TERLUKA PARAH

1840 Words
Hampir dua jam mengemudi, setelah kami berhasil kabur dari kejaran Umay dan anak buahnya serta para geng mafia, akhirnya kami telah sampai di tempat tujuan. Khairil memberhentikan mobilnya di depan halaman rumah dengan gaya desain seperti perumahan asri di pinggir kota pada umumnya. Lampu di ruangan depan rumah masih menyala terang, pertanda penghuninya masih terjaga. Suara gonggongan anjing penjaga menyalak menyambut kedatangan kami dan tentu saja karena suara berisiknya membuat penghuni rumah keluar mencari tahu jika ada tamu yang datang. Seorang pria yang sudah sepuh membuka pintu depan. Ia berjalan dengan menggunakan tongkat di tangan dan memanggil nama Khairil. "Khairil, apakah itu kamu, Nak?" tanyanya memastikan. "Iya, Pak Rouf. Ini aku ...." Khairil mendekati ayah angkatnya. Kemudian, menyalami tangan serta memeluk tubuh pak tua itu dengan lembut dan hormat. Kulihat ada denyar kerinduan di antara keduanya. "Oh, ya, Pak, ini Sephia. Untuk sementara waktu, kami akan menginap dan tinggal di sini." Khairil memperkenalkan aku pada pak tua itu. "Sephia, ini ayah angkatku, Pak Rouf," ujar Khairil memperkenalkan pak tua kepadaku. Aku membalasnya dengan mengulurkan tangan, menyalami, serta mencium tangannya. "Senang bertemu Anda, Pak. Saya Sephia!" "Mari, silakan masuk, Nak!" Pak Rouf mengajak kami ke dalam. Rumah Pak Rouf  walau terlihat sederhana, tetapi sangat rapi dan bersih. Khairil memberitahu sebelumnya, bahwa Pak Rouf hanya tinggal sendiri di rumahnya. Penglihatan beliau pun sudah tak sempurna karena usia. Namun, beliau tampak sangat sehat dan bisa mengerjakan pekerjaan rumah sehari-hari. Sesekali, ada orang yang datang menjenguk dan membantunya, tetapi Pak Rouf sudah terbiasa melakukan tugasnya sendiri. Sejak dulu, beliau tak memiliki keluarga dan sudah menganggap Khairil sebagai putra angkatnya sejak Khairil masih kanak-kanak dan tinggal di panti asuhan. "Apakah kamu terluka, Khairil?" tanya Pak Rouf tiba-tiba. Aku merasa heran, walau penglihatannya kurang, tapi bapak tua itu sangat jeli. Bagaimana beliau mengetahui Khairil sedang terluka? Kulirik Khairil sekilas, pria itu bersikap biasa saja. Dia menuju sofa, merebahkan tubuh dengan lengan berbalut kain. Khairil berusaha melepaskan kain tersebut. Aku segera membantunya, disusul oleh Pak Rouf. Tampak beliau sangat khawatir, kemudian memeriksa luka Khairil. "Apa lukamu karena terkena tembakan?" tanyanya penuh selidik. "Bukan, Pak! Ini hanya luka bekas tusukan pisau," balas Khairil singkat. "Kamu pasti habis berkelahi lagi?" Kali ini, Khairil tak menjawab pertanyaan Pak Rouf. "Luka ini, pasti sudah terkena infeksi. Nak, tolong rebus air, luka Khairil harus segera dibersihkan!" titah Pak Rouf kepadaku.  "Baik, Pak!" Aku segera pergi menuju dapur. Kebetulan, di sana sudah ada ketel khusus untuk merebus air. Lalu, aku mengisi air dan menyalakan kompor. Lima menit kemudian, ponselku berdering. Mama! "Hallo, Ma, ada apa?" Dengan suara pelan aku menjawab panggilan telepon. Supaya tak menganggu Khairil dan ayah angkatnya. "Sephia, kamu di mana lagi sekarang? Kapan kamu akan pulang, Nak?" tanya Mama khawatir.  "Ma, maafkan aku. Saat ini, aku belum bisa pulang. Jangan khawatir, aku baik-baik saja." "Tapi, Nak ... kamu di mana?" "Aku--" "Sephia, ini Papa. Kamu di mana, Sayang?" Mendengar suara Papa, aku menjadi kesal. Apa yang terjadi padaku sekarang ini adalah karena sikap keras Papa. Tak mau berdebat, langsung kumatikan ponsel. Sejak aku kabur dari rumah, aku tak mau bicara dengannya. Karena Papa sudah membuatku sangat sedih dan kecewa. Gara-gara Papa, aku harus berurusan dengan si b******n Umay, dan kini Khairil pun ikut terlibat. Aku rasa bersalah, Khairil hampir mengorbankan nyawanya demi menyelamatkanku. Dia sekarang telah menjadi target yang sedang diburu Umay dan temannya komplotan para geng mafia. Tanpa kusadari, air yang kurebus sudah mendidih. Segera kumatikan api. Saat hendak membawa ke depan, aku menguping pembicaraan antara Khairil dan Pak Rouf. "Khairil, sejak kematian anakmu, kamu berkelahi, memburu penjahat, dan membalas dendam. Setelah itu, kamu berhenti. Sekarang, mendadak kamu mulai lagi terlibat perseteruan. Ada apa?" tanya Pak Rouf heran. "Aku hanya menolong orang, Pak!" sahutnya seakan menutupi sesuatu. "Dengan bertaruh serta mengorbankan nyawamu? " "Aku tidak merasa mengorbankan apa-apa. Aku tidak bisa membiarkan seseorang teraniaya." Aku menghampiri mereka. Pak Rouf sudah menyiapkan baskom berisi air dan beberapa helai kain bersih. Beliau menyuruhku membasuh luka pada lengan Khairil. Agak ragu, namun beliau meyakinkan. Aku mengambil kain, membasahi dengan air hangat. Perlahan, mengelap darah yang mengering pada luka Khairil. Luka bekas tusukan pisau itu cukup dalam. Dia menggigit bibir menahan sakit. Aku sangat sedih melihatnya.  'Maafkan aku, Khairil!' "Sephia, apa kamu membawa ponsel?" tanya Khairil lirih. "Iya, Khairil. Ini, aku ada ponsel." Kusodirkan benda pipih itu kepadanya. "Tolong hubungi Ferdi ...suruh dia belikan aku obat antiseptik, perban, dan tablet aspirin. Besok, pagi-pagi juga harus bawa ke sini," pintanya. "Baik, aku akan hubungi dia sekarang. Berapa nomor teleponnya?" Khairil menyebutkan nomor kontak Ferdi. Aku segera mengikuti pesan Khairil dan menekan tombol untuk menghubungi Ferdi, sahabat dekatnya. *** "Sephia, sebaiknya kamu istirahat. Seharian, kamu pasti sangat lelah. Di lantai atas, ada kamar kosong. Dulu, di tempati anak gadis yang pernah mengontrak di sini. Barangkali, di lemari ada pakaian yang pas untuk kamu pakai. Di sebelah tangga, ada kamar mandi. Bersihkan badanmu sebelum tidur." Khairil menyarankan. Aku menuruti dan pamit ke atas untuk membersihkan diri. Memang benar, di lemari ada beberapa helai pakaian perempuan yang masih tergantung rapi. Aku Mengambil gaun lengan pendek berwarna biru motif bunga sepatu. Mencobanya dan ternyata sangat pas kukenakan. Aku kembali ke bawah. Menatap tubuh Khairil terbaring di sofa dengan mata terpejam. Aku menghampiri Pak Rouf, ia tampak duduk santai di kursi kayu. Sepertinya beliau sedang memikirkan sesuatu. "Kamu tidak istirahat, Nak?" tanya Pak Rouf saat aku menghampirinya.  "Saya belum mengantuk, Pak?" Aku menyembunyikan rasa khawatir. Sekilas kulirik Khairil yang sudah terlelap. "Saya akan menyeduh teh hangat Apa Bapak mau?" Pak Rouf mengangguk sambil tersenyum mengiakan. Saat kami berbincang, tiba-tiba, Khairil mengigau. Aku dan Pak Rouf menghampirinya. Khairil memanggil nama putranya yang sudah meninggal. Hatiku sangat terpukul. Begitu besar rasa sayang Khairil kepada putra tercintanya. Aku mendekatkan tubuh. Terkejut, tanganku menyentuh keningnya dengan suhu panas. Dia demam. Aku semakin mencemaskannya. "Pak, tubuh Khairil panas sekali. Sebaiknya, kita bawa dia ke rumah sakit." "Tidak usah, Nak. Dulu, dia pernah mengalami keadaan yang lebih parah dari sekarang. Dia akan baik-baik saja. Percayalah! Tolong ... ambilkan air hangat dan kain untuk mengompres!" Aku mengikuti petunjuknya. Menyiapkan apa yang dibutuhkan. Membasahi kain, lalu meletakkan pada kening Khairil. Beberapa kali kuganti. Khairil tampak menggigil, dia terus meracau. Tanpa sadar, tangannya meraih tanganku dan menggenggamnya sangat erat seakan dia takut melepaskan. Tak jelas apa yang dia ucapkan dan aku tak tahu apa yang dia pikirankan? Matanya masih terpejam. 'Oh, Khairil, aku di sini! Aku akan menjagamu sampai sembuh seperti kamu telah menyelamatkan nyawaku.' Tak terasa, malam berganti pagi. Aku terbangun, masih berada di kursi yang sama, tempat di mana Khairil terbaring. Semalaman, aku menunggunya. Dia belum siuman. Aku bergegas membersihkan diri. Sebelum naik, berpapasan dengan Pak Rouf. Wajah tuanya mengembang senyuman lembut. Beliau, memang sosok ayah yang tulus. Sorot matanya teduh dan seolah-olah bisa membaca pikiran orang di hadapannya. Setelah mengucap salam, aku pamit ke atas. *** "Nak, tolong buatkan teh hangat!" pinta Pak Rouf, saat aku sudah  berada di lantai bawah. Khairil tengah duduk bersandar di kursi. Aku senang melihatnya siuman. Ketika aku sedang merebus air, tak sengaja mendengar mereka berbincang. Diam-diam, aku ikut menyimak pembicaraan. "Gadis itu semalaman menunggumu. Dia tidak mau tidur di kamar. Bapak perhatijan, Sephia sangat perhatian padamu. Terlihat jelas dia sangat khawatir dengan keadaanmu." Pak Rouf memulai pembicaraan. Aku melongok, melihat reaksi Khairil. Pria itu tak menyahut. Hanya tersenyum simpul, aku tak bisa menebak apa yang ada dalam pikirannya. Ups, tiba-tiba, dia melihatku sedang mengintip. Aku kembali masuk ke dapur. Saat hendak menyuguhkan teh, Pak Rouf berkata lagi sehingga langkahku tertahan sebentar. "Gadis itu, maksud bapak ... Sephia. Dia sepertinya sangat berarti bagimu, Khairil." Pak Rouf tampak sangat berhati-hati saat mengungkapkan pendapatnya tentangku. Khairil terkejut setelah mendengar penilaian ayah angkatnya. Dia sedikit kikuk, lalu berkata. "Sephia butuh pertolongan, Pak. Tentu saja, aku menolongnya," ucap  Khairil berdalih. "Khairil, aku sangat mengenalmu, Nak. Aku tahu dia sepertinya gadis yang istimewa di hatimu. Benarkan?"  "Aku tidak mengatakan demikian. Bagaimana Bapak berkata seperti itu?" gugup Khairil balik bertanya.  "Khairil, yang berkata itu hatimu bukan mulutmu," jawab Pak Rouf sambil terkekeh. Tangannya menepuk pundak Khairil pelan dan kulihat sinar kebahagiaan terpancar di wajah keriputnya. "Nak, apa kamu akan berdiri di situ sampai tehnya dingin. Kemarilah!" Aku tersentak mendengar ucapan Pak Rouf. Ia mengetahui aku masih berdiri mematung menyaksikan pembicaraan ayah dan putra angkatnya. Segera kuletakkan dua gelas berisi teh panas. Dengan sedikit gugup mempersilakan mereka untuk minum. Sekilas, aku mencuri pandang pada pria yang kukenal selama empat belas jam yang lalu. Khairil, hanya dalam waktu singkat dia berhasil menabur benih-benuh cinta di hati ini.Setiap manik kami beradu pandang, debaran di hati tak dapat kuhindari. Getarannya semakin terasa dan membuncah dalam d**a. *** Sebuah mobil sedan memasuki halaman rumah Pak Rouf. Aku melongok melalui jendela. Tampak Ferdi, sahabat Khairil keluar bersama seorang perempuan muda, aku tak kenal siapa dia. Dari pakaiannya, seperti petugas medis, atau mungkin dia seorang dokter. Pak Rouf membuka pintu. Lalu, mempersilakan mereka masuk. Khairil tersenyum ramah menyambutnya. Dia sedikit sungkan saat melihat perempuan muda yang datang bersama Ferdi. "Dokter Della? Maaf, aku tidak bermaksud merepotkan Anda, jauh-jauh datang ke sini," ucap Khairil sungkan.  "Ustaz Khairil, aku sangat mencemaskanmu. Ferdi bilang, Anda terluka parah. Aku sengaja menjengukmu. Bagaimana keadaanmu, Ustaz?" Dokter muda bernama Della memburu Khairil dengan pertanyaan. Aku mengikutinya saat dia mendekati Khairil. Entah kenapa, aku merasa tatapan dokter Della terlihat mengintimidasi saat kami beradu pandang. Ada rasa tak suka terpancar jelas dari sorot matanya. "Biar kuperiksa lukamu." Dia membuka kain yang membalut lengan Khairil. Aku hendak membantunya, namun sangat tak merasa nyaman dokter itu membalasku dengan perkataan kasar. "Nona, bisakah kamu pergi menjauh! Biar aku saja yang memeriksanya," ujarnya ketus. Aku tak menjawab, hanya berlalu dari hadapan perempuan jutek itu. "Lukamu sangat parah. Aku harus memberi suntikan anti tetanus agar infeksi pada lukamu tak menyebar." Dokter Della membuka kotak peralatan medisnya. Kemudian, membersihkan luka Khairil sebelum memberinya suntik. Selesai, dia memberikan resep berupa obat tablet dan pil yang harus diminum setiap hari. Dari sikap dokter Della, aku yakin dia menaruh hati pada Khairil. Dia sangat terganggu dengan kehadiranku di dekat Khairil. Sikapnya padaku begitu dingin. Walaupun aku berusaha bersikap biasa, dia tetap tidak suka. "Aku dengar dari sahabatmu Tasya, sekarang orang tuamu sedang khawatir dengan kepergianmu. Sudah berapa hari kamu kabur dari rumah?" Pertanyaan dari dokter Della membuatku tersentak. "Jangan khawatir, Dokter ... aku sudah mengabari mereka dan aku baik-baik aja," jawabku tenang. "Oh, ya? Aneh sekali. Bagaimana orang tuamu bisa mengizinkan anak perempuannya tinggal di luar rumah selama berhari-hari? Apakah itu sudah menjadi kebiasaan kamu? Aku sarankan, sebaiknya kamu segera pulang ke rumah kasihan keluargamu!" ocehnya kali ini bernada sindiran tajam. "Apa maksudmu? Kenapa Anda peduli kepadaku? Aku tak mengenalmu, Dokter Della! Mungkin Anda yang seharusnya pulang. Orang tua Anda pasti sangat mencemaskanmu." Aku membalas ucapannya tegas. "Aku akan di sini sampai Ustaz Khairil sembuh," balasnya tak mau kalah. "Anda tak perlu khawatir, Dokter! Aku akan tinggal di sini menemani Khairil dan setiap hari akan mengingatkannya untuk meminum semua jenis obat pemberian Anda," jawabku bersikukuh dan perseteruanku ini baru saja di mulai. "Apa? Kamu akan tinggal di sini? Maksudmu ... kamu menginap di sini? Perempuan macam apa kamu ini?" cecar Della mengintimidasi. "Perempuan seperti apa? Apa maksudmu? Anda sangat merendahkanku, Dokter Della!" "Sudah ... sudah cukup! Dokter Della, terima kasih Anda sudah datang ke sini mengobati lukaku. Tapi, aku mohon, sebaiknya Anda pulang. Aku tak mau orang tua Anda khawatir mencarimu." Khairil menengahi kami. Aku tersenyum puas, Khairil tak memerlukan bantuan dokter jutek itu lagi. Kulihat wajahnya pucat sedih mendengar ucapan Khairil. Kemudian, Dokter Della pamitan. Ferdi menyusul untuk ikut bersamanya. Pak Rouf mengantarkan hingga pintu depan. Sementara, aku dan Khairil menatap kepergian mereka. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD