“Iya, Gia menunggu abang.” entah kekuatan dari mana Gia mengatakan hal itu. Ah, sungguh ini tidak bisa di percaya. Penggoda kecil ini memang harus di beri hukuman biar tidak membuat orang sakit kepala atas bawah. Mendengar itu, Abim semakin berat saja meninggalkan rubah kecil penggoda itu. Sungguh sangat berat, percayalah gadis itu akan mendapatkan hukumannya sebentar lagi. “Siapa sih yang datang malam-malam begini?” entah jengkel atau senang, Abim tidak tau perasaannya saat ini. Jengkel karena gagal ngepa-ngapain rubah kecil itu? Jelas dia jengkel. Tapi dia juga merasa senang, karena dia benar-benar mati gaya saat berhadapan dengan Gia saat seperti tadi. Kulit mulus yang selalu menghiasi fantasinya selama ini membuatnya tak bisa melakukan apa-apa. “Oh, tuan Fuad. Ada apa malam-malam

