My Dog, 07

3297 Words
“Dipsyyyyy!!!”  Suara Ane yang melengking, meneriakkan nama sang anjing tak hentinya mengudara, membuat dirinya menjadi pusat perhatian orang-orang yang berlalu-lalang di sepanjang trotoar. Kedua kakinya berlari tanpa henti guna mengejar anjingnya yang melarikan diri darinya.  Alcander tentu mendengar suara Ane, namun dia abaikan sepenuhnya. Dia terus berlari dengan keempat kaki kecilnya, tak ada niatan untuk berhenti. Dia akan terus berlari sampai Ane lelah mengejarnya. Lagi pula, jika dia berhenti percuma saja dia susah payah melarikan diri.  “Tolong! Siapa pun tolong tangkap anjing itu!!” Teriak Ane, meminta bantuan pada beberapa orang yang berpapasan dengan Alcander.  “Cih, sialan. Dia meminta bantuan pada orang lain,” gerutu Alcander, tak terima karena menurutnya Ane bersikap curang dengan meminta bantuan orang lain untuk menangkapnya.  “Anjing ini maksudmu?!!”  Seorang pria berteriak yang kebetulan mendengar suara Ane dan melihat gadis itu berlari mengejar seekor anjing putih yang lucu.  “Iya, iya. Tolong bantu aku menangkapnya!!” Ane balas berteriak.  Pria yang sepertinya seorang mahasiswa itu berjongkok seraya merentangkan kedua tangannya ke samping, bersiap menyambut Alcander yang tengah berlari ke arahnya. Beberapa orang yang penasaran, ikut menghentikan langkah. Melihat sumber keributan, mereka penasaran sanggupkah pria itu menangkap si anjing yang berlari teramat kencang?  Alcander mendengus saat jaraknya dengan si pria sudah cukup dekat.  “Dia ingin menangkapku rupanya.”  “Tapi aku tidak akan kalah.”  Si Pria sudah mengambil ancang-ancang untuk menangkap Alcander yang nyaris mencapai dirinya, namun hal tak terduga terjadi ketika Alcander melompat tinggi dan mendarat di wajah si pria. Membuat pria baik hati namun bernasib malang itu terjungkal ke belakang dengan belakang kepalanya yang membentur kerasnya ubin trotoar.  “Rasakan itu. Makanya jangan ikut campur urusanku,” ucap Alcander bangga karena berhasil menumbangkan lawannya hanya dengan sekali lompatan, dia pun kembali melanjutkan larinya.  Di sisi lain suara tawa terbahak-bahak membahana, dari sekumpulan orang yang merasa terhibur melihat pemandangan menggelikan di depannya. Dimana seorang pria dikalahkan oleh seekor anjing.  “Hebat banget anjing itu ngincer wajahnya.” “Duh, pasti sakit tuh muka.” “Kepalanya lebih sakit pasti soalnya ngebentur trotoar kenceng banget.”  Bisik-bisik itu terdengar di telinga si pria yang tengah berusaha bangun sembari mengusap belakang kepalanya yang berdenyut.  Ane berhenti di dekat si pria, ikut prihatin melihat nasib naas yang menimpanya, padahal pria itu bermaksud baik dengan membantunya menangkap Dipsy kesayangannya.  Ane bergegas membantu pria itu berdiri. “Maaf, apa kamu baik-baik aja?” Tanyanya khawatir.  Si pria masih meringis dengan tangan kanan yang masih sibuk mengusap belakang kepalanya. Hingga akhirnya dia mengangguk sebagai respon.  “Nggak apa-apa kok. Sorry ya gak bisa bantu nangkep anjingnya.”  Ane ikut meringis melihat wajah pria itu yang kentara kesakitan. Rasa bersalah terasa kuat di hati Ane untuknya namun tak ada yang bisa dia lakukan untuk membalas kebaikannya karena bagi Ane sekarang mengejar Dipsy menjadi prioritasnya.  “Sorry ya dan makasih udah mau bantu. Sekali lagi sorry.”  Ane pun kembali berlari untuk mengejar anjingnya yang entah sudah lari kemana karena sosoknya sudah tak terlihat.  Ane kelimpungan, mulutnya tiada henti meneriakkan kata ‘Dipsy’, wajahnya terlihat pucat karena lelah berlari sekaligus sedih tak bisa menemukan anjingnya. Namun dia tak menyerah, dia terus berlari dengan harapan bisa melihat sosok sang anjing.  “Maaf, permisi.”  Ane menyapa sepasang sejoli yang sedang berjalan sambil bergandengan tangan. Membuat mereka menghentikan langkah dan menatap Ane terheran-heran.  “Apa kalian melihat anjing putih bertubuh kecil? Dia kabur, aku yakin tadi dia lari lewat sini.”  Pasangan sejoli itu saling berpandangan sejenak.  “Kamu lihat gak, sayang?” Tanya si wanita pada kekasihnya. Pria itu tak menjawab, hanya mengedikkan bahunya.  “Anjing itu lucu banget. Warnanya putih bersih, mukanya imut. Dia lari kenceng banget. Tadi dia lari ke arah sini.” Ane kembali menjelaskan ciri-ciri anjingnya yang kabur. “Kami nggak merhatiin, Kak,” sahut si wanita lagi. “Maaf, coba kalian inget-inget lagi. Aku yakin banget tadi dia lari ke sini kok. Harusnya dia papasan sama kalian.”  Kedua pasangan sejoli itu mengernyitkan dahi, sedikit kesal karena orang yang bertanya di hadapan mereka itu tampak tak mempercayai jawaban mereka.  “Emangnya anjing kakak kabur atau gimana?” Kini si pria yang menanggapi.  Ane mengangguk lesu, “Iya, dia kabur tadi.” “Oh, mungkin dia gak betah kali tinggal sama kakak. Jangan-jangan kakak pelit ngasih makanan.” “Husshh, jaga bicaramu. Jangan begitu.” Si wanita menyenggol lengan kekasihnya yang bicara kasar pada Ane. Kini Ane tertegun memikirkan ucapan pria itu.  “Maaf, Kak. Jangan diambil hati. Dia mulutnya emang begitu. Maaf ya.”  Ane tersenyum sambil mengangguk maklum pada si wanita yang kini meminta maaf sambil memasang wajah penuh sesal. Sedangkan pria di sampingnya terlihat tak merasa bersalah sedikit pun sudah bicara tak sopan pada orang asing seperti Ane.  “Jadi kalian nggak lihat dia ya?”  “Iya, Kak. Kami nggak lihat.”  Yang menjawab adalah si pria, yang setelah itu kembali menggandeng tangan pacarnya tanpa menunggu respon Ane. Lalu melanjutkan langkah mereka yang sempat tertunda karena Ane.  Ane mengembuskan napas frustasi, dia mengedarkan pandangannya namun tetap tak melihat sosok si anjing. Kata-kata pria tadi kembali terngiang di ingatannya. Dia pun jadi berpikir, mungkinkah alasan Dipsy kabur karena tidak betah tinggal bersamanya? Padahal Ane merasa selalu memperlakukan anjing itu dengan baik. Dia merawatnya dengan sepenuh hati, Ane juga tak pelit memberinya makan. Bahkan Ane hampir setiap hari membelikan makanan anjing untuknya, mengabaikan dirinya sendiri yang jarang belanja keperluan hidupnya. Ane lebih mementingkan kebutuhan si anjing daripada kebutuhan dirinya sendiri. Demi merawat si anjing, Ane rela berhemat dan hidup sesederhana mungkin.  Jadi kenapa? Kenapa anjing itu kabur darinya? Ane rasanya ingin menangis sekarang. Ane terenyak saat suara petir tiba-tiba menggelegar. Dia pun mendongak, menatap langit. Langit semakin mendung bahkan bulan dan bintang enggan untuk menampakan diri. Hanya cahaya dari kilatan petir yang mulai muncul di langit malam yang gelap itu.  Ane sadar bukan saatnya untuk melamun, dia harus cepat menemukan Dipsy sebelum hujan turun. Dia pun menggulirkan mata, menatap sekeliling. Berharap ada seseorang yang bisa dia tanyai lagi. Ada gerobak gorengan di pinggir jalan, Ane tersenyum lebar saat melihatnya. Dia pun berjalan mendekati penjual gorengan itu.  “Bang,” panggilnya pada si penjual gorengan yang terlihat masih muda. “Iya, Mbak. Mau beli berapa?”  Ane mengibas-ngibaskan tangan karena sepertinya si abang tukang gorengan gagal paham, menyangka Ane akan membeli gorengannya padahal bukan begitu tujuan Ane menghampiri gerobaknya.  “Aku mau tanya, abang lihat anjing kecil warna putih lari ke sini gak?”  Wajah si abang yang tadinya berbinar senang karena berpikir mendapat pelanggan baru, raut mukanya berubah menjadi masam detik itu juga. Dia yang sempat mendongak pun kembali memfokuskan atensinya pada wajan berisi cireng yang sedang dia goreng.  “Gak lihat saya, Mbak,” jawabnya.  Ane berdecak sembari menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal. “Ya udah, makasih ya, Bang.”  Si abang mengangguk, lebih memilih membolak-balik cirengnya daripada melihat kondisi Ane yang terlihat linglung.  Ane pun melanjutkan langkah. “Dipsy, kamu lari kemana sih?” Gumamnya sedih.  Ane berjalan terlunta-lunta tanpa semangat. Penampilannya kacau karena terlalu banyak berlari. Wajah yang banjir keringat, rambut acak-acakan dan kedua mata yang berkaca-kaca nyaris menangis, persis seperti anak hilang yang kelimpungan mencari orangtuanya.  Ane terus berjalan, tak ingin menyerah semudah itu. Kedua matanya awas menelisik sekitar. Saat dirasa dia sudah berjalan terlalu jauh serta kedua kakinya lemas tiada tara. Dia pun mendudukan dirinya di sebuah kursi panjang yang diletakan di pinggir jalan. Duduk bersandar tepat di samping bapak berkacamata yang sedang duduk melamun.  Ane menghirup oksigen sebanyak-banyaknya untuk mengisi pasokan udara dalam paru-paru yang terasa menipis. Dia lelah bukan main.  “Dipsy, kamu kemana sih?” Gumamnya sendu dengan suara lirih. Namun suara pelannya itu terdengar oleh bapak yang duduk di sampingnya.  “Kenapa?” Tanya si bapak, kepo. “Barusan bilang apa?”  Ane menoleh. “Eh, nggak, Pak,” sahut Ane sembari terkekeh.  Bapak itu tak berkomentar apa pun, kembali menatap ke depan seolah kembali melanjutkan kegiatannya yang sedang melamun.  Ane mencuri-curi pandang pada bapak itu, terbesit keinginan untuk bertanya namun ada keraguan juga yang muncul di benaknya.  Ane menggigit bibir bawah saat batin dan pikirannya berperang. Namun, pada akhirnya dia putuskan untuk bertanya pada si bapak tukang melamun yang wajahnya terlihat sendu seolah tengah meratapi kerasnya hidup.  “Maaf, Pak.”  Si bapak menoleh pada Ane dengan gerakan perlahan.  “Bapak lihat anjing kecil warna putih lari ke sekitar sini nggak?”  Kernyitan di kening keriput si bapak tercetak jelas seolah dia sedang mengingat-ingat. Lama bapak itu terdiam hingga akhirnya anggukan diberikannya. Wajah Ane pun berbinar senang.  “Bapak lihat?” Tanya Ane sekali lagi.  Si bapak kembali mengangguk. “Dia lari ke sana,” sahutnya sembari menunjuk ke arah gang sempit yang hanya bisa dilalui satu orang. Gang itu tak terlalu jauh dari kursi yang Ane duduki.  “Masuk ke gang itu, Pak?” “Iya. Tadi aku lihat dia lari ke sana.”  Ane seketika berdiri dari duduknya. “Terima kasih, Pak. Terima kasih.”  Ane siap berlari menuju gang, namun urung karena suara si bapak kembali mengalun. “Itu anjingmu?” Tanya sang bapak.  Ane mengangguk, “Iya, Pak. Itu anjing saya. Dia kabur tadi.” “Kenapa bisa kabur?”  Ane tersentak, lagi-lagi ada orang yang bertanya demikian setelah pria tadi. Ane pun tertegun, tak tahu harus menjawab apa.  “Mungkin dia nggak betah tinggal sama saya, Pak,” jawabnya lirih dengan kepala tertunduk. “Oh begitu. Terus kenapa kau terus mencarinya?”  Ane masih menunduk, menatap kakinya yang terbalut sandal jepit. “Saya sayang sama anjing itu, Pak. Walau belum lama saya pungut, nggak tahu kenapa, saya sayang banget sama dia. Saya seneng karena ada dia tinggal bersama saya.” Ane mendongak, menatap si bapak yang juga sedang menatapnya, “Mungkin anjing itu nggak suka ya tinggal sama saya, dia pasti pengin hidup bebas.”  “Lalu sekarang apa yang akan kau lakukan?”  Ane mengernyit bingung, bapak itu begitu banyak bertanya.  “Dia hanya seekor anjing. Dia juga hanya anjing yang kau pungut. Dia kabur dan kau yakin dia tidak suka tinggal bersamamu. Kau mau menyerah mencari dia?”  Ane menggelengkan kepala, “Nggak, Pak. Saya tetep mau nyari dia.” “Kalau tidak ketemu?” “Hm, saya nggak akan berhenti nyari sampai ketemu.” “Kalau sudah ketemu, nanti dia kabur lagi, kau mau bagaimana?”  Ane tertegun untuk yang kesekian kalinya. Dia pandangi bapak itu penuh curiga. Aneh saja karena orang asing itu terus bertanya tentang Dipsy padahal orang lain saja tak ada yang antusias menanggapi masalahnya ini. Buktinya sepasang kekasih dan tukang gorengan tadi, acuh tak acuh menjawab pertanyaan Ane. Ane sungguh terheran-heran karena bapak di depannya itu begitu peduli.  “Hm, mungkin saya akan menyerah memeliharanya jika dia kabur lagi,” jawab Ane.  Bapak itu tiba-tiba mendengus dan tersenyum tipis, membuat Ane semakin heran. Bapak itu pun membuka kacamata hitam yang sejak tadi membungkus matanya. Ane perhatikan bapak itu, dia hanya pria tua yang lebih pantas dipanggil kakek. Kendati demikian, tubuhnya tampak segar bugar dan enerjik. Saat tatapan Ane bertemu dengannya, Ane merasa tak punya nyali menatapnya lama-lama. Pria itu memiliki kharisma dan wibawa yang tinggi membuat Ane merasa terintimidasi.  “Boleh aku menceritakan sebuah kisah padamu?” Tanya si bapak.  Ane mengangguk, “Silakan, Pak,” sahutnya.  “Ada seorang penyihir di sebuah negeri dongeng. Dia memiliki seorang sahabat yang memiliki kedudukan tinggi.”  Ane yang menunduk itu seketika mendongak, menatap kembali wajah si bapak yang sedang bercerita dengan raut santai.  “Sahabat penyihir itu seorang raja.”  Tanpa sadar, Ane membuka mulutnya. Dirinya mulai antusias mendengarkan cerita sang bapak.  “Sang raja mulai sakit-sakitan. Dia yakin nyawanya sudah tidak lama lagi. Dia mengkhawatirkan masa depan kerajaan dan rakyatnya sehingga dia pun mengutarakan permohonan terakhirnya pada sahabatnya yang penyihir itu.”  Ane yang sedang berdiri itu, kembali mendudukan dirinya di samping si bapak. “Permohonan terakhirnya apa?” Tanyanya.  “Sang raja meminta sahabatnya yang penyihir itu untuk menggantikan posisinya sebagai raja. Hanya sementara sampai putra mahkota layak untuk naik tahta.”  Ane melongo, dongeng ini ... dia baru mendengarnya pertama kali. “Lalu bagaimana dengan putra mahkota? Dia tidak keberatan tahta jatuh ke tangan sahabat ayahnya?”  “Tentu dia keberatan. Dia selalu bertengkar dengan raja baru. Hingga puncaknya, dia berniat membunuh raja baru itu.”  Refleks Ane membekap mulutnya, terkejut. “Benarkah? Apakah sang raja akhirnya terbunuh?”  Bapak itu menggeleng, “Kau lupa raja itu seorang penyihir?” “Oh iya, saya lupa,” kata Ane sembari terkekeh. “Lalu apa yang terjadi pada putra mahkota?”  “Coba tebak?” Balas si bapak.  Ane memasang gestur sedang berpikir, “Hm, mungkin dihukum berat karena berniat membunuh raja.”  “Hukuman berat seperti apa menurutmu yang cocok untuk putra mahkota?”  Ane kembali berpikir, “Mungkin diturunkan dari tahta. Atau jangan-jangan dia dipenggal?!” Ane memekik heboh saat berpikir putra mahkota dalam dongeng itu mungkin dihukum berat dengan dipenggal kepalanya.  Bapak itu terkekeh melihat respon Ane yang histeris, lalu menggeleng kecil setelahnya. “Alasan mendiang raja menyerahkan tahta kepada sahabatnya yang penyihir itu karena dia ingin putra mahkota dididik oleh sahabatnya hingga pantas menduduki tahta. Jadi mustahil penyihir itu memberikan hukuman berat yang membuat putra mahkota terbunuh.”  “Oh, syukurlah. Saya kira putra mahkota dihukum penggal.” Ane mengembuskan napas lega. “Wajar putra mahkota membenci raja baru karena dia tidak tahu kebenarannya. Dia tidak tahu alasan mendiang raja menunda menyerahkan tahta padanya. Tapi jika putra mahkota itu diberi kesempatan untuk berubah, saya yakin dia akan bisa berubah. Yang penting dia diberi tahu yang sebenarnya.”  Bapak itu tersenyum tipis mendengar jawaban Ane. “Kau benar. Itulah yang coba dilakukan si penyihir itu. Mencoba memberikan kesempatan pada putra mahkota agar berubah. Itulah sebabnya dia mengirim putra mahkota ke tempat jauh agar dia melihat hidup ini tak semudah yang dia duga. Banyak orang yang berusaha keras untuk bertahan hidup. Banyak orang juga yang masih memiliki hati yang baik dan tulus.” Ane mengernyitkan dahi, tak paham dengan ucapan si bapak.  “Maaf, aku menceritakan kisah ini.” “Tidak apa-apa, Pak,” jawab Ane sambil tersenyum ramah. “Kalau kau jadi si penyihir, apa kau akan melakukan tindakan yang sama dengannya? Memberi kesempatan kedua pada putra mahkota agar berubah?” “Tentu saja,” jawab Ane. “Karena seorang pendosa pun memiliki kesempatan untuk bertaubat. Asalkan dia dinasihati dan diajari dengan benar. Kita harus menyadarkan bahwa jalan yang dia tempuh itu salah. Dengan kata lain, harus membantunya agar kembali ke jalan yang benar.”  Bapak itu tiba-tiba menyentuh lengan Ane, membuat Ane terkesiap kaget. “Tidak salah aku memilihmu.”  Ane mengerjap-ngerjapkan mata, semakin tak paham. “Maksudnya, Pak?” Tanya Ane, meminta penjelasan.  Alih-alih menjawab, bapak itu hanya tersenyum lebar. “Lupakan. Lebih baik kau cepat kejar anjing itu sebelum larinya semakin jauh.”  Ane terenyak, baru teringat kembali pada si anjing yang melarikan diri, dia pun cepat-cepat bangkit berdiri.  “Jika sudah menemukan anjing itu, pastikan kau mengajarkan banyak hal padanya.”  Untuk kesekian kalinya Ane kebingungan, tapi dia tak ingin memperpanjang pembahasan ini sehingga dia hanya mengangguk.  “Baik, Pak. Terima kasih untuk ceritanya. Permisi.”  Lantas Ane pun kembali berlari dengan wajah mendungnya kini berubah bersinar layaknya rembulan di langit sana. Dia tak lagi menoleh ke belakang hingga tak menyadari si bapak yang tiba-tiba menghilang dari kursi.  ***  Alcander yang berpikir Ane sudah menyerah mengejarnya, kini menghentikan laju larinya. Dia berjalan santai di sepanjang gang.  “Haah ... akhirnya aku bisa menghirup udara bebas tanpa harus mendengar suara berisik gadis ceroboh itu,” katanya, lega luar biasa. Merasa dirinya baru saja melarikan diri dari sebuah penjara yang selama ini mengurungnya dari dunia luar. Alcander senang kembali mendapatkan kebebasan.  “Sekarang aku harus menemukan cara untuk kembali ke duniaku. Tapi dimana aku harus mulai mencarinya? Sebenarnya aku ada di dunia apa sekarang?”  Alcander menerawang menatap langit, ada kesedihan di wajahnya. Dia rindu dunianya. Dia rindu istana dan kehidupan mewahnya. Yang paling utama dia rindu pada Aniq, tunangannya.  “Ck ... ini gara-gara raja tua bangka itu,” umpatnya pada sang raja yang telah mengutuknya menjadi anjing.  Alcander menatap kaki anjingnya yang kecil dan kotor karena berlari di jalanan dan tanah tanpa alas yang melindungi.  Alcander mendengus, dia benci kotor. Dan sekarang dia merasa dirinya begitu kotor, menyedihkan dan menjijikan.  “Dari sekian banyak hewan, kenapa dia harus mengutukku menjadi seekor anjing lemah? Dikutuk menjadi seekor kuda sepertinya terdengar lebih bagus.”  Alcander menggelengkan kepala cepat. “Bodoh. Dikutuk menjadi hewan apa pun sama sekali bukan ide yang bagus. Seharusnya raja tidak pernah mengutukku.”  Alcander menggeram saat ingatannya tentang kejadian malam itu dimana dia gagal membunuh sang raja dan justru berujung dirinya dikutuk menjadi anjing, terlebih terlempar ke dunia yang tidak dia kenali ini, membuatnya murka tiada tara.  “Lihat saja, jika aku berhasil mematahkan kutukan ini dan kembali ke duniaku, pasti aku bunuh raja tidak berguna itu. Lain kali aku pasti berhasil.”  Alcander sudah menentukan tujuan hidupnya, tidak lain membunuh sang raja yang telah memberikan penderitaan ini padanya. Dan di tengah-tengah lamunannya itu, Alcander tersentak saat tetesan air dari langit mengenai tubuhnya. Dia mendongak menatap langit.  “Sial. Kenapa harus turun hujan di saat begini?”  Dia pun berlari untuk mencari tempat berteduh.  Alcander terus berlari hingga dia sampai di jalan buntu, tidak ada lagi jalan karena gang itu tertutupi dinding beton yang cukup tinggi.  Alcander berpikir untuk pergi dan mencari jalan lain, namun ... beberapa ekor kucing liar tiba-tiba bermunculan satu demi satu. Alcander tertegun, baru tersadar dia baru saja mendatangi sarang kucing-kucing liar.  Kucing-kucing itu bertubuh hampir sama dengan Alcander, namun terlihat kotor sekaligus buas. Jumlah mereka pun cukup banyak, Alcander tak bisa menghitungnya dengan tepat.  Alcander refleks mundur ketika beberapa kucing berjalan menghampirinya dengan suara geraman mereka yang sukses membuat Alcander meneguk salivanya panik.  “Aku tidak bermaksud memasuki wilayah kekuasaan kalian. Aku minta maaf jika kedatanganku mengganggu,” ucap Alcander.  “Bodoh. Tentu saja mereka tidak mengerti bahasaku.”  Alcander baru menyadari kebodohannya begitu melihat kucing-kucing itu semakin merangsek maju ke arahnya. Wajah mereka terlihat marah disertai suara geraman yang terus mengudara dari kucing yang terus bertambah jumlahnya dari waktu ke waktu.  Alcander kembali meneguk salivanya, panik karena dirinya dikepung banyak kucing.  “Ayolah Alca, mereka hanya kucing liar. Alcander Cirrilo Soungga takut pada kucing, yang benar saja,” kata Alcander, saat menyadari jati dirinya yang sesungguhnya.  “Aku pangeran mahkota, pewaris sah kerajaan Soungga. Aku pangeran yang selalu menang dalam setiap peperangan melawan kerajaan lain. Dan sekarang aku takut karena dikepung kucing? Hahaha ... aku pasti sudah gila.”  Alcander berhenti melangkah mundur, dia memberanikan diri untuk maju dan menerobos kerumunan kucing yang sedang mengelilinginya.  Dan itulah kesalahannya. Karena kucing-kucing yang terusik karena wilayah kekuasan mereka didatangi Alcander, semakin murka dibuatnya. Mereka menyerang Alcander dengan serempak membuat Alcander yang terkurung dalam tubuh anjing kecil itu tak sanggup melakukan perlawanan apa pun. Kucing-kucing itu menindihnya, mencakarnya dan menggigit tubuhnya.  Alcander berteriak kesakitan, tubuhnya babak belur dimana-mana.  “Hussshhh ... Hussshhh ... Husshhhh!!”  Hingga suara seseorang yang tengah mengusir kerumunan kucing itu bagaikan Oase di tengah padang pasir, di telinga Alcander.  “Pergi kalian kucing nakal!!”  “Husssshhh ... Hussshhh ... Hussshhh!!”  Kucing-kucing itu berlarian karena orang itu juga melempari mereka dengan batu.  Di tengah-tengah menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya, Alcander mendongak untuk menatap seseorang yang tiba-tiba mendekapnya dalam pelukan.  “Syukurlah ... syukurlah ... aku berhasil ketemu kamu lagi, Dipsy.”  Alcander tertegun, melihat wajah Ane yang basah kuyup bukan hanya basah terkena guyuran air hujan yang turun dengan derasnya, juga dibanjiri oleh air mata yang mengalir tak kalah derasnya dengan hujan.  Tubuh Ane basah kuyup menjadi pertanda bahwa dia terus berlari menerobos hujan deras hanya demi mencari Alcander.  “Kamu luka parah. Kita harus cepat ngobatin kamu,” kata Ane seraya melepas jaket kulit yang dia kenakan. Tak peduli meski dirinya hanya mengenakan kaos tipis tanpa lengan di tengah-tengah guyuran hujan deras. Dia gunakan  jaket kulit itu untuk membungkus tubuh Alcander yang penuh luka. Lantas memeluknya erat dan kembali berlari sekencang yang dia bisa untuk kembali ke apartemennya.  Alcander tertegun, terharu dengan pengorbanan yang dilakukan Ane untuk menemukannya. Bahkan gadis itu rela kedinginan demi melindunginya dari air hujan. Setibanya di apartemen, hal pertama yang dilakukan Ane adalah membuka kotak P3K tanpa mempedulikan air yang terus menetes menggenangi lantai dari tubuhnya yang basah kuyup. Ane mengeringkan tubuh basah Alcander dengan handuk kering dan dengan telaten mengobati luka-luka cakaran kucing di tubuh mungil Alcander.  Alcander hanya diam, dia pandangi wajah Ane yang begitu serius dan hati-hati saat mengoleskan obat pada luka-lukanya.  “Selesai. Lukanya sudah diobati semua, kamu pasti cepet sembuh,” kata Ane disertai senyum lebar.  Ane memandangi wajah lucu Dipsy kesayangannya yang dia letakan di atas kasur empuknya, sebelum tiba-tiba dia duduk bersila di atas lantai yang basah dan menangis sejadi-jadinya bak bocah ingusan yang kehilangan mainannya.  Alcander mengernyitkan dahi melihat perubahan ekspresi Ane yang begitu drastis, semakin yakin bahwa Ane gadis labil dan super cengeng. Alcander memutar bola matanya, bosan.  “Aku takut banget gak bisa ketemu kamu lagi, Dip. Aku pikir kamu bakalan ilang selamanya. Kenapa kamu kabur? Aku kan udah bilang jangan tinggalin aku sendirian.”  Ane terus menangis sejadi-jadinya membuat apartemen sepi itu hanya terdengar suara tangisan Ane yang membahana. Awalnya Alcander malas mendengarnya, namun saat dia sadar Ane tulus menangisi kepergiannya, hatinya mulai tersentuh.  Wajah angkuh Alcander yang sejak tadi membuang muka ke arah lain, tak mau melihat Ane, kini beralih menatap gadis itu lekat. Dia mendesah pelan sebelum melompat turun dari ranjang. Dia pun berjalan menghampiri Ane dan naik ke atas kedua kakinya yang bersila.  Ane menunduk, melihat si anjing kini duduk santai di pahanya. Ketika Dipsy kesayangannya tiba-tiba mengulurkan satu kaki mungilnya, Ane terkekeh geli.  “Ini maksudnya apa? Kamu ngajakin salaman?” Kata Ane sembari menggenggam kaki kecil anjingnya.  “Atau ini ungkapan permintaan maaf kamu? Kamu nyesel kan udah kabur dari aku?”  “Bukan,” sahut Alcander. “Ini sebagai tanda kesepakatan aku akan tinggal bersamamu sampai aku menemukan cara untuk mematahkan kutukan ini dan kembali ke duniaku. Sampai saat itu tiba, aku janji tidak akan pergi lagi.”  Alcander mendengus saat melihat senyuman lebar terbit di wajah Ane seolah tangisan tadi telah menguap hingga tak berbekas.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD