumahnya, ia mengira Cakra akan lama kembali ke rumah. Arumi membawa mobilnya kesebuah cafe yang viral saat itu. Cafe yang didesain sedemikian rupa, membuat para anak muda dan mudi akan merasa betah. entah angin apa yang membuat Arumi memilih cafe itu untuk tempat makan malamnya. Cafe dua lantai, yang memiliki rooftop, pemandangan alam terbuka yang terlihat lampu warna warni menghiasi ruangan atas. Arumi memilih naik ke lantai dua dan mencari tempat yang kosong. Kebanyakan pengunjung yang datang dari kalangan anak muda berumur dua puluhan. Sebagian pengunjung memperhatikan kehadirannya karena seorang diri, namun ia tak peduli dan memilih daftar menu, lalu memesan makanan dan minumannya. Sekumpulan lelaki muda, yang tidak jauh dari meja Arumi sedang mengobrol dan memperhatikan Arumi yang berdiam sendiri sambil memandang ke langit yang terlihat beribu bintang. "Bro... tuh liat, ada tante muda yang kesepian, lu gak coba?" Ujar seorang pemuda yang memiliki mata sipit, berkulit putih. "Ahk.. lu selalu mikir yang macam-macam. Dia masih muda gitu, lu biang tante-tante." Jawab Herga si pemilik Cafe tersebut. "Lu jangan buat malu di cafe gue, ya! Awas aja lu berulah lagi." Tegas Herga pada temannya itu, yang sebelumnya pernah melakukan keributan di cafe miliknya hanya karena merebutkan seorang cewek, membuat mereka kehilangan satu sahabatnya. Dulu mereka selau berempat. Dion, lelaki muda yang lebih memilih mundur dari persahabatan mereka. Kalula, wanita yang di sukai Dean, namun Kalula lebih memilih Dion. Herga, Dean dan Steven, yang sedang berada di dekat meja Arumi terus saja membicarakan seorang wanita. "Lu gak mau coba, Stev? Kali aja wanita kesepian." Goda Dean lagi, agar kawannya itu mendekati Arumi yang sendirian. "Lu ya, gak pernah waras mikirnya. Kuliah aja belum lulus, udah mikir ngeres mulu." "Yaaa elaa... Herga, Herga. Kayanya cuma lu deh lelaki muda di muka bumi ini yang gak mau mengenal kenikmatan tiada tara. Ya kan, broo..!" Steven yang mendengar ocehan Dean hanya tersenyum. Memang pergaulan mereka cukup nakal di banding Herga, walau mereka bersahabat cukup lama, tapi Herga tidak pernah ingin terpengaruh dengan yang namanya dunia malam. Herga lebih suka membuat usaha dengan modalnya sendiri, dibanding menghambur-hamburkan uangnya, hanya untuk kebahagiaan sesaat. "Gue mau ke bawah dulu, ngecek anggota. kalian nikmati saja makanannya." Herga memilih pergi meninggalkan dua sahabatnya. Ia tidak pernah tertarik kalau sudah membahas soal perempuan. "Kapan lu kawinnya, kalau bahas cewek aja lu langsung kabur, Ga." Ledek Dean dan membaut Herga melotot pada dua sahabatnya, karena suara Dean yang cukup besar, membuat Arumi juga menoleh pada keributan yang diciptakan oleh tiga orang anak muda itu. "Dia nunggu nikah baru kawin. Gak kaya lu, kawin udah, nikah kaga." Balas Steven yang dari tadi hanya diam menanggapi Dean. 'Kaya lu gak gitu...." "Eh... gue mah udah ada calon, walaupun udah pernah kawin, setidaknya gak ganti-ganti, broo..." Dean memukul kepala Steven dengan bungkusan rokok miliknya, karena kesel dengan ucapan Steven. "Tapi, keliatan lagi ada masalah tuh cewek." Tunjuk Steven dengan arah mata yang menuju ke meja Arumi. "Biasanya kan, cewek-cewek kalau keluar kemana gitu, pasti bareng temennya. Nah, kalau sendiri, udah pasti lagi ada masalah." "kayanya sih gitu, dari tadi cuma memandang ke langit aja." "Tapi biarlah bro.. Ngapain juga ngurusin orang." Steven kali ini tidak tertarik dengan tawaran Dean. Ia memilih pulang terlebih dahulu. "Aku pulang duluan, ya! Lupa ada tugas pak Rizal belum di buat." Steven bangkit dan mengambil kunci motornya dan meninggalkan Dean sendirian. "Takut bener, lu.." "Jelaslah, bro.. ini tugas akhir. Kalau aku gak lulus juga di tahun ini, bisa-bisa di gantung, masku aku." Dean terkekeh pada Steven yang tak siap jika harus mengulang kembali kuliahnya setahun lagi. Berbeda dengan dirinya, tak pernah memikirkan akan tugas kuliahnya. Sebagai anak tunggal yang tak pernah di tuntut lebih, bahkan uang bulanan tak pernah kekurangan. Dean mendekati Arumi yang sedang menikmati makanannya. "Boleh saya duduk disini?" Tanya Dean sambil tersenyum manis. Arumi melihat lelaki muda bermata sipit itu yang sedang berbicara padanya. "Boleh saya duduk disini?" Ujar Dean kembali. Arumi mengangguk dan Dean pun tersenyum penuh kemenangan bisa duduk dihadapan Arumi. "Dean..." UJar Dean sambi mengulurkan tangannya. Arumi hanya membalas dengan senyuman dan tetap menikmati makanannya. Dean menarik tangannya dan menelan ludahnya, uluran tangannya tak terbalas oleh Arumi. "Boleh ahu nama kamu?" Tanya Dean kembali. "Apa pentingnya namaku buatmu?" Balas Arumi dengan wajah datar. "Wihhh... dingin banget jadi cewek." Dean tersenyum dan tetap dengan sikap sok coolnya. "Hanya ingin mengenal namamu siapa, dan mungkin kita bisa berteman." Jawab Dean antai. "Maaf, mungkin usia kita berbeda jauh." "kalau begitu saya harus panggil kamu, kakak atau tante?" Arumi melototkan matanya, tak menyangka dengan sikap anak muda yang dihadapannya itu terlalu percaya diri. "Apa kamu sedang kesepian atau butuh kehangatan?" Tanya Dean dengan penuh percaya diri dan memainkan kedipan matanya. "Maaf, saya bukan w************n yang ada dalam pikiranmu itu." Tegas Arumi dan malah meninggalkan makanannya. Seketika saja moodnya hilang dan meninggalkan pesanannya yang baru sedikit ia nikmati. Arumi pergi meninggalkan cafe tersebut dan memilih pulang ke rumahnya karena sudah larut malam. Beberapa kali ponselnya berbunyi, namun ia abaikan. Karena itu panggilan dari suaminya. 'Kamu pasti sudah di rumah, mas.' batin Rumi. Cakra yang sudah berada di rumah tak melihat keberadaan mobil Arumi. Bahkan di telfon pun Arumi tidak mengangkat telfonnya. Terlihat notifikasi di ponselnya, namun si pengirim bukanlah orang yang ia tunggu. "Kamu luar biasa, mas. Aku sampai ketagihan." Isi pesan yang masuk di ponsel Cakra. Cakra tak menggubrisnya. Lagi pesan baru dari pengirim yang sama masuk ke ponselnya, "kamu pasti menginginkan keturunan. Aku akan berikan itu padamu, mas. Kamu sangat luar biasa, mas." Cakra mengusap wajahnya dan mengacak-acak rambutnya. Tak lama terdengar suara deru mobil yang memasuki area pekarangan rumah mereka. Cakra segera menghapus pesan dari Stela, dan berusaha bersikap biasa saja. Cakra menghampiri Arumi yang membuka pintu. "Sayang, kamu dari mana? Kenapa telfon ku tidak di angkat?" "Aku habis dari butik aku, mas. Aku capek, mau mandi dulu." Jawab Arumi dan memilih masuk ke kamar lalu meletakkan tasnya dan memilih langsung masuk ke kamar mandi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD