My Dog, 05

2298 Words
Ane panik mendapati darah tak hentinya keluar dari hidung anjing kesayangannya.  “Kamu kenapa sih mimisan terus? Pasti kedinginan ya karena kelamaan mandinya?” tanya Ane seolah dirinya mampu berkomunikasi dengan sang anjing yang dia beri nama Dipsy.  “Ini semua gara-gara kau,” sahut Alcander. Dia tak melakukan perlawanan apa pun ketika Ane dengan telaten mengelap darah dari hidungnya dengan tissue.  Sebenarnya ini pengalaman terkonyol yang pernah dialami Alcander sepanjang hidupnya. Untuk pertama kalinya merasa beruntung karena kondisinya dalam wujud seekor anjing, jika dia dalam kondisi tubuh aslinya sebagai seorang putra mahkota yang terhormat, tentunya dia akan malu bukan main.  “Kenapa aku terjebak dengan gadis bodoh ini? Ini gara-gara Yang Mulia Raja. Aku pasti akan membunuh raja tak berguna itu jika tubuhku sudah kembali seperti semula.”  “Tapi ... jika aku kembali ke wujud asalku, bagaimana caranya kembali ke Soungga Kingdom? Tempat ini pasti bukan wilayah kerajaanku.”  Alcander yang sedang melamun itu, tersentak kaget saat Ane tiba-tiba mengangkat tubuhnya dan membenamkan dirinya ke dalam pelukan gadis itu.  “Selesai. Akhirnya darahnya berhenti.” Ane memekik girang sembari dengan gencar menciumi wajah si anjing. Dia tak tahu saja Alcander tengah menegang sempurna dengan wajah yang memerah menahan malu.  “Gadis ini tidak tahu malu. Jika aku sudah kembali ke tubuh asalku, aku pasti menghukumnya seberat mungkin.”  “Beraninya dia mencium wajahku. Aku ini putra mahkota yang terhormat. Jangan menyentuhku sembarangan.”  Gerutu Alcander dalam hati yang didengar Ane sebagai gonggongan anjing biasa.  Guk ... Guk ... Guk ...  Tubuh anjing itu menggeliat gelisah meminta dilepaskan.  “Kenapa sih kamu berontak melulu tiap kali dipeluk?” tanya Ane, masih tak mau melepaskan tubuh mungil Alcander.  “Kayaknya bakalan butuh waktu lama buat ngejinakin kamu. Tapi gak apa-apa, lambat laun kamu pasti jadi jinak.” “Jangan bermimpi. Sampai kapan pun aku tidak akan menjadi anjing jinak.”  “Hei ... sebenarnya aku bukan anjing. Aku ini seorang pangeran!!” teriak Alcander jengkel bukan main.  “OK ... OK ... aku turunin,” ucap Ane, karena si anjing tak hentinya menggonggong dan semakin kencang seiring eratnya Ane memeluknya.  Ane menurunkan anjing itu, meletakannya dengan perlahan di kasurnya.  Ane sendiri bergegas mengganti handuk kimononya dengan piyama tidur. Lantas ikut bergabung bersama Alcander di atas ranjang. Merebahkan diri sembari mendekap tubuh Alcander agar merapat padanya. Meskipun anjing itu terus menggeliat, Ane tak peduli. Dia hanya ingin tidur sambil memeluk Dipsy kesayangannya.  “Dipsy ... aku seneng banget deh ada kamu di sini.” “Berapa kali sudah aku katakan, namaku bukan Dipsy. Alcander ... itu namaku.” Ane mengusap puncak kepala si anjing penuh sayang. Ane sendiri heran kenapa bisa dia sesayang itu pada si anjing padahal sebelumnya dia belum pernah memelihara hewan apa pun. Biasanya yang dia peluk jika hendak tidur adalah koleksi boneka yang dia tinggalkan di kampung halamannya. Dan Alcander yang malang kini menjadi pengganti boneka-boneka itu.  “Dipsy, sebelum ada kamu, aku ngerasa kesepian banget di sini. Gak ada temen, gak ada kenalan. Ini pengalaman pertama aku datang ke Jakarta.”  Ane menceritakan keluh kesahnya pada sang anjing, meski menurutnya anjing itu tidak akan memahami ucapannya, Ane tak peduli. Dia hanya sedang resah dan hanya anjing ini yang bisa menemaninya.  Tanpa dia ketahui sebenarnya si anjing memahami betul semua yang dia katakan. Alcander mendengus kasar sembari membuang muka agar pandangannya tidak terfokus pada d**a Ane yang menempel padanya.  “Dulu di rumahku, ada Kak Anisa yang selalu nemenin aku. Kalau aku lagi ada masalah, dia tempat aku curhat. Sekarang dia gak ada di sini, aku ngerasa sendirian.”  “Di rumah juga aku selalu ngerasa sendirian kalau Kak Anisa lagi kerja. Padahal aku punya saudara tiri, tapi ... aku tetep ngerasa kesepian. Awalnya aku seneng akhirnya bisa pergi dari rumah itu. Walau gak bisa ketemu kak Anisa, seenggaknya aku bisa bebas dari penghuni rumah itu yang gak suka sama aku.”  “Orang bilang rumah itu seperti surga, tapi menurut aku, rumahku seperti neraka. Aku ini orang yang gak diharapkan kehadirannya di rumah. Mereka kecuali kak Anisa, pasti seneng aku pergi ke Jakarta.”  Alcander memutar bola matanya malas mendengar cerita Ane yang tak ada habisnya.  “Sekarang aku pindah ke sini. Aku pikir bakalan menyenangkan. Ternyata gak ada bedanya. Di sini ... aku juga sendirian.” “Orang yang aku kenal di sini cuma Kak Edo. Tapi ...” Ane menjeda ucapannya, percakapannya dengan Edo tadi kembali terlintas di ingatannya. Dia mendesah lelah dengan kedua mata berkaca-kaca menahan tangis.  “ ... Kak Edo gak mungkin bisa nemenin aku terus. Dia udah punya pacar. Pacarnya cantik, anggun, kaya, pinter lagi. Dibanding Kiran, aku gak ada apa-apanya. Sebelum bertarung, aku udah kalah telak.”  Ane menempelkan wajahnya di wajah Alcander dengan air mata yang mulai bercucuran dari kedua matanya.  “Aku suka sama Kak Edo dari dulu. Dulu aku patah hati karena Kak Edo suka sama Kak Anisa. Apa sekarang aku harus ngerasain patah hati lagi?”  Alcander berhenti menggeliat ketika dia merasakan sesuatu yang hangat menyentuh wajahnya. Itu adalah air mata Ane yang menetes hingga mengenai wajah Alcander. Alcander mendongak, menatap wajah Ane yang sudah banjir air mata.  “Dipsy ... kamu tahu gak, patah hati itu rasanya sakit banget?” tanya Ane. “Huuh ... di dunia ini tidak akan ada satu pun wanita yang berani menolak dan mengabaikan pesonaku. Jadi mustahil aku patah hati.” Alcander menyahut dengan bangga.  “Aku pasti doain kamu supaya cepet ketemu sama pasangan kamu ya, Dip. Jangan pernah merasakan patah hati kayak aku.”  Ane mengangkat tubuh Alcander sembari merubah posisi miringnya menjadi terlentang. Dia meletakan Alcander di atas dadanya, begitu dekat dengan wajahnya.  “Serius deh kamu tuh lucu banget. Aku belum pernah lihat anjing selucu kamu. Eh pernah deh lihat di film-film.” Ane cekikikan sendiri seolah kesedihannya tadi menguap entah kemana hanya karena melihat kelucuan Dipsy kesayangannya.  Ane kembali mengelus puncak kepala si anjing.  “Dipsy, aku beruntung ada kamu nemenin aku sekarang. Aku jadi gak kesepian lagi. Aku pasti jagain kamu.”  “Jadi ... jangan pernah ninggalin aku ya.”  Alcander terenyak, iris mereka saling bertemu. Ada sesuatu yang berdesir di hati Alcander saat melihat iris hitam Ane yang berkaca-kaca itu disertai mendengarnya yang meminta Alcander untuk tetap tinggal.  “Aku sayang kamu, Dipsy.”  Ane mendekatkan wajahnya dan mengecup si anjing tepat di bibirnya. Hanya kecupan ringan dan itu sukses membuat Alcander terpaku hebat hingga lupa cara berkedip. Padahal di dunianya, dia sudah sering b******u mesra dengan tunangannya. Namun, ini pertama kalinya dia merasa darahnya berdesir aneh saat Ane mengecupnya ringan.  Ane memindahkan tubuh si anjing tepat di sampingnya. Kembali merubah posisi berbaringnya menjadi miring, lantas dia peluk tubuh Alcander dengan hati-hati agar tak menyakiti.  “Selamat tidur, Dipsy. Mimpi indah,” ucap Ane, sebelum dia memejamkan matanya. Tak membutuhkan waktu yang lama, gadis itu pun tertidur dengan lelap.  Alcander terdiam, memandangi wajah Ane yang tampak polos saat sedang tertidur. Sebelum embusan napas pelan tiba-tiba meluncur dari mulut mungil Alcander.  “Cepat sekali dia tidur. Dasar gadis aneh.”  Alcander berusaha menyingkirkan tangan Ane yang melingkari tubuhnya. Namun gagal, tenaganya tak sebanding dengan beratnya tangan Ane. Alcander sampai terengah saking lelahnya dia mencoba menyingkirkan tangan Ane.  Akhirnya Alcander menyerah. Dia ikut mengistirahatkan dirinya, ini sudah larut malam dan dia pun harus tidur.  Sebelum memejamkan mata, sekali lagi Alcander menatap wajah tidur Ane.  “Dipsy.”  Alcander terkejut bukan main saat Ane tiba-tiba bersuara. Anehnya kedua mata gadis itu masih terpejam erat. Alcander menatap dengan kening mengernyit bingung.  “Jangan pergi. Jangan tinggalin aku, Dipsy,” ucap Ane lagi, yang ternyata mengigau dalam tidurnya.  Alcander tertegun sebelum desahan lemah itu kembali mengudara dari mulut mungilnya.  “Aku harus pergi. Walaupun kau minta aku tetap tinggal di sini. Aku tetap harus pergi.”  Alcander merebahkan kepalanya di ranjang empuk Ane.  “Aku harus kembali ke istanaku bagaimana pun caranya.”  Perlahan Alcander mulai memejamkan matanya.  “Setelah lukaku sembuh, aku akan pergi dari sini.”  Dan dia pun tertidur setelah bergumam seperti itu.   ***    Terhitung sudah empat hari berlalu sejak Alcander menetap bersama Ane di apartemennya. Kejadian gila dan menegangkan bagi Alcander terus terjadi sejak dirinya tinggal bersama gadis aneh itu.  Bukan hanya sekali dia mandi dan tidur bersama dengan Ane. Tapi setiap hari, dan hal itu membuat nalurinya sebagai pria normal benar-benar terguncang hebat. Sungguh miris karena hanya dirinya yang merasakan ketegangan itu. Sedangkan Ane ...  Gadis itu cuek bebek karena di matanya Alcander hanyalah seekor anjing lucu.  Kendati demikian, Alcander tak memungkiri gadis itu memperlakukannya dengan baik. Setiap hari dirinya makan dengan kenyang. Luka di kakinya selalu diobati dan diganti perbannya oleh Ane. Hingga akhirnya luka itu sembuh total. Alcander sudah bisa berjalan dengan leluasa tanpa merasakan sakit sedikit pun.  Hari ini menunjukan waktu siang hari, tepat pukul 2 siang. Alcander baru saja terbangun dari tidur siangnya. Tenaganya sudah pulih kembali dan merasa dia siap melancarkan rencananya untuk melarikan diri dari gadis aneh yang memungutnya tempo hari.  Alcander juga sudah mengisi perutnya dengan banyak makanan, kini dia benar-benar sudah siap untuk pergi. Mumpung apartemen itu sepi karena pemiliknya belum pulang dari kantor.  Alcander melompat turun dari ranjang yang biasa dia tiduri bersama Ane. Dia berjalan santai menuju pintu balkon. Pintu itu tak dikunci oleh Ane karena dirinya berpikir apartemennya aman karena berada di lantai 20. Mustahil ada perampok yang bisa masuk mengingat betapa ketatnya keamanan di gedung apartemen tersebut.  Si anjing yang sebenarnya adalah sosok pangeran yang cerdas, tentu tak kehilangan akal untuk membuka pintu itu.  Alcander mengambil ancang-ancang untuk melompat ke atas rak buku yang Ane letakan di samping pintu tersebut. Setelah dirinya berhasil naik ke rak, Alcander berusaha menjangkau kenop pintu dengan tangan mungilnya.  Dia berusaha sekuat tenaga namun gagal karena tangannya terlalu pendek, dia tak bisa menjangkau kenop pintu tersebut.  Alcander tak menyerah, dia melompat dan bergelantungan di kenop pintu. Berusaha memutar kenopnya namun lagi-lagi gagal hingga dirinya jatuh ke lantai.  “Huuh ... sial. Pangeran Alcander yang terhormat ini bahkan sekarang kesulitan untuk membuka pintu. Jika rakyatku tahu, mereka pasti menertawakanku,” gerutunya jengkel, sekaligus meratapi nasibnya yang menyedihkan karena terjebak dalam tubuh anjing lemah nan tak berdaya.  Kendati demikian, Alcander tak menyerah sedikit pun. Dia terus mencoba melompat dan bergelantungan di kenop pintu. Sekeras mungkin berusaha memutar kenop itu namun hasilnya selalu gagal meski sudah berulang kali dia coba.  Alcander mendesah, lelah bukan main. Dia melirik ke arah jam di dinding, waktu menunjukan pukul 3 sore yang mana artinya sudah satu jam lamanya dia berusaha membuka pintu itu.  “Aku harus cepat sebelum gadis aneh itu pulang,” katanya, tahu persis Ane akan tiba di apartemennya sekitar pukul 5 sore.  Alcander mencoba sekali lagi melompat dan bergelantungan di kenop pintu. Kenop itu sungguh licin, Alcander memanfaatkan gigi-giginya kali ini. Dia menggigit kenop pintu yang berbentuk bulat dan berwarna emas itu, dengan mulut berusaha menahan tubuhnya yang jauh lebih ringan dibandingkan tubuh aslinya saat masih berwujud manusia.  Kedua tangan mungilnya berusaha memutar kenop pintu. Dan ...  Cklek  Pintu pun berhasil dia buka. Alcander girang bukan main. Dia melompat turun dan melewati celah pintu yang berhasil dia buka dengan susah payah.  Dirinya berjalan menuju pembatas balkon dan menegang saat melihat betapa tingginya balkon itu. Jaraknya dengan jalanan begitu jauh sampai Alcander pusing sendiri saat melihatnya.  “Aku pasti mati kalau sampai jatuh dari sini. Tubuhku pasti hancur berkeping-keping,” katanya.  Alcander mundur beberapa langkah dari pembatas balkon. Kedua matanya bergulir ke sekeliling mencari jalan baginya untuk melarikan diri. Ketika tatapannya tertuju pada balkon kamar lain di sebelah apartemen Ane, dirinya tertegun.  “Kalau aku melompat ke balkon yang itu seharusnya aku bisa melarikan diri dari sini. Tapi ...”  Alcander kembali berjalan mendekati pembatas balkon dan melongokan kepala untuk melihat ke bawah. Tiba-tiba kepalanya pusing begitu melihat betapa jauh jarak balkon itu dengan tanah di bawah. Terlebih saat dia melihat ukuran manusia yang berlalu lalang di bawah begitu kecil. Alcander merasa kepalanya berputar-putar,  pusing bukan main.  “Kenapa kepalaku jadi pusing? Penglihatanku buram.”  Dia pun mundur beberapa langkah dan mendudukan dirinya guna menghilangkan pusing di kepalanya yang tiba-tiba menyerang.  Berjam-jam lamanya Alcander merenung sendirian di balkon dengan tatapannya tertuju pada balkon sebelah.  Melompat? Jangan? Melompat? Jangan?  Hanya dua kata itu yang terus berputar di kepala Alcander hingga rasa-rasanya kepalanya ingin meledak memikirkan keputusan apa yang harus dia ambil. Jika memaksakan melompat, konsekuensinya dia akan berakhir tinggal nama jika sampai jatuh ke bawah. Alcander bergidik ngeri membayangkan tubuhnya hancur saat membentur tanah.  Di sisi lain, dia juga ingin bebas. Ingin pergi dari apartemen gadis penolongnya yang aneh dan berisik. Dia harus mencari cara untuk kembali ke istananya, Alcander merasa tinggal bersama Ane tak menolongnya sedikit pun. Dia tak menemukan cara untuk kembali ke kerajaannya selama menetap bersama Ane. Berpikir mungkin caranya akan dia temukan jika berkeliling di alam bebas.  Selain itu, tinggal bersama Ane hanya membuat batin dan fisiknya tersiksa. Gadis itu memang ajaib menurut Alcander. Selalu berisik sepanjang waktu dan tiada henti memeluk Alcander seolah Alcander sebuah boneka tak bernyawa. Tubuh Alcander terasa remuk di beberapa bagian jika Ane memeluknya terlalu erat. Dan penderitaan itu dirasakan Alcander setiap hari. Dia sudah tak tahan.  Tekanan batin dirasakan Alcander karena gadis itu dengan tak tahu malunya terus memperlihatkan tontonan yang menggiurkan bagi seorang pria normal seperti Alcander. Intinya sejak tinggal bersama Ane, hidup Alcander penuh dengan penderitaan fisik, batin terutama.  Terlalu banyak melamun, Alcander terenyak ketika mendengar suara Ane memanggil dirinya.  “Dipsy ... Dipsy ...!!” teriak Ane, bahkan sebelum gadis itu tiba di kamarnya.  Ane menggulirkan mata menatap sekeliling kamar, panik luar biasa saat tak mendapati Dipsy kesayangannya tak dia temukan dimana pun.  “Dipsy, kamu dimana?!” teriaknya, teramat kencang karena terlalu panik.  Di balkon, Alcander memutar bola matanya, malas. “Si berisik itu sudah pulang. Gagal sudah usahaku melarikan diri darinya.”  “Dipsyyyyyy!!” teriak Ane sembari berlari untuk memeluk Alcander ketika dirinya akhirnya menemukan si anjing tengah melamun di balkon.  Alcander sudah pasrah, tahu persis Ane akan mengungkungnya lagi dalam pelukan bertenaga monster gadis itu.  Alcander memberontak saat nyaris kesulitan bernapas karena Ane memeluknya terlalu erat.  “Kamu ngapain di sini, Dipsy?” tanya Ane, mengabaikan bagaimana si anjing memberontak hebat dalam pelukannya.  Hingga akhirnya Alcander menggigit tangan Ane karena dirinya nyaris mati tak bisa bernapas.  “Aww!!” pekik Ane, kesakitan. Dia mengusap tangannya yang digigit Alcander. “Kamu kok gigit sih, Dip? Biasanya gak pernah gigit?” “Aku hampir mati gara-gara kau, gadis gila,” gerutu Alcander, jengkel bukan main.  Ane tersenyum, mencoba mendekati Alcander namun anjing itu berlari dengan cepat untuk menghindarinya.  “Dipsy, kok lari?”  Ane ikut belari mengejar Alcander. Dan akhirnya usaha anjing malang itu untuk melarikan diri gagal total saat Ane berhasil menangkapnya. Menggendongnya dan tak membiarkan Alcander lepas.  “Kamu kayaknya bosen ya ditinggalin sendiri di apartemen?”  Guk  Sahut si anjing yang membuat Ane tersenyum girang karena berpikir Dipsy kesayangannya merespon ucapannya.  “Ya udah, nanti malam kita jalan-jalan keluar ya supaya kamu gak bosen.”  Tanpa Ane sadari wajah Alcander begitu semringah saat ini.  “Bagus. Itu dia, kesempatan melarikan diri akhirnya datang,” ucap Alcander, disertai seringaian mengerikan karena detik-detik dirinya terlepas dari jeratan gadis berisik nan bodoh itu akan segera datang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD