Tiga Bulan Kemudian Aku berusaha menutup telingaku rapat-rapat dengan bantal. Memejamkan mata dan terperdaya oleh kelemahanku. Rasanya seluruh kekuatanku telah tersedot habis. Sementara suara menyeramkan itu masih saja terus terdengar. Menyelinap masuk seolah sebuah bantal saja tidak cukup untuk meredamnya. Aku bangkit berdiri dari ranjangku dan nyaris saja melemparkan bantal ke jam di dinding, jika saja Shirly tidak buru-buru masuk ke kamarku. Sekilas memandang kamarku dan agak lama terpaku pada segelas teh di atas meja. Dia menatapku marah. Bibirnya terbuka menahan emosi yang siap meledak. Tidak puas hanya dengan memelototi, ia langsung berkuak-kuak tak jelas. Kemudian ia terdiam. “Sudah cukup, Bang Devon,” geramnya. Ia menggerak-gerakkan tangannya seperti mengipas seluruh kotoran

