"Ini, katanya kamu butuh charger." Ustaz Khairil menyerahkan bungkusan plastik dari saku jaketnya.
"Oh, terima kasih, Ustaz."
"Aku pergi dulu sebentar, ada sesuatu yang harus kuperbaiki. Aku bekerja di ruko lantai bawah dekat jalan raya. Nanti setelah aku kembali, aku antar kamu pulang," ujarnya berpamitan.
"Oh, ya ... aku suruh sahabatku, Ferdi menjaga kamu selama aku pergi. Jika ada perlu sesuatu kamu bisa panggil dia. Dia ada di depan rumah," pesannya sebelum pergi.
Aku mengangguk, lalu bergegas mencari colokan listrik di ruang tamu. Setelah ponsel kunyalakan, segera menghubungi nomor telepon rumah orang tuaku.
"Mama! Ini aku, Sephia ... bagaimana kabar kalian? Juga Dilan, apa dia baik-baik aja?"
"Sephia, kamu di mana, Nak? Mama dan Papa sangat khawatir. Dilan baik-baik saja, dia sedang di kamar." Suara Mama terdengar cemas.
"Oh, syukurlah. Mama tak perlu khawatir, aku baik-baik aja. Nanti aku kabari lagi dan akan segera pulang."
"Sephia, Tuan Umay bilang kamu diculik pria asing. Bagaimana mama tak khawatir?"
"Ma, pria b******n itu pembohong! Tidak ada orang yang menculikku. Justru dia yang berengsek. Dia menyanderaku di kamarnya dan hampir memperkosa aku, Ma."
"Ya, Tuhan!"
"Mama jangan sedih. Aku aman di sini. Aku muak bertemu si berengsek itu. Sudah dulu, ya, nanti aku telepon lagi." Aku mengakhiri obrolan ketika pintu bel berbunyi.
Aku membuka pintu, sosok pria tambun berdiri di depan. Sekilas, kuperhatikan. Pria itu tersenyum ramah.
"Selamat pagi, Nona Sephia! Perkenalkan nama saya Ferdi, teman dekatnya Ustaz Khairil. Beliau menyuruh saya untuk menjaga Nona Sephia," lapornya dengan tulus dan lugu.
"Selamat pagi ... ah, salam kenal, Ferdi."
''Hei, itu, kan, perempuan yang mencuri uang Tuan Umay? Dia masih di sini!" teriak salah satu anak buah Umay. Pria yang lainnya menatapku.
Mereka berlari menuju kami. Aku segera masuk dan mengunci pintu. Ferdi masih berdiri di luar. Umay bersama empat orang pria menyerbu rumah Ustaz Khairil. Mereka menggedor pintu. Ferdi berusaha mencegah, namun aku yakin dia tidak mampu menghadapi keempat anak buah Umay. Terdengar suara baku hantam, sepertinya Ferdi dipukul habis-habisan. Aku ketakutan, di mana Ustaz Khairil? Mereka berhasil mendobrak pintu. Aku bersembunyi di dalam lemari.
"Sephia!" Suara Umay menggelegar.
"Aku akan membawamu pulang. Keluarlah!" perintahnya.
"Geledah semua ruangan!" titah Umay pada anak buahnya. Ah, sial! Rok yang kupakai terjepit pintu lemari dari luar. Mereka melihatnya, menarik paksa keluar rumah. Aku menjerit sambil meminta pertolongan. Warga yang berada di sekitar, hanya menonton keheranan saat aku diseret dua orang pria. Tak ada satu orang pun yang mencoba menolong. Aku disuruh masuk ke mobil Umay. Tanganku diikat, dengan mulut tersumpal kain.
"Siapa perempuan muda itu? Kenapa dia berada di rumah Ustaz Khairil? Bukankah kita tahu, selama ini, Ustaz tidak punya keluarga. Bagaimana mungkin ada perempuan cantik di rumahnya?" tanya salah satu warga.
Sephia, kau benar-benar perempuan murahan. Kau menolakku, tapi kau tinggal semalaman di rumah pria asing bernama Khairil. Aku sudah bersabar denganmu, membantu keuangan keluargamu tapi kamu tidak tahu membalas budi," celoteh Umay geram.
"Dengar, ya, mulai saat ini, suka atau tidak, kamu harus menerima lamaranku," ancamnya sambil menatapku.
Aku membalas tatapannya penuh kebencian. Andai mulutku tak tersumpal, sudah kuludahi wajahnya. Dasar pria b******k! Aku tak sudi menikah dengannya. Lebih baik aku mati daripada tinggal bersama pria itu. Sungguh menyebalkan, ingin rasanya aku kabur, tak peduli nyawaku melayang tertabrak kendaraan.
***
"Kurung dia di kamar!" Umay berseru pada salah satu orang kepercayaannya.
"Hei, b******k! Keluarkan aku dari sini. Dasar b******n! Bunuh saja aku, aku tak mau tinggal di rumahmu. Rumahmu, neraka bagiku. Dasar b******k!" Sumpah serapah kulontarkan padanya.
"Bos, apa Anda yakin dengan cara seperti ini akan membuat sikap Nona Sephia melunak?" tanya Sapri, orang kepercayaannya.
"Kita lihat saja, utang ayahnya padaku sudah menumpuk. Mereka tak punya pilihan selain menikahkan putrinya denganku." Kudengar perkataan Umay sangat memuakkan.
Telepon rumah Umay berdering. Samar aku menyimak pembicaraan. Umay seakan-akan terkejut mendengar suara seseorang melalui saluran telepon. Ada nada ancaman terucap dari mulutnya. Entah, suara siapakah yang sedang berbicara di telepon?
"Sephia milikku. Kau tak berhak merebutnya. Camkan itu!" gertak Umay penuh emosi.
Klikk.
Sambungan telepon terputus. Umay seolah-olah sedang mengatur napas. "Kurang ajar!" rutuknya kesal.
Suara langkah kaki mereka mulai meninggalkan ruangan lantai dua. Mereka menuruni tangga, setelah itu sunyi. Aku mengutuk diriku di kamar. Tak bisa berbuat apa-apa. Mereka mengunci dari luar dengan penjagaan ketat anak buah Umay. Tubuhku lemas dan mulai putus asa. Hanya berharap ada mukjizat berupa pertolongan dariNya.
"Tuhan, cobaan apalagi ini? Aku tak tahan lagi."
Entah kenapa, tiba-tiba, aku teringat Ustaz Khairil. Saat kami berbincang tadi pagi, dia sempat bertanya. "Berapa total uang yang kamu pinjam dari Tuan Umay?"
"100 juta."
***
Suara ribut terdengar dari lantai bawah tepatnya ruang tamu rumah megah milik Umay. Sepertinya dia sedang cekcok dengan seseorang. Samar-samar, aku mengenali suara lawan bicaranya. Suara seorang pria berkata lantang. Ustaz Khairil? Benarkah dia di sini? Bagaimana dia bisa mengetahui rumah si b******n Umay?
"Umay, bebaskan Sephia! Kamu sudah melanggar hukum dengan menyandera orang yang tidak bersalah," tegas Ustaz Khairil.
"Wanita itu mencuri uangku, dia pantas mendapatkan hukuman setimpal. Kamu siapa, berani mengaturku?" balas Umay tak mau kalah.
"Ini uang ganti rugi yang Sephia ambil darimu, 100 juta! Cepat, lepaskan dia, kalau kamu tidak mau wajahmu penuh babak belur."
"Apa masalahmu, Khairil? Dia wanitaku, calon istriku. Kau tak berhak ikut campur urusanku."
Buukkk!
Terdengar suara pukulan keras menghantam si pria b******n itu hingga dia jatuh tersungkur. Kemudian, terjadi pergulatan hebat di rumah Umay. Sepertinya Ustaz Khairil melawan keempat orang sekaligus. Satu per satu, melibas tanpa menggunakan senjata dan berhasil membuat lawannya jatuh tak berdaya.
Tak hanya terjadi baku hantam, senjata pun dikeluarkan oleh anak buah Umay. Melalui lubang pintu kamar, aku bisa mendengar Sapri menodongkan pistol ke arah Ustaz Khairil. Namun, dia berhasil merebut pistol dari Sapri. Lalu, menodongkan pistol tersebut ke arah Umay dan menyuruh anak buahnya menunjukkan kamar tempat aku disandera. Mereka pun membebaskanku.
"Khairil ...." Aku berlari, repleks memeluknya. Tiba-tiba, aku lebih merasa nyaman dengan memanggil namanya saja tanpa ada embel-embel di depan namanya.
Kulirik Umay tampak sangat geram melihat kemesraan kami. Bak sepasang kekasih, Khairil datang menyelamatkanku dari lelaki b******n seperti Umay.
"Tuan Umay, aku peringatkan! Jangan coba-coba mengambil sesuatu dari rumahku. Kamu juga sudah menganiaya sahabatku. Untuk Sephia, jangan lagi kamu memaksanya menikah denganmu. Paham kamu!" hardik Khairil seraya melayangkan tinju ke wajah pria itu.
Darah segar keluar dari hidungnya. Umay menyeringai dengan tajam bak seekor serigala buas yang kalah telak tak berdaya dengan keberanian Khairil. Dia hanya menatap kepergian kami. Khairil membawaku ke luar, meninggalkan kediaman rumah tersebut.
"Kejar mereka!" Umay memanggil seluruh anak buahnya.
Tak jauh, aku melihat beberapa pria bersenjata muncul dari mobil warna hitam. Umay meminta bantuan pada teman-temannya. Mereka geng mafia, ketuanya adalah seorang bandar n*****a.
***
POV 3
"Pria itu membawa kabur calon istriku!" Umay berseru pada ketua geng bernama Sultan.
"Umay, kamu memanggil kami hanya untuk mengurusi satu pria dan seorang perempuan? Apa kamu tidak bisa mengatasi mereka sendiri, heh?" ejek Sultan geram.
"Pria itu bukan orang sembarangan. Dia berhasil meluluhlantakkan semua anak buahku. Tolong bantu aku, Sultan. Aku tak rela Sephia bersama pria itu," kilah Umay memelas.
"Baiklah. Kita akan mengejar mereka," jawab Sultan dan menyuruh anak buahnya bersiap-siap.
"Kita cari informasi tentang siapa pria itu. Bila perlu awasi rumah Khairil. Aku yakin pasti ada orang yang mengetahui di mana mereka bersembunyi!" perintah pada mereka.
***
"Kamu tidak aman sekarang, Sephia. Mereka akan terus mengejarmu." Khairil membuka percakapan setelah kami berhasil kabur dari kejaran Umay dan para geng mafia.
"Maafkan aku, Khairil ... gara-gara aku, kamu harus berurusan dengan Umay." Aku menatapnya.
"Pria itu memang b******k. Tunggu saja, jika dia masih berani macam-macam, aku tak akan segan membawanya ke kantor polisi."
"Lalu, kita akan pergi ke mana, Khairil?"
"Kamu tenang saja. Ada tempat yang aman untuk sementara kita tinggal."
"Tapi, bagaimana dengan lukamu? Lenganmu berdarah. Sebaiknya kita ke rumah sakit dulu."
Aku menoleh bekas luka tusukan pada lengan Khairil dan sangat mencemaskannya. Saat perkelahian berlangsung, Sapri sempat mengeluarkan pisau dan berhasil menusuk lengan kiri Khairil.
"Tak apa. Ini hanya luka ringan. Kita tidak mungkin ke rumah sakit, mereka pasti akan sangat mudah mengetahuinya. Kita pergi ke suatu tempat dan akan segera sampai tujuan."
Di tengah perjalanan, kami keluar dari kota. Entah, ke mana dia akan membawaku. Aku percaya Khairil pria yang baik. Dia memang terlihat dingin dan tertutup, tapi sikapnya sangat protektif. Aku merasa nyaman bersamanya. Pertama kali dalam hidupku, bertemu dengan pria asing tapi begitu menyenangkan. Ada yang menarik dari sosok Khairil. Dia seolah-olah menyimpan sesuatu, seperti puzzle kehidupan. Sosok yang sangat misterius dan aku ingin mengungkap siapa sebenarnya pria yang berada di sebelahku saat ini.
Kami sudah melewati perbatasan, melalui jalur jalan penuh kerikil tajam. Sesekali, mobilnya berguncang karena melewati jalan berlubang. Tiba-tiba, mobil Khairil mogok. Dia keluar untuk mengecek, aku mengikutinya karena takut mendengar suara auman mirip harimau. Di sekeliling jalan tampak sepi. Di tepinya hanya berjajar pohon-pohon yang mengerikan. Sepertinya, kami berada di pinggir hutan. Aku semakin ketakutan. Suara-suara binatang malam terdengar bersahutan.
"Khairil, bagaimana mesin mobilnya?"
"Sebentar, mesinnya terlalu panas. Kamu tunggu di mobil saja!"
"Aku takut, Khairil! Suara binatang itu pasti suara auman harimau."
"Sephia, tidak ada harimau di sekitar sini. Itu suara anjing liar." Khairil tertawa geli melihat tingkahku.
Aku tak yakin itu suara anjing liar. Suaranya sangat jelas dan menakutkan. Kemudian, terdengar lagi sangat keras. Aku menjerit dan tanpa sengaja sudah berada di belakang punggung Khairil. Saat dia berbalik badan, kami berdiri berhadapan, sangat dekat. Saling bertatapan, lama. Dadaku bergemuruh kencang. Sorot matanya begitu teduh, seperti mengatakan sesuatu. Aku tak perlu takut bersamanya.
"Bisakah kamu ambilkan kotak peralatan di bagasi mobil?" Khairil mengalihkan perhatiannya.
Aku gugup, hampir tak mendengar permintaannya. Khairil mengisyaratkan telunjuknya mengarah ke belakang mobil. Aku segera bergegas mencari barang yang dimaksud. Membuka pintu bagasi, lalu membawa kotak peralatan. Dia masih fokus memperbaiki mesin mobilnya. Aku hendak kembali masuk ke mobil, namun kakiku terpeleset, jatuh ke tanah berlumpur. Pakaianku kotor, Khairil memandangku sambil tertawa.
"Ok. Mesinnya sudah kuperbaiki. Semoga sampai ke tempat tujuan."
Dia menyalakan mesin mobil, tersenyum puas. Lalu, mengemudi sambil sesekali menoleh padaku yang masih takut suara malam di tengah jalan.
"Bajumu kotor ... barangkali nanti kalau kita sudah sampai di rumah ayah angkatku, ada pakaian yang masih layak dipakai. Dulu, seingatku ada keluarga yang pernah mengontrak rumah Pak Rouf."
Aku menoleh sekilas dan tertawa geli saat kulihat wajah Khairil penuh oli. Aku menunujuk dan memberitahunya. Dia berusaha mengelap, tapi justru nodanya semakin meluas. Jalan yang kami lalui, berupa tanah penuh lubang bukan aspal.
Aku mencoba membersihkan wajah Khairil, menggunakan ujung jari dan menghapus oli. Seketika mendekatkan wajahku. Tiba-tiba, mobil berguncang. Tak sengaja, bibirku menyentuh pipinya. Kami berdua bertatapan. Karena hal itu membuat kami jadi salah tingkah. Lalu, segera menjaga jarak. Tangan Khairil mengusap tengkuknya, seolah-olah dia merasakan sesuatu yang sama sepertiku.
"Apa tadi barusan? Jalan berlubang lagi?" tanyaku tersipu malu.
Khairil menoleh dan mengangguk. Dia tersenyum lembut menatapku.
"Kita memasuki daerah pedesaan, mengunjungi rumah ayah angkatku. Aku yakin, kamu pasti betah," katanya meyakinkan.
'Kau tahu, Khairi? Aku merasa betah bila berada di dekatmu! Mungkinkah ini cinta, cinta pada pandangan pertama? Hmmm ... entahlah! Yang pasti aku mengaguminya.'
Bersambung