BERCERITA TENTANG MASA KECIL

1140 Words
"Ustaz, jika seorang pendosa, misalnya orang jahat, sebesar apa pun kejahatannya. Kemudian, dia bertaubat. Lalu, dia mengerjakan ibadah ... apakah amalannya akan diterima?" tanyaku, sedikit ragu. Pria berwajah teduh penuh kharismatik itu tersenyum. Sebelum menjawab, tangannya meraih cangkir dan menyeruput kopi sedikit. Terdiam sejenak, lalu mengambil buku yang tersusun rapi di lemari. Membuka perlahan, mencari sumber ilmu yang akan disampaikan. "Dikutip dari Al-Qur'an, QS. An Nisaa', ayat 110, Allah SWT berfirman, 'Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.' Itulah salah satu sifat Allah, ketika seorang hamba benar-benar bertaubat, maka Allah mengampuni dosanya dan InsyaAllah, segala amal baiknya dicatat oleh malaikat." Ustaz Khairil menjelaskan. "Masalahnya, aku sama sekali tidak bisa membaca Al-Qur'an, Ustaz. Sejak kecil tak pernah dibekali ilmu agama. Bagaimana aku mengerjakan perintah Allah, sedangkan tidak ada orang yang membimbingku?" ungkapku menunduk malu. "Tidak ada kata terlambat untuk melakukan amal kebaikan. Kamu bisa belajar dari awal lagi. Datangi tempat yang menyediakan bimbingan belajar tentang ilmu agama atau mengikuti pengajian secara rutin. Pelan-pelan, kamu pasti akan terbiasa," ujarnya memberi semangat. "Tapi, Ustaz ... aku tak punya teman dekat yang mengerti tentang ilmu agama. Kalau seandainya Ustaz Khairil menjadi guru pembimbingku, apakah--" Kalimatku terputus begitu saja. Aku merasa sungkan menyatakannya. Sedikit ragu dan merasa tak enak sejak kedatanganku. Walaupun dia orang baik, aku tak mau membebaninya. Apalagi aku bukan siapa-siapa dia. Tiba-tiba, teringat kedua orang tua dan adikku, Dilan. Bagaimana keadaan mereka? Pasti mereka sangat khawatir. Ingin segera menghubungi, namun, ponselku tak berfungsi. "Ustaz, apa Anda punya charger untuk HP? Baterai ponselku habis." Aku mengalihkan topik pembicaraan.  "Aku tak menggunakan ponsel," balasnya santai. 'Apa? Hari gini, seorang Ustaz nggak pegang gawai? Ckckck.' Aku membatin, mengerutkan kening dengan perasaan sedikit aneh. "Besok aku carikan untukmu. Sekarang sudah larut malam, kamu perlu istirahat. Kalau situasi sudah aman, aku akan mengantarmu pulang." Dia bergegas membawa cangkir kopi menuju dapur. *** Setelah obrolan kami usai, aku menuju kamar tamu. Mengganti pakaian yang sudah disiapkan oleh tuan rumah. Ranjang dan selimut pun sudah tertata rapi. Diam-diam, aku mengagumi sosok lelaki misterius itu. Dia orang yang sangat menjaga kebersihan serta penampilannya yang rapi. Senyum manisnya pun selalu mengembang membuat nyaman pada setiap orang yang berada di dekatnya. 'Ah, kenapa aku jadi memikirkan dia?' tanyaku bermonolog. Tok tok tok Ada sesuatu yang masih mengganjal pikiran dan belum sempat kutanyakan pada Ustaz khairil. Aku mengetuk pintu kamarnya, tanpa menunggu, membukanya secara perlahan. Terkejut, kulihat dia sedang mengganti pakaian. Kecuali Dilan, adikku, ini pertama kali aku melihat pria dengan pakaian terbuka hingga dapat kutatap dengan jelas otot-ototnya yang kekar. Menyadari hal itu membuatku malu. Lalu, segera mengalihkan pandangan. Dia sepertinya merasakan sikapku. "Oh, maaf aku telah lancang membuka pintu kamarmu tanpa menunggu jawaban ...," ujarku bingung, mendadak lupa dan tak tahu apa yang sedang kuperbuat. "Ustaz, maaf. Aa-aku, hanya ingin bertanya sesuatu." Aku meliriknya sekilas. "Apakah ... dengan kehadiranku di sini, tidak akan ada keluargamu yang merasa terganggu?" Ustaz Khairil memandangku, tangannya sibuk mengaitkan kancing baju piyama. "Tidak ada dan jangan khawatir, aku tinggal sendirian. Tidak akan ada orang yang merasa terganggu," jawabnya. "Baiklah kalau begitu, selamat malam." Pranggg! Tak sengaja, tanganku yang bergelayut pada rak kayu di atas ranjang, menyenggol hiasan bola kaca yang di dalamnya terdapat rumah mungil dihiasi aksesoris seperti butiran salju. "Oh, Tuhan! Apa-apaan, kamu? Lihat kamu sudah memecahkan benda kesayanganku!" Aku sangat terkejut mendengar teguran keras darinya. Tak kusangka Ustadz Khairil bisa marah juga. Dia duduk berjongkok, menatap pecahan bola kaca yang berserakan di lantai. "Maaf, Ustaz. Aku tak sengaja ... aku tak melihat benda itu. Sungguh sangat ceroboh. Maafkan aku." Gugup, aku ikut berjongkok hendak membantu memunguti pecahan kaca. "Hentikan! Jangan sentuh barangku. Pergilah ke kamarmu. Oh, Tuhan kau membuatku marah!" bentaknya. Mendengar suaranya yang keras, entah kenapa aku merasa sangat sedih. Aku pikir dia pria yang lembut, tak pernah marah. Namun, semenit kemudian tiba-tiba dia telah berubah. Aku semakin tak nyaman, ingin segera meninggalkan kediamannya. Kata-kata Ustaz Khairil begitu menyakitkan. Air mata tak dapat kutahan lagi. Beberapa jam lalu, saat aku sedang dalam situasi tertekan, berusaha agar tak menangis. Tapi kini, ucapan dari seseorang yang baru aku kenal begitu membekas di hatiku. Aku menangis sejadinya di kamar. Tak lama, ketukan pintu terdengar dari luar kamar. "Sephia, maafkan aku. Maaf jika perkataanku kasar dan menyakitimu." Suara Ustaz Khairil terdengar lirih.  Untuk pertama kali, dia memanggil namaku. Sepertinya, dia berbicara dengan posisi duduk bersandar pada pintu kamar. Aku mencoba menahan tangisan dan mulai mendengarkan apa yang dia ucapkan. "Benda yang kamu pecahkan barusan adalah barang yang sangat berharga bagiku. Hadiah kenang-kenangan dari orang yang paling istimewa. Hadiah terakhir dari almarhumah ibuku sebelum beliau meninggal. Benda itu juga hadiah yang sama diberikan untuk adikku. Kami berpisah sejak kecil dan sampai sekarang tidak pernah bertemu." Dia mulai bercerita. "Setelah orang tua kami meninggal, kami dibawa ke panti asuhan. Usiaku saat itu sembilan tahun. Sedangkan--Salman--adikku, berusia lima tahun. Kami terpaksa berpisah, aku tidak tahu siapa yang mengadopsi Salman. Dialah satu-satunya keluargaku yang tersisa. Bola kaca salju itu, akan kutunjukkan kepadanya sebagai bukti bahwa kami memiliki hubungan darah, jika kami bisa bertemu suatu saat nanti." Akhirnya, Ustaz Khairil mau bercerita tentang masalah pribadinya. Ada kesedihan teramat dalam yang dia rasakan. Aku bisa merasakan melalui perkataannya. Kini, aku mengerti. Benda berupa bola kaca yang kupecahkan adalah benda yang sangat berharga. Suaranya tak terdengar lagi, kemungkinan dia sudah bangkit dan kembali ke kamarnya. Aku membuka pintu perlahan. Kulihat dia sedang berjalan gontai. "Khairil ...." Aku memanggil namanya. "Maafkan aku." Dia menoleh. Sorot matanya sendu, kesedihan bergelayut di sana. Kedua kelopak matanya basah. "Selamat malam, Sephia," balasnya sambil berlalu. *** Keesokan paginya, saat aku terbangun, aroma masakan tercium dari dapur. Aku melongok, ternyata Ustadz Khairil sedang sibuk menyiapkan sarapan. Wanginya begitu menggoda. Ah, rupanya dia pandai juga memasak. Aku menghampiri, perutku sudah nyaring berbunyi, tanda rasa lapar meminta jatah. Aku baru ingat, sejak kemarin, perutku kosong belum diisi makanan. "Selamat pagi Ustaz, aku tak menyangka ternyata Anda pandai memasak. Wanginya juga harum, pasti rasanya enak. Boleh aku cicipi?" sapaku yang disambut olehnya dengan senyuman hangat.  "Aku sengaja memasak untukmu." Dia melirik seraya tersenyum dan itu membuatku bertambah kikuk.  "Hmmm ... terima kasih. Aku jadi merasa sungkan, maaf sangat merepotkan Anda." Tiba-tiba, aku teringat kejadian semalam. "Kamu tamu di rumahku dan sudah sepantasnya aku memperlakukanmu dengan baik. Silakan menikmati menu sarapan." Dia tersenyum cerah sambil mempersilakan. Dia menarik kursi untukku. Mengambil sendok dan mencicipi omelet telur yang dia buat, memastikan rasanya sudah cukup pas. Seketika, aku menyantap masakannya dengan lahap. Enak juga, pikirku. Tanpa kusadari dia sedang memperhatikan. Senyumnya begitu memikat saat mata kami saling beradu pandang, dadaku bergemuruh kencang, ada sesuatu yang bergetar di sini. Tepat di hati ini. Aku tertunduk, dia pun seketika memalingkan wajahnya. Entah kenapa, ada rasa berat hati meninggalkan rumah pria ini. Apakah aku bisa bertemu dengannya lagi? Tapi bagaimana? Dia tidak menggunakan ponsel, bagaimana harus menghubunginya? Pikiranku menerawang. Pria itu, berhasil mencuri hatiku. Apakah aku jatuh cinta pada pandangan pertama? Ah, bukankah ini terlalu awal? Khairil, namamu tersemat dalam sanubari. Kuharap setelah ini kita akan dipertemukan kembali. Sungguh aku ingin mengenalmu lebih dekat. Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD