“Sup ayamnya enak, kamu makin pinter masak aja ya, An. Makasih udah bawain kami makanan.”
Saat mengatakan kelimat pujian itu, Edo menggerakan tangannya untuk mengusap puncak kepala Ane. Ane tersenyum lebar, tampak bahagia terlebih ketika Edo berbaik hati membantunya membereskan wadah-wadah plastiknya yang sudah kosong.
Dan semua interaksi dua orang tersebut tidak lepas sedikit pun dari pandangan Kiran. Gadis itu jengkel bukan main melihat bagaimana sang kekasih begitu baik pada Ane. Ketika tatapannya tertuju pada Ane yang masih tersenyum disertai semburat merah di wajahnya, Kiran memicingkan mata. Dia tidaklah bodoh, sebagai sesama wanita, dia bisa menangkap jelas arti senyuman dan tatapan Ane pada Edo bukanlah tatapan biasa layaknya seorang teman.
Kiran mendecih pelan, sadar betul Ane menaruh perasaan khusus pada pacarnya. Rupanya kecurigaannya selama ini terbukti benar. Gadis itu mengepalkan tangan di bawah meja, menahan amarah. Tanpa dia ketahui seseorang tengah memperhatikan gerak-geriknya dari bawah sana. Dia adalah Alcander yang semakin meyakini Kiran memang berbahaya untuk si gadis bodoh Ane.
“An, kok kamu gak nyuci wadahnya di sini aja biar nanti pas kamu bawa pulang, udah bersih? Jadi kan kamu bisa langsung istirahat, gak usah nyuci-nyuci lagi.”
Mendengar tawaran Edo itu, seketika kedua mata Ane berbinar senang. Dia memang sempat berpikir untuk meminta izin ikut mencuci wadah plastiknya di apartemen Edo. Namun, mengingat di sini ada Kiran, dan lagi Ane bisa melihat aura permusuhan dari gadis itu, Ane sempat mengurungkan niat.
“Boleh ya Kak, aku ikut nyuci di sini?”
“Boleh dong. Kok kamu nanyanya gitu?”
“Aku takut kelamaan di sini. Takut ...” Ane melirik ke arah Kiran yang masih duduk tenang di kursinya, sama sekali tak ada niatan membantu membereskan meja makan bekas mereka menyantap makanan beberapa menit yang lalu.
“... mengganggu kalian.” Ane melanjutkan.
Di kursinya, Kiran mendengus sinis. Ingin mengatakan secara blak-blakan bahwa Ane memang mengganggu, namun dia tak berani karena ada Edo di sini.
“Nggaklah, ganggu apa sih? Nggak ganggu kok, iya kan sayang?”
Kiran tersenyum sembari mengangguk, tampak manis meski kepura-puraan tercetak jelas di wajahnya.
“Kamu gak ganggu kok, An,” sahutnya, bohong.
Dengan polos Ane percaya, dia menggaruk belakang kepalanya. Lantas tak ragu lagi untuk menumpang mencuci di wastafel dapur milik Edo.
“Ya udah, aku cuci wadahnya dulu kalau gitu. Udah gitu baru aku pulang ke apartemen.”
Ane memindahkan wadah plastik miliknya ke atas wastafel. Setelahnya dia ikut memindahkan tiga piring kotor yang mereka gunakan untuk makan tadi. Bermaksud mencucinya sekalian.
“Eh, piringnya gak usah kamu cuci, An. Biar aku aja yang cuci,” bantah Edo, dia berniat merebut tiga piring kotor yang kini berada dalam pegangan tangan Ane.
“Nggak apa-apa, Kak. Biar sekalian.”
“Jangan. Kamu kan udah repot bawain makanan. Piringnya biar aku yang cuci, toh punya aku juga.”
“Nggak apa-apa, Kak. Biar sekalian aku cuciin.”
“Jangan, jangan. Biar aku aja yang cuci, An.”
Jadilah mereka berdua saling tarik menarik ketiga piring tersebut. Alcander mendengus geli melihat kekonyolan dua orang itu. Berbanding terbalik dengan Kiran yang menggeram tertahan. Tak sanggup lagi melihat drama picisan yang menurutnya memuakkan.
“Biarin aja sih dia yang nyuci, Do. Dia yang pengin ini bukan kamu yang nyuruh!” Kiran berucap dengan suara cukup tinggi, sukses mencuri atensi dua orang yang masih berebut piring.
“Ane udah sengaja bawain kita makanan loh, masa dia juga yang nyuci piringnya? Nggaklah. Aku gak enak sama Ane,” sahut Edo, mengutarakan alasannya tak membiarkan Ane mencuci piring bekas makan mereka.
“Nggak apa-apa, Kak. Aku kan mau nyuci wadah plastik punya aku, jadi ya sekalian aja sama piringnya.” Ane masih bersi keras.
“Ya udah gini aja, kita nyuci bareng-bareng, gimana? Aku yang sabunin, kamu yang siram airnya.”
Kedua mata Ane melebar, mengangguk antusias karena tergiur tawaran Edo. Mencuci piring bersama pria yang dicintai? Kapan lagi dia bisa melakukan ini, ini kesempatan yang tidak akan disia-siakan oleh Ane.
“Ya udah gitu aja, Kak. Biar adil,” sahutnya semangat seolah lupa ada Kiran di sana.
Setelah mendapat kesepakatan itu, mereka pun mulai mencuci piring bersama dengan sesekali terdengar obrolan ringan dan tawa di antara keduanya.
Tak kuasa lagi melihat pemandangan yang membuat hatinya panas bak terbakar api, Kiran bangkit berdiri dari duduknya.
“Do, aku numpang tiduran di kamar kamu,” pamitnya ketus tanpa menunggu respon dari Edo.
Ane melirik ke arah Kiran yang berjalan cepat meninggalkan ruangan. Hatinya mencelos sakit, rasa tak nyaman itu mengganggunya kini. Dari reaksi Kiran yang pergi begitu saja, Ane menyadari dia sudah kelewatan. Tidak seharusnya dia menerima tawaran Edo, seharusnya tadi dia langsung pulang saja dan mencuci wadah kotornya di apartemennya sendiri.
“Kak, Kiran kayaknya marah ya?”
Edo mengernyitkan dahi, “Marah kenapa?” Tanyanya, tak paham.
“Marah gara-gara aku datang ke apartemen kakak.”
Edo terkekeh geli sembari kepalanya menggeleng beberapa kali, “Nggaklah. Masa marah sih, dia kan tahu aku sudah anggap kamu adik sendiri.”
Lagi, Ane merasakan hatinya mencelos sakit. Kenapa pula Edo harus kembali memperjelas perasaannya di depan Ane?
“Tapi dia pergi gitu aja barusan kayak yang marah?”
“Mungkin dia capek. Gak usah dipikirin, dia emang begitu kalau kecapean. Nanti juga biasa lagi kok,” sahut Edo dengan santainya. “Udah cepet lanjutin nyucinya, biar cepet beres.”
Ane mengangguk patuh, tak membuka obrolan lagi. Hanya keheningan yang melanda di antara keduanya.
Kiran masuk ke dalam kamar Edo tanpa menutup pintu dengan benar, celah pintu tercipta cukup lebar dan hal itu memudahkan Alcander yang mengikuti langkah Kiran untuk ikut masuk ke dalam kamar.
Kiran membanting tubuhnya ke atas ranjang empuk Edo, dia merebahkan diri dalam posisi tengkurap. Dia tak tahu ada anjing kecil yang melompat naik ke atas nakas yang diletakan tepat di samping ranjang. Anjing itu yang tidak lain Alcander sengaja duduk diam di sana, memperhatikan apa yang akan dilakukan Kiran setelah ini.
Dengan gerakan kilat Kiran mengotak-atik ponselnya, lalu meletakan ponsel itu ke telinga pertanda dia sedang menghubungi seseorang.
“Hallo, Lia,” sambar Kiran, begitu telepon itu tersambung, ternyata dia menelepon sahabat baiknya di kantor, Lia.
“Gue lagi di rumah cowok gue, lo tahu gak, si culun itu tiba-tiba dateng.”
Alcander memicingkan mata, menebak-nebak mungkinkah yang dibicarakan Kiran adalah Ane. Dia masih mengawasi keadaan dari atas nakas.
“Iya, si Anelah, siapa lagi yang culun di kantor kita kalau bukan dia.”
Kini Alcander tak ragu lagi, memang Ane yang sedang dibicarakan oleh Kiran entah dengan siapa karena dia tidak bisa mendengar suara lawan bicara gadis itu. Cukup mendengarkan semua yang dikatakan Kiran, maka dia akan tahu apa yang mereka bicarakan. Alcander mendengarkan dengan seksama di tempatnya duduk.
“Sumpah ya, genit banget dia. Jijik gue lihatnya. Masa dia sok bawain makanan gitu. Mana gak enak lagi masakannya, gue aja pengin muntah. Cuma gue tahan karena ada Edo.”
Alcander mendengus kasar, tahu persis Kiran sedang berdusta. Padahal jelas-jelas dia tampak lahap saat menyantap sup ayam buatan Ane, Alcander tahu karena sedari tadi tatapannya tak pernah lepas dari ekspresi wajah Kiran.
“Udah gitu mereka sok akrab gitu lagi di depan gue. Masa mereka nyuci piring bareng. Norak tahu gak? Huuuh ... rasanya gue pengin banget jambak rambut tuh cewek gatel. Kecentilan banget dia sama cowok gue.”
Kiran terdiam sepertinya sedang mendengarkan entah nasehat apa yang diberikan lawan bicaranya. Alcander sedikit menggeram, andai saja dia bisa mendengar suara lawan bicara Kiran, semuanya akan jauh lebih mudah dimengerti.
“Bagus juga ide lo. Emang tuh cewek mesti dikasih pelajaran supaya gak kecentilan lagi sama pacar orang.”
“Oh iya, gue baru inget, dia bakalan dateng di pesta ulang tahun gue.”
Kiran tiba-tiba mendengus disertai bola matanya yang berputar malas. “Ya, gak mungkinlah gue yang undang. Cowok gue yang undang si culun. Tapi ada bagusnya sih pas gue pikir-pikir sekarang. Gue punya kesempatan buat ngasih pelajaran sama tuh cewek di pesta ulang tahun gue.”
Kiran menyeringai kejam membuat Alcander semakin waspada, menyadari sepenuhnya gadis itu sedang merencanakan sesuatu yang jahat kepada Ane.
“Nah, itu maksud gue, kita kasih dia pelajaran habis-habisan di pesta ultah gue. Lo harus dateng ya ntar, awas kalau gak dateng. Bantuin gue ngerjain si culun.”
Kiran tertawa lantang tiba-tiba.
“OK deh, thanks ya, Li. Kita obrolin lagi besok di kantor.”
Sambungan telepon itu pun terputus dengan Kiran yang memutuskannya.
“Tahu rasa lo, Ane. Gue bakalan ngasih lo pelajaran yang gak akan pernah bisa lo lupain seumur hidup lo. Siap-siap aja. Haah ... gue jadi gak sabar pengin cepet-cepet hari sabtu.” Kiran bergumam sembari meremas ponsel di tangan, sebelum dia merubah posisi berbaringnya menjadi terlentang.
Dia masih tersenyum sendiri bagai orang kehilangan akal sehat, hingga tiba-tiba dia melirik ke atas nakas di samping tempat tidur, terkejut tatkala menemukan seekor anjing duduk manis di sana.
Anjing itu sedang menyeringai hingga taring-taringnya terlihat. Kiran bergidik ngeri karena si anjing sepertinya bersiap ingin menerkamnya. Dia bermaksud untuk bangkit, sayang seribu sayang gerakannya kalah cepat dari si anjing.
Kiran menjerit hebat ketika anjing kesayangan Ane itu tiba-tiba melompat ke wajahnya sebelum sempat dirinya menghindar. Alcander mencakar wajah mulus Kiran yang terpoles make up cukup tebal itu, membuat Kiran memberontak berusaha melepaskan si anjing yang nangkring di wajahnya.
Suasana semakin heboh ketika Edo dan Ane yang mendengar jeritan Kiran, kini berlari memasuki kamar. Ane terbelalak mendapati Dipsy kesayangannya tengah bergelantungan di wajah Kiran. Mencengkram kepala Kiran kuat hingga sulit bagi gadis itu menyingkirkan si anjing.
“Dipsy! Lepasin Kiran!” Bentak Ane, membantu Edo yang juga kesulitan melepaskan cengkraman kaki-kaki mungil Alcander di wajah Kiran. Di saat tubuh si anjing hendak ditarik paksa, dengan cerdas anjing itu menjambak rambut Kiran hingga gadis malang itu semakin menjerit kesakitan.
“Dipsy! Lepasin atau aku gak kasih kamu makan!!”
Mendengar ancaman Ane yang menyebut-nyebut makanan, Alcander pun luruh. Jika Ane tidak memberinya makan, dia bisa kelaparan. Dia pun melepaskan cengkraman kaki-kakinya pada wajah dan rambut Kiran.
Ane mendekap Dipsy kesayangannya dalam pelukan erat. Napasnya tercekat ketika melihat ada luka cakaran di pipi kanan Kiran yang mengeluarkan darah, juga lubang kecil di pipi kiri Kiran bekas salah satu cakar Alcander yang menancap di sana.
“Muka aku sakit banget. Sumpah perih banget,” rintih Kiran sembari mengipas-ngipasi wajahnya dengan telapak tangannya sendiri. Edo memeluknya erat untuk menenangkan.
“Kita pergi ke rumah sakit ya, kita obati luka kamu.”
“Iya, iya, kita pergi sekarang. Aku gak tahan,” sahut Kiran dengan air mata yang mulai mengalir dari pelupuk mata.
Edo membantu Kiran berdiri, memapah sang pacar berjalan sembari mendelik tajam pada Ane. Ane terpaku di tempatnya berdiri, tatapan Edo terlihat begitu marah padanya.
Ane hendak menyentuh lengan Kiran ketika mereka berdua melewati dirinya yang mematung sambil memeluk Alcander. Namun ... dia tersentak, luar biasa terkejut ketika Edo menepisnya kasar. Tatapannya penuh kebencian pada sosok anjing yang tengah menguap lebar dalam pelukan Ane.
“Buang anjing barbar itu. Dia bahaya,” titah Edo tegas, penuh penekanan.
“T-Tapi ...”
“Buang atau aku tembak mati dia? Beraninya dia melukai wajah Kiran.”
“Dipsy pasti gak sengaja, Kak.” Ane masih berusaha membela Dipsy kesayangannya.
“Waktu itu wajahku yang dia cakar, sekarang wajah Kiran. Awas aja kalau aku masih lihat anjing itu ada sama kamu, aku serius bakal tembak mati dia.”
Edo melangkah pergi bersama Kiran setelah melontarkan ancaman yang membuat Ane terbelalak. Berbanding terbalik dengan Alcander yang menyeringai lebar, tak terlihat takut sedikit pun dengan ancaman itu. Sebaliknya, dia tampak puas karena sudah memberi pelajaran pada Kiran yang berniat jahat pada Ane.
***
Ane duduk lesu di lantai kamarnya dengan punggung yang bersandar pada dinding yang dingin, dia sudah kembali ke apartemennya setelah Edo dan Kiran benar-benar meninggalkannya sendiri.
Hatinya sakit luar biasa saat mengingat tatapan penuh amarah Edo padanya tadi. Sebelumnya Edo tak pernah berekspresi seperti itu di depannya. Pria itu selalu tersenyum ramah dan baik padanya. Karena kebaikan pria itu pula yang membuat Ane jatuh hati.
Tatapan Ane kini lurus tertuju pada si anjing yang sedang berbaring di kasur Ane dengan santainya, seolah tak merasa bersalah sedikit pun karena sudah menciptakan masalah besar untuk Ane. Ane tak tahu bagaimana dirinya harus bersikap di depan Edo setelah kejadian ini, terlebih di depan Kiran nanti. Apesnya mereka bekerja di kantor yang sama. Ane yakin Kiran akan semakin membencinya karena kejadian ini.
Ane mendesis marah melihat tingkah laku si anjing yang kini tengah menjilati jejak darah Kiran yang tertinggal di kakinya. Bahkan bekas darah itu baru Ane sadari tercecer di pakaiannya, mungkin menempel ketika Ane memeluk anjing itu.
Ane yang kalap dan tersulut emosi itu pun bangkit berdiri dari duduknya. Dia berjalan cepat menghampiri Alcander yang berbaring membelakangi. Dia mengangkat tubuh si anjing, mengabaikan rontaan hebat yang sedang dilakukan anjing itu untuk melepaskan diri.
“Kak Edo bener, kamu itu bahaya banget. Aku harus buang kamu.”
Alcander terbelalak mendengar ucapan Ane. Benarkah gadis itu akan membuangnya? Alcander was-was sekarang.
“Padahal kamu itu lucu banget Dipsy. Kenapa sih kamu buas dan liar banget? Nggak bisa ya kamu jadi anjing nurut kayak anjing-anjing peliharaan orang lain? Aku sering lihat anjing peliharaan orang kaya, mereka nurut tuh sama majikannya. Padahal anjing-anjing itu serem loh, badannya gede wajahnya sangar, nyeremin pokoknya. Gak imut kayak kamu.”
Alcander mendengus pelan, “Tentu saja aku tidak akan menurut padamu karena aku ini bukan anjing. Satu lagi, kau itu bukan majikanku,” sahutnya, yang didengar Ane sebagai gonggongan anjing biasa.
“Aku tuh sebenarnya sayang banget sama kamu, Dipsy. Seneng banget ada kamu di sini yang nemenin aku. Tapi ...”
Ane menghela napas panjang.
“Kayaknya aku emang gak cocok melihara anjing. Kamu gak mau nurut sama aku. Daripada aku lihat kamu ditembak mati sama kak Edo, mendingan aku buang aja kamu.”
Alcander terbelalak sekarang, tak menyangka Ane benar-benar akan membuangnya.
Ane tersenyum getir ketika tatapannya bertemu dengan Alcander yang juga sedang menatapnya. Butir-butir air mata itu mulai berjatuhan dari pelupuk mata Ane.
“Maaf, Dipsy. Aku terpaksa harus buang kamu.”
Ane pun melangkah menuju pintu. Alcander semakin meronta hebat dalam dekapan erat Ane.
“Oi, jangan buang aku. Aku tinggal dimana kalau kau buang?”
Air mata Ane semakin mengalir deras karena si anjing terus menggonggong keras, rontaannya pun terasa semakin kuat seolah si anjing tak mau ikut dengan Ane keluar dari apartemen.
Ane berjalan meninggalkan apartemennya, dia abaikan Dipsy kesayangannya yang menggonggong tiada henti.
“Oi, dengar tidak? Jangan buang aku. Aku melakukan itu untuk menyelamatkanmu dari gadis jahat itu. Harusnya kau berterima kasih padaku bukannya membuangku.”
“Hoooi ... dengar tidak?!!!”
Ane membekap mulut si anjing yang terus menggonggong ketika dirinya memasuki lift. Ada seorang pria tengah berdiri di sudut lift. Pria itu memperhatikan Ane yang terus menunduk sembari membekap mulut anjing dalam dekapannya. Si pria mengernyit heran.
“Hei, anjing kamu kenapa?” Tanyanya, penasaran.
Ane yang tengah melamun itu tersentak, cepat-cepat dia menoleh ke belakang.
“Anjing kamu kenapa? Kok dibekap gitu mulutnya?” Pria itu mengulang pertanyaannya karena Ane yang tak kunjung menyahut.
Ane mengerjap-ngerjap sebelum dirinya membuka mulut untuk bersuara, “Dia menggonggong terus, jadi aku bekap mulutnya supaya gak berisik. Takut ngeganggu,” sahut Ane disertai senyum ramah.
Si pria memperhatikan sosok anjing dalam dekapan gadis asing di depannya.
“Mungkin dia laper atau gak mau kamu peluk. Coba aja dilepas pasti dia berhenti menggonggong.”
Ane terdiam, tak merespon apa pun. Dia bahkan masih diam mematung ketika si pria tiba-tiba merebut si anjing dari dekapannya. Lalu meletakan anjing itu di lantai.
“Tuh kan, dia langsung diem. Berarti bener dia gak suka kamu peluk.”
Ane memperhatikan bagaimana pria itu dengan lembut mengusap kepala Dipsy kesayangannya yang secara ajaib berhenti menggonggong. Anjing itu tampak tenang menerima usapan dari sang pria.
Melihat interaksi mereka, sebuah ide pun terlintas di benak Ane.
“Kamu kayaknya tahu banyak soal anjing ya?”
Pria itu mendongak untuk menatap Ane yang berdiri karena dirinya kini sedang berjongkok untuk mengusap kepala si anjing yang tengah berdiri di lantai lift.
“Dulu aku pernah melihara anjing.”
Ane mengangguk-anggukan kepala.
“Oh gitu, berarti kamu gak keberatan ya kalau melihara anjing itu?” Tanya Ane sembari menunjuk Alcander.
Si pria mengernyitkan dahi, kebingungan.
“Bukannya ini anjing kamu?”
“Iya. Tapi aku gak bisa melihara dia. Aku gak punya pengalaman ngurus anjing. Udah gitu dia juga gak bisa jinak kalau sama aku. Mungkin kalau itu kamu, kamu bisa ngelatih dia supaya jinak.”
Si pria menatap Alcander lagi, menelisik sosok sang anjing yang menurutnya lucu dan tampak jinak.
“Tapi kayaknya dia udah jinak kok.”
Ane menggeleng kali ini, membantah.
“Dia masih liar. Udah gitu buas lagi suka nyerang orang. Aku rencananya mau buang dia. Setelah aku pikir-pikir lagi, kayaknya lebih bagus dia dipelihara sama kamu daripada dibuang di jalanan. Aku gak tega.”
Wajah Ane terlihat sendu, tatapannya tertuju pada si anjing yang juga sedang menatapnya.
“Kamu serius mau buang dia?”
“Iya,” jawab Ane, apa adanya.
Pria itu menghela napas sebelum dia menggendong si anjing dengan amat perlahan, tak ingin membuat anjing itu tak nyaman.
Ane memperhatikan cara sang pria menggendong Dipsy kesayangannya, sangat jauh berbeda dengan cara dia menggendong anjing itu. Ane selalu mendekap si anjing dengan erat sedang pria itu mendekapnya dengan sentuhan ringan tanpa menyakiti. Ane baru sadar sekarang alasan Dipsy kesayangannya selalu memberontak setiap kali dia peluk.
“Ya udah, biar aku yang pelihara daripada kamu buang.”
Ane tersentak mendengarnya. Ada rasa tak terima menyerahkan sang anjing pada orang lain, di sisi lain ... dia sadar ini yang terbaik untuk Dipsy.
Ane pun mengangguk antusias.
“Terima kasih. Tolong rawat dia dengan baik ya. Sebenarnya aku sayang banget sama dia.”
“Kalau sayang kenapa mau kamu buang?”
Ane tidak menjawab, dia memilih berjalan keluar ketika pintu lift tiba-tiba terbuka karena ada yang menekannya dari luar.
Alcander memicing tajam, memperhatikan punggung Ane yang mulai menghilang dari pandangannya begitu pintu lift kembali tertutup.
Jadi, benarkah ini akhir dari kebersamaan mereka?