(Revan)
Sudah berapa kali aku mencoba berhenti membuka folder itu—“Kita.” Nama sederhana, tapi menyimpan seluruh hidup yang pernah kucoba bangun bersamamu. Folder itu masih tersimpan di laptop lamaku. Di dalamnya ada foto-foto dari pameran seni yang kita kunjungi, coretan desain rumah mungil dengan taman kecil di belakang, bahkan daftar nama anak yang kamu iseng ketik saat kita terjebak hujan di kafe pinggir jalan.
Setiap kali aku membukanya, rasanya seperti menyayat luka lama yang belum juga sembuh. Tapi anehnya, aku tetap melakukannya. Seperti seorang perantau yang selalu kembali ke titik awal, hanya untuk memastikan bahwa tanah itu masih ada.
Hari ini, aku membukanya lagi.
Padahal aku sudah menikah. Padahal aku sudah sepantasnya berhenti.
Tapi berhenti mencintaimu ternyata tak semudah membalik halaman kalender.
📎
Aku masih ingat, kamu pernah bilang kamu ingin dapur berwarna biru muda, dengan rak kayu terbuka dan jendela besar yang menghadap taman kecil. “Biar cahaya pagi bisa langsung menyentuh kopi kita,” katamu sambil tertawa, waktu kita duduk di lantai dengan secarik kertas dan pensil warna yang sudah tumpul.
Aku hanya mengangguk waktu itu, pura-pura santai, padahal diam-diam mencatatnya dalam kepala. Dalam hati, aku menjanjikan akan membangunnya untukmu. Untuk kita.
Kita pernah menghitung, berapa tahun lagi sampai semua itu jadi nyata. Lima tahun. Itu janjimu. Lima tahun setelah pertunangan kita, kita akan menikah, bangun rumah, tanam pohon mangga di belakang, dan pelihara kucing. Kamu ingin kucing putih, aku ingin yang oranye. Lalu kita sepakat untuk ambil dua.
Lucu, ya? Sekarang semua itu cuma jadi folder di laptop tua, lengkap tapi kosong. Seolah hidup ini menyimpan versi alternatif yang tak pernah terjadi.
📎
Aku menikah, Aleta.
Tapi bukan karena aku berhenti mencintaimu. Aku menikah karena waktu tak bisa kutahan. Karena dunia terus bergerak, dan aku terlalu takut tertinggal. Aku mencoba berdamai dengan realita, dengan harapan baru, dengan perempuan yang kini kupanggil istri.
Dia baik. Lembut. Tidak pernah memaksa, tidak pernah bertanya soal masa laluku. Tapi diam-diam, aku tahu dia tahu—ada sesuatu dalam diriku yang tidak pernah benar-benar berpindah.
Kadang aku berharap kamu marah, Aleta. Biar aku punya alasan untuk menyalahkanmu. Tapi kamu terlalu mulia. Bahkan saat aku menghilang, kamu tidak pernah mengutuk. Kamu tidak pernah membenci. Aku tahu dari teman kita, dari pesan-pesan singkat yang tak sengaja kulihat, kamu tetap mendoakanku.
Itulah yang paling menyakitkan. Karena aku yang meninggalkan, tapi kamu yang tetap memaafkan.
📎
Hari itu… saat kamu datang ke pernikahanku.
Aku pikir aku akan bahagia penuh. Aku pikir, setelah sekian lama berjalan menjauh darimu, aku akan kuat berdiri di altar dengan senyum penuh. Tapi begitu aku melihatmu berdiri di sudut ruangan, diam, dalam gaun sederhana yang tak pernah kutemukan warnanya di mimpiku, aku tahu aku telah kehilangan sesuatu yang tak tergantikan.
Kamu tidak menangis. Tidak meminta penjelasan. Tidak ada air mata, tidak ada tanya. Hanya tatapan diam yang begitu dalam, seolah berkata: “Aku sudah selesai mencarimu.”
Itu yang menghantamku lebih keras dari apapun.
📎
Beberapa malam terakhir, aku bermimpi tentangmu. Kita duduk di taman tua di belakang sekolahmu, kamu bercerita tentang murid-muridmu yang lucu dan keras kepala. Kamu tertawa, dan aku mendengarkan sambil menggenggam tanganmu—seperti dulu. Lalu aku terbangun, dan di sebelahku ada perempuan yang kini menjadi istriku.
Dia tertidur pulas, damai. Dan aku merasa berdosa karena mimpiku dipenuhi oleh nama yang berbeda.
Aku tidak pernah bilang ke siapa-siapa. Tentang mimpi itu. Tentang folder “Kita.” Tentang betapa sering aku menyesap masa lalu, hanya untuk memastikan bahwa rasanya masih sama. Aku menjalani hidup yang normal, bekerja, tersenyum, makan malam bersama, tapi bagian dari diriku tertinggal di tempat yang tak bisa dijangkau siapapun lagi.
📎
Aleta, kamu pernah jadi rumah. Dan aku adalah pengembara yang berpikir bisa membangun rumah baru di tanah yang berbeda. Tapi tidak semua rumah bisa dibangun ulang. Beberapa hanya bisa dikenang.
Kamu pernah bilang, “Cinta itu seperti tanaman. Harus disiram tiap hari, atau mati pelan-pelan.” Mungkin kita memang kehabisan air. Atau mungkin akulah yang berhenti menyiram.
Saat pertunangan kita kandas, aku sibuk mengejar mimpi yang katanya besar. Aku pikir kamu akan tetap menungguku. Tapi aku salah. Kamu tidak menunggu. Kamu melanjutkan hidupmu. Dan mungkin, itu yang seharusnya kamu lakukan sejak lama.
📎
Aku masih menyimpan semua rencana kita. Denah rumah, daftar nama anak, bahkan gambar-gambar kasar yang kita buat di kertas nota restoran. Mungkin itu konyol. Tapi aku tidak pernah bisa menghapusnya. Karena itu satu-satunya hal yang membuktikan bahwa kita pernah benar-benar ada.
Aku pernah bilang, ingin punya anak perempuan yang mirip kamu. Rambut panjang, suka baca buku, dan penuh empati. Kamu hanya tertawa waktu itu, lalu berkata, “Kalau anak kita mirip kamu, semoga dia enggak suka ngilang tiba-tiba.”
Aku tertawa juga. Tapi kini kalimat itu seperti karma yang menyentakku setiap kali aku mengingat kenapa semuanya hancur.
📎
Beberapa waktu lalu, aku lihat kamu di media sosial. Tidak banyak, hanya foto-foto kegiatan sekolah dan pemandangan. Tapi dari matamu, aku tahu kamu sudah belajar melepaskan. Ada damai yang dulu tidak ada.
Aku ingin mengirim pesan. Menanyakan kabar. Tapi aku tidak punya keberanian. Karena aku tahu, tidak semua pintu bisa diketuk kembali. Dan mungkin pintu yang pernah kubiarkan terbuka itu, sudah kamu kunci rapat—untuk selamanya.
📎
Aku pernah ingin datang ke rumahmu. Hanya untuk mengatakan maaf. Tapi kaki ini terlalu pengecut untuk melangkah. Aku takut melihatmu bahagia tanpa aku. Takut tahu bahwa dunia tetap indah meski aku bukan lagi bagian darinya.
📎
Kalau suatu hari kamu membaca ini—entah dari catatan yang tak sengaja kamu temukan, atau dari seseorang yang tahu betapa aku mencintaimu diam-diam—aku hanya ingin kamu tahu satu hal:
Segala yang pernah kita rancang, tidak pernah aku buang.
Mungkin tidak akan pernah jadi nyata. Tapi tidak akan pernah kulupakan.
Aku tidak ingin kamu kembali. Tidak sekarang. Tidak nanti. Tapi aku ingin kamu tahu bahwa ada seseorang di luar sana yang pernah menggambar masa depan bersamamu dengan sepenuh hati, dan tak pernah benar-benar menghapusnya, meski masa depan itu tidak lagi mungkin.
Aku berharap kamu bahagia, Aleta.
Bukan karena aku ingin terlihat bijak. Tapi karena kalau kamu bahagia, mungkin separuh jiwaku yang hancur ini bisa ikut tenang.
📎
Di folder itu, aku menulis satu catatan baru hari ini.
“Kalau takdir mengizinkan, kita akan bertemu lagi. Tapi bukan sebagai dua orang yang ingin kembali. Melainkan dua jiwa yang telah pulih, dan saling mengucapkan terima kasih.”
Dan kalau hari itu tak pernah datang, aku akan tetap mencintaimu—dalam kenangan, dalam diam, dan dalam doa yang tak pernah kusebutkan namamu, tapi Tuhan tahu, itu untukmu.