9. Pernikahan Kedua

1119 Words
Pernikahanku dengan Cherry segera aku wujudkan sehari setelah aku memintanya untuk menjadi istriku. Aku tidak ingin membuatnya canggung dan kemudian enggan mendekati apalagi merawatku, hanya karena aku ingin dia menjadi istriku. Status yang berbeda kadang akan membuat suasana hati juga berbeda. Meski kondisinya sama persis. Sebuah pesta sederhana digelar hanya untuk teman-teman dekat Cherry sesama terapist dari Kesatuan, team Frontier XI dan Profesor Nomad bersama segelintir anak buahnya. Meski ini adalah pernikahan pertama Cherry yang dia pasti menginginkan pesta yang meriah, dia memahami posisiku. Bahwa aku adalah seorang duda yang tidak berhura-hura setelah kematian Alia. Pernikahan ini bukan atas dasar cinta. Aku tidak menyatakan cintaku pada Cherry sebagaimana dulu ketika aku meminta Alia menjadi istriku. Alia adalah cinta pertamaku dan aku berharap dialah cinta sejatiku, selamanya. Isi kepala dan isi hati kami sama, membuat impian kami tak pernah berbeda. Namun takdir ini menentukan lain. Aku menggamit lengan Cherry dan tak melepasnya sepanjang pesta di rumahku sendiri. Menerima ucapan selamat dari teman-teman dekat. Mereka semua, tak kusangka sangat mendukung aku menikah dengan Cherry. Dia wanita yang tepat bagiku, setelah Alia. Tentu saja bukan dalam rangka aku memanfaatkan dia, menjadi terapist gratis untuk suami sendiri. Tapi karena aku menyayangi Cherry. Merengkuh bahunya dengan status berbeda, membuatku merasa hidup kembali. Lintasan senyum Alia berkali-kali datang, dan aku menganggap itu adalah restunya, bahwa aku akhirnya bangkit untuk memulai hidupku lagi. “Kesatuan sudah menantimu dengan tugas baru, Kapten Eran.” Jendral Baron menjabat tanganku erat dan menepuk bahuku tiga kali setelahnya. “Aku tidak bisa apa-apa, Jendral. Anda bisa melihat sendiri.” Aku berdiri tegak, lenganku dan lengan Cherry saling bertaut. Aku mendengar beberapa bisikan, bahwa Cherry adalah mataku sekarang. Makanya aku menikahinya. Aku tak peduli apapun perkataan beberapa undangan, dan aku membesarkan hati Cherry dengan berkali-kali membisikinya. Bahwa aku menyayanginya. “Kau jangan berpikir untuk ke Mars, Kapten. Masih perlu bertahun-tahun untuk penyembuhanmu,” ucap Jenderal Brown. “Tapi tugas yang lebih berat dari itu. Aku akan mengabari setelah kalian selesai berbulan madu.” “Kami tidak ke mana-mana, Jenderal,” sought Cherry sembari menyandarkan kepalanya di lenganku. “Ah, tentu saja. Kalian sudah bersama selama dua tahun ini, ya kan?” Jenderal Baron terbahak dan meninggalkan kami berdua. Cherry mencubit pinggangku. Sebelum mengundang para tamu, dia meminta aku memikirkan kembali. Bahwa mereka pasti sudah menduga hal yang tidak-tidak terhadap hubungan Kapten Eran dan terapistnya. “Aku menyayangimu, Cherry. Itu lebih baik dari ucapan mereka, kan?” Aku menatap ke arah Cherry dan melihat senyumnya merekah. Aku tidak tahu dia mengenakan baju warna apa hari ini, karena semua terlihat biru di mataku. Kata Cherry, bajuku dan bajunya berwarna senada, tanpa dia memberitahuku apa warnanya. “Eran. Selamat untuk pernikahanmu.” Suara Jayen, dan belum sempat aku mengalihkan tatapanku dari Cherry, Jayen sudah menarikku dalam pelukannya. Dan dia menepuk-nepuk punggungku berkali-kali. “Kita akan keliling dunia, Eran,” bisiknya senang. Aku mendorong bahu Jayen menjauh. Keliling dunia? Untuk apa? Jayen mendekatkan wajahnya di telingaku dan berbisik. “Bocoran dari kesatuan. Kau dan aku untuk tugas setelah bulan madu.” *** Aku berdiri di tepi jendela, membiarkan daunnya terbuka dan angin sejuk pagi hari memainkan tirainya. Kudengar desahan pelan, sepertinya Cherry hendak bangun. Sepanjang pagi, aku memindai tubuhnya yang terbaring di sebelahku. Dan pagi ini pun, aku tak puas-puas memandanginya. Terima kasih Cherry, atas malam pertama yang indah dan penuh cinta. Aku tidak percaya, bahwa Cherry dengan segala upaya terapinya selama ini, telah membuatku bisa menjadi suami yang sempurna. Semula kukira aku tidak akan bisa melakukannya lagi dengan wanita manapun. Bahkan dengan Alia bila dia kembali dari Mars. Namun semalam, dengan telaten dan sabar, Cherry membuatku bisa melaksanakan kewajibanku padanya sebagai seorang suami. Dan hal itu membuatku menangis setelahnya. Menangis dengan ribuan kali ucapan terima kasih di telinga Cherry, membuat wanita milikku itu terharu. Dan setelah dia terlelap dalam pelukanku, aku masih saja menangis. Tangisan keduaku adalah untuk Alia.  Nyaris aku menyebut namanya, karena kerinduanku yang sudah tak tertahan lagi. Saat bersama Cherry, aku mengingat bagaimana aku melaluinya bersama Alia setelah kami menikah.Hanya satu pekan setelah itu, kecelakaan itu telah merenggut mata dan kedua kakiku. Aku melihat Cherry duduk dan menatapku. “Selamat pagi, sayang.” ucapku tanpa beranjak dari tepi jendela, menyandarkan punggungku di dinding. “Berapa lama Tuan berdiri di situ?” tanya Cherry khawatir dan dia bergegas turun dari tempat tidur dan mendekatiku. “Sejak matahari belum terbit.” Cherry menoleh ke luar jendela, sepertinya dia memperkirakan sudah berapa lama aku berdiri. “Dua jam? Itu terlalu lama. Ayo duduk.” Aku menarik Cherry dalam dekapanku, hingga kurasakan hanya kulit kami yang bersentuhan. Badannya sedikit bergetar. Aku tahu dia masih canggung. Bahkan masih memanggilku Tuan. Aku membiarkannya, karena kami baru pertama kali tidur bersama dalam satu selimut. “Terima kasih, sayang.” Kucium pucuk kepalanya dan dia mengeratkan pelukannya di pinggangku. “Terima kasih sudah mempercayaiku, Tuan.” “Kamu masih akan memanggilku Tuan, hm?” Cherry tertawa kecil. “Aku tidak tahu harus memanggil apa?” “Panggil saja namaku.” Cherry melepaskan pelukan dan menatapku. Aku merapikan anak rambutnya yang berantakan. “Eran, hari ini jadwal kita bertemu Profesor Nomad.” Aku menggeleng. “Kenapa? Kau masih akan merahasiakan apa yang sudah terjadi? Bahwa kau bisa melihat makhluk hidup dengan batu Phosperium itu?” “Tidak, bukan karena itu. Aku akan memberitahunya agar dia melakukan penelitian pada kedua mataku. Kau dengar sendiri dia mengatakan kalau batu ini tak akan bisa dilepas dari ronggo mataku. Jadi, mau tak mau aku harus mengatakan padanya.” Cherry menghela napas lega. “Aku lega mendengarnya. Bagaimanapun, Kesatuan membutuhkanmu. Jenderal Baron kemarin menyampaikan kalau kau dan Jayen akan melaksanakan misi yang berbeda.” Aku mendengus. “Jayen sangat senang dengan tugas itu.” “Demi misi yang berbeda ini, ayo aku antar menemui Profesor. Sian ini, ya? Aku sudah berjanji padanya, bahwa setelah aku menjadi istrimu, Kapten Eran tidak akan bisa mengelak lagi untuk mengikuti prosedur kesehatan dari kesatuan.” Aku menggeleng. “Aku tidak mau menemui siapapun.” Cherry mengerut kening. “Kau bilang akan mengatakannya pada Profesor. Kenapa berubah-ubah? Apa kau masih ragu?” Aku mengangkat tubuh Cherry dan menggendongnya seperti anak kecil di atas perutku. Cherry mengalungkan lengannya di leherku. “Aku hanya mau bersamamu. Mereka pasti akan menelpon bila membutuhkan aku. Aku membutuhkan kamu sekarang.” Cherry tersenyum, lalu menciumi wajahku bertubi-tubi. Tapi dia melewatkan mataku. Perlahan, ditempelkannya kedua telapak tangannya di pipiku. Pasti aku akan mengalami lagi, copy paste memory Cherry. Namun aku tertegun. Memory yang masuk ke dalam kepalaku adalah memory dari terakhir aku mendapatkannya hingga malam pertama kami. Tidak semua memory dari awal, tapi memory lanjutannya. Batu ini benar-benar luar biasa. Kurasa, aku cukup membagi informasi mengenai kekuatannya melihat saja. Tidak dengan kemampuan transfer memory seperti ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD