Fasha menyimak ke mana langkah Adit pergi. Ia tahu tujuan Adit karena sebelumnya, ia tak sengaja melihat Dina yang beranjak dari kursi. Entah kenapa, rasanya masih sakit. Tapi Fasha meluaskan pikiran dan meluruhkan egonya. Ia tak mau menjadi perempuan egois yang tak bisa menghadapi kenyataan cinta yang kini bertepuk sebelah tangan. Biar lah, barangkali memang ia yang harus mengalah. Pedih memang mengingat ia cinta pertama Adit. Tapi bukan kah setiap cinta akan mengajarkan kita tentang banyak hal? Entah itu patah hati yang kemudian membuat kita semangat untuk bangkit. Karena apa? Karena itu lah proses hidup. Kita tak pernah tahu di mana letak kebahagiaan tanpa pernah merasakan sakit. Selayaknya, pelangi setelah hujan walau hanya sebentar. Karena memang yang namanya hidup itu begitu. Bagai r
Download by scanning the QR code to get countless free stories and daily updated books


