4.

1071 Words
Hubungan tidak terjalin karna suatu alasan tetapi hubungan akan melahirkan sebuah alasan untuk mempertahankan sebuah hubungan karna sebuah kasih sayang ataupun keegoisan. ~masoul~ ••• What should i do? Kalimat itulah yang sedari tadi Seriel cari jawabanya, namun nihil ia tak menemukan jawabanya sama sekali. Ia memiliki kekasih, mungkin benar bagi semua orang yang melihat tapi tidak untuk Seriel. "Okay Sat, Lo emang ngakuin gue di depan semua orang tapi kenapa Lo gak pernah hubungin gue ataupun ngasih gue pesan." gumam Seriel yang tak mengerti. Walaupun Satria memang mengakuinya sebagai kekasih tapi saat berdua tak ada sama sekali perlakuan yang menggambarkan bahwa mereka adalah sepasang kekasih contohnya saja, Satria hanya mengirimi Seriel pesan seperlunya saja bahkan untuk menelphonepun masih bisa terhitung jari. Saat memikirkan itu, tiba-tiba saja handphonenya berbunyi tanda sebuah pesan masuk. Seriel membuka pesan yang ternyata dari Satria, sosok pria yang ia harapkan berhasil untuk mencintainya. Satria Hai! Selalu saja, kata itulah yang menjadi pembuka bahasa dalam chat mereka. "Hai," balas Seriel padanya. "Lagi ngapain?" ketiknya padaku. Dengan segera Serielpun langsung membalas pesan yang Satria kirim itu. "Lagi mau tidur. Kamu sendiri?" balas Seriel kembali. "Yaudah istirahat gih," ketik Satria. "Kamu lagi ngapain?" ketik Seriel bertanya. 1 2 3 seperti biasa, tak ada jawaban sama sekali. "Mungkin dia nyuruh gue istirahat," pikir Seriel saat itu. Dengan mengangkat bahu acuh, Seriel pun membaringkan tubuhnya untuk menghilangkan penatnya setelah seharian berada di sekolah dengan berbagai aktivitas. Disisi lain lebih tepatnya di kediaman Satria Putra Bagaskara, terlihat cukup ramai disana dengan beberapa asisten rumah tangga yang tengah sibuk berlalu lalang. "Mamah duduk aja, ini biar Satria yang bawa!" ujar Satria membawa sebuah kardus yang tengah ibunya angkat. "Perhatian banget anak Mamah ini," puji Meyra yang tak menyangka anaknya akan tumbuh dengan cepat. "Assalamualaikuuuum!" salam seseorang yang cukup keras. "Waalaikumsalam!" sahut Meyra begitu pun dengan Satria. Melihat siapa yang datang Satria pun langsung menyimpan kardus yang tengah ia angkat, kemudian menghampiri seseorang tersebut. Dengan tatapan datarnya berhasil membuat gadis kecil dihadapanya sedikit menundukan kepalanya. "Abis dari mana?" tanya Satria. "Maah! jadwal pulang sekolahnya Zia jam berapa?" tanya Satria sedikit berteriak karena jaraknya yang cukup jauh. "Kalo sekarang kan ujian jadi jam 10 juga pulaaang!" jawab Meyra pada putra pertamanya itu. Ya, Dua tahun setelah melahirkan Satria, Meyra dan Al memiliki seorang putri cantik yang ia berinama Zia Putri Bagaskara. "Kenapa jam segini baru pulang? abis dari mana?" tanya kembali Satria. "Ab--abis dari rumah temen kak, tap--tapikan ujianya udah selesai tinggal nunggu hasilnya..." jelas Zia pada Kakak yang ternyata sangat posesif terhadapnya. "Kenapa gak bilang dulu? Buat apa Papah ngasih kamu handphone kalo gak kamu gunain?" tanya Satria belum puas dengan alasan adiknya pulang sore bahkan sangat sore karena Satria lebih dulu pulang dibanding adiknya. Zia hanya bisa terdiam dengan memasang puppy eyesnya untuk mengambil hati Kakaknya itu. "Lain kali ijin dulu, sekarang kamu ganti baju bantuin Mamah dan check handphone kamu ada berapa pesan yang kakak kirim." ujar Satria yang luluh dengan kelakuan manis adik perempuanya itu. "Ucchhh makasih ya kakak akoeh yang baik hati rajin menabung dan tidak sombong." pekik Zia bahagia dengan memeluk kakaknya itu. "Ziaaa beraaat dek!" ujar Satria. "Hehe maaf deh maaf..." "Sana ganti baju, kamu bau." gurau Satria dengan menutup hidungnya. Zia mencebikan mulutnya, "ish apaansih, ya udah Zia mandi dulu abangku yang ganteng.... tapi jomblo!" ledeknya dan langsung berlari sebelum Satria berhasil mengejarnya. "Kalian itu yah, udah pada gede tapi masih aja berantem." Meyra menggelengkan kepalanya. Satria menghampiri ibunya itu dan memeluknya dengan erat. "~CUP... Satria sayang Mamah..." ucapnya yang masih memeluk erat Meyra. "Pantesan ngucapin salam gak ada yang nyahut, kamu juga Satria udah gede masih aja glendotan sama Mamah." ujar Al yang tidak terima jika istrinya di peluk oleh orang lain padahal dia tau Satria itu anak mereka, aneh sekali bukan. "Tapi buat seorang ibu, mau segede apapun anaknya tetep aja dia itu anak-anak." bela Meyra yang membalas pelukan Satria putra pertamanya itu. "Ck... Udah Satria mendingan kamu bantuin yang lain ngangkatin barang. " Saran Alfread yang padahal agar putranya tidak terus memeluk Meyra. "Posesif! ya udah Satria bantuin nenek dulu di belakang." Satria pun berlalu menemui neneknya. Selepas kepergian Satria, Al pun tersenyum manis dan memeluk istrinya mesra. "Kamu itu anak udah pada gede juga masih aja kayak gini," ujar Meyra pada suaminya itu. "Gak nyeselkan nikah muda, jadi pas punya anak gak tua-tua banget." ucap Al dan Mey menyetujuinya. "Udah ah sana mandi, oh iya Zia baru pulang mend--" "Apa?" kaget Al. "kenapa jam segini baru pulang?" "Udah gak papa yang penting udah pulang, lagian tadi juga udah dinasehatin sama Kakaknya, abis kamu mandi kamu obrolin mau lanjut sekolah dimana... gitu." jelas Meyra. "Gak perlu ditanyain yaang, aku bakal masukin ke sekolah yang sama bareng Satria supaya Zia ada yang jaga lagiankan kalo di sekolah punya keluargakan mudah juga buat jagainya, apalagi kamu, kamu kan gampang banget khawatir." ucap Alfread dan berlalu menuju kamar untuk bersiap-siap. "Kasian banget kamu Nak punya Kakak sama Ayah serba gak boleh..." gumam Meyra dalam hati dan kembali membereskan pekerjaanya. Sedangkan di belakang sana ketika Satria tengah membantu neneknya membuat kue tiba-tiba saja handphonenya berbunyi tanda panggilan masuk. "Halo?" "Aku gak bisa terusin hubungan  ini!" Satria dibuat terdiam dengan kalimat itu. "Ini aneh!" "Ser---" Tuutt.... tuttt.... "Serieel! Riel?" panggil Satria namun sayang panggilanya telah diakhiri. Satria hanya bisa menghela nafas berat, ia tidak tau apa yang harus ia lakukan, jika ia memohon pada Seriel kembali, ia juga tau itu sangat menyakitkan bagi seorang wanita walaupun yang Satria tau Seriel tidak memiliki rasa apapun terhadapnya. Tapi Satria ingin tetap memiliki gadis itu, entah apa alasanya mungkin itu hanya sebuah keegoisan yang berasal dari dalam dirinya, ataukah ada sesuatu yang lain seperti obsesi mungkin? Selfish? Obsession? Love? Entah kata mana yang menggambarkan Satria untuk Seriel. Hingga akhirnya Satria mengetikan sesuatu. "Lo gak akan pernah pergi, sebelum gue yang minta." ketiknya untuk Seriel. Kalian bisa bayangkan betapa stressnya Seriel memikirkan hubungan yang ia anggap aneh ini. Dan dari kalimat yang Satria kirimkan kita bisa menyebutnya sebuah keegoisan. "Satria kamu kenapa?" tanya Neneknya. "Gak papa nek, Satria pergi yah." ijin Satria dan berlalu setelah mendapat ijin. Sebelumnya Satria pergi menuju kamarnya untuk mengambil kunci mobil. "Kakak mau kemana?" tanya Zia dengan alis yang ditautkan. "Bilang sama Mamah kalo Kakak pergi sebentar okay?" Zia mengangguk paham dan Satria pun pergi entah kemana. Zia memandang Kakaknya yang terlihat aneh namun didetik kemudian ia mengangkat bahu acuh dan berlalu untuk membantu ibunya sesuai perintah kakaknya tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD