Tak Lagi Sama

1516 Words

"Kapan pulang?" "Nanti, Buuk," jawabnya. Sejujurnya, ia tak ingin pulang tapi Ibunya ini mulai bawel. Memang sih, pekerjaannya sudah selesai dan ya.....kalau pun ada yang masih harus dikerjakan, itu tidak mengharuskannya untuk terus berada di sini. Ia kan bisa mengerjakannya di Jakarta. Tapi lagi-lagi logika bisa mengambil alih perasaan jika urusannya adalah cinta. Fasha memang lemah kalau urusannya adalah hati. Usai menutup telepon dari Ibunya, ia berjalan menuju cermin kemudian menata rapi rambutnya. Dulu, ia tak pernah berpikir kalau akan tampil secantik ini. Maksudnya, mengurus diri dengan baik. Ia juga terlihat sangat feminin dibanding saat sekolah dulu. Sudah jauh berbeda lah. Semua itu dimulai ketika ia masuk kuliah. Ia baru menyadari kalau memiliki wajah cantik itu ya ketika masu

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD