Sebulan berlalu setelah kejadian Cakra dan Stela, Arumi masih bersikap biasa saja dan begitu juga Cakra yang tak menampakkan kebohongannya. Hingga saat itu tiba, dimana Stela datang mengunjungi rumah milik Cakra dan Arumi.
Bel rumah berdenting. Arumi yang berada di dalam rumah, membuka pintu dan melihat sosok wanita yang lebih muda darinya.
"Maaf, kamu siapa dan mau bertemu siapa?" Tanya Arumi, saat melihat Stela berdiri dan diam saja tanpa mengeluarkan kata-kata.
Stela menitikkan air matanya, "apa boleh kita berbicara di dalam, mbak?"
Arumi menatap Stela yang menangis di hadapannya, ia bingung, karena sebelumnya tidak pernah bertemu dengan Stela. "Silahkan masuk!" Ujar Arumi dan memberi jalan agar Arumi masuk.
"Silahkan duduk, sebentar saya buat minum untuk kamu." Arumi meninggalkan Stela seorang diri dan dia mempersiapkan minuman teh hangat, untuk tamunya itu.
Stela yang di tinggal Arumi sesaat tersenyum, dan mengambil foto selfinya yang terlihat dinding rumah yang terdapat foto Arumi dan Cakra.
"Kamu pasti akan terkejut dengan foto ini, mas." Ujar Stela pelan. Dan langsung mengirim fotonya ke kontak milik Cakra.
Arumi kembali dengan membawa nampan yang berisi teh hangat dan sepiring cemilan.
"Silahkan..." Arumi duduk di sofa sebelah yang di duduki Stela. Arumi memperhatikan penampilan Stela. Pakaian yang lebih terbuka dan membentuk lekuk tubuhnya. "Maaf, ada keperluan apa dan mau bertemu siapa?" Tanya Arumi lagi.
"Saya Stela, mbak." Ujar Stela memperkenalkan diri. "Maaf kalau kedatangan saya membuat, mbak Arumi kaget, dan saya ingin menyampaikan kabar, kalau saya sedang hamil." Stela men jeda ucapannya. Dan menitikkan air matanya.
Arumi sedikit kaget, dan menatap serius ke wajah Stela, "apa hubungannya dengan saya?"
"Sangat berhubungan, mba. Saya hamil anak mas Cakra, mba...."
Arumi terkejut dan hampir saja menjatuhkan nampan yang ia pegang dari tadi. "Apa saya salah dengar?" Arumi menggelengkan kepalanya, tidak yakin dengan ucapan Stela.
"Apa yang mba dengar, benar adanya, mba. Kami berhubungan sudah lama. Dan.... Saat ini saya ingin meminta pertanggung jawaban dari mas Cakra, mba."
"Itu tidak mungkin, bagaimana bisa, mas Cakra bisa menghamili mu?" Suara Arumi sedikit meninggi. Tanpa di sadari, air matanya mengalir di pipinya. "Sudah berapa lama kalian berhubungan?" Tanya Arumi kembali.
"Sudah hampir dua bulan, mba. Saya minta maaf, tapi semua ini terjadi atas kemauan kami yang sama-sama suka, mba. Tolong, mba,... Izinkan saya dan mas Cakra menikah. Saya tidak mau anak ini lahir tanpa ayah, mba." Ucap Stela dengan suara bergetar dan memohon di kaki Arumi.
"Tolong jangan seperti ini. Kamu...." Arumi tidak dapat menahan sesak di dadanya. "Lebih baik kamu pulang saja, nanti saya akan bicara dengan mas Cakra.
"Tapi, mba... Saya mohon...."
"Tolong kamu tinggalkan rumahku." Arumi berdiri dan membuka pintu utama dan mempersilahkan Stela untuk pergi dari rumahnya.
Stela memilih keluar dan meninggalkan kediaman Arumi. Ia menaiki taxi yang ia pesan untuk menunggunya di luar. "Sedikit lagi, aku pasti bisa memiliki mu seutuhnya, mas." Ujar Stela pelan saat duduk di kursi penumpang. "Kita kembali ke tempat semula, pak."
****
Di tempat lain, Cakra yang menerima telfon dari Arumi, merasa ada yang aneh, apa lagi hari ini , Stela tidak masuk bekerja.
"Mas, hari ini aku ada acara dengan temen aku. Mungkin pulangnya agak larut malam." Ucap Arumi dari seberang telfon yang di terima oleh Cakra.
"Iya sayang, kamu hati-hati, ya!" Ujar Cakra dan kembali menutup panggilan dari istrinya.
Cakra kembali melanjutkan pekerjaannya dan merasa lega, karena apa yang ia takutkan tak terjadi. Cakra berpikir kalau Stela masih tetap aman dengan kehamilannya.
Arumi yang masih shock dengan pernyataan dari Stela, langsung mengambil hasil lab yang ia simpan bertahun-tahun dan membawanya pergi ke rumah sakit yang pernah ia lakukan cek kesehatan.
Arumi melakukan pendaftaran online, dan melajukan mobilnya dengan cepat.
Tak butuh lama, ia sampai di rumah sakit yang dulu pernah ia datangi. Dan menunggu panggilan nomor antriannya.
Arumi mencoba menghubungi sahabatnya yang saat ini berada di butiknya dan meminta bantuan padanya.
Arumi mengirim pesan pada Laura, "Jika mas Cakra datang ke butik, tolong kamu katakan aku meeting dengan rekan bisnis kita. Saat ini aku butuh bantuan mu."
Laura yang menerima pesan itu, terdiam, berniat untuk menanyakan kembali, namun ia urungkan. Ia tahu kalau sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.
Kembali pada Arumi yang sudah tiba di nomor antriannya, Arumi memasuki ruangan dokter spesialis itu, jantungnya berdegup kencang.
"Selamat siang, ibu Arumi." Sapa sang dokter cantik yang sudah berumur itu, namun masih terlihat muda. "Silahkan duduk, bu."
"Siang juga, dok. Terimakasih." Arumi duduk dihadapan dokter yang hanya ber bataskan meja kerja sang dokter.
"Maaf dok, saya hanya ingin konsultasi kembali. Mungkin dokter masih ingat dengan saya, yang beberapa tahun lalu memiliki masalah fertilitas dengan suami saya, Cakra."
Dokter itu diam sesaat dan seperti memikirkan sesuatu. "Oh iya.. saya ingat. Apa yang ingin ibu tanyakan?"
"Begini dok, beberapa tahun lalu, dokter mengatakan, sesuai hasil laboratorium ini, kalau suami saya di nyatakan sembilan puluh sembilan persen tidak bisa memberikan keturunan. Apakah dengan satu persennya bisa menghasilkan, dok?"
Dokter menatap Arumi dan tersenyum ramah, "maksud ibu Arumi, ibu sedang hamil?"
"Bukan saya dok, tapi..." Arumi menarik nafasnya dalam dan membuangnya ke perlahan.
"Baiklah, begini bu, Satu persen yang dari hasil laboratorium itu, hanya kuasa sang pencipta lah yang menentukannya. Kita sebagai manusia hanya bisa memohon."
"Tapi, itu jarang terjadi, bu. Kalau memang ibu kurang yakin, kita bisa lakukan pemeriksaan ulang kembali. Apa lagi saat itu pemeriksaan sekitar lima tahun yang lalu, bisa saja perubahan itu terjadi karena faktor dari kesehatan dan pola makan."
Arumi mengangguk, ia tidak yakin kalau satu persennya itu, hasil dari suaminya.
"Tapi kalau dari diri saya apa memang benar kalau saya dinyatakan benar-benar sehat dan bisa dibuahi?"
"Kalau dengan ibu, sejauh ini
dari hasil pemeriksaan, ibu sehat dan tidak ada kendala apapun. Hanya saja selama ini, masalah itu ada pada suami ibu yang di nyatakan sembilan puluh sembilan infertilitas primer. Dari hasil yang pernah kita periksa beberapa tahun lalu, kalau suami ibu memang mengalami Azospermia. Dalam cairan ejakulasinya tidak terdapat seperma, maka sulit untuk membuahi."
Arumi mengangguk, ia semakin yakin karena selama ini memang suaminya yang memiliki permasalahan, namun ia tak pernah jujur untuk menjaga perasaan sang suami. Beberapa tahun mereka menikah, dari pihak keluarga sendiri pun tak pernah menuntut mereka untuk memiliki keturunan segera mungkin. Makanya selama ini Arumi mencoba menutupi rahasia besar yang suaminya tak pernah tahu kebenarannya.