BAHAYA MENGINTAI

1946 Words
Khairil sudah mulai membaik, dia tengah asyik memberi makan anjing penjaga di halaman samping rumah Pak Rouf. Aku yang tengah memetik sayur di kebun pekarangan, memandangi lelaki itu tanpa sepengetahuannya. Wajah teduh Khairil tampak berbinar dipenuhi dengan senyuman mengembang. Potret pemandangan yang indah di bawah naungan sinar matahari di kala siang. Sesaat lagi, akan memasuki waktunya salat Zuhur. Khairil beranjak menuju kendi besar tempat menampung air. Meraih gagangnya, lalu mencuci kedua tangan. "Mari, kubantu." Aku mengambil kendi dari tangannya. "Terima kasih, Sephia. Aku bisa melakukannya sendiri." "Tak apa ... aku mau bantu supaya memudahkan kamu berwudu," ucapku seraya mengucurkan air dari kendi.  Khairil membasuh tangannya dan berwudu. Dari jarak dekat, aku bisa memandanginya secara. Sosok pria tampan dengan wajah dihiasi cambang di sekitar pipi dan dagu. Kepribadian lelaki itu penuh wibawa dan kharismatik. Dia membasuhi wajahnya hingga bulu-bulu yang tumbuh di pipi basah tersiram air. Selesai berwudu, Khairil menengadahkan tangan sambil berdoa. *** "Hallo, maaf ini siapa?" tanyaku saat ada nomor baru tampak di layar ponsel. "Hai, Sephia. Ini aku Dokter Della." Suara perempuan terdengar melalui saluran telepon. "Iya. Ada apa?" jawabku enggan berbasa-basi. "Maaf aku tahu nomormu dari Ferdi. Aku ingin mengetahui keadaan Ustaz Khairil. Apakah beliau sudah membaik?" Dokter Della menanyakan kabar Khairil.  "Iya, sudah lumayan." Aku menjawab datar. "Bisakah aku berbicara dengannya sebentar?" pintanya penuh harap. Sebenarnya aku sangat malas mendengar suaranya. Kenapa dia sok perhatian pada Khairil? Kulirik lelaki itu terlihat sedang menyimak pembicaraan kami. "Khairil sedang tidur," balasku beralasan. "Di jam segini?" selidik Della terheran. "Iya, memangnya kenapa? Barusan minum obat. Setelah itu, dia tertidur." Aku menjawab asal. "Oke. Baiklah! Tolong, sampaikan salamku padanya," pesan Dokter Della sebelum memutuskan sambungan telepon dan langsung kumatikan. "Siapa?" tanya Khairil penasaran. "Dokter Della." "Kenapa kamu berbohong padanya dengan mengatakan aku sedang tidur?" 'Lho, memangnya aku salah kalo bilang kamu sedang tidur? Bukankah kamu mau istirahat?" "Sephia, kenapa harus bersikap seperti itu? Dokter Della orang yang baik," ungkap Khairil tampak kecewa. "Ya, sudah. Kalo kamu mau ngomong sama dia silakan aja! Nih, ambil HP-nya, kamu hubungi dia sekarang!"  Aku mulai kesal. Dengan kasar meletakkan ponsel di atas meja, lalu bergegas ke lantai atas. Khairil hanya memandangku keheranan. Dia tak mengerti, sikap Della padanya membuat aku cemburu. Lagi pula, dokter itu tak menyukaiku. Aku pun punya alasan untuk tak suka kepadanya. Beberapa jam setelah menerima telepon, mobil Della terparkir di jalan, tepat di depan rumah Pak Rouf. Kami yang saat itu sedang menikmati minum teh bersama sambil duduk di teras rumah, menatap heran dengan kedatangan dokter tersebut. Terlebih aku merasa risih bertemu dengannya lagi. Aku beranjak hendak membuatkan teh untuknya, namun dia terlihat gugup dan terburu-buru. "Ustaz Khairil, maaf ... bisakah Anda ikut aku sekarang juga?" ajaknya gugup. "Memangnya ada apa, Dokter? Apa yang terjadi?" tanya Khairil seperti menangkap sesuatu. "Nanti aku ceritakan di perjalanan, Ustaz. Ayo, ikutlah denganku!" titah Dokter Della sambil menggandeng tangan Khairil. Aku yang melihat adegan itu merasa sangat marah. Hatiku terbakar api cemburu. Rasanya ingin kujambak rambut perempuan itu. Namun, lebih marah saat Khairil membiarkan dan bergegas mengikutinya. Mereka berdua pergi dengan mengendarai mobil Della. Aku kecewa pada sikap Khairil. Sejak siang, hingga hari beranjak malam. Khairil belum juga pulang. Ke mana mereka? Perasaanku mulai tak tenang bercampur curiga dan berpikir yang aneh-aneh. Diselimuti resah serta gelisah. Walau Pak Rouf sudah berkali-kali mencoba menenangkanku, tetapi ada rasa khawatir bercampur emosi dan ingin marah. Seandainya dia pergi sendiri, mungkin aku hanya mencemaskannya saja. Akan tetapi, bersama wanita itu, aku tak tahu. Entahlah! Malamnya, mobil Khairil muncul dan berhenti di halaman. Aku lega. Pria itu sudah berganti pakaian. Aku curiga, dari mana saja dia menghabiskan waktu bersama dokter jutek itu. Dia menyapa, kubalas dengan senyuman hambar. Mengingat dia pergi bersama wanita lain, ada rasa canggung ketika berbicara dengannya.   "Apa kalian belum makan malam?" tanyanya saat melihat makanan masih utuh di meja makan. "Kami menunggumu, Khairil. Sephia, mari kita makan, Nak!" jawab Pak Rouf mengajakku bergabung. Aku duduk di sebelah Khairil. Meliriknya tanpa mengucap sepatah kata. Dia mengambil nasi dan ayam goreng yang sengaja aku buatkan untuknya. Namun, aku di membisu seraya menatap sendok dam garu di atas piring. Tanpa diminta, Khairil menyendokkan nasi dan lauk ke piringku. Dia menyantap ayam goreng dengan lahap. Dalam hati aku merasa senang melihatnya, tapi rasa ingin tahu ke mana saja dan apa yang mereka lakukan berdua membuat nafsu selera makan berkurang. Menyadari aku yang tengah melamun, Khairil menoleh dan bertanya. "Kenapa kamu tidak makan? Aku sangat lapar, jadi sungkan melihat kamu seperti itu. Makanlah, nanti nasinya dingin!" ujarnya seraya menambah nasi ke piringnya. "Tadi siang, dari mana saja kalian?" Akhirnya, kalimat pertama kuajukan padanya. "Ada sesuatu yang sangat mendesak dan sudah kuselesaikan!" jawabnya singkat, namun aku belum puas.  "Lalu, bagaimana dengan Della? Kamu sangat lapar sekarang. Aku pikir kalian sudah makan malam di restoran," pancingku ingin tahu tapi menahan rasa cemburu. "Kalau aku sudah makan di luar, kenapa aku makan lagi sekarang?" Pertanyaannya sekaligus jawaban. "Kamu tidak mau memberitahu, dari mana saja kalian seharian?" tanyaku bersungut penasaran. "Ah, Sephia, lebih baik kamu makanlah! Nasimu sudah dingin," pungkas Khairil mulai kesal. "Kamu menyuruhku makan agar aku berhenti bertanya, kan?" Aku menatap maniknya lekat. Aku tahu dia merasa sungkan dan tampak serba salah. "Kami perempuan, tak sama seperti kalian. Melakukan sesuatu secara bersamaan, berbincang sambil makan," celotehku seolah-olah sedang berkata pada diriku sendiri sembari menyantap ayam goreng di tanganku. Pak Rouf yang dari tadi menyantap makanan, hanya menatap kami secara bergantian. Ingin rasanya sekali saja kudengar Khairil berkata sesuatu untuk menghibur atau meyakinkanku. Mengatakan bahwa tak ada hubungan istimewa antara dirinya dengan Dokter Della. Namun, sikap diam pria itu seperti sengaja membuatku penasaran. Lalu, dia berkata pada Pak Rouf dan mengalihkan topik pembicaraan. "Ayam gorengnya gurih, kan, Pak? Aku ingat dulu, ada orang yang pernah masak ayam goreng yang sama lezatnya seperti ini. Apa, Bapak masih ingat?" tanyanya antusias. Pak Rouf hanya mengangguk. Aku penasaran, siapa seseorang yang dimaksud oleh Khairil? Pasti perempuan. Apakah mantan istrinya? Pikirku. "Siapa?" tanyaku. Khairil menoleh sebentar, tak langsung menjawab pertanyaanku. Membuat rasa penasaran bertambah  berkali lipat dan pria itu, Aku menatapnya lama, meminta jawaban. Sementara, dia masih menikmati sisa daging ayam di tangannya. "Dulu, saat di panti ... ayam goreng buatan Bik Minah salah satu menu yang paling lezat. Benar, kan, Pak?"  Khairil melirik sekilas, seperti memperhatikan tingkahku. Pak Rouf tersenyum lebar, seolah-olah menangkap ada sesuatu di antara kami. Beliau memintaku membuatkan teh manis hangat dan berusaha mencairkan suasana dan selanjutnya kami larut dalam perbincangan. *** Sudah tiga hari ini, aku tinggal di rumah Pak Rouf. Memang benar kata Khairil, suasana nyaman di sini membuatku nyaman dan betah. Bahkan, bisa lupa aku masih memiliki keluarga di rumah. Menghabiskan waktu di tempat asri bersama Khairil, seakan-akan memiliki keluarga baru. Aku tak peduli lagi duniaku, karena merasa sudah aman berada di dekatnya. Tak akan ada orang yang berani menyakiti termasuk pria b******n seperti Umay. Kami baru saja menikmati sarapan bersama, suara anjing penjaga milik Pak Rouf menyalak dengan nyaring berkali-kali, menandakan ada orang asing datang berkunjung. Benar saja, di halaman tampak empat mobil terparkir bersusulan. Beberapa orang pria lengkap dengan memegang senjata api masing-masing. Di antara mereka, ada Umay, dan anak buahnya. Oh, Tuhan! Mereka sudah mengetahui keberadaan kami. "Kalian tunggu di sini. Biar Bapak yang menghadapi mereka," pesan Pak Rouf dan segera keluar setelah melihat kedatangan mereka. "Sephia, ayo ikut aku. Kamu sembunyi di kamar. Jangan keluar sebelum aku memanggilmu. Kunci pintunya dari dalam!" perintah Khairil. "Ta-tapi, Khairil ... bagaimana denganm  juga Pak Rouf? Aku khawatir dengan kalian. Mereka datang banyak sekali dan menyerbu rumah ini," cemasku dengan kedua tangan memegang lengannya. Tak mau jika sesuatu yang buruk terjadi pada Khairil. "Jangan khawatir, aku akan menyelesaikan mereka semuanya." "Tapi bagaimana? Mereka bersenjata dan kamu hanya sendiri? Sebaiknya kita panggil polisi, Khairil!" "Tidak Sephia, aku akan menghadapi mereka. Tak usah cemas. Percayalah padaku." Khairil melepaskan tanganku dan bergegas pergi. Suara-suara ribut mulai terdengar, salah satu pria di antara mereka yang kuketahui sebagai ketua mafia berseru memanggil Khairil. Disusul anak buah mereka mulai mengerumuni halaman rumah Pak Rouf. Khairil berpesan aku tak perlu cemas. Bagaimana aku tak cemas? Aku sangat takut kehilangan dia. Tuhan, tolong bantulah dia. Selamatkan Khairil dari segala marabahaya. Hanya Engkau yang tahu takdir kami berdua. Aku tak ingin hal yang buruk menimpanya. Aku sangat menyayanginya. Doaku selalu menyertaimu. Semoga Tuhan menjaga keselamatanmu, Khairil! "Hei, Pak Tua, di mana pria asing bernama Khairil? Jangan kau sembunyikan dia, jika kamu masih ingin hidup dengan tenang. Panggil dia sekarang!" Sultan, ketua mafia memperingatkan Pak Rouf penuh ancaman.  "Kalian datang ke rumahku, maka sebagai tuan rumah aku wajib menyambutnya," balas Pak Rouf tenang.  "Kami datang ke sini karena mencari Khairil. Ayo, suruh dia keluar, atau kami habisi nyawamu, Pak Tua!" gertak Umay ikut mengancam. " Aku tak mengenal kalian. Apa urusan kalian mencari Khairil?" tanya Pak Rouf. "Hei, Pak Tua. Khairil putra angkatmu, dia telah membawa kabur calon istri sahabatku." Sultan menjelaskan seraya menatap Umay. " Aku tak mendengar berita tentang penculikan, Nak," ujar Pak Rouf dengan wajah tetap tenang. "Sultan, sudah cukup! Tak ada gunanya berbasa-basi dengan bapak tua ini, kita serbu saja rumahnya!" perintah Umay tak mau menunggu lama. "Pak Tua, panggilah Khairil! Kami akan bicara dengannya baik-baik." Anehnya, sikap Sultan tampak berbeda.  Sementara, aku mengintip dari balik tirai jendela, melihat bayangan Khairil dengan gesit melumpuhkan satu-per seru pengikut dan anak buah Umay serta ketua geng mafia. Mereka yang sengaja berpencar, berhasil dibekuk oleh khairil dan meringkusnya hingga tak berdaya. Umay dan ketua mafia, tak menyadari anak buahnya telah berhasil diringkus oleh Khairil. Hingga, suara pekikan salah satu pengikutnya terdengar oleh Umay dan Sultan. Mereka mulai waspada. "Khairil, aku tahu kamu bersembunyi. Kamu habisi anak buahku dan nyawa ayah angkatmu sebagai gantinya." Umay menodongkan pistol ke arah Pak Rouf dengan licik. Pria b******n itu memang pengecut. Dia hanya bisa mencari kelemahan lawannya dengan taktik licik. Ancaman Umay di dengar oleh Khairil, dia keluar dengan kedua tangan terangkat menyerah. Sultan mengarahkan pistol padanya. Salah satu pengikut mereka menggeledah seluruh tubuh Khairil, mengambil pistol yang terselip di pinggangnya. Umay tersenyum penuh kemenangan. Lalu, dia berseru. "Sultan, tembak dia. Habisi nyawanya sekarang juga!" titahnya diiringi suara gelak bernada ejekan. Mendengar itu, aku sangat cemas, tak mengidahkan amanat Khairil. Segera membuka pintu kamar dan keluar rumah. Berlari menuju Khairil, lalu memeluknya dengan erat. "Sephia ... sudah kubilang. Kenapa kamu kemari?" bisik Khairil khawatir. "Kalian mau menembaknya? Ayo, tembak aku dulu!" tantangku mengalihkan perhatian mereka. "Sephia, menyingkirlah! Apa kamu sudah gila?" ujar Umay geram. "Kamu yang gila, Umay. Kamu menghalalkan segala cara untuk mencapai ambisimu. Ayo, tembak saja aku. Aku targetmu, bukan Khairil. Dasar manusia b*****h!" Aku menatap Umay tak kalah geram. " Umay, apa-apaan, ini? Kamu bilang, pria ini menculik kekasihmu. Lalu, kenapa dia malah melindunginya?" tanya Sultan sangat keheranan. "Jangan dengarkan dia, Sultan. Otaknya sudah dipengaruhi oleh pria asing itu! Sephia, dia calon istriku!" bantah Umay tampak mulai tersudut. "Cukup, Umay! Jangan mengada-ada, aku bukan calon istrimu, jangan pernah bermimpi. Camkan itu! Aku tidak sudi menikah denganmu. Tak cukupkah kamu menyandera dan memaksaku menuruti keinginanmu? Tinggalkan aku. Aku tak mencintaimu!" Dengan ucapan lantang aku menggertak pria b******n itu. "Oh, Umay! Sudah kubilang, aku mau bekerjasama denganmu hanya untuk urusan bisnis, kawan! Aku tidak mau mengurusi hal sepele semacam ini. Wanita itu sudah menolakmu. Jangan menjadi pria cengeng. Ayo, kita pergi!" Sultan berseru pada pengikutnya. "Tunggu dulu, Sultan. Dia masih ada urusan denganku. Ayahnya sudah menyetujui pernikahan kami. Dia tetap calon istriku!" tahan Umay tak terima. Sultan menghela napas, "Hei, Buddy, ini bukan urusanku! Kamu tahu, gara-gara masalahmu aku harus membatalkan rencana awalku. Sorry, aku harus pergi," ucap Sultan kesal. "Hei, Pak Tua ... kami minta maaf atas waktumu yang terganggu, ini hanya salah paham. Kami pamit pergi sekarang juga!" Di luar dugaan, sikap Sultan berubah seketika. Dia berpamitan pada Pak Rouf, meninggalkan kediamannya, disusul para pengikut Sultan. Umay tampak kesal, dia membanting pistolnya ke tanah, lalu mengikuti Sultan menuju mobil mereka masing-masing. Setelah kepergian mereka, aku sangat bersyukur tidak terjadi hal yang menakutkan kepada Khairil. Tanpa sadar, aku masih berdiri di pelukannya. Hingga Pak Rouf berdeham, membuyarkan momen kami yang tengah larut berpacu dalam situasi yang semula terasa menegangkan. Menyadari tanganku masih berada di d**a bidang milik Khairi, aku tersenyum  menahan malu. Kami berdua kembali menuju rumah Pak Rouf. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD