My Dog, 08

2129 Words
Kedua mata anjing kecil nan lucu yang tidak lain merupakan jelmaan pangeran Alcander Cirrilo Soungga, mulai mengerjap dengan perlahan. Sinar matahari yang menerobos masuk dari celah-celah jendela menerpa kedua matanya, mau tak mau membuat tidur nyenyaknya terganggu. Alcander membuka kedua matanya dengan perlahan, terkesiap tatkala menemukan wajah Ane berada tepat di depannya. Refleks anjing kecil itu merangsek mundur.  Alcander meringis saat punggungnya yang terluka tanpa sengaja bertabrakan dengan kepala ranjang ketika dirinya melangkah mundur dengan terburu-buru.  Dia baru teringat kejadian semalam, dimana dirinya kabur dari Ane dan berakhir dirinya babak belur karena dikepung kucing liar. Alcander mendengus kasar, merutuki nasibnya yang begitu lemah bahkan dia tak berdaya melawan kucing sekali pun.  “Menyedihkan sekali aku sekarang,” katanya sambil menggelengkan kepala.  Tatapan Alcander menerawang ke sekeliling kamar Ane. Memicingkan mata disertai raut jijik tercipta di wajahnya. Kamar itu begitu berantakan, pakaian Ane yang basah kuyup karena kejadian semalam tercecer dimana-mana. Kaosnya tergeletak di dekat ranjang sedangkan celananya teronggok di dekat pintu kamar mandi. Jangan lupakan beberapa dalaman gadis itu yang juga berserakan di beberapa tempat. Alcander menghela napas panjang, dia mendelik tajam pada Ane yang masih tertidur lelap dalam kondisi tengkurap.  “Gadis ini benar-benar jorok. Haah ... sampai kapan aku harus tinggal bersamanya?”  Alcander kembali menerawang kali ini menatap ke arah langit-langit kamar, dia teringat pada kehidupan mewahnya di istana. Betapa dia begitu dihormati, disanjung dan dipuja. Dirinya merupakan pewaris tahta yang seharusnya menduduki singgasana raja dan bukannya berada di dunia asing dalam wujud seekor anjing.  Lagi ... Alcander mengembuskan napas lelah.  Dia menoleh kembali pada wajah Ane yang tampak polos dan lugu dalam tidur pulasnya. Seketika membuat Alcander teringat pada sang pujaan hati. Pada Aniq, tunangan yang sangat dicintainya.  “Bagaimana kondisi Aniq sekarang?” Gumamnya pada diri sendiri. “Pasti dia mengkhawatirkanku karena aku tiba-tiba menghilang dari istana.”  “Sial. Ini gara-gara raja tua bangka itu. Aku pasti membunuhnya jika kembali ke istana nanti.”  Dalam lamunannya itu, Alcander terkejut luar biasa ketika mendengar suara melengking berasal dari ponsel Ane yang tergeletak di nakas dekat ranjang. Suara Rihanna dalam lagu Umbrella mengalun di seisi kamar. Ane melenguh dalam tidurnya, namun sama sekali tak membuatnya membuka mata meski alarmnya terus meraung-raung.  Alcander berdecak seraya menggelengkan kepala, melihat bagaimana Ane merubah posisi tidurnya menjadi miring, kembali melanjutkan tidur meski suara Rihanna yang berisik menurut Alcander, terus mengalun.  Alcander dengan malas berjalan menghampiri Ane, dengan kaki kecilnya dia menekan-nekan bahu gadis itu, berharap tindakannya ini mampu membangunkan sang gadis.  “Oi, bangun. Suruh wanita itu berhenti bernyanyi. Berisik tahu,” kata Alcander, masih setia menekan-nekan bahu Ane dengan salah satu kaki mungilnya.  Alcander menggeram jengkel saat tak mendapati Ane terpengaruh dengan usahanya membangunkan gadis itu.  “Sial. Selain jorok, ceroboh dan bodoh. Gadis ini juga pemalas,” gerutunya dengan mata memicing tajam menatap wajah Ane yang masih berkelana di dunia mimpi.  Alcander menelisik sekitar, mencari benda apa pun yang bisa dia gunakan untuk membangunkan gadis pemalas itu.  Ada keinginan untuk menyiram Ane dengan segayung air dingin dari kamar mandi, namun Alcander sadar dengan tubuh mungilnya mustahil dia bisa melakukan itu. Akhirnya Alcander mengambil sebuah keputusan.  Dia menyeringai lebar pertanda rencana jahat sedang menari-nari di dalam kepalanya. Kini dirinya melangkah mundur seolah sedang mengambil ancang-ancang untuk berlari.  Dan benar saja, setelah menghitung dalam hati sampai tiga, Alcander berlari. Lalu anjing itu melompat tinggi dan mendarat tepat di wajah Ane.  Ane menjerit saking kagetnya. Dia langsung bangun dan merubah posisi berbaringnya menjadi duduk. Mengusap-usap hidungnya yang tertimpa tubuh si anjing.  “Dipsy ... kenapa melompat ke muka aku sih? Kayak gak ada tempat lain buat lompat aja.”  Guk ... Guk ... Guk  Itulah respon si anjing yang didengar Ane, kenyataannya tidaklah begitu.  “Suruh wanita itu berhenti bernyanyi. Suaranya berisik!” Nyatanya inilah yang sedang diteriakan Alcander pada Ane yang tentunya tak memahami bahasanya.  “Berisik Dipsy.” “Wanita yang bernyanyi itu yang berisik,” balas Alcander.  Ane menutup kedua telinganya karena tak tahan mendengar gonggongan Dipsy kesayangannya.  Beberapa detik berlalu, Ane masih betah menangkup kedua telinganya dengan telapak tangannya sendiri. Hingga akhirnya dia pun menyadari sesuatu.  “Omaigot ... Omaigot ... aku kesiangan!!” Teriaknya histeris. Dia mematikan alarm ponselnya yang masih meraung-raung.  “Gila ... udah jam sembilan. Gawat ... gawat ... bisa dipecat nih aku.”  Ane turun dari ranjang dengan tergesa-gesa tanpa mempedulikan kakinya yang masih terlilit selimut.  Bruuuuk  Alcander meringis saat mendengar suara hantaman punggung Ane yang bertabrakan dengan lantai saat gadis itu terjatuh ke bawah. Alcander menggelengkan kepala berulang kali, tak habis pikir ada manusia macam Ane yang ceroboh bukan main.  “Dasar bodoh,” umpatnya.  Ane sendiri mengabaikan rasa sakitnya, dia melesat masuk ke dalam kamar mandi. bergegas melakukan aktivitas mandinya secepat mungkin.  Hanya membutuhkan waktu lima menit, Ane sudah keluar dengan hanya mengenakan handuk kimono. Berjalan mendekati lemari pakaian dan tanpa malu melepas handuk kimononya begitu saja.  Alcander terbelalak melihat tubuh telanjang Ane, meski sudah beberapa kali dia melihatnya, tetap saja Alcander salah tingkah setiap kali melihat pemandangan itu. Cepat-cepat dia membuang muka ke arah lain.  “Ck ... Ck ... aku benar-benar akan dihajarnya jika dia tahu aku ini manusia dan bukan anjing.” Alcander meringis membayangkan bagaimana reaksi Ane jika tahu dirinya bukanlah anjing melainkan manusia.  Di sisi lain, Ane mengenakan pakaian kerjanya secepat kilat. Menyisir rambutnya dengan asal tanpa memoles wajahnya dengan apa pun. Handuk basahnya dia biarkan teronggok begitu saja di lantai bersama dengan beberapa pakaian basahnya semalam yang masih tercecer dimana-mana.  Ane meraih tas selempangnya yang tergeletak di atas meja, lalu menyaut ponsel untuk melihat jam yang terpampang di layar ponsel sekali lagi.  “Aduuuh ... udah mau jam sepuluh. Amsyong dah nih,” katanya, panik luar biasa.  Ane berlari menuju pintu, namun ... langkahnya tiba-tiba terhenti begitu tangannya nyaris memutar kenop pintu tersebut. Dia berbalik menatap ke belakang, pada sosok Alcander lebih tepatnya.  Ane kembali berlari, kali ini tujuannya menghampiri Alcander. Tanpa diduga Alcander dan tanpa sempat dia menghindar, Ane sudah menggendongnya. Menciumi wajahnya, sukses membuat wajah Alcander memerah layaknya kepiting rebus.  “Dipsy, jangan nakal ya. Awas jangan kabur lagi. Kalau laper ambil sendiri makanan kamu di dapur ya. Aku taro di atas meja, gak susah kok ngambilnya.”  Alcander kembali memalingkan wajahnya ke samping kiri ketika Ane berniat menciumnya lagi. Namun terlambat karena gerakan Ane lebih cepat dan gesit darinya. Alcander menegang ketika kali ini bibirnya yang dicium Ane.  “Cuih ... Cuih ...” Alcander menggesek-gesek bibirnya dengan salah satu kaki mungilnya begitu Ane menurunkannya. “Jangan sampai Aniq tahu ada gadis lain yang menciumku. Dia bisa marah besar.”  Alcander masih menggerutu dalam hatinya, dan dia kembali tersentak ketika Ane yang sudah keluar kamar, tiba-tiba kembali.  “Dipsy ... ya ampuuun ...”  Alcander terbelalak ketika Ane tiba-tiba menerjangnya kembali dalam pelukan.  “Aku lupa hari ini tanggal merah. Pantes aja alarmnya nyala jam sembilan, aku sendiri yang setting semalam. Hahahaha ... bodohnya aku. Untung nyadar pas pake sepatu tadi.”  Ane memeluk Alcander seerat yang dia bisa, tak menyadari bagaimana Alcander memasang wajah tersiksa karena kesulitan bernapas sekaligus lukanya yang kembali sakit karena didekap Ane.  “Hari ini kita main sepuasnya ya, Dip,” kata Ane dengan riang. “Ya Tuhan, selamatkan aku dari gadis gila ini. Lama-lama aku bisa mati karena kehabisan napas dipeluk terus gadis ini. ”  Berbanding terbalik dengan Alcander yang meratapi nasib buruknya dipertemukan dengan gadis ajaib seperti Ane.   ***    Ane bersenandung riang sembari sibuk mengangkat panci berisi sup ayam buatannya. Dia memindahkan panci ke atas meja makan. Awalnya berniat memakannya sendirian, namun menyadari dia membuat sup terlalu banyak, dia pun urung melakukannya. Tiba-tiba saja dia teringat pada Edo.  “Aku main ke tempat kak Edo aja deh. Sekalian makan bareng sama dia.”  Ane tersenyum lebar setelah memutuskan itu. Dia mengambil wadah plastik berukuran sedang. Mengisi wadah plastik itu dengan sup ayam. Dia juga mengambil wadah plastik lain untuk tempat nasi.  “Yupz ... selesai,” ujarnya, puas melihat hasil karyanya. “Mudah-mudahan Kak Edo suka.”  Ane melirik ke arah sudut meja makan dimana sosok anjing kesayangannya tengah meringkuk di sana. Sedang tidur siang dengan lelapnya.  “Kasian Dipsy kalau ditinggal sendiri. Aku ajak aja deh.”  Ane merangkul tubuh Alcander dengan tangan kanannya, sedang tangan kiri menenteng makanan yang sudah dia masukan ke dalam kantong hitam.  Alcander yang terusik akhirnya membuka mata dengan malas. Memicing tajam melihat wajah Ane yang berseri-seri.  “Eh, udah bangun ya, Dip. Sorry jadi bangunin kamu,” kata Ane, dirinya kini melangkah menuju pintu keluar.  “Apa lagi ulah gadis ini?” Gerutu Alcander dalam hati. Dia tak memberontak, entah setan apa yang merasukinya karena untuk pertama kalinya dia menurut kemana pun Ane membawanya pergi.  “Kita pergi ke tempat Kak Edo ya. Kita makan bareng di apartemen dia.” “Oh, ingin menemui pria m***m itu.”  Alcander tak mungkin lupa bagaimana pria bernama Edo itu dengan kurang ajar memeriksa alat kelaminnya tempo hari. Karena alasan itu pula sosok Edo teramat m***m di mata Alcander.  Ane bersenandung kecil ketika berjalan menuju lift. Menghentak-hentakan kakinya pelan dengan bibir yang terus menyenandungkan lagu favoritnya, we dont talk anymore yang dipopulerkan Charlie Puth feat Selena Gomez, ketika berada di dalam lift. Lift dalam keadaan kosong, tak ada seorang pun selain Ane dan Alcander.  Alcander memasang raut malas selama mendengar mulut Ane yang berisik karena terus bersenandung riang tanpa peduli sekitar.  “Yess ... akhirnya sampai kita di lantai apartemen Kak Edo.”  Ane keluar dari lift dengan langkah lebar. Sudah tidak sabar untuk makan bersama dengan sang pujaan hati yang tak akan pernah menjadi miliknya, Edo.  Tanpa ragu Ane menekan bel saat dirinya sudah berdiri persis di depan pintu apartemen Edo. Tak membutuhkan waktu lama, seseorang membuka pintu. Menampilkan sosok Edo yang terkesiap melihat penampakan Ane yang tengah menyengir lebar padanya.  “Hai, Kak Edo. Udah makan belum? Makan bareng yuk!” Ajaknya semangat, dia mengangkat kantong plastik yang dia tenteng di tangan kiri.  Edo terlihat salah tingkah entah karena apa, Ane yang tidak peka tentu tidak menyadarinya. Berbeda dengan Alcander yang menyadari pria itu enggan menerima Ane hanya dengan sekali lihat dari raut wajahnya yang canggung.  “Boleh gak aku masuk, Kak?” Tanya Ane antusias, sudah tak sabar menyantap makanan bersama di dalam apartemen Edo. “Hmm ... ya udah deh boleh,” jawab Edo seperti terpaksa. Pria itu membuka pintu selebar mungkin untuk memberi Ane akses masuk ke dalam.  Ane masih tersenyum lebar saat kedua kakinya melangkah masuk. Namun, senyuman itu tak bertahan lama begitu melihat sosok lain di dalam apartemen Edo. Dia adalah Kiran, rekan kerja sekaligus kekasih Edo. Gadis itu sedang duduk di sofa, sepertinya sedang menonton film bersama Edo sebelum Ane datang mengganggu.  “Eh, ada Kiran ternyata. Maaf ya, kayaknya aku ganggu,” ucap Ane tak enak hati, terlebih saat dia melihat ekspresi wajah Kiran yang memicing tajam padanya, tampak tak suka.  “Aku balik lagi deh ke apartemen.”  Ane berbalik badan bersiap pergi, namun urung karena tubuh Edo yang menghalangi.  “Tadi katanya mau ngajakin makan bareng, kok malah pergi sih, An?” “Aku takut ganggu kalian, Kak.” “Gak ganggu kok. Kebetulan juga aku sama Kiran belum makan. Iya kan, sayang? Gak apa-apa kan kita makan bareng Ane? Ane udah sengaja bawain kita makanan tuh.”  Ane melirik ke arah Kiran, dilihatnya dengan jelas bagaimana gadis itu berekspresi teramat ketus.  “Lain kali aja deh Kak makan barengnya. Aku pulang dulu,” tolak Ane. “Iya, kita makan bareng aja. Aku juga pengin nyobain masakan kamu, An. Kayaknya kamu pinter masak ya.”  Ane tersentak saat Kiran akhirnya menyahut. Ucapannya sungguh bertolak belakang dengan ekspresi wajahnya yang terlihat jengkel.  “Tuh kan, Kiran juga penasaran sama masakan kamu. Yuk, ke meja makan.”  Ane ingin menolak, namun tak bisa karena Edo merangkul bahunya. Mengajaknya berjalan menuju ruang makan. Akhirnya Ane tak memiliki pilihan lain selain menurut.  “Woow, sup ayam kesukaan aku nih. Pas banget kamu bawain, aku emang lagi kepengin makan sup,” ujar Edo, berbinar senang ketika Ane menghidangkan sup ayam buatannya di atas meja.  Dengan canggung Ane ikut mendudukan diri di seberang Kiran yang masih melayangkan tatapan tajam padanya.  “Ayo dicoba sayang, enak nih supnya.” Ane sadar betul senyuman yang tersungging di bibir Kiran saat ini adalah sebuah keterpaksaan. Gadis itu menuruti permintaan sang kekasih, memasukkan sesendok sup buatan Ane ke dalam mulutnya.  “Gimana? Enak, kan?” Tanya Edo, meminta pendapat pada sang kekasih. “Iya, enak. Kamu pinter masak ya, An. Kapan-kapan ajarin aku dong, aku gak bisa soalnya.”  Ane tersenyum kecil, tahu persis Kiran sedang berbasa-basi.  Setelahnya, mereka pun makan dengan hening. Tak ada yang bersuara. Hanya suara sendok yang beradu dengan piring yang terdengar di dalam ruangan.  “Oh iya sayang, hari sabtu besok ulang tahun kamu, kan?” Yang memecah keheningan di antara mereka bertiga adalah Edo yang tiba-tiba melontarkan pertanyaan.  Kiran mengangguk tanpa kata.  “Kata Ane, kamu belum kasih undangan ke dia. Jadi aku yang mewakili kamu ngundang dia.”  Kiran terbelalak, memutar lehernya menatap Ane yang salah tingkah di kursinya sekarang.  “Gak apa-apa kan sayang aku undang Ane?” Tanya Edo lagi karena Kiran tak menyahuti ucapannya tadi.  Kiran menghela napas sebelum memutar lehernya beralih menatap Edo yang tengah menunggu respon darinya.  “Gak apa-apa dong sayang. Makasih ya udah wakilin aku undang Ane, kemarin aku lupa ngasih undangan,” katanya sembari tersenyum. “Ane, kamu harus datang ya ke pesta ulang tahun aku. Aku tunggu lho.”  Ane mengangguk disertai senyum seolah tak curiga dengan reaksi Kiran ini. Berbeda dengan Alcander yang tengah memicing memperhatikan wajah Kiran dari bawah karena Ane meletakannya di lantai, anjing mungil itu bisa melihat ekspresi wajah Kiran dengan jelas dari bawah sana.  “Gadis ini berbahaya,” kata Alcander, menyadari tatapan penuh kebencian Kiran pada Ane. “Aku harus mencari tahu tentang gadis ini. Jika dia berniat membahayakan Ane, aku harus melindunginya.”  Dan Alcander pun sudah membulatkan tekad untuk membalas budi pada Ane. Meski menyebalkan, namun tak dipungkirinya Ane sudah berbaik hati padanya. Dia akan melindungi Ane semampu dirinya, tak akan dia biarkan gadis bernama Kiran itu menyakiti Ane.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD