"Bagaimana rasanya memiliki ayah, Bu?" ~Aina
Gadis kecil dengan perangai yang ceria dan selalu menyapa para tetangga itu sekarang tertunduk lemas di bangku sekolahnya. Bukan karena sakitnya kambuh, tetapi sedikit ada rasa iri di hati kecilnya. Aina merindukan sesosok ayah di kehidupannya. Dia tak pernah mengenal siapa ayahnya. Bagaimana digendong dan dimanja oleh ayahnya?
Aina kecil tidak mau bertanya lebih lanjut kepada ibunya. Dia tahu pertanyaan semacam itu akan menyakiti perasaan ibunya. Aina bahkan tahu surat yang ditemukan adalah surat perceraian ayah dan ibunya.
"Aina kok melamun?" tanya sang guru Prasiwati.
"Eh ... ibu guru. Aina tidak melamun kok." Aina menutupi kesedihannya dengan sebuah senyuman.
"Itu antar jemput Aina sudah datang. Ayo cepat naik." Prasiwati menggandeng tangan mungil Aina.
"Aina pulang dulu ya, Bu guru," pamit Aina sembari naik ke mobil yang sudah menjadi antar jemputnya.
Sudah hampir dua tahun Aina senantiasa naik antar jemput dari sekolahnya sejak ibunya bekerja dengan jarak yang jauh. Aina adalah gadis kecil yang mandiri dan tidak pernah sekalipun meminta yang macam-macam.
Rasa rindu yang menyeruak terus hadir di hatinya ketika melihat temannya sedang digendong oleh ayah mereka.
"Bagaimana rasanya digendong ayah, ya? Apa sama dengan ibu?"
Namun gadis itu, tak ingin melihat kesedihan di mata sang ibu. Ia cukup tahu jika ada sesuatu yang membuat ayah dan ibunya berpisah. Ia berpikir jika perpisahan sang ibu karena ayahnya tak menginginkan dirinya yang lahir tak secantik bayi lainnya.
"Tidak apa-apa Aina tidak punya ayah. Asal ada ibu," ujarnya setelah turun dari jemputannya. Aina senang melihat sang ibu dari kejauhan.
*****
"Jadi yang membantu proses kelahiran Aina itu kamu, Mas?" Arimbi terheran-heran karena Alam yang membantu kelahiran Aina.
"Iya. Kok kamu kaget?" Alam mendongakkan kepalanya.
"Pasti kaget dong Mas. Makanya Mas kenal sama Hayu dan Aina," ujar Arimbi sambil mengupas apel.
"Oh, ya Mas. Siapa ayahnya Aina? Mas kenal?" lanjut Arimbi ingin tahu.
"Kenal saja tidak. Waktu Hayu akan melahirkan suaminya masih di luar kota."
"Duh suami macam apa sih itu? Kok tega meninggalkan istrinya yang melahirkan." Arimbi terlihat emosi.
"Sudahlah jangan dibahas lagi, Dek. Hayu akan sedih," tutur Alam menegur.
"Lagi bahas apa?" tanya Hayu yang sedang berjalan menuju mereka.
"Oh tidak membahas apapun kok Hayu," sela Alam yang tak ingin Hayu tahu.
"Membahas tentang kamu," jujur Arimbi dengan cengar-cengir.
Alam melotot ke arah Arimbi.
"Tentang aku?" Hayu dengan keheranannya tak memahami apa yang sedang dibicarakan.
Alam menyenggol lengan Arimbi.
"Apa sih Mas? Aku cuma tanya tentang Aina kok."
"Memangnya kalian ingin tahu tentang Aina?" Hayu memberikan seulas senyum dan duduk di sebelah Arimbi.
Arimbi ingin mengetahuinya tetapi di cegah oleh Alam.
"Aina terlahir dengan penyakit jantung bawaan yang kita kenal dengan Syndrom Hipoplastik Jantung kiri. Selain sakitnya, jemari Aina tak sempurna. Di mana jari tengah dan jari manisnya menyatu." Hayu menerawang jauh, "komplit sekali, bukan?" lanjutnya dengan menatap jalanan di luar jendela.
"Apa Aina sudah di operasi jantungnya?" Giliran Alam yang penasaran.
"Iya ketika usia Aina empat tahun. Aina sudah melakukan pencangkokkan jantung. Meskipun Aina memiliki jantung baru itu tidak akan menjamin hidupnya akan lama. Aina harus minum obat untuk seumur hidupnya," jelas Hayu mengenang masa lalunya.
"Suamimu tahu akan hal ini, Hayu?" Arimbi bertanya lagi.
"Iya tentu saja. Suami dan mertuaku tahu semuanya, tetapi seakan-akan mereka menutup mata dan tak peduli kepada kami." Hayu menghela napas sejenak.
"Aku pikir mereka akan menerima kondisi Aina yang seperti itu, tetapi aku malah dicerai," tawanya yang terdengar sumbang serasa ada kesedihan.
Arimbi menggenggam tangan Hayu memberi kekuatan. Alam melihat ada kesedihan di mata wanita berhati lembut itu.
"Ibu ...." panggil Aina dari kejauhan yang baru datang dari sekolah.
Seperti biasanya Aina sepulang sekolah akan mampir ke kafe tempat Hayu bekerja.
"Iya Nak. Ibu di sini." Hayu menjawab sambil menghampiri Aina di depan pintu masuk.
"Suami dan ayah macam apa ya dia itu sampai tega meninggalkan anak dan istrinya?" Arimbi menggerutu kesal.
"Entahlah Arimbi." Alam menjawab asal dan beranjak menuju Aina.
Arimbi berpikir jika dia tak akan pernah sanggup seperti Hayu yang begitu tegar dan sabar melewati semua cobaan itu. Dia saja sudah mulai putus asa saat ibu mertuanya menyuruhnya bercerai karena selama tujuh tahun pernikahan kehadiran seorang anak tak pernah didapati.
****
Atas ijin Hayu dengan disertai rengekan dari bibir kecil Aina, akhirnya Hayu memberikan ijinkan kepada putri kecilnya untuk ikut Alam ke rumah sakit karena Aina ingin tahu tempat kerja Alam.
"Nanti kalau di ruangan kerja Om Dokter jangan nakal ya, Nak," ujar Hayu memberi peringatan.
"Oke Bu." Mengacungkan jempolnya menanggapi jawaban ibunya.
"Maaf ya Alam. Jadi merepotkan kamu." Hayu merasa sungkan karena sudah meminta Alam menjaga Aina selagi ia sibuk.
"Tidak apa-apa kok," sela Alam yang sudah di gandeng oleh Aina.
"Ayo Aina kita pergi dulu." Alam menyuruh Aina untuk berpamitan kepada Hayu.
Setelah mereka sampai di rumah sakit Medical Center tak hentinya Aina berdecak heran melihat rumah sakit yang sangat besar dan megah ini.
"Om Dokter kerja di sini?" Aina menatap sekelilingnya.
"Iya Om Dokter kerja di sini."
"Wah hebatnya, ya Om Dokter." Dasar Aina meskipun tampak dewasa di depan ibunya tetap saja dia layaknya anak -anaknya.
Alam mengacak rambut Aina karena gemas.
"Om Dokter di rumah sakit ini ada permainannya juga, ya?"
Selain rumah sakit umum yang terbesar di kota ini, rumah sakit ini juga menyediakan tempat bermain khusus anak-anak.
"Aina boleh main, Om Dokter?" tanyanya antusias.
"Boleh kok. Hati-hati, ya," kata Alam yang disambut gembira Aina.
Aina yang dasarnya memang anak-anak pasti merasa senang jika ada permainan. Alam hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.
"Anakmu, Dokter Alam?" tanya seorang pria dari arah belakang.
"Bukan Dok. Dia anak kenalan saya," jawabnya sambil tak henti melihat Aina yang bermain ayunan.
"Anaknya cantik ya?"
"Hmm ..." Hanya gumaman saja.
"Oh, ya bagaimana operasinya hari, Dok? Berjalan lancar?" tanya Alam kepada rekan seprofesinya.
"Semua berjalan lancar, Dokter Alam," sahutnya bangga.
Alam menatap sang kawan dari samping.
"Ada apa Dokter Alam?" tanyanya seakan tahu jika dilihat.
"Tidak apa-apa Dok. Maaf saya tinggal dulu, Dok," pamit Alam kepada kawannya untuk menghampiri Aina.
Sang kawan menatap punggung Dokter Alam.
"Oh, ya Dok. Katanya Arimbi bercerita kepadaku jika kau akan menceraikannya? Apa benar?" tanya Alam sambil menengok ke belakang.
Sang kawan tak dapat berkata apapun dan hanya menjawab dengan senyuman misterinya.
Pria yang berprofesi sebagai dokter itu melihat keakraban antara Alam dan Aina. Ada perasaan iri dan cemburu menguasai hatinya. Seandainya dia memiliki seorang anak dari istrinya.