Home. Aku bukan lelaki rumahan, sebenarnya. Bila aku lelaki yang hanya berdiam diri di rumah merenungi nasib, aku tidak akan sampai ke titik ini. Namun, demi sebuah kelangsungan generasi, kelahiran Nerm yang kunanti-nanti, membuat aku menjadi lelaki yang betah di rumah kali ini. Menghitung hari demi hari, sembari mengelus perut Cherry yang rasanya semakin membuncit saja. Merasakan tendangan Nerm yang seolah menyapaku dari dunianya. Selama tiga tahun lumpuh dan terjebak dalam rumah, benar-benar membuatku frustasi. Kurasa semua orang terpaksa memahamiku, mau tidak mau. Dan meski tidak lagi bertugas di Frontier, setidaknya berkeliling dunia sudah jauh lebih baik. “Nerm, cepatlah keluar dan memanggilku ayah,” bisikku setiap malam di perut Cherry. Aku yakin Nerm mendengar suaraku, meski ak

