Jujur, sulit bagiku membangkitkan rasa nyaman memakai baju Astronot lagi. Setelah kegagalanku berangkat ke Mars, baju yang membungkus sekujur tubuh dengan alat bantu napas berupa selang oksigen ini membuatku sesak napas. Padahal dulu, aku dikenal paling bangga bila memakai baju ini saat berbagai sesi latihan. “Kau masih ingat cara memakainya?” Aku melirik Jayen. Dia bahkan sudah memakai helmnya, sedangkan aku masih memangku baju milikku. “Perlu bantuan?” tanya Jayen kemudian, yang kujawab dengan gelengan kepala. Aku masih ingat cara memakainya, sangat mudah. Bahkan bisa kulakukan sembari memejam matanya. Masalahnya, aku berusaha menghapus rasa kecewa pada takdirku tiga tahun lalu. “Kau akan memakainya setelah ini, ke Mars.” Aku mendongak, mendapati Jayen mengacungkan jempol. Jenderal

