Part 8 Egois

1030 Words
"Bolehkah aku egois kali ini, Tuhan?"~Hayu. "Kamu tidak apa- apa, Hayu?" Alam berusaha menenangkan Hayu yang masih terlihat emosi sejak kedatangan kakaknya. "Iya aku tidak apa-apa." Hayu menjawabnya dengan enggan. "Mau aku buatkan teh hangat?" tawar Alam yang akan berdiri tetapi dicegah oleh Hayu. "Tidak usah. Aku baik-baik saja, Alam," kata Hayu dengan senyum yang dipaksakan. "Kamu tidak usah berpura-pura Hayu. Aku tahu kau tidak mampu menanggung ini sendirian." Alam kembali duduk dan menatap mata Hayu yang menunduk. "Apa yang tidak pernah aku berikan untuk kakakku? Semuanya sudah aku lakukan untuk kepentingannya sendiri. Bahkan saat Mas Pras ingin kuliah di Malaysia pun aku mengalah. Aku tahu saat itu finansial ayah dan ibu sudah tidak memungkinkan. Aku bahkan turut bekerja agar Mas Pras bisa menyelesaikan kuliahnya. Dan apa sekarang balasannya, Alam? Dia ingin mengambil juga harta satu-satunya peninggalan ibu yang di wariskan untukku," isak Hayu dalam pelukan Alam. Alam diam mendengar keluh kesah Hayu dan membiarkan Hayu larut dalam kesedihannya. "Aku lelah, Alam. Warisan itu satu-satunya peninggalan ibu yang akan aku gunakan untuk masa depan Aina." "Apa yang telah kau lakukan sudah benar, Hayu. Itu sudah menjadi hakmu sekarang. Mas Prasmu tak bisa mengambilnya." Alam memberi keyakinan kepada Hayu melalui tatapannya. Alam memberikan waktu kepada Hayu untuk meluapkan kesedihannya. Cukup lama mereka saling terdiam. "Bolehkah aku egois hanya untuk kali ini, Alam?" Hayu menatap tajam mata Alam. "Hmm..." Hanya gumaman kecil dari Alam sebelum Hayu menutup matanya karena lelah. "Tidurlah Hayu. Tidurlah yang nyenyak. Lupakan dulu masalahmu sejenak." Alam membaringkan tubuh Hayu di sofa depan dan menyelimutinya. Sebelum pergi Alam menyempatkan diri melihat Aina di kamarnya. Gadis kecil itu sudah terlelap dalam tidurnya. Tersenyum sendiri melihat Aina yang mengigau. *** Samar-samar Hayu mencium bau wangi masakan dari arah dapur.  Di meja makan dia melihat ada nasi goreng lengkap dengan ayam dan sosisnya serta dua gelas kopi hitam. Minuman kesukaannya di pagi hari. "Siapa yang memasak?" katanya dengan suara kecil. Ibu, Aina dan om dokter berangkat duluan ya. Hayu, makanlah sebelum berangkat kerja. Aku akan mengantarkan Aina ke sekolahnya. Hayu membaca memo yang tertempel di lemari pendingin. Itu tulisan Aina dan Alam. Sebegitu nyenyakkah dia hingga tak mendengar Alam masuk ke rumah untuk memasak? Hayu segera menarik kursi dan mencoba masakan ini. Entahlah siapa yang masak? Tidak mungkin Alam yang memasak. Hayu terkekeh sendiri menyadari jika selama ini hanya Bi Sum yang bisa memasak. "Enak ...." Hayu berkata sendiri sambil mengunyah. Mengingat kejadian semalam kembali membuatnya naik pitam. Begitu teganya kakak yang seharusnya melindungi adiknya malah ingin menghancurkannya. Apa salahku? Bukankah aku juga punya hak untuk memilih dan mengemukan pendapatku? tanya Hayu pada diri sendiri. Biarlah dia egois untuk kali ini saja. Dia tidak mau mengalah lagi kepada kakaknya maupun istrinya. Sudah cukup pengorbanannya selaama ini untuk keluarga sang kakak. Ya aku harus kuat dan tangguh menjadi seorang wanita. Aku tidak mau menjadi wanita lemah. *** "Ibu ..." panggil Aina sepulang sekolah. Yang dipanggil tidak dengar sibuk dengan menghitung jumlah pendapatan di kafe tersebut. "Ibu sibuk, ya?" tanyanya berdiri di samping Hayu. "Hmm...." Hanya sahutan kecil dari Hayu. "Ya sudah jika ibu sibuk. Aina mau mencari Om Dokter saja." Aina beringsut dari tempat berdirinya dan hendak menuju pintu keluar. Hayu menghentikan sejenak kesibukannya untuk mendengarkan apa yang hendak dipinta oleh anaknya. "Aina untuk apa mencari Om Dokter?" Hayu menghampiri Aina yang hampir keluar dari pintu. Untung ini jam istirahat jika pengunjung datang pasti mereka akan melihat Aina yang hampir menangis. "Kenapa Aina menangis? Ibu salah, ya?" Hayu menggandeng Aina ke tempat duduk dan bertanya dengan lembut. "Ini apa, Nak?" Aina menyerahkan sebuah surat dari sekolahnya. "Di sekolah Aina ada peringatan hari ayah. Aina 'kan tidak mempunyai ayah, Bu. Jadi Aina mau mengajak Om Dokter untuk ke acara sekolah itu." Aina memandang ibunya meminta jawaban. "Tapi Om Dokter sibuk, Sayang. Om Dokter tidak bisa datang. Bagaimana jika Paman yang datang ke acara itu," rayu Hayu yang membuat Aina cemberut. "Loh kenapa? Aina tidak suka dengan Paman Pras? Bukannya tiap tahun---." Hayu tak meneruskan perkataannya melihat Aina memalingkan wajahnya. "Aina jika ibu berbicara denganmu. Tatap mata ibu bukan memalingkan wajahmu." Hayu memegang wajah Aina. Aina masih cemberut dan menunduk ke bawah. "Aina...." bentak Hayu yang mulai kesal. Aina terkejut karena Hayu membentaknya. "Tiap tahun saat peringatan ayah di sekolah Aina. Paman tidak pernah datang. Paman datang hanya untuk melihat Rudi bukannya Aina," isak Aina menahan tangisnya. Hayu tercengang. Selama ini dia tidak tahu jika kakaknya begitu tega tidak datang ke setiap acara peringatan hari ayah untuk Aina. "Aina tidak ingin ibu bertengkar dengan Paman hanya karena Aina. Apa ibu tahu jika Aina iri dengan teman-teman yang lain yang memiliki ayah? Mengapa Aina tidak memiliki ayah, Bu?" Hayu mendekap tubuh kecil putrinya. Tangisan Aina yang bergetar membuat Hayu semakin mempererat pelukannya. "Mulai tahun ini sampai seterusnya biar Om Dokter yang datang ke acara itu, ya." Tiba-tiba saja Alam sudah berdiri di depan mereka. Aina melihat Alam dengan air mata yang masih mengalir di tulang pipinya. "Anak cantik tidak boleh menangis. Nanti cantiknya hilang," goda Alam yang menghapus air mata Aina. "Benarkah Om Dokter? Om Dokter besok mau ke acaranya Aina?" Aina bertanya dengan antusias. "Tentu saja. Besok jam berapa?" Alam mengambil surat pengumuman itu dari tangan Hayu dan membacanya, "hmm ... baiklah Om Dokter pasti datang," sahut Alam dengan semangat. "Janji ya Om Dokter?" Mengaitkan jari kelikingnya. "Iya Om Dokter janji." "Hore... Besok Aina ada temannya," teriaknya senang sambil berlari menuju dapur memberitahu Pak Irwan sang koki yang akrab dengannya. "Jangan janji jika kamu tidak bisa menepatinya, Alam." Hayu tak yakin dengan perkataan Alam. "Mengapa kamu tidak percaya?" sanggah Alam yang kini duduk di sebelah Hayu. "Bukannya seperti itu tapi---." "Tenanglah Hayu. Aku pasti datang. Aku tidak akan membuat kecewa Aina." "Ya baiklah jika kamu menginginkannya tapi jika kamu sibuk. Katakanlah kepadaku, ya." Alam tak menyahut. Alam sibuk dengan ponselnya tak tahu mengirim pesan kepada siapa. Ketika pesan yang dia terima dari ponselnya Alam sangat bergembira dan tersenyum sendiri. "Ada apa?" tanya Hayu heran melihat Alam yang tersenyum tanpa sebab. "Tidak apa-apa. Pokoknya siapkan Aina dengan pakaian yang bagus besok. Ok?" Tanpa menunggu jawaban dari Hayu, Alam beranjak dan pergi begitu saja. "Dasar aneh," gumam Hayu memandang kepergian Alam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD