Tanpa memahami situasinya, Jasmine tetap berdiri tegak di hadapan pintu ruangan Prof. Sullivan. Waktu terus berlalu, perasaannya semakin gelisah, seolah-olah ada kejadian besar yang sedang menantinya di balik pintu. Saat keraguan terasa semakin menebal, Tuan Hawthorne muncul. Pria itu menutup pintu sambil menatap Jasmine dalam keheningan yang panjang. "Aku tak membencimu." Kata-kata itu bukan sesuatu yang bisa Tuan Hawthorne ucapkan. Mereka tak saling mengenal, batasan hubungan mereka adalah musuh. Jasmine hendak menanyakan maksud perkataan Tuan Hawthorne, tapi tiba-tiba Dr. Lawson membuka pintu. "Silakan masuk, Nona Everhart. Prof. Sullivan sudah menantimu." "A—aku?" Jasmine tampak terkejut dan bingung. Pertemuan dengan Prof. Sullivan bukanlah kepentingannya, karena kunjungannya ke

