Fina tertegun melihat suaminya Alfa bertelanjang d**a, di tambah naik taxi online pula.
"Kamu kenapa enggak pake baju, Sayang?" Tanya Fina, sambil melihat ke area dalam mobil yang tidak ada siapa-siapa selain Alfa dan supir.
"Sepertinya dia sedang demam," ucap sang Supir, mengeluarkan kepalanya dan menoleh ke arah Fina.
"Oya ...."
Fina lantas memanggil para satpam untuk membantunya membantu Alfa berjalan.
Fina dan Alfa adalah pasangan suami Istri muda, yang menikah atas kesepakatan kedua orang tua. Bukan hanya keduanya yang menikah, kedua perusahaan milik orangtunya pun ikut menyatu dengan pernikahan itu sehingga berhasil menjadi perusahaan terbaik. Namun, di balik pernikahan yang serba di atur oleh orang tua, ada hati Alfa yang terluka. Di usianya yang baru 25 tahun, di haruskan punya keturunan seorang laki-laki. Padahal keduanya baru menikah sekitar 2 tahunan.
selama 2 tahun pernikahan Fina sudah melakukan berbagai macam program kehamilan, dari mulai yang alami, inseminasi juga bayi tabung. Semuanya ia lakukan demi tuntutan dari orang tua juga mertuanya, supaya dirinya segera hamil tetapi hasilnya nihil. Dengan obsesinya yang menginginkan keturunan, Fina mempunyai ide gila yaitu berencana untuk mencari rahim sewaan. Yang mana Fina akan membayar wanita yang mau menyewakan rahimnya itu senilai satu milyar jika berhasil.
kring ...
Ponsel milik Laras berdering yang tergelatak di atas meja, kemudian ia mengambil benda pipih itu dan menatap layar ponsel.
'Ngapain satpam yang ada di depan nelfon saya, ya?' Batin Laras.
"Ya Hallo ada apa, Pak?" tanya Bu Laras.
"Ini Bu, ada seoarang gadis pengen ketemu sama Ibu."
"Ya siapa, namanya?"
"Namanya Senja, dia bilang kalau dia itu anaknya Ibu."
deg ...
Seketika Laras kembali mengingat masa lalunya, ia sangat familiar dengan nama Senja. Ya karena Senja itu adalah sebuah nama yang ia berikan kepada anaknya di kampung. Laras meninggalkan Senja karena ingin keluar dari zona kemiskinan, ia pergi ke luar negri menjadi TKW kemudian menikah dengan seorang duda kaya asal Indonesia. Walaupun ia harus menerima 2 anak laki-laki yang di bawa oleh suami barunya, Laras tetap bahagia karena tidak pernah kekurangan harta dan kalau sayang. Namun, ada kesalahan yang telah Laras buat yaitu mengaku dirinya masih gadis kepada suaminya.
Beberapa menit kemudian, Laras pergi menuju pos satpam dengan mengendarai mobil. Ia pergi tanpa sepengetahuan anak sambung, menantu ataupun suaminya. Ia ingin memastikan dulu bahwa itu benar-benar Senja anaknya. Butuh melewati beberapa rumah, untuk sampai di pos satpam.
Cekit ...
Laras menghentikan mobil tepat di samping pos satpam, Ia memberikan kode kepada para satpam untuk membawa Senja ke dalam mobilnya.
"Tuh, Bu Laras sudah datang!" Salah seoarang satpam menunjuk ke arah mobil sedan berwarna hitam.
Senja tersenyum, melihat mobil mewah yang menjemputnya. Kemudian ia masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Laras yang sedang memegang setir. Hujan deras masih belum reda sehingga baju Senja sedikit basah.
"Waw ... ternyata Ibu benar-benar cantik sesuai ucapan dari Ayah." Puji Senja.
Laras menyeringai, kemudian menatap Senja. "Apa buktinya kalau kamu itu adalah anak saya?"
Senja mengambil tas kecilnya dan memberikan foto keluarga, di situ ada Ayahnya dan Laras sedang menimang Senja yang masih berusia satu bulan. Laras tersenyum saat melihat foto itu, terlihat bahagia beberapa detik saja, setelah itu wajahnya kembali terlihat tidak senang.
"Saya mau lihat bahu kanan kamu!" pinta Laras.
"Untuk apa?"
"Sudah buka saja bajunya!" Suara Laras semakin meninggi.
Senja lantas membuka kancing kemejanya, dan menampakan bahu kanan. Laras menatap bahu kanannya dan ternyata memang benar, bahwa Senja yang ada di hadapannya itu adakah anaknya, ia melihat tanda lahir yang masih jelas terlihat berupa titik hitam di area itu.
Hufs ...
Laras menghela napas panjang kemudian menjalankan mobilnya menuju rumah mewah yang sudah bertahun-tahun ia tempati.
Beberapa Jam kemudian ...
Senja masuk ke dalam sebuah paviliun yang sudah lama tidak terpakai, tempat lumayan besar tetapi masih harus di bersihkan terlebih dahulu jika Harau di gunakan. Baik sofa dan ranjang masih tertutup kain putih dan berdebu tebal. Tempatnya cukup mewah bagi seorang gadis yang bertahun-tahun tinggal di gubuk berdindingkan bilik bambu. Namun, kemewahan itu tidak membuat Senja bahagia. Bukan kemewahan yang ia inginkan, Senja hanya ingin kasih sayang dari Ibunya saja.
Senja kembali mengingat di mana ia tidak si bawa ke dalam rumah utama, Laras membawa senja ke paviliun yang ada di belakang rumah, sambil marah-marah.
"kebetulan saya sedang membutuhkan asisten rumah tangga yang baru, maka dari itu saya mengizinkan kamu untuk tinggal di rumah ini. Kamu harus tinggal di paviliun ini dan tidak boleh mendekat ke rumah utama, tugas kamu hanya merawat taman bunga yang ada paviliun ini saja." Tegas Laras.
"kenapa Ibu sepertinya tidak suka kalau aku datang ke sini?" tanya Senja.
"Melihat kamu, mengingatkan saya atas kesengsaraan yang telah Ayah kamu berikan kepada saya. Setiap hari Ayah kamu selalu berjanji akan membahagiakan saya, tetapi tidak pernah ada hasilnya." Teriak Laras. "Kamu tidak usah memberikan banyak pertanyaan kepada saya, kalau kamu memang mau punya tempat tinggal ya ikuti semua yang saya inginkan. Jika ada orang yang bertanya siapa kamu, kamu tinggal jawab aja. Bahwa kamu adalah asisten baru di rumah ini, harus kamu ketahui bahwa tidak ada satupun orang pun yang tahu, kalau saya mempunyai anak."
Setelah berbicara panjang lebar Laras pergi meninggalkan Senja di dalam paviliun sendirian, dengan membanting pintu sangat keras hingga tubuh Senja terperanjat.
Seketika Senja tersadar bahwa dirinya tidak diinginkan.
Bulir-bulir bening air mata terus berjatuhan di pipi Senja, berharap ia disambut dengan hangat. Namun, kenyataannya sangat menyakitkan. Senja menjatuhkan tubuhnya di lantai dan menangis sejadi-jadinya sambil menepuk-nepuk dadanya perlahan.
'Ayah, ternyata Ibu tidak menginginkan aku. Apa Aku boleh menyusul Ayah?' Batin Senja sambil menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai.
Duar ...
Suara petir saling menyambar terdengar hingga ke kamar Alfa, seolah mengetahui bahwa ada seorang anak yatim yang sedang bersedih, langit pun terus menurunkan hujan mengiringi tangisan Senja yang menyayat hati.
Mendengar suara petir yang begitu keras, Alfa terperanjat dan terbangun dari tidurnya, kemudian ia mengedarkan pandangannya ke area kamar. Pria tampan itu pun melihat Fina yang tidur pulas di sampingnya. Merasa tubuhnya kini sudah tidak demam, Alfa menyibakkan selimut dan turun dari ranjang. Ia berjalan menuju ke arah jendela dan menatap ke arah paviliun yang kini ada cahayanya.
'Sepertinya ada orang di paviliun, siapa ya?'
Alfa mengambil teropong canggih miliknya yang berada di dalam lemari, iya sangat penasaran karena sudah bertahun-tahun paviliun itu kosong. Alfa menempelkan teropong di matanya, sontak Alfa terkejut melihat ada seorang wanita yang sedang memegang pecahan kaca sambil menatap pergelangan tangannya.