Ane dan Edo tengah asyik menyantap makanan mereka dalam keheningan, setelah heboh dengan masalah mengganti nama untuk sang anjing peliharaan yang dari Lala akhirnya berganti menjadi Dipsy, kini keduanya tengah terhanyut dalam lezatnya makanan yang mereka kunyah dalam mulut.
Sesekali Ane mencuri-curi pandang ke arah Edo, sosok pria baik hati yang diam-diam dia taksir. Dibalik sikap tenangnya, sebenarnya gadis itu tengah berperang dengan dirinya sendiri terutama kerja jantungnya yang tengah berada di luar kata sehat. Jantung malang itu tengah berdentum cepat hanya karena di seberang meja duduk pria yang dia sukai sejak lama.
“Ane.”
Ane tersentak kaget hingga sendok di tangan nyaris melayang ke arah si pemilik suara ketika Edo tiba-tiba memanggil namanya.
“I- Iya, kenapa Kak Edo?” tanyanya gugup.
“Kamu kenapa kayak yang kaget gitu? Ketahuan lagi ngelamun lagi.”
Ane salah tingkah, oh haruskah dia mengaku barusan tengah berfantasi membayangkan andai saja setiap hari dirinya bisa makan bersama Edo seperti saat ini? Nyatanya dia tak berani mengatakan yang sejujurnya.
“Aku nggak ngelamun kok, kaget aja tiba-tiba kak Edo ngajakin ngomong.” Jawabnya sambil terkekeh.
“Oh, kirain kamu ngelamun karena mikirin cowok yang kamu taksir.”
Seketika Ane tersedak makanan yang sedang dia kunyah hingga membuat nasi di mulutnya berhamburan keluar. Alcander yang melihat itu memutar bola matanya, sedangkan Edo terkekeh geli sembari menyodorkan segelas air. Cepat-cepat Ane menerimanya dan meneguk airnya sampai habis dengan sekali tegukan.
“Jangan-jangan kamu udah punya pacar ya, An?” tanya Edo lagi di saat Ane sedang sibuk mengusap-usap dadanya.
“Nggak. Aku gak punya pacar. Kok kak Edo tiba-tiba nanyain soal pacar?”
“Pengen tahu aja,” sahut Edo, Ane menanggapi dengan ber-oh panjang.
“Oh iya, kabar Anisa gimana?”
Ane menegang di tempat, akhirnya nama sang kakak yang jadi alasan dirinya dekat dengan Edo keluar juga dari mulut pria itu. Dia memaksakan diri untuk tersenyum meski sebenarnya hatinya sedikit risih. Ane mengangguk masih disertai senyum lebar, sayangnya hanya senyum palsu.
“Baik. Kak Anisa dan tunangannya akan segera menikah. Kalau nggak salah, dua bulan lagi.” Ane memicingkan mata, menelisik raut wajah Edo yang tiba-tiba tertunduk lesu saat membicarakan tentang kakak perempuan Ane yang akan menikah.
“Oh gitu ya, syukur deh akhirnya mereka menuju jenjang yang lebih serius. Aku ikut seneng dengernya.”
“Kak Edo masih suka sama Kak Anisa?” tanya Ane polos, tak peka saat melihat raut wajah Edo yang semakin menegang.
Pria itu menggeleng sebagai jawaban. “ Udah nggak. Anisa itu mungkin bukan jodohku. Lagian aku udah punya Kiran sekarang.”
Giliran Ane yang menegang, kenyataan pahit lain yang harus diterima Ane dengan lapang. Pria bernama Edo ini sepertinya sampai kapan pun tidak bisa dia miliki. Ane menghela napas panjang sebelum berpura-pura memasang senyum lagi.
“Kak Edo sama Kiran serasi deh. Kiran juga cantik banget.”
“Ngomong-ngomong soal Kiran,” sela Edo, membuat Ane mengatupkan kembali mulutnya yang terbuka. “Minggu depan ulang tahun dia. Kamu dateng ya.”
Ane membulatkan mata, “Tapi aku nggak diundang sama Kiran, Kak?”
“Ini aku yang undang. Nanti kita berangkat bareng aja.”
Ane menggigit bibir bawah, sebenarnya dia enggan untuk datang ke pesta itu. Dia baru beberapa kali bertemu dengan Kiran dan menurut sudut pandang Ane, gadis itu sama sekali tak menyukai dirinya. Aura permusuhan dan tatapan sinis itu selalu dilayangkan Kiran padanya. Bahkan pagi ini gadis itu memarahinya habis-habisan di saat atasannya saja memaklumi.
“Aku harus ngasih kado apa ya, Kak?”
Ane merosotkan kedua bahunya lemas. Dilihat dari penampilan dan cara Kiran berbusana, terlihat jelas gadis itu dari kalangan atas. Ane kebingungan harus memberi kado apa padanya.
“Apa aja boleh. Kiran bukan tipe cewek pemilih kok.”
“Tapi dia kelihatannya kaya, Kak,” sahut Ane.
Edo terkekeh kecil, “Orangtuanya memang orang berada tapi Kiran terbiasa hidup sederhana kok. Dia pasti terima apa pun hadiah dari kamu.”
Ane mengangguk-anggukan kepala tanda mengerti.
“Nanti aku jemput ya, acaranya malam minggu ini jam 7 malam.”
“Gak apa-apa Kak, kita berangkat bareng?”
Edo mengernyitkan dahi, “Gak apa-apa dong, kenapa emangnya?”
“Ya, takutnya Kiran cemburu.”
Dan Edo tertawa lantang detik itu juga, “Nggaklah. Ngapain cemburu, dia tahu kok kamu udah aku anggap adik sendiri.”
Senyuman miris pun meluncur dari mulut Ane. Hilang sudah harapannya bisa berpasangan dengan Edo suatu hari nanti, pria itu memang menganggapnya hanya sebagai adik. Dengan lesu dia pun memilih melanjutkan makannya, tak ingin melanjutkan pembicaraan mereka tentang Kiran.
Ane tak tahu, Edo juga tak tahu bahwa sosok anjing yang tengah duduk di salah satu kursi bersama mereka kini tengah memperhatikan keduanya.
“Gadis bodoh itu sepertinya jatuh cinta pada pria ini. Ck ... ck ... kasihan sekali, cintanya bertepuk sebelah tangan. Lagi pula rasanya mustahil ada yang suka pada gadis bodoh, ceroboh dan berisik seperti dia,” kata Alcander, sebelum dia menguap lebar dan memilih untuk memejamkan mata, tak tertarik lagi memperhatikan interaksi dari dua sosok di depannya.
***
Ane sibuk membereskan meja makan setelah kepergian Edo. Senandung riang tak lagi keluar dari mulutnya sejak perbincangannya dengan Edo. Dia senang bisa makan bersama pria itu, di sisi lain hatinya berdenyut sakit karena harus menerima kenyataan Edo tak akan pernah menjadi miliknya.
Ane mendesah lelah setelah selesai mencuci semua piring kotor, melirik sekilas pada anjingnya yang tengah tertidur nyenyak di kursi. Lantas dia menggendong anjing itu, membuat si anjing membuka matanya karena terkejut.
Ane membawa si anjing berbaring bersamanya di tempat tidur, mendekap anjing itu erat sehingga wajah si anjing malang memerah karena nyaris kehilangan napas. Dia tak tahu saja si anjing yang tidak lain adalah Alcander, tengah menggerutu tak nyaman sekarang.
“Menjauh dariku, gadis bodoh!”
Kira-kira begitulah u*****n yang tak hentinya keluar dari mulut Alcander.
Seolah tak peduli dengan si anjing yang memberontak, berusaha melepaskan diri dari pelukannya, Ane dengan santai mengusap-usap puncak kepala si anjing.
“Dipsy,” panggil Ane.
“Namaku bukan Dipsy,” jawab Alcander, tentu saja tak bisa didengar Ane.
“Hati aku kok sakit ya.” Ane melanjutkan, masih dengan tangannya yang sibuk mengusap puncak kepala Alcander.
“Aku udah suka sama Edo dari dulu, dari aku masih SMA. Hmm, udah berapa tahun ya?”
“Aku tidak peduli dan tidak tertarik mendengar kisah cintamu yang menyedihkan, gadis bodoh,” balas Alcander, masih memberontak.
“Udah hampir tujuh tahun aku pendam sendiri rasa suka aku sama dia.”
Ane menerawang menatap langit-langit kamarnya, masih tak mau melepaskan Alcander dalam dekapannya.
“Aku selalu berharap suatu hari nanti ada keajaiban. Kak Edo tiba-tiba suka sama aku.”
“Itu hal paling mustahil akan terjadi.” Alcander masih asyik menyahuti dalam hatinya.
“Tapi, sekarang aku sadar. Keajaiban itu gak akan pernah terjadi.”
“Baguslah kalau sadar.”
“ Aku harus bisa move on, tapi sama siapa?”
Ane masih menerawang menatap kosong ke atas.
“Aku gak pernah deket sama cowok laen. Aku itu orangnya kikuk kalau di depan cowok apalagi kalau cowoknya cakep.”
“Tanpa kau bilang pun, aku sudah tahu. Dasar gadis aneh. Apalagi kalau kau tahu siapa aku, pasti kau akan mati berdiri saking kagetnya.”
Alcander menyeringai, berpikir bagaimana reaksi gadis tak sopan ini jika tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Di dunianya saja para gadis akan berteriak histeris setiap kali melihat dirinya, apalagi gadis bodoh nan ceroboh bernama Ane ini. Alcander yakin gadis ini akan langsung pingsan detik itu juga. Katakan Alcander terlalu percaya diri, tapi ya memang seperti itulah dia. Terlalu membanggakan diri sendiri. Walau kenyataan dia yang memiliki paras tampan nan keren memang bukan isapan jempol.
“Mungkin nggak sih suatu hari nanti aku ketemu cowok ganteng, terus dia mau pacaran sama aku? menurut kamu gimana, Dip?” tanya Ane, seolah dia benar-benar sedang mengobrol dengan sang anjing peliharaan.
“Ini di depanmu pria tampan, kau saja tidak tahu. Tapi maaf saja, aku tidak mungkin mau menjadi pacarmu. Aku sudah punya tunangan. Dia berkali lipat lebih cantik dan anggun darimu.”
“Waktu SD, aku sering baca buku dongeng. Cerita tentang putri raja yang bertemu dengan pangeran tampan berkuda putih. Coba aja itu bukan sekedar dongeng ya. Coba aku beneran bisa ketemu pangeran kuda putih yang gantengnya ngalahin dewa-dewa Yunani.”
Alcander tertawa congkak dalam hatinya. “Kau beruntung, aku ini seorang pangeran yang ada dalam legenda itu,” ucapnya sombong.
“Haah, kayaknya sih mustahil ada pangeran super ganteng di zaman sekarang.”
“Aku ini pangeran. Cerita dongeng itu bukan mustahil.”
Ane mengubah posisi berbaringnya menjadi duduk, mengangkat si anjing dan memperhatikan benda yang menggantung di antara dua kaki hewan lucu tersebut.
Alcander yang sadar arah yang ditatap Ane seketika memberontak, mengibas-ngibaskan kedua kakinya yang menggantung untuk menutupi fokus Ane.
Ane terkekeh geli, “Kamu ini ya kayak yang ngerti aja aku lagi lihatin apa. Kamu malu ya?” tanya Ane sembari mendekatkan wajahnya ke wajah Alcander. Seketika Alcander memundurkan wajahnya dengan semburat merah yang mulai bermunculan.
“Ternyata bener kamu anjing jantan.” Ane cekikikan merasa bodoh karena memberi nama tanpa melihat jenis kelamin si anjing.
“Untung aja Kak Edo sadar kamu anjing jantan.”
Ane kembali merebahkan diri di ranjang, si anjing dia letakan di atas dadanya. Ane memeluknya erat sambil terus mengusap-usap bulu si anjing.
“Bulu kamu halus banget sih. Kayaknya dulu kamu dipelihara sama orang kaya ya?” tanya Ane. Lalu dia mengangkat tubuh Alcander seolah tak khawatir sedikit pun dirinya akan bernasib malang seperti Edo dimana si anjing galak mencakar wajahnya. Ane tampak tak khawatir sedikit pun anjing itu akan melukainya.
“Apa majikan kamu dulu selalu bawa kamu ke tempat perawatan anjing ya?” Ane tampak sedang berpikir dengan tatapan matanya yang tertuju pada iris biru langit si anjing.
“Biaya perawatan kamu pasti mahal. Berapa ya kira-kira biayanya?” Ane masih saja bergumam seolah dirinya tak sadar raut wajah si anjing kini sedang tertekuk malas dan bosan.
“Mungkin kamu juga harus sering dibawa ke klinik hewan buat ngecek kesehatan kamu ya? Haduh, kalau dipikir-pikir biaya perawatan kamu lebih mahal kayaknya dibanding biaya hidup aku.” Ane mengembuskan napas pelan, sebelum matanya kembali bertatapan dengan mata si anjing.
“Bola mata kamu indah banget, Dip. Aku baru tahu ada anjing yang bola matanya berwarna biru.” Ane tersenyum sambil mendekatkan Alcander pada wajahnya. Ane bahkan tak segan-segan menempelkan pipi mulusnya dengan wajah si anjing.
“Menjauh dariku. Aku benar-benar akan memberikan hukuman berat padamu jika sudah kembali ke tubuh asalku,” gerutu Alcander sembari memberontak, meminta dilepaskan. Akan tetapi, Ane tak membiarkan hal itu. Dia semakin mendekap erat tubuh si anjing yang begitu mungil dan menggemaskan itu.
Ane mengendusi tubuh si anjing, lagi-lagi membuat Alcander memberontak gelisah. Dia tak bisa banyak bergerak karena luka di kakinya masih terasa begitu sakit dan perih.
“Kamu bau. Pasti karena belum mandi. Ayo, kita mandi bareng!”
Ane berucap dengan girang tanpa tahu wajah Alcander memerah bagaikan udang rebus sekarang. Alcander meronta hebat, mengabaikan rasa sakit pada lukanya ketika Ane membawanya berjalan menuju kamar mandi. Tentu saja usahanya gagal karena tenaga Ane lebih besar dan jelas gadis itu tak membiarkan si anjing lepas.
Setibanya di kamar mandi, Ane menutup pintu. Menurunkan Alcander dengan perlahan dan mulai melepas satu demi satu pakaiannya.
Alcander panik tiada tara, dia berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Hendak keluar namun tak bisa karena pintunya tertutup rapat.
“Keluarkan aku dari sini!!” teriak Alcander, yang didengar Ane hanyalah gonggongan anjing biasa.
Alcander menegang ketika Ane kembali menggendong tubuh kecilnya. Ketika bersentuhan dengan kulit Ane yang telanjang, Alcander mematung seketika.
Bagi Alcander ini merupakan pengalaman pertamanya berduaan dengan seorang gadis dalam keadaan polos tak tertutupi sehelai benang pun. Meski dia memiliki tunangan yang begitu dia cinta, mereka tak pernah melakukan hal di luar batas. Hello ... mereka hidup di zaman kuno, tentu masih menjunjung tinggi tradisi dan budaya serta menjaga nama baik dan kehormatan masing-masing. Tidak seperti di zaman sekarang yang tak jarang pasangan kekasih sudah melakukan hal seperti layaknya suami-istri. Ya, meski tak semua pasangan seperti itu.
“Tenang dong. Jangan takut, airnya gak akan kena luka kamu kok. Aku tahu pasti luka kamu perih banget kalau kena air,” ucap Ane, berpikir si anjing menggeliat gelisah karena takut lukanya terkena air. Sepolos itulah seorang Aneila Anggun Ramania.
Alcander membuang muka ke arah lain ketika Ane mulai menggosok tubuhnya perlahan. Memberikan sabun dan menyiramkan air dengan hati-hati agar tak mengenai lukanya. Selama proses itu, Alcander hanya diam, tak memberontak lagi. Wajahnya memerah sempurna karena disuguhi pemandangan indah yang baru dia lihat pertama kali seumur hidupnya. Beberapa kali meneguk saliva ketika tanpa sengaja tatapannya tertuju pada tubuh polos Ane.
“Sial. Selain bodoh, gadis ini juga tidak waras. Bisa-bisanya dia mandi dengan seorang pria.”
Hahahaha ... bukankah Alcander tak kalah bodohnya dengan Ane? Dia lupa bahwa di mata Ane, dia hanyalah seekor anjing kecil nan lucu.
Ane bersenandung riang selama memandikan Alcander.
“Sudah selesai!” teriak Ane girang, karena kini dia sudah selesai membersihkan tubuh si anjing. Ane mengendusi tubuh anjing yang bulunya kini basah kuyup, gadis itu tersenyum hingga kedua matanya menyipit karena kini tubuh si anjing sangat harum, sabun beraroma bunga melati itu kini menguar dari tubuh mungil sang anjing.
“Kita berendam dulu yuk sebentar,” ajak Ane. Dengan hati-hati dia menurunkan Alcander, lalu menyiapkan air hangat di dalam bathtub untuk dirinya berendam. Tak lupa Ane menambahkan sabun agar air hangat itu penuh dengan busa.
Ane siap menenggelamkan diri ke dalam bathtub, namun urung saat mengingat si anjing. Ane pun menoleh ke arah seharusnya anjing itu berada. Dia berdecak mendapati si anjing kini sedang berdiri di dekat pintu seolah ingin bergegas keluar dari kamar mandi. Mengabaikan ketelanjangannya, Ane melangkah menghampiri si anjing.
“Kena kau,” katanya, begitu berhasil menangkap Alcander.
“Lepaskan. Lepaskan aku. Biarkan aku keluar dari sini!” teriak Alcander, yang Ane dengar hanya gonggongan biasa.
“Ssssttt ... jangan berisik ya. Kita kan cuma berendam, nggak akan lama kok. Kamu pasti suka deh.”
Ane mengabaikan si anjing yang terus meronta-ronta dalam pelukannya. Dia pun berjalan mendekati bathtub dan benar-benar menenggelamkan dirinya di dalam air yang sudah dipenuhi busa.
Ane meletakan si anjing dengan perlahan ke dalam air dan akibatnya anjing itu tenggelam. Ane kaget bukan main, bergegas dia mengeluarkan anjing itu dari air dan meletakannya di atas kedua lututnya.
“Ya ampun, kamu nggak bisa berenang ya, Dip? Bukannya anjing itu harusnya bisa berenang ya?” tanya Ane, sambil tertawa jika mengingat bagaimana barusan anjing itu tenggelam begitu saja layaknya batu.
Alcander mendengus dalam hati, “Kakiku sakit begini, mana bisa berenang?” gerutunya.
Ane membiarkan kakinya tertekuk agar bisa meletakan si anjing di atas kedua lututnya. Ane pandangi wajah Dipsy kesayangannya seolah lupa cara berkedip dan hal itu membuat Alcander salah tingkah. Berulang kali Alcander membuang muka ke arah lain. Namun, saat dia menatap ke depan, dia mendapati Ane masih menatapnya lekat.
“Hahaha, dari tadi kamu gelisah amat sih, Dip. Kepala kamu gak bisa diem,” kata Ane, lalu kembali tertawa.
“Sumpah deh, aku sering lihat anjing-anjing lucu tapi baru sekarang nemu anjing aneh kayak kamu. Kamu tuh kayak ngerti bahasa manusia aja. Tingkah laku kamu kayak manusia yang suka malu kalau dilihatin orang.”
“Karena aku memang manusia, aku ini bukan anjing. Terlebih aku ini bukan manusia biasa, aku seorang putra mahkota,” sahut Alcander. “Lihat saja nanti, kau pasti akan terkejut hingga pingsan di tempat jika tahu aku ini seorang pangeran,” tambahnya, sambil menyeringai.
Ane tiba-tiba menguap lebar, hangatnya air dan kenyamanan yang dirasakan tubuhnya saat berendam, membuat Ane mengantuk.
“Aku tidur dulu bentar ya, Dip. Kamu jangan kemana-mana, nanti kalau tenggelam lagi kayak tadi, nggak ada yang nolongin kamu.”
Alcander memutar bola matanya, bosan. Kembali dia membuang muka, ke arah mana saja asal tidak menatap tubuh Ane yang polos dan hanya tertutupi busa sabun.
Ketika dengan perlahan Alcander memutar lehernya ke depan, yang dia dapati adalah Ane yang sudah memejamkan mata. Gadis itu benar-benar tertidur jika dilihat dari deru napasnya yang tenang. Suara dengkuran halus juga meluncur dari bibirnya yang sedikit terbuka.
“Gadis ini sebenarnya lumayan cantik,” gumam Alcander, tatapan matanya kini tertuju pada wajah tidur Ane.
Alcander masih setia menatap wajah Ane tanpa berkedip. Semula dia menatap kedua mata Ane yang terpejam, lalu perlahan turun ke hidung dan kini terhenti di bibirnya yang sedikit terbuka. Tiba-tiba Alcander meneguk ludah saat tatapannya yang intens tertuju pada bibir Ane yang ranum.
“Sial, aku ini kenapa?”Alcander cepat-cepat menggelengkan kepala. “Dia ini hanya gadis biasa yang bodoh dan ceroboh. Aniq jelas jauh lebih baik darinya,” katanya, sedang membandingkan Ane dan sang tunangan yang berada nun jauh di sana.
Gemas karena melihat wajah tidur Ane membuatnya berpikiran yang tidak-tidak, Alcander pun berteriak kencang, “Banguuuuuuun!!”
Ane terperanjat kaget mendengar suara gonggongan anjing yang terlampau kencang, hingga refleks dia melemparkan tubuh Alcander yang masih berdiri di atas dua lututnya. Tubuh Alcander melayang dan mendarat di lantai yang licin dalam posisi terjengkang dengan tidak elitnya.
“Ya ampun, Dipsy. Maafin aku.” Ane buru-buru keluar dari bathtub, dia merangkul si anjing sembari mengusap-usap tubuh mungilnya yang masih basah kuyup.
“Kamu sih pake ngegonggong segala, aku kan jadi kaget,” gerutunya. Ane menggulirkan mata ke arah pintu. Dia pun mengambil handuk yang tergantung di belakang pintu. Membungkus tubuh basah Alcander dengan handuk itu.
“Kamu tunggu di sini ya, sekarang giliran aku yang mandi.”
Ane meletakan Alcander di bawah lantai, tepat menghadap dirinya yang berdiri di bawah shower.
Alcander membuka mulutnya, menegang sempurna melihat tubuh Ane yang polos sepenuhnya tengah berdiri di depan matanya. Hingga tanpa sadar sesuatu yang kental dan anyir mengalir dari hidung Alcander.
OK, pria malang yang kena kutukan itu mimisan. Dan Ane berteriak heboh ketika melihat darah tak hentinya mengalir dari hidung Dipsy kesayangannya.
“Aku pasti dibunuh gadis ini jika dia tahu siapa aku yang sebenarnya,” gumam Alcander, membiarkan Ane melakukan apa pun padanya. Dia tak melawan ketika Ane membawanya keluar kamar mandi dengan terburu-buru untuk menghentikan pendarahan di hidungnya.
“Anjing kok bisa mimisan sih, aku baru tahu.”
Dan Alcander hanya bisa tertawa miris mendengar gerutuan Ane yang terheran-heran.