Di Satu Ruangan.

863 Words
Lana memandang Althaf yang duduk di balik meja dosen. Jari-jari gadis itu bertaut dan berkeringat. Selama sepuluh menit terakhir, ia menyimak pembahasan Althaf terkait buku cetak, diktat dan referensi. Ia membaca nama Althaf Adiputra W. berikut gelarnya di papan nama. Rasa bimbang menyerangnya. "Ada…hal lain yang perlu dibahas, Pak?" Althaf menggeleng sambil tersenyum. "Cukup itu." Ini aneh, batinnya. Tubuh Lana masih ragu untuk meninggalkan meja dosen. Ada kalimat dari bibirnya yang ingin tumpah—namun masuk kembali. "Oh iya, Lana." "Iya…, Pak?" "Soal BEM kamu, sudah menemukan solusi?" Ah, itu. Hati Lana mencelos mengingat organisasi BEM-nya yang babak belur. "Kami berusaha untuk menutup kerugian dengan patungan, Pak." Konser yang digelar BEM Fakultasnya minggu lalu melahap kerugian besar. Peminat rendah, tiket tak laku, dan Lana sebagai panitia harus ikut patungan demi menutup minus. Terlebih modal konser yang didapat dari pinjol itu harus cepat dilunasi. Ya, pinjol. "Siapa yang mengusulkan ide dengan pinjaman itu?" Althaf bertanya. "Ketua pelaksana, namanya Annette, Pak." Lana menjelaskan dengan mulut kaku. "Sebenarnya saya sudah usul, supaya konser tidak dikemas mewah. Apalagi dengan dana pinjaman yang bunganya besar. Tapi Annette…" "Tapi dia ngeyel?" "Betul, pak." "Jadi itu alasan kamu kemarin?" "Betul." Lana terkesiap, matanya membulat usai tanpa sadar menjawab. "M-maksud saya—" "Tenang saja, saya tidak menghakimi." Althaf memandang teduh. "Tapi saya juga tidak membenarkan." Lana menoleh ke kanan dan kiri, merasa lega karena tak ada dosen lain di ruangan. "Kamu pulang dengan selamat semalam?" Gadis itu membasahi bibir. Ragu-ragu untuk menjawab. "Saya asumsikan iya." celetuk sang pria. Kini ia melepas kacamatanya. "Saya juga meminta maaf, karena…membatalkan agreement kita dan langsung pergi." "Saya paham, pak Althaf." "Berapa banyak yang kamu butuhkan?" Lana mendekat beberapa senti, "Maaf?" "Uang yang kamu butuhkan untuk kerugian itu. Berapa banyak?" Hatinya berdesir lagi. "Per panitia harus membayar sekurang-kurangnya lima belas juta. Kalau gagal dibayar bulan depan, akan semakin bengkak." Althaf mengangguk-angguk. Kerugian acara itu terbilang sangat besar, bahkan Dekan Fakultas sampai mencak-mencak begitu tahu nominalnya. "Bagaimana dengan orangtua kamu, mereka enggan membantu?" Lana menggeleng. Ia ingin cepat-cepat pergi dari sini. "Mohon maaf, Pak. Jika tidak ada yang perlu dibicarakan mengenai perkuliahan, saya akan—" "Kamu berkenan kalau saya bantu?" Tubuh Lana menegang. Ia berusaha mencari arti dari pandangan Althaf, namun tak juga berhasil menangkap maksudnya. Pria itu terlampau tenang dan teduh. Dengan suara bertanya Althaf bertanya lagi, "Berkenan?" yang tak segera dijawab. *** Event itu awalnya dirancang sebagai kompetisi. Namun, Annette menghendaki hiburan penyanyi di puncak acara. Alih-alih menggaet kerjasama sponsor, ia melakukan pinjaman ilegal untuk mendanai konser yang ternyata menjerat semua orang. Annette kabur, sementara panitia lain yang kini bertanggungjawab melunasi. Satu-satunya jalan pintas yang tercetus di otak Lana adalah menjual jasa. Jadi ketika Althaf bertanya, "Kamu berkenan kalau saya bantu?", Lana tak langsung menolak. Tak langsung juga menjawab. Karena setelah itu, ada beberapa dosen masuk yang mendorongnya harus segera pergi. Mereka tak berkomunikasi atau berpapasan di hari berikutnya. Tetapi karena terus didesak tenggat pembayaran, Lana memberanikan diri. Ia membuka aplikasi kencan itu, mencari nama Cakrawala, lalu mengirim pesan dengan jari yang gemetar; "Apa tawaran itu masih berlaku?" Yang dijawab empat menit kemudian; "Masih." Pesan itu menimbulkan kerutan di alisnya. "Itu aja? Habis ini apa?" Lana bermonolog. Tak lama, si Cakrawala mengirim pesan baru ternyata, "Datang ke lokasi yang sama pukul 9. Saya tunggu." Kemudian offline. Lana mengendurkan ketegangannya. Meski tulang-tulangnya terasa seperti jeli, itu jalan tercepat untuk saat ini. Gadis itu segera mengepas tubuh dengan kemeja putih dan merias tipis wajahnya. Ia berangkat juga ke motel itu meski otaknya bertarung dengan ego. Di nomor kamar yang sama, Althaf membukakan pintu. Tubuhnya terbalut kemeja marun press body yang membungkus otot. Dengan rambut yang semrawut, Althaf tak tersenyum sedikitpun saat gadis itu masuk. Matanya memindai penampilan Lana. Lalu muncul suara 'klik' yang menandakan pintu terkunci. Bulu tengkuk Lana bergidik saat merasakan tubuh Althaf memperketat jarak mereka. Meski begitu, nyatanya mereka justru duduk berjauhan. Si gadis di sofa, sementara sang dosen duduk di seberang ranjang. "Eumm, a-anda mau mandi dulu?" gadis itu berceletuk. Menatap ragu sambil menggigit bibir dalamnya. "Maaf, t-tapi…untuk saat ini saya hanya akan mengikuti instruksi dari…Pak Althaf." Bibir Lana gemetar. Berkali-kali mematahkan tatapan mereka karena diserbu gelisah. Dari jarak sekian meter, Althaf justru hanya balas menatap. Penampilannya tak mencerminkan seseorang yang siap bersetubuh. Air mukanya begitu tenang. Pria itu tampak berpikir sambil memandangi mahasiswinya yang ketakutan. "Sebetulnya saya tidak berniat pergi waktu itu." Althaf berceletuk. "Saya justru heran apa alasan kamu berani menawarkan diri. Pasti masalah besar sedang terjadi, saya pikir." Lana mengamati pria itu menyandarkan tubuh sambil menyilangkan kaki. "Tapi melihat kamu yang teramat kaget dan takut, saya putuskan buat pergi. Saya bukan orang yang tega melakukan itu jika rekan seks saya belum siap." Lana benar-benar bungkam. Ia dihantui kelebatan adegan yang mungkin terjadi beberapa saat lagi. Tubuhnya masih belum siap, mentalnya apalagi. Sepersekian detik kemudian, darah Lana mengalir deras tatkala Althaf tiba-tiba bangun. Pria itu mendekat dan duduk di ujung ranjang. Wajahnya menggelap, entah karena hasrat atau lampu temaram yang membuatnya tampak buas. Lana otomatis beringsut. Punggungnya menegak sambil menelan ludah seperti menelan biji salak. Entah mengapa—mata yang bergetar itu memberi gelenyar menyenangkan pada sang pria. "So," Althaf mengucap. "Are you still a virgin?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD