34. Desa Kaburu

1066 Words

"Kau yakin ini jalannya?" Jayen yang berjalan di depan, tampak berdiri mematung. Lorong ini tak jauh berbeda dengan lorong tempat sebelumnya kami masuk. Jayen tadi mengambil lorong yang paling tengah, berdasarkan ingatan masa kecilnya. “Semua lorong tampak sama,” gumamnya tapi terdengar jelas di telingaku karena tidak ada suara lain di sekitar kami. “Aku tidak bisa mengingatnya dengan jelas.” “Kita coba saja jalan sampai ujung saja.” Jayen kembali melangkah dan obor menerangi jalan kami. Makin lama, semakin menanjak dan kami berdua menyadari sesuatu. Bahwa lorong ini bukan jalan keluar, tapi jalan masuk. Seperti halnya lorong tempat kami pertama masuk setelah serangga biru itu tewas. Lorong yang menurun, tidak bisa didaki. Jayen mendongak ketika sampai di ujung lorong yang kini mengar

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD