7. Jangan Tinggalkan Aku

1135 Words
Hujan pertama sudah mengguyur bumi. Bau tanah basah menguar di mana-mana, membuatku tak kunjung beranjak dari teras. Aku suka bau tanah basah. Menikmati setiap tetes hujan menerpa wajahku, begitu menyenangkan seperti saat aku masih kecil. Jayen bilang, sebelum hujan turun dari langit, Kesatuan adalah institusi paling sibuk di muka bumi. Big data yang dibawa oleh Frontier XI dari Mars, produk dari ditanamnya Entity Core di sana, sudah bisa diterapkan di bumi. Telepon berdering tanpa henti. Bila hujan turun setiap hari, bisa jadi rencana untuk bermigrasi ke Mars hanya akan tinggal wacana. Semua orang tidak akan mau pindah bila Bumi sudah mulai indah. “Ya Tuhan, apa yang anda lakukan!” Aku merasakan sebuah tangan yang familiar menggamit lenganku dari belakang dan menyeretku masuk ke ruang tamu.  “Ini hujan pertama, dan anda hendak menelan semua airnya? Tolong pikirkan kondisi kesehatan kita semua. Hujan pertama masih mengandung asam, Tuan.” Aku tahu Cherry sangat kesal padaku. Team Frontier XI memang sudah mengumumkan bahwa hujan pertama yang turun akan banyak mengikat hydrogen dan nitrat di udara. Hingga air hujan yang turun berPH sangat rendah, alias asam. Bahkan di daerah pegunungan dikabarkan akan turun hujan yang mengandung asam sulfat, karena ikatan hidrogen dan belerang. Sangat korosif dan merusak. Langkahku yang masih menyeret satu kaki menyebabkan langkah kami berdua begitu berat, sehingga kami berdua jatuh di teras. Hujan menderas dan kulihat Cherry jatuh tertelungkup. Aku tidak bisa melihat wajah dan gestur tubuhnya, semuanya seperti cahaya biru yang tampak kabur dalam siraman air hujan. “Cherry … apa yang terjadi?” ucapku panik, lalu berusaha menggapai badannya. Cherry bangkit dan duduk, lalu dia beringsut menjauh. Aku tahu dia marah, sangat marah. Jadi aku mendekatinya sembari merangkak. Cherry sudah sampai di ujung teras dan aku menjulurkan tangan untuk menggapainya. Cherry menepis tanganku sebelum aku bisa mencapai badannya. Sepertinya dia menyadari sesuatu saat tangannya beradu dengan tanganku di udara. Karena tanpa berkata apapun, dia mengangkat badanku dan mendudukkanku di kursi roda. *** Baru kali ini aku merasakan bahwa Cherry tidak sabar merawatku. Dia marah karena aku menjatuhkannya saat hujan deras tadi, membuat kakinya terkilir. Dia tidak menyentuh anggota badanku saat dia mendekat, menandakan kehadirannya. Dia juga tidak bersuara saat meletakkan nampan berisi makanan dan beberapa butir obat di pangkuanku. Tapi aku melihatnya berseliweran di depanku, langkahnya kakinya terdengar jelas. Pincang dan sedikit diseret karena terkilir. Setiap dia lewat, sebenarnya aku ingin mengucap maaf, tapi seperti tertelan begitu saja.  Sepertinya dia sedang membereskan barang-barang dari kamar depan ke gudang belakang. Hujan pertama, membuat bagian atap yang bocor ketahuan. Beberapa titik di dalam rumahku, sepertinya meneteskan air dari atap. Aku bisa mendengar suara tetesannya ketika Cherry menadahinya dengan baskom. Bahkan di kamar depan, air mengucur seperti pancuran. “Cherry, kau bisa memanggil tenaga untuk membetulkan atap.” Cherry tidak menjawab, masih mondar mandir. Kali ini sepertinya dia mengangkuti air. “Telponlah Jayen.” Tidak ada jawaban. Selama merawatku dan melakukan fisioterapi pada kedua kakiku, tak pernah Cherry tidak menjawab panggilanku. Kali ini sepertinya dia benar-benar marah karena aku tidak mematuhi aturannya. Aku memang kerap melanggar, tapi dia tak pernah seperti ini. Perlahan aku bangkit meninggalkan sofa, berjalan perlahan menuju ke arah Cherry yang terakhir kulihat masuk ke kamar depan. Aku memang sudah bisa berjalan, tapi Cherry tidak mengijinkan untuk melangkah lebih dari sepuluh langkah dalam setiap gerakan, karena kakiku masih gemetar bila melakukannya. Namun was-was karena Cherry tidak menjawabku, membuatku melanggar ketentuannya. Aku sudah melangkah lebih dari dua puluh langkah menuju kamar ini. Kakiku mulai gemetar, tapi aku memaksanya untuk tetap melangkah. Cahaya biru pekat yang membentuk gestur Cherry aku dapati tergeletak di lantai, tepat di sebelah tempat tidur. Kepanikan menyergapku.  “Cherry?” Aku mendekatinya, lalu menyentuh kakinya. Dingin dan dia tidak bergerak. “Cherry, kamu kenapa? Jawab aku Cherry … Cherry …” Tidak ada jawaban. Aku memegang tangannya, lehernya dan kepalanya. Kurasakan lantai yang basah oleh kucuran air di sudut kamar. Mungkin Cherry terpeleset dan jatuh, hingga dia pingsan. Seluruh bajunya basah. Dan yang membuatku panik adalah, dia sama sekali tidak merespon ketika aku menepuk-nepuk pipinya. Tanpa pikir panjang, aku berusaha menggendong Cherry. Aku yakin kedua kakiku sudah cukup kuat menahan beban. Sekuat tenaga aku menggendong Cherry dan ternyata berhasil. Aku berhasil berdiri, lalu melangkah menuju tempat tidur. Namun baru dua langkah, kedua kakiku gemetar. Seperti atlit angkat besi yang kelebihan beban.  Aku oleng, badan Cherry terhempas ke tempat tidur, begitu juga denganku. Aku dan Cherry kembali jatuh bersamaan, namun kali ini di atas tempat tidur. “Cherry, kamu tidak apa-apa?” Aku meraih Cherry, kembali menepuk pipinya. Panik dan khawatir menyergapku.  “Cherry, please bangunlah.” Sepertinya usahaku sia-sia. Aku memeriksa nadi di leher Cherry. Masih berdenyut dan denyutnya sangat cepat. Dia …? “Kau bisa melihatku.” Sontak aku menarik tanganku dari mendeteksi denyut nadi di lehernya. Kalimat Cherry benar-benar mengejutkanku. Mengejutkan dalam arti, kukira dia tadi pingsan atau hampir mati, ternyata dia kemudian berbicara dan menatap ke arahku. Cahaya biru gestur wajahnya tampak nyata menampilkan lekuk di wajahnya.  “Ak-aku …” Cherry duduk perlahan. “Tuan Eran, anda bisa melihat kan? Kenapa berbohong padaku?” Aku terdiam. Aku tidak bisa menjawab bahwa aku bisa melihatnya. Karena aku hanya melihat cahaya biru saja. Gelengan kepalaku membuat Cherry kesal, lalu dia bangkit dari tempat tidur. Aku menarik lengannya, mencegahnya pergi. Kali ini aku tidak menatap ke arahnya. Gerakan tanganku yang berhasil memegang lengannya adalah jawaban atas pertanyaannya. “Cherry, tolong rahasiakan semua ini.” Perlahan Cherry duduk kembali dan menatap ke arahku. Baru kali ini, aku bisa melihat dengan jelas tekstur wajah Cherry, meski hanya satu warna. Dia punya tulang pipi yang menonjol lembut dan alis mata yang tajam. Aku tidak tahu apakah dia berkulit gelap atau putih seperti Alia. Yang jelas di mataku, Cherry terlihat sangat cantik. Seperti melihat lukisan satu warna dengan gradasi biru yang berbeda dan membentuk wajah. Aku menyentuh pipi Cherry perlahan, dan dia hanya diam. “Batu ini membantuku melihat, tapi hanya dengan warna biru saja.” “Aku tidak mengerti. Bola mata anda hitam pekat.” Aku mengedipkan kelopak mata. “Aku pasti tampak menyeramkan. Kau takut padaku?” Cherry terdiam sejenak, lalu menghela napas pendek. Dia menurunkan tanganku dari pipinya. “Aku tidak tahu harus takut atau tidak. Tapi bila Tuan Eran sudah melihat, maka tugasku sudah selesai. Aku harus memberitahu kesatuan mengenai hal ini. Ada banyak tugas yang harus saya selesaikan.” “Tidak!” Aku kembali menarik lengan Cherry, dan kurasakan gadis di depanku ini menjengit. Rasanya aneh mendapati reaksinya, karena bukankah selama ini dia memijat kakiku dan melakukan fisioterapi dengan sabar dan telaten. Kenapa sentuhanku padanya membuat tangannya terasa menegang dalam genggamanku. Apa dia takut padaku? Aku melepaskan tangannya perlahan. “Maaf, aku telah menakutimu.” “Kenapa anda ingin merahasiakan ini?” tanya Cherry dipenuhi keheranan. “Aku ingin kau tetap bersamaku, Cherry. Jangan tinggalkan aku.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD