Ricky baru menyadari jika dua hari yang lalu Abim tidak masuk kantor. Alasan yang di berikan oleh sekretarisnya adalah adanya pertemuan keluarga. Bodohnya Ricky yang tidak berpikir macam-macam dan meninggalkan kontrak itu begitu saja?
Mungkin Ricky tidak terlalu memikirkan itu karena esok paginya Abim benar-benar kembali bekerja. Ricky menyelesaikan makan setelah mencari tau di mana sahabatnya itu berada sekarang. Nova kaget dengan tingkah Ricky yang bisa di katakan seenaknya di perusahaan. Dia meninggalkan pekerjaan begitu saja dan membawa dirinya pada sahabatnya. Ini mencurigakan.
“Tunggu, apa kita saling kenal?” tanya Nova saat berada di lift kantor. Karena lift itu bukan khusus CEO seperti awal masuk. Jadi mereka saat ini berada di tengah-tengah para karyawan perusahaan.
Semua pasang mata menatap ke arah mereka dengan sorot mata yang sulit di artikan. Sedangkan Ricky sendiri malah menggosok-gosok keningnya yang tidak gatal.
“Nona, kita tidak saling kenal. Tapi kamu tadi tidak sungkan menghabiskan makan siang ku. Kira-kira dengan apa kamu akan membayar ku?” tatapan para pegawai itu langsung tertuju pada wanita yang ternyata bersama bos mereka.
“Hallo tuan muda yang tampan dan baik hati. Aku hanya gadis kelaparan yang kau seret pakmmpplmm.” Belum selesai berbicara, Ricky sudah membekap mulut Nova. Biar bagaimana pun, Ricky adalah atasan orang-orang yang saat ini tengah menatapnya.
Saat pintu terbuka setelah bunyi “Ting”, Ricky yang masih setia membungkam mulut Nova pun menyembunyikan wanita itu dalam jasnya.
Sial, sungguh sial sekali. Baru beberapa langkah meninggalkan lift, Ricky seperti orang yang kepergok tengah membawa selingkuhannya. Nova masih memberontak di dalam jas Ricky sedang lelaki itu sudah mematung dengan menatap lurus pada orang yang juga menatapnya.
“Lepas,” merasa bebas namun aneh, Nova melihat ke arah Ricky sebelum mengikuti pandangan lurusnya.
“Papa, Mama.”
Ricky terkejut dengan kehadiran dua orang yang paling cerewet belakangan ini mengenai pasangan hidup. Tapi apa ini? Ricky tengah menyembunyikan wanita di balik jasnya.
“Ah, mama sama papa tidak melihat. Pergi sana, bikin cucu yang banyak.” Kedua orang itu malu-malu berlalu dengan meninggalkan pemuda pemudi yang berbeda usia lima tahun itu terdiam membeku.
Cucu?
Apa tidak salah dengar? Apa yang mereka pikirkan? Nova langsung memukul Ricky dengan tas yang di bawanya.
“Terima kasih Tuan, anda sudah membuat saya malu. Apa yang orang pikir tentang saya saat ini? Jalang murahan?” Nova berlalu meninggalkan Ricky yang masih tidak tau apa-apa.
Nova terlalu cepat pergi meninggalkan gedung berlantai dua belas itu. Sehingga orang tua Ricky kembali untuk menenangkan putranya.
“Sabar Son, wanita memang seperti itu. Kejar dan belikan dia makanan enak.” Bisikan itu seakan menjadi sebuah perintah bagi Ricky.
Ricky mengejar Nova yang baru saja masuk ke dalam taksi. Seperti yang di lakukan Nova saat makan tadi, Ricky menariknya dengan tidak segan.
“Silakan pergi pak, ini bayarannya.” Ricky menarik Nova ke dalam mobilnya yang terparkir tidak jauh dari lobi.
“Jangan rewel, aku yang mengantar mu.” Duduk diam dan mobil itu pun berlalu.
Dua orang tua itu tersenyum senang. Jelas mereka senang, tidak ada yang lebih membahagiakan lagi mereka melihat putranya membawa wanita yang bener kali ini. Biasanya bukan gak bener, hanya saja lebih sering membawa artis atau model terkenal untuk jalan-jalan beberapa kali. Setelah itu status mereka akan berubah menjadi bekas atau mantan pacar.
“Cantik dan aku suka.” Ibu Ricky berpendapat.
“Ya, sepertinya memang dia yang bisa mengendalikan buaya buntung itu.” Timpal ayah Ricky yang ikut gemas dengan perilaku putranya yang sering gonta-ganti pasangan.
Saat ini di suatu tempat yang katanya tersembunyi. Gua menikmati makan siang yang di bawa langsung oleh Abim. Orang tua Abim baru saja pulang karena merasa khawatir dengan menantu yang tidak pulang semalaman.
Setelah mendengar jawaban Abim yang ingin berbulan madu dengan cara mereka sendiri. Kedua orang tua itu pun tidak punya pilihan lain selain menyetujuinya.
“Bang, aku boleh berhenti kuliah?” tanya Gia di sela makan siangnya.
“Tidak, kuliah kamu sudah masuk semester akhir. Kamu seharusnya sudah menyiapkan bahan untuk skripsi. Jangan membuat anak-anak ku malu di masa depan. Punya ibu putus kuliah hanya karena menghindari cowok.” Ocehan Abim membuat nafsu makan Gia memudar. Ini tidak baik, tapi apa yang di katakan Abim itu sungguh menghancurkan mood-nya.
“Makan!”
Abim menyuapkan makanan dari piringnya secara paksa. Sebelum berhasil menjawab, suara bel berbunyi. Siapa yang menjadi tamu di apartemennya? Perasaan dia tidak punya teman yang tau di mana apartemen ini berada.
Gia mengabaikan Abim dan Nova. Dua orang ini adalah orang yang tidak pernah bisa membiarkan dirinya tenang sehari saja.
Nova datang dengan membawa begitu banyak makanan ringan. Dan..... Satu orang yang begitu tidak asing bagi Gia maupun Abim. Namun sangat aneh jika mereka datang berdua seperti saat ini.
Ricky melihat itu dari tatapan Gia, jelas akan terasa aneh. Mereka berdua kan tidak saling mengenal. Bahkan, keduanya sampai sekarang belum tau nama satu sama lain.
“Aku bertemu di bawah tadi.” Jelas Ricky yang semakin membuat Gia curiga.
“Bohong! Dia bahkan menyeret ku ke dalam perusahaannya dan memaksaku makan.” Jawab Nova seolah Ricky adalah seorang penculik dermawan.
Gia melihat ke arah jendela apartemen setelah menyuruh keduanya masuk. “Nyari apa kamu?” tanya Nova gemas.
“Tidak ada, aku hanya ingin melihat. Apa matahari terbit dari barat hari ini? Aku kaget ada orang yang memaksa mu makan. Padahal tidak sampai di paksa juga aku yakin kamu akan makan, Nova.”
Jleb.
“Tidak bisakah kamu percaya jika aku tengah diet?” wajah memelas Nova malah membuat semua tertawa.
“Kau memang babii. Nafsu makan mu liar.” Imbuh Ricky yang ikut tertawa.
“Bukan hanya makan dia liar, di tempat lain dia juga liat.” Celetukan Gia membuat semua hening selain dirinya yang masih tertawa sumbang.
“Ehem, Gia. Tolong ambilkan minum untuk mereka,” kata Abim menetralisir kecanggungan beberapa saat.
Liar yang di maksud Gia adalah bar-bar, Nova sangat bar-bar di luar, terutama kampus. Dia tidak akan pernah komentar macam-macam selain itu menyangkut dirinya.
Nova juga gampang sekali terpancing emosinya. Sehingga dia tidak sedikit memiliki musuh, termasuk Gia sebenarnya. Namun gadis yang baru menikah menikah ini lebih terlihat santai.
“Apa kau percaya aku liar di....” Nova menggantung ucapannya.
“Ranjang maksud mu?” tanya Ricky yang di angguki oleh Nova. Polos sekali, batin Ricky. “Kalau melihat nafsu makan mu sih aku percaya. Hanya saja belum bisa memastikannya.” Imbuh Ricky
“Belum pasti? Maksudnya?” tanya Nova yang membuat Abim yang melihat pun ikut heran.
“Kan belum nyobain,?” jelas Ricky menggoda Nova.
“Ya cobain,” katanya lagi lebih tegas, namun kedua lelaki itu langsung tebuk jidat.