HUBUNGAN INI BERAKHIR

2320 Words
"Sephia, ada sesuatu yang belum kamu ketahui," ujar Khairi saat kami menuju rumahnya. "Tentang apa?" "Uang yang kamu pinjam dari Umay, sudah aku bayar lunas. Kamu tak perlu menggantinya." "Dari mana kamu mendapatkan uang sebanyak itu?" tanyaku penasaran. "Ah, itu tidak penting. Sekarang kamu tak perlu takut lagi dengannya. Jika dia masih berani macam-macam, panggil aku saja!" "Aku akan mengembalikan uangmu, Khairil." "Tidak apa-apa, Sephia. Aku ikhlas membantumu." "Khairil, tolong jangan begitu. Kamu sudah banyak membantuku. Aku tidak mau memanfaatkan kebaikanmu. Begini saja, kalau aku sudah mendapatkan uang fee dari agensy majalah, separuh dari uang itu akan aku berika untuk menggantikan uangmu. Bagaimana?" "Hmmm ... baiklah!" Ketika kami sampai, Kairil mengeluarkan kunci rumahnya. Dia menawariku singgah dan akan mengantarku pulang setelah hujan reda. Baju kami telah basah kuyup karena siraman air hujan. "Aku mau mandi dulu dan salat Magrib di musala. Kamu bisa istirahat sebentar sambil menunggu bajumu kering. Setelah itu, aku akan mengantarmu pulang." Dia membuka pintu dan aku mengikutinya di belakang. Suara percikan air terdengar dari kamar mandi. Kemudian, berhenti. Aku sedang menunggu air panas dan hendak membuat teh. Saat pintu kamar mandi terbuka, Khairil keluar tergesa-gesa. Dengan kain handuk terbalut di bagian pusar hingga lutut, semakin jelas memperlihatkan tubuh atletis pria tersebut. Memiliki tinggi badan 180 cm, menambah penampilannya terlihat semakin memesona. Aku tersenyum sendiri membayangkan keindahan bentuk tubuh lelaki itu. Selama kurang lebih satu jam, Khairil pergi ke musala. Bel pintu berbunyi. Aku pikir Khairil pulang. Namun, saat kubuka, tampak Dokter Della sedang berdiri di depan pintu dengan kedua tangan membawa sesuatu, sepertinya kotak berisi makanan. Dia sangat terkejut melihatku. "Kamu di sini lagi?" Tatapan dokter itu tak berubah, risih setiap bertemu denganku. "Iya, Khairil mengundangku ke sini. Boleh aku tahu, apa yang Anda bawa, Dokter Della?" Aku beralih pada kotak ada di tangannya. "Hari ini aku sengaja membuat pai apel khusus untuk Khairil," akunya penuh percaya diri. Tanpa menunggu dipersilakan, dia langsung menerobos masuk ke dalam dan menuju dapur. Lalu, meletakkan kotak berisi pai apel buatannya di atas meja makan. "Aku tidak mengerti bagaimana ada seorang wanita tanpa punya rasa malu selalu berkunjung ke rumah lelaki yang bukan siapa-siapanya. Bukan mahramnya," sindir Dokter Della seraya menoleh ke arahku. "Dokter Della, bukankah aku sudah mengatakan aku ke sini karena diundang Khairil?" "Dengar, ya, Nona Sephia! Kamu tidak perlu bersikap sok polos dan memanfaatkan kepolosanmu untuk mendapatkan perhatian dari Khairil," cercanya membuatku naik pitam. "Lalu, apa kamu sendiri sudah bercermin atas sikapmu yang sengaja membawa makanan untuknya? Untuk apa? Agar kamu bisa mendapat perhatian dari Khairil juga. Iya, kan?" cecarku tak mau kalah dengannya. Dokter Della tampak sangat marah. Tanpa pamit, dia keluar rumah. Tak lama setelah kepergiannya, Khairil datang, saat melihatku duduk di kursi ruang makan, dia mengucapkan salam dan menghampiriku. Netranya menatap heran pada kotak berisi makanan yang sengaja ditinggalkan oleh Dokter Della. Refleks, diia mengambil sendok, kemudian hendak mencicipi makanan tersebut. "Apa Dokter itu sering membawakan makanan spesial untukmu?" tanyaku penuh selidik. Sendok yang telah dipenuh pai hampir masuk ke dalam mulutnya. Namun, ketika mendengar nada ucapanku penuh interogasi di akhiri dengan menyebut nama Della, membuat Khairil tak nafsu mencicipi makanan itu. Dia meletakkan kembali sendok di atas kotak makanan, raut wajah yang tadinya ceria berubah datar seketika. "Aku antarkan kamu pulang sekarang," ujarnya sambil meraih jaket dan kunci mobil di atas nakas. "Apa kamu tidak mau makan malam dulu?" tanyaku sedikit sungkan. ''Nanti saja," jawabnya singkat. Sewaktu kami keluar rumah dan menuju mobil Khairil, kami berpapasan dengan wanita paruh baya. Wanita itu tampak terkejut melihat kami sedang berjalan berdua. Kupastikan dia lebih terkejut setelah melihat aku keluar dari rumah Khairil pada malam hari seperti saat ini. "Hai, kamu pasti Sephia, ya? Ternyata benar, kamu gadis yang cantik, masih muda, dan sangat menarik. Ustadz Khairil sangat beruntung mendapatkan gadis sepertimu ...," pujinya seolah-olah sudah mengenalku.  Sebelum wanita itu meneruskan kalimatnya, Khairil menyela ucapannya. "Sephia ... kenalkan, ini Bu Merry, mamanya Dokter Della." "Hello, senang bertemu dengan Anda," sapaku dan mencoba bersikap ramah. Sebenarnya agak sungkan berhadapan dengan Bu Merry. Entah kenapa aku merasakan sesuatu yang aneh melalui sikapnya dan jelas sangat menurur penilaianku, sikap Bu Merry sangat bertentangan dengan putrinya. Dokter Della terlihat ketus, sedangkan ibunya lebih cerewet dan bawel. Dari gelagatnya bisa dipastikan, Bu Merry tipe orang yang suka bergosip ria di kawasan perumahan ini. "Ustadz Khairil, kami semua mendengar kabar tentang kalian berdua. Kami ingin tahu juga, kira-kira, kapan kalian akan segera tunangan?" selidik Bu Merry persis seperti presenter akun gosip acara di TV. Mendapat pertanyaan seperti itu, Kairil tampak begitu gugup sekali. Lalu, dia segera mengklarifikasi. "Bu Merry, maaf apa yang Anda lihat tidak seperti yang Anda pikirkan." "Ah, Ustadz Khairil ... kenapa tidak? Kami menganggap hal itu wajar-wajar saja. Sudah lama kami semua tahu, Anda hidup sendiri dan tidak ada salahnya menjalin hubungan dengan seorang gadis." Ucapan Bu Merry membuat aku dan Khairil salah tingkah dan merasa tak nyaman. "Tapi ... kami sedang tidak menjalin hubungan apa-apa, Bu Merry!" Kali ini ucapan Khairil membuatku ragu. "Oh, sayang sekali! Padahal kalian tampak serasi. Benarkan, Sephia? Kamu tahu ... Ustadz Khairil pria yang baik. Dia sangat rajin ibadahnya. Sering pergi ke masjid, tentunya dia akan menjadi calon suami yang baik dan tentu saja menjadi sosok ayah yang hebat untuk anak-anak kalian. Tapi ... tak apa, pelan-pelan saja. Saya turut mendoakan semoga hubungan kalian serius sampai ke pelaminan. Oh, ya, saya pamit dulu. Selamat menikmati hari yang menyenangkan!" Wanita itu berlalu meninggalkan kalimat yang menohok. Aku menatap Khairil. Tanpa kupungkiri, gosip tentang kedekatan kami sangat cepat menyebar di kawasan ini. "Bagaimana ini, Khairil?" tanyaku bingung. Orang yang ditanya pun tampak  bengong. "Apanya yang bagaimana?" "Gosip tentang kita?" celetukku gemas melihat sikapnya. "Jangan khawatir ... aku akan menjelaskan pada warga di sini." "Apa semua orang akan percaya denganmu? Jujur, aku tidak mengerti dengan sikapmu, Khairil. "Sikapku bagaimana?" "Waktu kamu bilang kepada Bu Merry, kalau kita tak menjalin hubungan apa-apa." "Memang benar, kan, kita tidak ada hubungan spesial selain berteman?" "Apakah karena kamu masih berhubungan dengan mantan istrimu?" dengkusku kesal. "Ah, Sephia ... kenapa kamu menanyakan tentang hal itu?" protes Khairil mulai tak nyaman. "Aku hanya bertanya dan ingin mengetahui tentangmu, Khairil." "Sephia, aku tak mau membahas masa lalu. Aku sudah melupakan sebagian dari kisah hidupku," terang Khairil sambil membuka pintu mobilnya. Dalam perjalanan kami saling terdiam, aku enggan membuka percakapan. Bahkan, untuk bertanya apa pun tak ada mood sama sekali. Aku merasa tidak nyaman atas sikap Khairil. Entahlah, ada perasaan terluka ketika dia mengungkapkan tentang hubungan kami, ternyata dia menganggapku hanya sebagai teman. Setengah jam kemudian, kami tiba di depan rumahku. "Apa kamu mau mampir dulu?" tanyaku sekadar basa-basi. "Tidak, Sephia. Aku masih ada urusan. Tolong sampaikan salam untuk orang tuamu!" pamitnya terburu-buru. *** "Apa kamu baru saja menghabiskan waktu bersama Khairil, Sephia?" Lagi-lagi, sikap Papa membuatku terkekang. "Maaf, Pa ... aku lelah." Tanpa berkata panjang lebar aku menuju lantai atas. Papa hanya menggelengkan kepala. Mama membujuknya untuk bersikap tenang. Sejak perusahaan Papa bangkrut, beliau sering jatuh sakit. Setelah diperiksa, dokter mengatakan, Papa menderita tekanan darah tinggi dan sering terbangun saat tengah malam. Kata Mama, Papa sering mengalami mimpi buruk, kadang sambil meracau ketakutan. Anehnya, penyakit Papa kambuh lagi sejak semalam setelah bertemu Khairil. *** Seperti biasa, pagi ini aku mengunjungi rumah kontrakan Tasya. Di tengah perjalanan, aku berjumpa lagi dengan Dokter Della. "Selamat pagi, Dokter!" sapaku. Dia tak menjawab sapaanku, justru membalasnya dengan sindiran. "Apa kamu ingin menemui Khairil lagi?" Aku menghela napas dan mengembuskan pelan. "Apakah itu sangat berpengaruh bagimu?" "Nona Sephia, aku sudah mengetahui siapa kamu. Asal kamu tahu, duniamu dengan Khairil sangat bersimpangan. Perempuan sepertimu tak pantas berdampingan dengannya," cibirnya. "Dokter Della, Anda bilang aku bukan wanita yang cocok untuk Khairil. Lalu, menurutmu perempuan yang pantas untuknya seperti apa? Seperti dirimu yang dengan penuh perhatian membawa makanan istimewa ke rumahnya? Apa Anda benar-benar ingin bersaing denganku? Baiklah, aku akan menerimanya." "Sephia, aku kenal Khairil sudah sangat lama." "Oh, ya ... sudah berapa lama Anda mengenalnya? Apa saja yang Anda tahu tentang Khairil? Tolong ceritakan padaku, Dokter Della!" "Sangat lama dan yang pasti aku lebih tahu Khairil dari apa yang kamu ketahui. Sebelum kehadiranmu, Khairil baik-baik saja. Hidup normal, tak pernah terlibat masalah. Sejak kamu datang, dia berubah. Ada saja orang yang mau mencelakainya. Sebaiknya kamu menjauhi Khairil, kehadiranmu hanya membuat masalah baginya!" ancamnya bernada penuh tekanan. "Dokter Della, kamu tidak berada di posisiku. Aku mengerti itu. Kamu merasa dengan kenal Khairil sudah sangat lama. Tapi, apakah Anda benar-benar mengenalnya? Anda tahu, dia memiliki banyak kelebihan yang pastinya tidak diketahui semua orang, termasuk Anda salah satunya? Apa Anda tahu, dia bisa melakukan apa saja selain yang hanya dikenal sebagai Ustaz di lingkungan ini?" tanyaku mantap. "Khairil memiliki beragam keahlian. Memperbaiki mesin mobil saat kami terjebak di jalan pada waktu tengah malam, berkelahi melawan empat orang bersamaan, atau menghadapi geng mafia yang menyerbu kami di rumah ayah angkatnya. Aku yakin, Anda tidak pernah mengalami semua itu. Sejauh ini, aku lebih tahu tentang Khairil lebih banyak dari yang Anda ketahui, Dokter Della. Semoga harimu menyenangkan, permisi!" Aku meninggalkan Dokter Della yang tengah berdiri mematung. Tasya baru bangun saat membuka pintu. Dia bergegas ke dapur, menyiapkan sarapan untuk kami berdua. Aku membuka tirai jendela dan melihat ke luar, kunantikan sosok Khairil muncul, namun tak ada tanda. Rumahnya tampak sepi. Aku penasaran ke mana lelaki itu pergi? Ah, mungkin dia sedang berada di rukonya. "Apa kamu sedang menunggu seseorang, Phia?" goda Tasya seraya meletakkan piring berisi roti bakar dan secangkir teh panas. Aku mengulum senyum. Meniup teh sambil menyeruput sedikit. "Sya, apa kamu tahu ... berapa lama Khairil tinggal di perumahan di kawasan ini?" "Sekitar dua atau tiga tahun yang lalu, kalau tidak salah. Kenapa memangnya?" Aku kembali tersenyum. "Aku seringkali berkunjung ke kontrakanmu sebelumnya, tapi baru kali ini aku bertemu Khairil. Bahkan, mendengar namanya saja tidak pernah. Bagaimana menurutmu tentang dia?"  "Setahuku dia orang yang sangat tertutup. Tinggal sendirian. Warga di sini mengenalnya sebagai sosok yang rajin beribadah, dermawan, dan suka membantu orang." "Kamu memang benar ...." "Sephia, ada apa denganmu? Jangan bilang kamu sedang jatuh cinta padanya." "Sya, aku nggak bilang begitu juga, kan?" "Aku perhatikan sikapmu akhir-akhir ini mulai aneh, Phia. Setiap kamu bertemu pria itu sepertinya kamu sedang dimabuk cinta. Hei, aku tahu seleramu bukan tipe pria seperti Khairil, kan?" tebaknya tak setuju. "Sya ... aku hanya penasaran aja... terkadang kita mengenal seseorang bukan berapa lama kita mengenal orang itu, tapi kita akan mengetahuinya setelah mereka berbuat yang tulus kepada kita." Tasya terdiam menyimak perkataan. Aku bisa menebak respons Tasya, dia tak begitu menyukai pria seperti Khairil. Aku tahu pekerjaan Tasya, dia bekerja di bar dan pastinya sudah terbiasa melayani berbagai macam tipe pria yang menurutnya bisa dijadikan ATM berjalan. Walau demikian, Tasya adalah sahabatku sejak SMA dulu. Aku menerima segala kekurangannya. Dia berasal dari keluarga yang jauh beruntung dari keluargaku. Ayo kita pergi keluar!" ajaknya mengakhiri obrolan kami. *** "Cukup, hentikan!" Terdengar suara teriakan di pinggir jalan Orang-orang di sekitar berkerumun menyaksikan perkelahian seorang lelaki dan wanita paruh baya tak jauh letaknya yang berada di pinggir jalan. "Lepaskan aku, Heni! Aku tahu ... Sephia pasti menemui pria itu lagi." Ya, Tuhan! Rupanya kedua orang itu Papa dan Mama yang sedang berseteru. "Mama ... Papa! Ada apa ini? Kenapa kalian ada di sini?" "Lihat, Pa! Mama sudah bilang, Sephia pergi bersama Tasya bukan dengan Khairil!" seru Mama mencengkeram kedua tangan Papa. Papa menatapku tak percaya. "Sephia, ayo, kita pulang. Jangan mendatangi tempat ini lagi!" "Papa, apa-apaan, sih! Aku bukan anak kecil lagi, Pa," cegahku melepaskan genggaman tangannya. "Cukup, Sephia. Jangan membuat kesabaranku hilang!" bentak Papa kembali meraih tanganku. "Tidak, Pa! Berhenti mengaturku. Aku bisa pulang sendiri. Untuk apa kalian berada di sini? Apa Papa sengaja mengikutiku? Memata-matai aku ... iya, kan?" berondongku sangat muak.  Tiba-tiba, tubuh Papa lemas seketika. Sepertinya, penyakit yang Papa rasakan kambuh lagi. Kami semua panik. Kebetulan. Dokter Della lewat di tempat kejadian, lalu segera memeriksa Papa. Dia menyarankan agar membawa Papa ke klinik tempatnya bekerja. Setelah memeriksa, Dokter Della memberi resep obat, dan menyuruh Papa agar beristirahat yang cukup. Mama membujukku untuk segera pulang ke rumah. Aku pun merasa sangat bersalah. "Oh ... Tuhan, Sephia. Tolong jaga sikapmu, Nak. Demi kesehatan Papa, dengarkan dia. Papamu sangat sedih, Sayang," bujuk Mama menasihati. Aku diam membisu, tak mau menambah kondisi Papa semakin memburuk. Lalu, bagaimana aku dengan Khairil? Apakah harus memutuskan hubungan kami demi kesehatan Papa? Aku tak sanggup berpisah dengan Khairil. Walau kami tak ada ikatan, namun aku percaya hati kami telah menjadi satu. Akan tetapi, kata-kata Papa tempo hari tentang masa lalu Khairil ada benarnya. Khairil memiliki banyak musuh. Kadang, aku tidak mengenal dirinya. Khairil masih menyimpan banyak rahasia. Selama kondisi Papa belum membaik, aku akan berusaha menghiburnya. Papa tampak lebih suka mengurung diri di dalam kamar. Tak banyak bicara. Kami khawatir melihat keadaannya. Aku berpikir, mungkin sebaiknya aku tak berhubungan dengan Khairil lagi. Sore ini aku memutuskan untuk menemuinya dan mengatakan keputusan ini. "Sephia, apa kamu sudah lama menunggu di sini?" tanya Khairil saat aku sedang berdiri di depan pintu. "Khairil, aku ingin bicara denganmu." "Ayo, masuklah!" "Tidak perlu. Aku ke sini hanya sebentar." Khairil mengerutkan kening. Dia terlihat serius menyimak pembicaraan. "Aku sangat berterima kasih atas pertolongan dan semua bantuanmu. Tapi, mulai hari ini, kita sudahi hubungan ini. Maksudku ... kita tak perlu saling bertemu lagi. Kita menjalani kehidupan masing-masing dan melupakan apa yang pernah terjadi. Anggap saja kamu tak pernah mengenalku. Selamat tinggal, Khairil ...," ucapku terbata mengungkapkan kalimat perpisahan. Ada rasa sesal setelah aku mengatakan maksud kedatanganku. Namun, aku tak tega melihat kondisi Papa. Aku harus mengorbankan perasaanku terhadap pria yang kucintai. Biarlah cukup aku yang terluka. "Baiklah. Aku menghargai keputusanmu, Nona Sephia. Selamat tinggal!" balasnya, lalu segera masuk ke dalam rumah dan menutup pintu. Entah kenapa, hatiku hancur berkeping melihat reaksi Khairil. Air mata bergulir tak terbendung lagi. Dia berkata seolah-olah tak ada perasaan apa pun terhadapku. Tak pernah terjadi apa-apa. Aku meninggalkan rumahnya dengan hati terluka. Ingin melampiaskan rasa penyesalan yang mendalam, duduk termenung di bangku taman dan menangis sejadi-jadinya. "Nona Sephia, Anda kenapa? Kelihatannya sangat sedih. Anda menangis, ya?" Ferdi yang sedang berada di tempat yang sama menyapaku heran. Aku menggelengkan kepala. Tidak mungkin harus bercerita kepadanya. Lalu, menelpon rumah dan Mama yang menjawab. "Mama ... aku sangat sedih," isakku pilu. "Sephia, kamu kenapa, Sayang? Apa kamu menangis, Nak?" "Mama aku baru saja mengatakan pada khairil, bahwa kami tidak akan bertemu lagi. Sikap Khairil begitu dingin padaku. Dia memanggilku dengan sebutan Nona. Aku tidak berarti di hatinya selama ini." Air mataku tumpah mengakui hatiku yang sedang terluka. "Oh ... Sephia. Apa kamu benar-benar mencintai pria itu?" Mama ... aku tidak bisa hidup tanpa Khairil ...." "Sephia ... cepatlah pulang, Sayang! Menangislah di pelukan mama." Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD