Adit tetap pada keyakinannya. Ia tak akan melakukan apa-apa sekalipun Ardan sudah berbicara. Ia tetap pada keteguhannya karena ia tak mau mengacaukan apa yang sudah direncanakan. Barangkali Allah juga meridhoi lamaran itu terjadi dan barangkali memang ini akhir dari perasaannya. Patah hati untuk kedua kalinya. Dan semoga tak ada patah hati ketiga. Jika memang tak berjodoh, mau bagaimana lagi? Namun jika diulik ke belakang, ia tak pernah menyesal karena pernah jatuh cinta. Entah pada Fasha atau kah pada Dina. Karena melalui cinta kepada keduanya, ia bisa berada di sini dan sekuat ini menjalani hidup. Lagi pula, kalau Adit pikir-pikir lagi, bukan kah hidup ya tetap terasa menyenangkan ketika ia berada di Australia dulu? Berada jauh dari Fasha dan mengubur dalam-dalam perasaannya? Jadi, apa b

