Dua jam sudah Satria menunggu tanpa kabar sama sekali, entah apa saja yang Dokter lakukan di dalam sana, Satria hanya bisa menunggu dengan air mata dan keadaan yang sangat kacau serta darah yang kering yang masih menempel memenuhi pakaiannya. Sesekali ia melirik lorong di seberang kirinya, bukan hanya Zia tapi ia juga mengkhawatirkan Seriel, kekasih yang selalu di kecewakannya. Dari kejauhan terlihat Al dan juga Meyra yang berlari menghampiri Satria. "Zia kenapa?" Tanya Meyra yang entah sejak kapan menangis, tapi matanya sudah sangat merah. "Satria jawab Mamah, adek kamu kenapa? Ini kenapa banyak darah, jawab sayang, jangan buat Mamah khawatir," Ulang Meyra bertanya, dan Satria masih saja diam. Hingga seorang Dokter yang ketika pertama kali datang membantu Satria untuk mempermudah pro

