Part 7 Batas Kesabaran

1292 Words
"Ada kalanya aku merasa lelah." ~Hayu Hari ini Alam mengajak si kecil Aina ke ruang prakteknya di rumah sakit. Awalnya Hayu tak mengijinkan. Tapi akhirnya Hayu memberikan ijinnya asal Aina pulang tidak terlalu malam. Ah ... biarkan aku menghabiskan waktu bersama Aina. Mumpung jadwal praktekku kosong. "Om Dokter, ini namanya Snelly, ya?" Aina menanyakan jas dokter yang tergantung di tempatnya. "Iya. Aina kok tahu?" Alam memberinya tempat duduk. "Aina suka baca buku tentang kedokteran. Ternyata banyak, ya om nama-nama dokter itu?" cerocosnya tanpa henti yang membuat Alam ingin tertawa. "Tentu saja Aina. Berbagai macam profesi dokter itu," jelas Alam sambil memberinya biskuit. "Dokter mata, Dokter gigi, Dokter jantung dan Dokter anak seperti Om Dokter, kan?" katanya dengan mengunyah biskuit yang Alam berikan. Alam menggangguk dan tersenyum menanggapi celotehannya. "Alam, aku ingin---." Tanpa mengetuk pintu dokter yang menyebalkan menurut Alam ini datang. Mengganggu saja. "Oh ... maaf. Aku pikir tamu kecilmu sudah pulang," sahutnya langsung masuk tanpa ijin dari Alam. "Apa yang ingin kau bicarakan? Apakah sangat penting?"cerca Alam sambil berdiri. Aina terlalu asyik melihat kerangka tubuh. Alam memanggil asistennya di luar agar membawa Aina bermain sebentar sementara dia berbicara dengan dokter yang mengesalkan. "Aina main sama Suster Rani dulu, ya. Om Dokter mau bicara sama teman." "Oke Om Dokter." Gadis kecil ini memang mengalihkan dunianya. Setelah Aina dan asistennya berlalu dari ruangan. Alam menutup pintu. "Jadi apa yang ingin kau bicarakan, Dokter Bayu?" Alam kembali duduk dan menyilakan dia berbicara. "Kau ternyata akrab dengan anak kecil itu," alih Bayu memutar kalimat dulu. "Jangan mengalihkan pembicaraan, Bayu." Alam tak memanggilnya dengan embel-embel dokter lagi jika mereka sedang berdua. "Ibu ingin aku menceraikan Arimbi. Bagaimana menurutmu?" tanyanya tanpa perasaan. "Kok jadi kamu yang bertanya sama aku? Aku bukan suaminya Arimbi." Oke Alam kau harus tenang. Jangan marah. "Iya aku tahu. Bagaimana jika kamu di posisiku?" Bayu balik bertanya. "Tentu saja aku tidak akan menceraikan istriku hanya karena perkataan dari ibuku," ketus Alam tak suka. "Tapi ibuku menginginkan seorang cucu. Kami tidak bisa memberikannya," dalihnya seakan tak terima. "Kalian bisa mengadopsi anak, bukan?" saran Alam. "Ibuku tidak mau. Beliau hanya ingin cucu kandung," selanya menatap Alam. "Jadi kau akan menurut kepada ibumu? Kau akan menceraikan Arimbi hanya karena adikku tak bisa memberimu anak? Dan ibumu akan menyuruhmu menikah lagi?" cerca Alam tanpa henti. "Untuk itulah aku mencarimu, Alam. Aku butuh saranmu," ujarnya melunak. "Jika aku jadi kau, Bayu. Aku tidak akan pernah menceraikan istri yang aku cintai hanya karena ia tak bisa memberikan seorang anak?" Alam melihat Bayu yang terlihat lesu. "Apa kau mencintai adik sepupuku, Bayu?" Alam menancapkan pertanyaan yang membuatnya gusar. "Jika aku tidak mencintainya untuk apa aku menikahinya?" "Kau salah, Bayu. Kau tidak mencintai Arimbi. Kau hanya menuruti semua pernikahan yang diatur oleh ibumu sendiri. Aku tahu kau masih mencintai mantan istrimu itu yang tidak tahu di mana keberadaannya sekarang." Alam menjatuhkan telak di hadapannya. "Aku tahu dia di mana sekarang." Bayu memberi jawabannya. "Maksudmu mantan istri yang kau tinggalkan?" Alam ingin sekali meninju wajahnya. Bayu mengangguk lesu. "Jangan sampai kau menyakiti adik sepupuku hanya karena kau ingin kembali ke mantan istrimu itu. Jika itu terjadi maka kau akan berhadapan denganku," ancam Alam dan mempersilahkan Bayu keluar dari ruangannya. "Tapi itu tidak akan terjadi. Ibuku tidak pernah menyukai mantan istriku," kata Bayu menunduk dan beranjak pergi dari hadapanku. Bayu Bagas adalah teman ketika Alam berada di bangku SMA di Semarang sebelum Bayu pindah ke Surabaya. Mereka tidak menyangka jika bertemu lagi saat Arimbi memperkenalkan calon suaminya kepada Alam. "Suster Rani, di mana Aina?" Alam bertanya karena di tempat bermain Aina tidak ada. "Aina ada di ruang tunggu, Dok. Katanya mau nonton film kesukaannya." Alam segera melangkahkan kaki menuju ruang tunggu yang tak jauh dari tempatnya. "Aina, maafkan Om Dokter---." Alam tak sadar jika dia terlalu lama meninggalkannya. Aina tertidur di sofa empuk masih dengan memegang artikel mengenai dunia kedokteran. "Tidurlah sayang. Om Dokter akan mengantarkanmu pulang." Alam menggendongnya dan membawanya pulang. Alam tak peduli jika banyak pasien di rumah sakit ini melihatnya. Biarlah mereka dengan pikirannya masing-masing. *** Hari ini Hayu pulang tidak terlalu malam. Arimbi mengijinkannya untuk pulang lebih awal mengingat kepalanya terasa pening. Aina masih dalam perjalanan karena dia merengek minta di ajak ke rumah sakit tempat Alam bekerja. Hayu pikir yang datang adalah putri kecilnya saat terdengar bunyi klakson tapi Hayu tak menyangka kehadiran pria yang menghampirinya membuat terkejut. "Mas ...." Hayu masih terperangah melihat seseorang menemukan rumahnya. "Mas, kok tahu rumah Hayu di sini?" ujar Hayu penuh kejut. "Iya Mas mencari rumahmu dari Rinjani," jawabnya pendek. Dasar Rinjani. "Masuk Mas." Hayu mempersilakan masuk sang tamu, "Mas mau minum apa?" tawar Hayu. "Tidak usah. Di mana Aina?" tanya Prasetyo melihat keadaan rumahnya. "Dia bersama temanku," jawab Hayu pendek. "Oh, ya bagaimana kabar Mbakyu?" Hayu menanyakan kabar kakak iparnya yang tega mengusir dirinya. "Baik-baik saja." Pras terdiam sejenak. "Hayu ..." "Iya Mas. Ada apa?" Hayu menyeruput teh hangatnya. "Kamu simpan di mana perhiasan milik ibu?" Sudah kuduga kedatangan Mas Pras ada maksud. "Hayu menyimpannya di Bank," sahut Hayu tak peduli lagi dengan ocehannya. "Bisakah kau mengambilnya?" desak Pras tak sabar. "Maksudnya apa Mas?" celetuk Hayu agak kesal. "Mbakyu Sekar membutuhkannya untuk masuk sekolah SMA Saras," ucapnya tanpa melihat perasaan Hayu sedikitpun seakan tega. "Mas, kemana uang hasil penjualan rumah ayah dan ibu waktu itu?" Hayu mulai marah. "Dipinjam oleh adiknya Mbakyu Sekar." "Seharusnya Mas tak memberinya pinjaman. Uang itu harusnya untuk Saras." Kembali Hayu memarahi kakaknya yang terlihat bodoh jika berurusan dengan istrinya. "Maaf Mas. Aku tidak bisa memberikan perhiasan milik ibu kepada Mas dan Mbakyu. Itu untuk masa depan Aina," ketus Hayu tak mau memandang wajah Prasetyo. "Tapi Hayu? Pendidikan Saras juga penting," sanggahnya tak mau kalah. "Penting untuk Saras atau untuk Mbakyu Sekar yang berfoya- foya?" balas Hayu tak mau kalah. "Kok kamu begitu, Hayu? Ini untuk keponakanmu." "Mas, dulu Mas juga berkata seperti itu waktu Saras masuk SMP Favorit tapi nyatanya uang hasil penjualan mobil ibu untuk arisannya Mbakyu Sekar. Tahun lalu waktu Saras mau ujian sekolah saja mas rela menjual sawah milik ayah tapi lagi - lagi untuk Mbakyu pergi tamasya bersama teman arisannya. Dua bulan lalu Mas rela mengusir Hayu dari rumah warisan hanya karena Hayu meminjam uang dari ayahnya Mbakyu Sekar. Sekarang Mas mau meminta perhiasan milik ibu yang di wariskan untuk Hayu? Untuk apa lagi, Mas?" Hayu menangis melihat nasibnya yang sial. Prasetyo bungkam seribu bahasa. "Sudah cukup Mas. Hayu lelah dengan ini semuanya." Hayu menenggelamkan tangisnya di telapak tangan. "Jadi kamu tidak akan meminjamkannya untuk Mas?" Pras memaksa. Hayu menatapnya tajam. "Mas, sekalipun Mas berlutut di hadapan Hayu. Tidak pernah sekalipun Hayu akan memberikan perhiasan milik ibu jatuh ke tangan mas. Karena ibu tahu jika Mas mudah sekali termakan perkataan Mbakyu Sekar. Sejak dulu ayah dan ibu tidak pernah menyukai istri Mas. Mbakyu itu munafik." Hayu memakinya kasar. "Tutup mulutmu, Hayu. Sekar tidak seperti itu." Marahnya dengan hampir menampar wajah Hayu. "Paman jahat!" Hayu tidak tahu jika Aina sudah ada di depan pintu. "Aina benci Paman dan Bibi. Paman pergi sana," usir Aina sambil menangis dengan mendorong tubuh Pras. "Paman pergi. Jangan bertemu sama ibu lagi," teriaknya kencang. "Aina sudah cukup, Sayang." Hayu melihat Alam menenangkan Aina yang sudah mulai sesak. "Hayu cepat ambil obatnya Aina." Terdengar suara panik Alam memanggilku selagi Hayu mengusir Pras. Hayu berlari masuk kedalam rumah dan seperti orang gila mencari alat bantu pernapasan milik Aina. "Om, usir Paman itu. Aina tak mau melihatnya." Dengan suara parau Aina masih sempat berbicara. Aina sudah tenang di pangkuan Alam ketika Hayu memberikan alat inhaelernya. Pras masih terdiam di luar pagar. Tak mau pergi meskipun telah diusir. "Biar aku yang melakukannya. Kamu bawa Aina ke kamar." Alam menyuruh Hayu membawa Aina ke dalam. Hayu tak tahu apa yang dibicarakan oleh Alam dan Pras. Akhirnya mobil yang membawa Pras berlalu dari depan rumahya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD