Prof. Sullivan memasuki ruangan Dr. Lawson. Dr. Lawson yang sedang tenggelam dalam bacaannya, menyadari kehadiran sang mentor. Tatapan keduanya saling bertemu begitu pintu terbuka. "Oh, Prof. Sullivan," ucap Dr. Lawson sambil merampungkan pembacaan data pasien, dengan hati-hati meletakkan dokumen kembali ke lemari. "Bagaimana konsultasinya? Semua berjalan lancar?" "Ya, bisa dikatakan begitu. Aku sudah mendengar ceritanya dan tak bisa menahan tangis," ucap Prof. Sullivan dengan nada simpatik. "Sungguh kemajuan yang pesat, mengingat Nona Everhart memiliki beban masa lalu yang berat. Apa yang sudah Anda lakukan hingga membuatnya begitu terbuka dalam waktu singkat? Tak heran Anda seorang profesor." Dr. Lawson memegang bahu lawan bicara dengan senyum penuh kebanggaan. Prof. Sullivan menying

