Kantong Doraemon

1164 Words
Hati Gia hancur berkeping-keping, tapi dia harus menghadapi ini. Dia yang salah di sini, tidak memberi jarak pada Abim atau memberi batasan yang pantas. Satu tahun setengah itu bukan waktu yang lama, tetapi kenapa banyak sekali kejadian? Apa ini akan berakhir dengan cepat? Tentu tidak. Pernikahan Gia dan Abim, sah. Di mata hukum negara maupun agama. Tetapi, apa dia punya hak penuh atas diri suaminya? Gia tidak tau dan saat ini ingin bertanya pada ayah dan ibu mertuanya. Maria Huda dan Habib Huda tengah menikmati teh hangat di siang hari bersama. Di teras rumah di temani dengan anak tetangga yang suka main ke sana. “Gia, tumben main ke sini. Ayo masuk, mama tadi buat kue, kebetulan sekali mantu mama pulang.” Sapa halus nan lembut dari seseorang yang terakhir kali memberikan tatapan tidak enak padanya. Apa ini sandiwara? “Mama?” katanya kaget. “Ya, aku ibu mertuamu. Ayo masuk, kita ngobrol di dalam.” Berbanding terbalik dengan apa yang terjadi kemarin. Gia tidak terbiasa dengan yang seperti ini. “Gak perlu ramah-tamah, aku datang sendirian tanpa bang Abim. Jadi diri anda sendiri saja.” Sarkas Gia. Dia memang tak menyukai orang yang bermuka dua. “Kamu mantu mama satu-satunya kalau bukan kamu yang aku anggap menantu, terus siapa lagi?” Ekspresi Maria kaget mendengar ucapan yang tidak biasa dari Gia. “Katakan pada mama, apa ada sesuatu yang terjadi?” “Tidak, aku hanya heran saja sama anda. Terakhir kali saya makan di sini, ekspresi wajah anda tidak secerah hari ini.” Gia jujur dengan apa yang dia rasakan. Karena memang dia tidak bisa menyimpan rahasia terlalu lama. “Itu sebabnya kamu tidak pulang malam harinya? Mama minta maaf, tapi mama malu buat cerita itu. Tapi sumpah ini tidak ada hubungannya dengan kamu.” Maria sedikit kecewa dengan tindakannya di masa lalu. “Kalau anda menganggap saya menantu satu-satunya kenapa malu? Dengan begini anda buat saya semakin gak nyaman.” Gia benar-benar menjadi orang lain saat ini. Biasanya gadis itu akan bertingkah manis dan manja padanya. Tapi sekarang.... “Baiklah, tapi jangan tertawakan mama.” Maria pun menceritakan apa yang terjadi saat itu. Betapa malunya dia saat kepergok tengah berhubungan badan di dapur. Dan alasan itulah yang membuat Abim tidak sarapan di rumah, bukan karena Gia. Untuk ekspansi dirinya waktu itu karena Maria tidak tau harus bagaimana bersikap. Gia paham kalau ibu mertuanya malu atau canggung saat itu. Tapi, Gia kan tidak tau. “Ehm. Ya Gia maafkan, jangan di ulangi lagi.” Gia sudah seperti ibu yang menasehati putrinya yang melakukan kesalahan saja. “Ibu, apa anda sudah tau kalau kak Loly sudah balik ke Indonesia?” pertanyaan itu membuat kepala wanita paruh baya itu sakit tiba-tiba. Bagaimana tidak sakit? Baru semalam keluarga wanita itu mengancam akan membatalkan kontrak kerja sama jika Abim tidak menceraikan Gia. Wajah Maria pucat pasi, dia tidak tega untuk mengatakan langsung pada menantunya. Tapi bagaimana ini? “Tenanglah, Abim sama papa nya pasti punya cara untuk menyelesaikan masalah ini. Lagi pula, pernikahan karena pekerjaan itu buruk. Dari dulu mama juga tidak setuju, apalagi itu saya dengar dia di kontrak sama majalah dewasa.” Jelas Maria menenangkan Gia. “Tapi ma, aku dengar tadi mereka....” Gia tidak bisa melanjutkan ucapannya, dia malah menangis tersedu-sedu di pelukan ibu mertuanya. Apa yang di dengar Gia tadi tidak salah, karena memang dia yang menjadi orang ketiga. Tapi ini tidak adil jika hanya dirinya saja yang menanggung semuanya. Gia pamit pulang dan memasak untuk makan malam suaminya. Semarah apa pun dia, tepat tidak lupa kodratnya sebagai seorang istri. Menyenangkan suami dan berusaha membuatnya betah berada di rumah. Salah satunya dengan menyenangkan perut sang suami. Baru sampai di lorong, dia melihat pintu apartemen nya terbuka. Apa ada maling yang masuk, ya? Ah sepertinya bukan. Karena dia sudah mengunci pintunya rapat-rapat. Tidak butuh waktu lama, orang yang membuka pintu pun keluar. Abim dengan membawa kantong sampah, dia keluar hendak membuang sampah. “Kamu baru pulang? Aku sudah membelikan makanan untuk mu. Tunggu sebentar aku buang sampah dulu.” Apa ini? Kenapa bisa lelaki itu sudah berada di apartemen? Bahkan lelaki itu sepertinya sudah mandi juga. Aroma sabun menguar dari badannya saat melewati Gia. Gia masuk ke dalam apartemen, memperhatikan sekitar dengan seksama. Dia tidak melihat adanya perubahan di setiap sudut ruangan, entah kenapa dia merasa asing saat masuk ruangan “Maaf, aku menambah ruang kerja di sana. Selebihnya tidak aku rubah sama sekali.” Ah benar, itu dia ada dj sana. Seharusnya di sana itu adalah ruang santai mengerjakan tugas. Kasur lantainya sudah tidak ada, kini sudah berganti dengan meja kerja lengkap dengan komputernya. Kapan laki-laki ini memindahkan kantornya ke apartemen? Dan apa tujuannya? Gia berusaha bodo amat dan tidak peduli. Dia masuk ke dalam kamar, betapa terkejutnya dia saat mendapati kamar sudah seperti taman bunga. Lantainya di penuhi oleh bunga mawar utuh tanpa tangkai. Di meja juga terdapat sebuah rangkaian bunga mawar merah yang sangat besar nan cantik. Untuk apa ini? Dan kapan suaminya itu menyiapkan semua ini? Secara logika, persiapan ini tidak bisa di lakukan dalam satu sampai dua jam. Tapi satu yang lalu dia berada di kantor dan mendengar Abim tengah bermesraan dengan wanita cantik bernama Loly. Tidak bisa di tebak, apa yang akan terjadi ke depannya. “Apa kamu sendiri yang menyiapkan semua ini?” tanya Gia saat merasakan tangan Abim memeluknya dari belakang. “Benar, siapa lagi kalau bukan aku? Kenapa? Apa kamu tidak suka?” Abim melepas tautan tangannya dan menuntun istrinya duduk di tepi tempat tidur. “Aku sengaja untuk tidak bekerja hari ini, hanya untuk memberimu kejutan. Tapi sepertinya usahaku gagal.” “Tidak, bukan begitu. Aku tadi ke kantormu, dan aku....” “Kamu kenapa?” tanya Abim panik, pasti terjadi sesuatu pada gadisnya saat dia tidak ada di tempat. “Tidak, aku gak apa-apa. Hanya saja aku mendengarmu bersama dengan wanita di dalam ruangan.” Jawab Gia kebingungan. “apa kau yakin? Aku bahkan mengajak Sasha menghias kamar ini. Jam berapa kamu ke sana?” tanya Abim. Gia menceritakan semuanya pada suaminya, Abim jelas kaget dengan apa yang di ceritakan. Orang bilang lelaki itu sedikit banyak akan tergoda pada wanita cantik. Tapi tidak dengan Abim, apalagi dengan model seperti Loly. Abim mengecek kamera cctv yang terpasang di ruangannya melalui ponsel miliknya. Kamera pengawas itu rupanya sudah terhubung dengan ponsel milik Abim. Wanita cantik telah memasuki ruangannya tanpa izin. Dia bahkan melihat-lihat ke dalam ruangan, sehingga netra nya menangkap sebuah potret yang membuat hatinya meradang. Foto di mana Abim memakai setelan pengantin bersama dengan wanita yang cantik lengkap dengan riasan pengantin adat Sunda. Hatinya memanas dan mengacak-acak ruangan itu menjadi puing-puing. Bahkan wanita itu juga membanting foto yang di pajang di atas meja itu. Abim kaget juga saat melihat wanita yang biasanya bersikap manis itu ternyata jauh lebih liar. Pada saat akan keluar ruangan, gadis itu melihat ada yang mau masuk ke dalam ruangan. Dan di situlah Loly mengambil sebuah rekaman dari dalam tasnya. Sudah mirip kantong Doraemon saja tasnya. Menyimpan benda-benda ajaib.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD