“Bo… Boleh…” jawab Emma dengan menelan salivanya. “Halo, nak… Sehat- sehat ya. Jangan bikin mama kamu kewalahan ya, nak. Kasihan dia… Kami sayang kamu, nak…” bisik Tian yang menunuduk tepat di depan perut Emma sambil mengusapnya lembut penuh kasih sayang. Ia bahkan tidak memperhatikan Emma yang nampak menahan nafas. Ponsel Tian berdering dan membuatnya menoleh ke atas nakas dimana tadi ia meletakkannya. Ada kelegaan di hati Emma karena akhirnya ia terbebas dari sentuhan lembut Tian yang diam- diam kini ia sukai. “Sepertinya kakak kamu… Kamu jawab aja.” ucap Tian tanpa begitu memperhatikan nomor telepon yang tertera karena memang ia sering lupa untuk menyimpan nama sang kakak ipar pada kontak teleponnya. “Halo…” sapa Emma dengan tersenyum. “Halo…” ulang Emma karena tidak ada jawaban d

