MENGENALMU, ANUGERAHKU

2237 Words
"Sephia, sebaiknya kamu pulang. Orang tuamu pasti khawatir dan merindukanmu," ujar Khairil mengingatkan.  Aku terdiam dan berpikir. Ucapan Khairil memang ada benarnya. Seminggu ini, aku pergi dari rumah. Tak mau merepotkan dan menjadi beban terus-menerus, sejak aku singgah di rumahnya. Aku akan berdiskusi dengan Papa agar mau membatalkan rencana perjodohanku dengan Umay. "Baiklah ... tapi bisakah kamu mengantarku besok pagi?" tanyaku. Khairil tersenyum dan mengangguk pasti. Drrrttt! Nama Mama muncul di layar ponselku. "Sephia, tolong katakan pada mama, kamu di mana, Nak? Kapan kamu pulang? Mama kangen sama kamu, Sayang," ucapnya dengan suara terisak. "Jangan sedih, Ma. Besok aku pulang. Aku janji, ya." Air mataku meleleh mendengar suara paraunya.  "Benarkah, Sephia? Cepatlah pulang. Mama, Papa, dan Dilan sangat merindukanmu, Nak." "Iya, Ma, pasti. Tunggu aku segera pulang!" *** Kami melewati jalan berlubang penuh kerikil lagi setelah meninggalkan kediaman Pak Rouf. Kemarin, sebelum Khairil membawa mobilnya, dia menyuruh Ferdi memeriksa dan mengisi bahan bakar saat datang bersama Dokter Della dan itu cukup untuk persediaan selama di perjalanan. "Semoga saja mesin mobilku tak kumat lagi melewati jalan ini," ucap Khairil. Aku tersenyum geli membayangkan ketika kami terjebak di jalan sepi pada waktu tengah malam menuju rumah Pak Rouf. Aku yang ketakutan mendengar suara binatang bersahutan merasa malu sendiri teringat kejadian malam itu. Aku juga masih mengingat ketika tanpa disengaja mencium pipi Khairil. Aku memandang lelaki itu, menerka apa yang ada di pikirannya. Bagaimana perasaan dia kepadaku sekarang ini setelah kami melalui semua kejadian secara bertubi-tubi? Saat Khairil pergi bersama Dokter Della, aku sempat bertanya pada Pak Rouf tentang riwayat hidup Khairil. Namun, beliau tak banyak bercerita, hanya mengatakan jika Khairil pernah menikah, memiliki putra, dan sang putra meninggal karena dibunuh oleh musuh Khairil. Satu hal lagi juga menceritakan tentang adik kandungnya bernama Salman. Mereka terpisah karena Salman kabur dari panti asuhan, hingga sekarang tak mengetahui keberadaanya di mana atau siapa yang mengadopsi Salman. Riwayat hidup Khairil penuh teka-teki. Kami tiba di kota sore harinya. Berhenti sebentar di perbatasan, karena Khairil mengajakku makan siang setelah dia menunaikan salat Zuhur. Menghirup udara segar sebelum meninggalkan pedesaan. Aku belum pernah mengunjungi tempat yang jauh dari polusi kota sebelum mengunjungi rumah Pak Rouf. Saat kami dalam perjalanan pulang, mendadak ada rasa canggung untuk berbicara dengan Khairil. Tepatnya, ketika aku teringat sosok Della. Aku masih penasaran tentang hubungan Khairil dengan dokter jutek itu. Seandainya mereka hanya berteman, aku ingin tahu bagimana perasaan Khairil terhadap Dokter Della. Pikiranku terus berkecamuk, namun aku berusaha keras menepisnya. Aku pun mulai memikirkan, apakah aku bisa bertemu dengan Khairil lagi, atau kami berpisah, dan menjalani kehidupan masing-masing seperti sebelumnya? Rasa penasaran itu akhirnya timbul, sehingga aku berani mengungkapkan pertanyaan kepadanya. "Apakah setelah ini, kita akan saling menghubungi? Tapi bagaimana caranya? Kamu tidak menggunakan ponsel." Aku memulai percakapan. "Memangnya kita harus saling menghubungi?" Khairil balik bertanya. Aku sedikit kecewa mendengarnya. "Kalau kamu tidak mau juga tidak apa-apa," ucapku seraya menghela napas, lalu, merangkai kalimat yang tepat selanjutnya. "Gara-gara aku, kan, lenganmu cedera. Aku ingin memastikan keadaanmu baik-baik saja dan ingin tahu kabarmu setelahnya," ungkapku beralasan. "Bukankah kamu masih ingat alamatku? Kapan-kapan, kamu bisa berkunjung ke rumah," ucapnya datar. "Ish, kenapa aku harus mengunjungi rumahmu?" perasaan gengsiku muncul seketika. "Barusan kamu bilang ingin memastikan keadaanku. Kamu ingin tahu kabarku, kan?" "Iya, sih ... tapi--" "Kamu bisa mengetahui keadaanku secara langsung, itu pun jika kamu tidak keberatan." "Oh, begitu. Ok, baiklah ... besok pagi aku akan datang ke rumahmu." Dia menggangguk setuju. Wajahnya tampak seperti dipenuhi binar kebahagiaan. Melihat itu aku membatin. 'Oh, apa yang barusan aku katakan? Kenapa justru aku yang harus duluan ... uhh.'  *** Setelah Magrib, dia mengantarkan pulang ke rumah orang tuaku. Mama membuka pintu pagar dan menyambut bahagia. Memeluk erat sambil terisak. Aku membalasnya dengan perasaan yang sama. Di rumah, hanya Mama yang benar-benar mengerti bagaimana perasaanku. "Khairil, ayo, mampir ke rumahku dulu!" ajakku seraya menggamit lengannya. "Lain kali saja, Sephia. Terima kasih." "Ayolah  Nak. Masuk dulu. Sekalian kita makan malam bersama, tolong jangan menolak!" imbuh Mama menawarkan. Khairil pun menuruti permintaan kami, menuju ruang makan yang sudah tersedia menu makanan. Sebelum Mama mempersilakan, Papa menghampiri dan menyambutku penuh haru. Tiba-tiba, wajah Papa pucat seperti melihat hantu saat berhadapan dengan Khairil. Aku bingung melihat reaksinya. Papa tampak sangat syok bertemu Khairil. "Maaf, saya ke atas sebentar. Saya sedang tidak enak badan," pamit Papa buru-buru. Mama bingung melihat perubahan sikap Papa. Namun, seolah-olah segera menepisnya dan berusaha mencairkan suasana. "Silakan menikmat hidangan dan tak perlu merasa sungkan," ucapnya. "Sephia, mama mau melihat keadaan papamu. Mungkin penyakitnya kambuh lagi," ungkap Mama. Lalu, bergegas menyusul Papa ke lantai atas. Sikap Papa juga membuatku jadi canggung. Tak mau ambil pusing, aku kembali menemani Khairil menikmati hidangan. Saat berbincang, aku mengungkapkan rasa terima kasih atas pertolongannya dan selama mengenal pria itu, ada sesuatu yang aku sembunyikan dalam hati. Beberapa saat kemudian, Papa dan Mama kembali ke ruang makan. Kulihat wajah Papa masih murung dan sangat gugup. Sepertinya, Papa sangat takut bertemu Khairil. Aku menutupi perasaan aneh itu dengan banyak bercerita bagaimana Khairil telah menyelamatkan aku dari kejaran pria b******n Umay dan anak buahnya.  Mama terlihat antusias juga mengucapkan banyak terima kasih kepada Khairil. Sedangkan Papa, hanya menimpali dengan bersikap datar, seolah-olah dia duduk tanpa menyimak pembicaraan kami. Hingga Khairil pamit, Papa hanya diam terpaku seperti patung. Aku mengantar Khairil pulang, sembari menahan perasaan yang tak bisa kuungkapkan. Sebagai perempuan, aku tahu diri, tak mungkin mengungkapkan rasa cinta pada seorang lelaki. Aku akan sabar menanti, hingga suatu saat, Khairil mengutarakan perasaan yang sama kepadaku. "Khairil ...." panggilku. Aku memanggilnya ketika Khairil menuju mobil yang terparkir di tepi jalan. Dia menoleh dan aku mendekati. Menatap maniknya, lekat. Hampir terucapkan kalimat itu. Namun, lidah ini terasa kelu. Memandangi betapa teduh sorot mata itu. Mendekatkan wajahku dengan kedua kaki berjinjit. Lalu, mengecup pipinya lembut.  Menyadari tingkahku, dia tersipu, dan tampak salah tingkah. Aku berjalan mundur sambil masih memandanginya. Sampai di pintu pagar, aku melambaikan tangan. Dia masih menatap dengan sikap polosnya, terbengong, tak memercayai. Dalam kamar aku mengingat kembali kenangan bersama Khairil. Sungguh bahagia hati ini. Setelah kepergiannya, wajah pria itu selalu terbayang-bayang di mata. Saat pertama kali bertemu dengannya, tatapan dan sikap lembut lelaki tersebut, membuatku merasakan sesuatu yang berbeda. Aku berharap dia merasakan hal yang sama. Rindu ini menggebu, berpikir bagaimana caranya agar bisa berjumpa dengannya lagi? *** "Sephia, kamu tidak boleh berhubungan dengan pria itu!" Tiba-tiba, sikap aneh Papa melarangku berhubungan dekat dengan Khairil. "Memangnya kenapa? Papa selalu melarangku ini dan itu, aku tak mengerti!" protesku ingin berontak. "Kamu tidak mengenal orang itu dengan baik. Dia bukan tipe pria seperti yang kamu bayangkan." Kali ini ucapan Papa membuatku sangat tersinggung. "Apa maksud Papa? Khairil sudah banyak membantuku. Dia menyelamatkan aku sampai bertaruh nyawa. Papa berani mengatakan begitu. Dia kurang baik apa lagi di mata Papa?" "Sephia, coba kamu pikirkan! Berapa banyak kamu mengenal sosok Khairil? Bagaimana riwayat hidup dan masa lalunya? Kamu bilang anaknya meninggal dibunuh oleh musuh Khairil. Sudah jelas itu karena dia punya banyak musuh. Kamu mengerti maksud papa, bukan? Apa kamu mau berhubungan dengan pria asing seperti Khairil? Dan kamu baru mengenalnya hanya dalam beberapa hari saja, Sephia," cecar Papa bersikukuh. "Aku memang baru mengenalnya, tapi aku percaya dia. Papa merasa seolah-olah sudah mengenal khairil lebih dulu dari pada aku. Bagaimana mungkin?" Mendengar pertanyaanku, ekspresi Papa mulai grogi. Papa terdiam, tak membalas ucapanku. Aku pun malas berdebat dengannya lebih lama. Niat pulang ke rumah ingin membatalkan rencana perjodohanku dengan Umay. Namun, melihat sikap Papa pada Khairil membuatku semakin kecewa. Papa tidak pernah memahami perasaanku. Selalu menuntut untuk menuruti setiap perintahnya. Termasuk menentukan calon suami. Sangat mengesalkan. Aku tahu, Papa tetap pada pendiriannya dan bersikeras melarangku bertemu Khairil. Pagi-pagi sekali, aku pergi keluar untuk menemui Tasya di kontrakannya. Sampai di dekat taman, aku berpapasan dengan Ferdi. Dia menyapa ramah. Setelah berbasa-basi, aku menanyakan kabar tentang Khairil, lalu Ferdi mengantarku hingga di depan rumah kontrakan Tasya. Aku terkejut setelah menyadari ternyata kontrakan Tasya persis berada di seberang depan rumah Khairil. Entah karena dalam keadaan panik pada malam itu saat dikejar polisi dan tak sengaja masuk ke rumah Khairil, baru mengingat kawasan di perumahan ini. Sebelum membuka pintu pagar kontrakan, kami melihat Khairil menuju rumahnya. Aku dan Ferdi mengucap salam, dalam hati sangat senang sekali berjumpa dia lagi.   "Ustaz, kebetulan sekali Anda datang tepat waktu. Barusan, Nona Sephia menanyakan Anda," celetuk Ferdi terang-terangan. "Nona Sephia menanyakanku untuk apa, Ferdi?" Khairil melirikku yang sedang gugup dengan ucapan Ferdi.  "Barangkali karena Nona Sephia merindukan Anda, Ustaz Khairil," terang Ferdi spontan sambil terkekeh geli. "Ferdi, kapan aku bilang begitu? Kamu pasti sedang bercanda," kilahku tersipu. "Nona Sephia, kata Ustaz Khairil jika ada orang menanyakan tentang kita, artinya orang itu orang yang spesial, bisa juga yang sedang dirindukan. Benar, kan, Ustaz?" ucap Ferdi meminta jawaban dari Khairil.  Khairil menjadi salah tingkah. Dia menatapku seolah-olah sedang bertanya sesuatu. Tentu saja aku tak mau mengakuinya. Ada perasaan gengsi ketika orang lain bisa menebak apa yang aku rasakan terhadapnya. Tasya membuka pintu dan terkejut mengetahui aku sudah berada di depan kontrakannya. Dia heran melihat kami sedang berbincang. Kami sudah janjian dengannya akan pergi ke tempat pemotretan di studio agency majalah. Aku sempat meminta pada Khairil untuk mengantarkan kami pergi ke sana. Namun, tasya menolak. Dia memilih pergi naik taksi. Padahal Khairil tidak keberatan dan aku bisa memiliki kesempatan bersamanya.  Memasuki ruangan ganti, Tasya membantuku memilihkan gaun yang hendak dipakai untuk pemotretan. Saat mencoba gaun, aku bercermin melalui pantulan kaca. Netraku seolah-olah melihat bayangan Khairil sedang mengawasi. Aku berusaha keluar mencarinya namun tak menjumpai sosok pria itu. Tasya menarikku ke ruangan ganti lagi dan mengatakan kalau aku sedang berhalusinasi. Akan tetapi, aku merasa sangat yakin barusan melihatnya di sini ... tapi untuk apa Khairil datang ke tempat ini? *** "Sephia, apa kamu akan menemui pria itu lagi?" tegur Papa ketika melihatku hendak keluar rumah. "Aku mau bertemu Tasya, Pa. Berhentilah menginterogasi!" sahutku kesal. "Papa peringatkan kamu sekali lagi, Sephia. Jangan berhubungan dengan Khairil. Papa tidak akan izinkan pria itu mendekatimu!" tegas Papa. Aku tak memedulikan ucapannya, segera keluar setelah pamit kepada Mams. Bosan seharian berada di rumah. Aku memutuskan untuk minum kopi di kafe terdekat di sekitar kontrakan Tasya. Hampir jam empat sore, aku sudah tiba di sana, tetapi tidak ada tanda-tanda Tasya sedang menunggu. Drrrr. Nama Tasya muncul di layar ponsel. "Sephia, maaf, aku nggak bisa ketemu kamu hari ini. Ibuku sakit, aku harus menjenguknya," kata Tasya memberitahu. "Oke, nggak apa-apa, Sya. Aku mau pulang sekarang." Setelah batal bertemu Tssya, aku tak jadi memesan minuman. Lalu, kuputuskan untuk pergi dari kafe. Cuaca sore tampak mendung. Aku bingung antara harus pulang atau menghabiskan waktu di tempat ini. Saat memandang ke seberang jalan, aku melihat seseorang yang sangat kukenal. Aku memanggil namanya.  "Khairil ...." Pria itu menoleh. Ketika aku menghampirinya, dia menatapku heran. "Sephia, sedang apa kamu di sini?" "Aku barusan ada janjidengan Tasya, tapi dia tidak bisa datang. Aku tidak ada acara setelah ini." "Oh, kalau kamu tidak keberatan mampir dulu ke ruko tempat aku bekerja. Itu, ada di sebelah sana!" Khairil menunjuk ke sebuah bangunan berlantai dua. "Baiklah, ayo!" seruku sambil mengikutinya. Tak sampai sepuluh menit kami tiba di depan ruko. Dia merogoh saku celana jeans-nya, mengambil kunci dan membuka pintu. Kemudian, mempersilakan aku masuk. Ruangan tempatnya bekerja penuh dengan barang elektronik. Beberapa tampak seperti koleksi pajangan barang antik buatan zaman dulu. Rupanya Khairil bekerja sebagai montir, terutama memperbaiki barang-barang tersebut. Di sana terdapat sebuah komputer yang harus dia perbaiki. "Aku baru saja selesai salat Asar ... setiap hari, ruko tutup sampai jam lima sore kecuali jika aku ada keperluan mendesak, aku pulang lebih awal," jelasnya membuka obrolan. "Barang yang terpajang di sini, apakah semuanya milikmu?" Pandanganku tertuju pada sebuah tape recorder dan piringan pita usang model antik. "Ya. Sebagian pemberian dari orang. Mereka sudah tak menggunakannya." Netraku beralih pada kaset yang sudah kusam yang terletak di sebelah tape recorder. Aku memungutnya sambil memperlihatkan pada Khairil benda itu. "Apakah benda ini masih berfungsi? Bolehkah aku memutar kaset ini, Khairil?" Aku meminta izin menyalakan alat tersebut. Mengusap debu dengan jariku. Khairil membalas dengan anggukan. Aku memasukkan kaset ke dalam tape recorder. Sebuah lagu lawas dari penyanyi legend Brian McKight berjudul, 'Marry Your Daughter' mengalun merdu diiringi musik melankolis. I'm a bit nervous. 'Bout being here today. Still not real sure what I'm going to say. So bear with me please ... If I take up too much of your time, see in this box is a ring for your oldest. She's my everything and all that I know is It would be such a relief if I knew that we were on the same side. Very soon I'm hoping that I Can marry your daughter ... and make her my wife I want her to be the only girl that I love for the rest of my life. And give her the best of me 'till the day that I die, yeah I'm gonna marry your princess ... and make her my queen. She'll be the most beautiful bride that I've ever seen Lirik lagu itu terus mengalun, membawa hanyut pikiranku. Jauh menerawang, berkhayal menjadi model pengantin wanita sedang bersanding dengan mempelai pria idamannya. Sosok lelaki yang sekarang ada di hadapanku, mata ini tak berkedip menatap pria itu. Sedangkan, dia sibuk dengan pekerjaannya. Lama memandangi, pria itu pun akhirnya menyadari aku sedang memperhatikannya. Dia menatap balik, aku tersipu malu. Sudah lewat pukul 17.00, Khairil menutup rukonya. Mengunci pintu, lalu, kami pergi. Di luar, cuaca sedang gerimis, Khairil tak membawa mobil. Kami berjalan menyusuri genangan air yang bercucuran dari langit. Tiba-tiba, suara petir bergemuruh. Aku terkejut, sepatu high heels yang kupakai menginjak kerikil, sehingga tak bisa mengendalikan diri. Aku berpegangan pada lengan Khairil. Namun, kami terjatuh bersamaan. Tubuh kami terjerembab di atas tanah yang telah basah digenangi air. Di bawah guyuran hujan yang mulai deras, kami saling bertatapan. Telapak tangannya menahan kepalaku agar tak menyentuh tanah. Air hujan membasahi seluruh tubuh. Aku menggigil kedinginan. Khairil mengangkat tubuhku dan membantu berdiri. Melepas kemejanya, lalu menutup bahuku. Kami menuju rumahnya. Dari kejauhan, terdengar suara azan Magrib berkumandang. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD