"Apa yang kamu lakuin kalau Darrel ngancem lagi? Membuka kaki untuk dia?!" Seolah-olah, Lana merasa ada api unggun yang menghempas mukanya. Tatapan Althaf menghujam macam belati, mengiris harga dirinya hingga berkeping. Ia tatap balik lelaki itu. Tanpa berkedip, ia hirup udara dalam-dalam lalu melempar balasan, "Kalau iya bagaimana? Saya rasa saya cukup mahir untuk berlakon seperti jalang, Pak Althaf sayang. Lebih buruk lagi, mungkin saya akan bersedia dihamili." Otot rahang Althaf mengetat. Ia kernyitkan alis sambil mendesis. "Oh, bagus, sekarang kamu memutuskan untuk berakting sebagai istri yang berbakti?" "Kenapa tidak? Saya bosan terus-terusan jadi submisif—macam anjing yang terikat lehernya. Mereka perlakuan saya macam binatang. Sekalian saja saya bertingkah seperti yang mereka m

